NovelToon NovelToon
Dinginmu Menyentuhku: CEO Dan Gadis Pinggiran

Dinginmu Menyentuhku: CEO Dan Gadis Pinggiran

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Richacymuts

Dunia mereka berbeda, tapi takdir mempertemukan hati yang kesepian.”

Sinopsis;Raina hanya ingin hidup tenang, bekerja keras untuk adik-adiknya. Tapi sebuah pertemuan di jalan sepi pinggiran Bogor mengubah semuanya. Julian Jae Hartmann, CEO muda yang dingin dan penuh rahasia, kini tergantung pada kebaikan gadis sederhana ini.

Di balik ketegasan Julian, tersimpan rahasia kelam, intrik keluarga, dan dendam masa lalu yang mengintai dari bayang-bayang. Dua hati yang berbeda dunia, terjebak oleh takdir, harus belajar mempercayai dan menyembuhkan luka masing-masing.
Akankah cinta mampu menembus dinding dingin dan rahasia yang mengelilingi mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richacymuts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3.malam yang tak terduga

Malam di Bandung selalu memiliki cara untuk membuat siapa pun betah. Udara sejuk, lampu kota yang tidak terlalu terang, dan suasana yang damai setelah hujan sore tadi. Julian keluar dari hotel dengan langkah santai, kedua tangannya masuk ke saku celana, menikmati angin malam yang menyentuh wajahnya.

Bandung jauh lebih tenang dari ibukota jakarta, dan entah kenapa, kota ini selalu memberinya ketenangan yang sulit ia temukan di tempat lain. Tidak ada suara ombak atau kerumunan turis—paris van Java sebutan lain dari kota Bandung. Kota yang terasa pas di telinganya.

Ia memilih sebuah restoran mewah yang tidak terlalu ramai. Interiornya perpaduan antara klasik dan modern, pencahayaan hangat, dan aroma makanan menggugah selera. Sambil menikmati makan malamnya, Julian sesekali melihat ponsel. Bukan karena gelisah—ia hanya memastikan kabar dari tunangannya.

Vivienne.

Seorang model internasional dengan wajah yang sering muncul di billboard kota-kota besar dunia. Meski begitu, bagi Julian, Vivienne hanyalah perempuan yang ia sayangi… dengan cara yang tenang. Bukan tipe pria yang menggebu-gebu atau cemburuan. Selama Vivienne aman dan baik, itu cukup baginya.

Setelah beberapa menit, sebuah pesan masuk.

“Sayang, aku sudah di Singapura. Transit sebentar, nanti aku kabari lagi kalau mau boarding.”

Julian membalas singkat. Baik. Hati-hati.

Setelah itu ia kembali menikmati makanannya, memandangi pemandangan malam kota Bandung dari balik kaca restoran.

Satu jam kemudian, ia memutuskan berangkat menuju bandara. Lebih baik menunggu Vivienne lebih awal agar tunangannya itu tak kecewa saat sampai di bandara dia belum ada di sana.

Julian mengemudikan mobilnya dengan santai,dia hanya ingin menikmati semua momen yang dia lewati saat masih sendiri di bandung, karena saat bersama Vivienne nanti pasti vibes nya akan berbeda.

Begitu sampai di bandara Julian langsung menuju ruang tunggu kedatangan.

Sudah 1 jam lebih namun belum ada kabar dari Vivienne ataupun pihak maskapai tentang penerbangan dari Singapura.

Julian mulai khawatir namun tetap tenang.

Beberapa menit kemudian smartphone nya berdering, nanti Vivienne langsung terlihat

"Halo"

"Hy sayang maaf , penerbangan di batalkan karena cuaca buruk "Ucap Vivienne begitu telfon tersambung.

" Kenapa baru mengabari?"

" Maaf ku fikir hanya di tunda,tapi sekarang malah di batalkan,aku lelah sekali,kau tau kan penerbangan ke sini itu Berjam jam,dan sekarang malah di batalkan "keluh Vivienne dengan nada manja yang terkesan di buat kelelahan.

" Lalu kapan penebangan akan di buka kembali?"

" Besok pihak maskapai baru akan memberikan kabar, sekarang aku akan pergi ke hotel saja,aku lelah "

" Hm hati hati,aku akan kembali ke hotel "

" Kau tidak marah Julian?"

" Untuk apa?"

" Waktumu terbuang sia sia hanya karena menungguku di bandara, pasti kamu lelah "

" Itu di luar rencana,aku tidak marah, pergilah ke hotel dan beristirahat,aku juga akan kembali ke hotel "jawab Julian lembut sambil menuju parkiran bandara.

" Hm baiklah terimakasih,ku tutup telfonnya "

Julian menatap smartphonenya sebentar sebelum memasukkannya kembali ke saku. Ia tidak marah, hanya sedikit… kecewa, mungkin. Tapi ia tahu Vivienne pasti kelelahan. Yang penting dia aman.

Malam sudah sangat larut ketika Julian keluar dari are bandara menggunakan mobilnya. Kota Bandung begitu hidup, tapi jalanan menuju area hotel cukup lengang.

Di pertengahan jalan, ia sengaja membuka sedikit jendela mobilnya untuk menikmati udara malam bandung.

Jalanan sudah mulai sepi di beberapa tempat karena waktu sudah menunjukkan pukul 23.30.

Namun tak lama kemudian dari arah berlawanan sebuah truk besar dari jalur kanan tiba-tiba melaju sangat cepat, terlalu cepat dan dekat,

Julian berusaha menginjak rem.

Terlambat.

Bruaak!

Mobil Julian terpental, oleng hebat, menghantam pembatas jalan, lalu berputar hingga akhirnya berhenti dengan suara besi berderit. Sabuk pengamannya menahan tubuhnya, tapi benturan itu cukup untuk membuatnya kehilangan fokus.

Pecahan kaca mobil mengenai beberapa kulitnya,Kepalanya berdenyut. Pandangannya mulai kabur.

Dari kejauhan, suara klakson truk itu terdengar—dan truk tersebut bukannya berhenti, melainkan melaju pergi begitu saja, hilang dalam kegelapan seolah kecelakaan itu hanya insiden biasa.

Napas Julian terengah. Tangannya mencoba meraih ponsel, tapi kekuatannya menghilang.

Suara langkah kaki mendekat.

Bukan dari truk.

Suara napasnya sendiri seperti jauh. Tubuhnya berat, sulit bergerak.

Lalu… suara langkah kaki mendekat. Cepat. Tergesa.

“Apa dia mati?” suara seorang pria, panik tapi menahan nada.

“Belum. Tapi sebentar lagi mungkin iya.”

“Ambil dia. Cepat.”

Julian mencoba membuka mata, tapi dunia sudah kabur. Hanya bayangan-bayangan gelap yang bergerak.

Seseorang menarik pintu, menarik tubuhnya dengan kasar. Napasnya terdengar terputus-putus.

“Masukkan ke kantong. Kita bawa ke luar kota"

Plastik hitam. Bau menyengat. Gelap merayap.

Segalanya lenyap.

---

Jam tiga dini hari. Jalanan antara Bandung menuju pinggiran Bogor sangat sepi, hanya sesekali ada motor lewat.

Di sinilah Raina melintas.

Gadis itu baru pulang kerja shift malam dari minimarket, helm menutupi wajah lelahnya, ransel kecil di punggung. Tubuhnya letih, tapi matanya waspada. Jalan ini memang sepi, tapi ia sudah terbiasa.

Ketika ia memperlambat motor di tikungan penuh pepohonan, lampu kecil dari jauh membuatnya memicing. Sebuah mobil hitam tanpa plat berhenti sebentar, beberapa orang turun tergesa, lalu melempar sesuatu ke sisi jalan.

Benda besar. Hitam.

Raina berhenti spontan.

"Apa itu??" Fikir Raina

Mobil itu langsung tancap gas.

Hatinya berdebar tidak wajar.

"Gerak gerik mereka mencurigakan" Guman Riana dalam hati.

" Apa yang sebenarnya mereka buang" Raina mulai menjalankan motornya perlahan.

Begitu sampai lokasi di mana mobil tadi berhenti Raina juga menghentikan motornya.Dia melongok de pinggir jalan yang gelap.

Tak terlihat, "apa yang sebenarnya mereka buang,kalo sampah kenapa gerak gerik mereka mencurigakan" Pikir Raina

Raina perlahan turun dari motornya lalu pelan pelan dia mendekati semak belukar terdekat.

Hatinya takut,tapi rasa penasarannya jauh lebih besar.

" Plastiknya besar sekali?ini sampah atau..... mahluk hidup? manusia????? atau....mayat???"Guman Riana dalam hati antara takut dan panik.

Dengan menyalakan lampu senter dan kakinya yang gemetar, ia coba tetap melangkah.

Kantong plastik hitam besar itu tergeletak miring, seperti berisi sesuatu yang berat. Raina menggigit bibir bawahnya, lalu memberanikan diri merobek sedikit bagian atas plastik itu.

KEPALA

"Itu kepala manusia" Guman Riana kaget.

“Ya Tuhan…” napasnya tercekat.

Ia langsung jongkok dan meletakkan dua jarinya di leher lelaki itu. Ada denyut. Lemah. Sangat lemah. Tapi ada.

Raina panik. Tangannya gemetar.

Telepon polisi? Ambulans? Mana yang lebih dulu...

Akhirnya, ia memilih yang paling cepat: Fahri, sopir ambulans klinik kecil yang tak jauh dari kosnya. Orang baik yang sering mengantar jemput pasien ke rumah sakit besar.

Panggilan tersambung.

“Mas… aku butuh bantuan. Cepat.” suaranya bergetar.

“Raina? Kamu kenapa? Ada apa?”

Raina menyebutkan lokasi dengan terbata-bata. “Ada orang… dia… dia nggak sadar. Tapi masih hidup.”

“Jangan bergerak dari situ. Aku otw sekarang!”

Sambil menunggu ambulan datang Raina memberanikan diri membuka kantong plastik besar itu lebih lebar,

Matanya membulat

Wajah orang itu penuh darah yang sudah mengering, tangannya juga ada goresan,

"Tunggu....itu kaca,ada kaca kecil yang menancap di lengan orang itu"

Dengan perasaan takut campur khawatir Raina mengangkat sedikit kepala orang itu agar pernapasannya tak tersumbat.

"Ku mohon bertahanlah, sebentar lagi ambulan akan datang" Ucap Raina pelan.

Dia menunggu Fahri dengan gelisah dan berulang kali mengecek nadi orang itu.

Ambulans tiba beberapa menit kemudian. Dua petugas medis turun, sedangkan Fahri berlari ke arah Raina.

"Raina..." Panggil Fahri

"Disini" Jawab Raina dari arah bawah jalan.

. Petugas medis segera turun dan menghampiri Raina, mengecek kondisi tubuh laki-laki itu sebelum mengangkatnya ke atas brankar.

“Tekanannya drop! Cepat ke UGD!”

Raina berdiri kaku, tidak bergerak. Fahri menepuk lengannya pelan.

“Kamu ikut?"

Raina mengangguk, dengan tubuh gemetar dia mengikuti ambulan menuju klinik terdekat dengan motornya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!