Alka hanya ingin hidup sederhana, mengejar mimpi, menjaga orang-orang yang ia sayangi, dan membuktikan bahwa kerja keras bisa mengubah masa depan.
Namun tanpa ia sadari, langkahnya tak pernah benar-benar bebas. Di balik kehidupannya, ada dendam lama yang terus tumbuh, dendam dari seseorang yang seharusnya menjadi tempat pulang.
Fellisya menyimpan luka dari masa lalu. Dan tanpa disadari siapa pun, dendam yang ia pelihara perlahan merusak kehidupan orang-orang di sekitarnya, termasuk dirinya sendiri.
Hingga suatu hari, Lista ikut terseret dalam permainan yang tak pernah ia pahami. Persahabatan berubah menjadi luka, kepercayaan berubah menjadi pengkhianatan, dan mimpi-mimpi yang dulu terasa dekat… kini hancur tanpa sisa.
Karena dendam tidak pernah berhenti pada satu orang. Ia akan terus hidup, menjadi dendam yang diwariskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lautan Ungu_07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 03 Mereka Juga Anak Kamu
Dua hari setelah kecelakaan, Alka sudah diperbolehkan pulang. Sore itu Alka duduk di tepi ranjang yang sudah hampir rapi.
Menatap kosong ke luar jendela, rambutnya acak-acakan. Pintu terbuka pelan membuat Alka menoleh.
"Alka," panggil Edgar. Ia berjalan mendekat.
"Iya, Om. Gimana kondisi Alesha sekarang?" tanya Alka.
"Alesha sudah lebih baik dari kemarin. Kedepannya, tinggal fokus terapi," jawab Edgar, tersenyum tipis.
Edgar menarik napas dalam, lalu duduk di samping Alka. "Ka, masalah kecelakaan ini sudah saya bicarakan dengan Bu Fellisya dan Bu Nadira. Saya mau minta tolong bantu jaga Alesha di sekolah."
"Tapi... apa Alesha mau?" tanya Alka, tatapannya ragu.
Setelah pemakaman Ibunya Alesha dua hari lalu. Alesha masih belum mau bertemu dengan, Alka. Karena dia masih beranggapan ini kesalahan Alka.
"Saya sudah bujuk dia. Dia mau kok," Edgar mengelus pelan punggung Alka.
"Kalau dia mau, saya nggak keberatan, Om. Mungkin itu sebagai bentuk tanggung jawab saya jaga Alesha, dan nemenin dia terapi." ada perasaan lega di hati Alka.
"Sebenarnya Alesha udah punya pacar di sekolahnya. Dia ketua osis, tapi saya takut kalau dia lagi sibuk, Alesha nggak ada yang jagain." jelas Edgar, ia bangkit dari duduknya.
"Iya, Om. Saya paham kok," Alka mengangguk kecil.
"Yaudah, kalau gitu. Saya pamit pergi ya, Ka. Kamu hati-hati." Edgar menepuk pundak Alka, sebelum ia pergi.
Tak lama setelah Edgar keluar. Renata kini masuk. Menghampiri Alka yang masih duduk.
"Ayok pulang, Ka." Renata meraih lengan Alka, membantunya bangun.
Alka hanya menoleh, tak menjawab. Mereka berdua berjalan melewati lorong rumah sakit menuju parkiran. Bau antiseptik dan obat-obatan masih menempel dipakaian Alka.
Mobil putih Renata melaju pelan. Meninggalkan rumah sakit pada sore itu.
Di dalam mobil, Alka menatap kosong jalanan. Tapi ingatannya terus memutar kejadian malam saat kecelakaan.
Renata yang mengemudi, sesekali menoleh. "Kenapa, Ka?" tanyanya.
Alka menghela napas dalam, ia menunduk. "Masih kepikiran, Bu. Malam itu aku bener-bener masih sadar. Saat lampu merah, aku juga berhenti."
"Kamu yakin, Ka? Nggak lagi ngantuk?" tanya Renata.
Alka menggeleng cepat. "Nggak, Bu. Aku emang ngantuk, tapi aku masih sadar. Justru... aku yang ngerasa ditabrak, bukan yang nabrak."
Renata tak menjawab. Ia tahu Alka jujur. "Ibu nggak tahu pasti, Ka. Malam itu yang duluan datang ke rumah sakit, Mama sama Oma."
"Apa ini ulah, Mama?... Dari dulu Mama kan selalu ingin lihat aku menderita." tebak Alka ngasal.
Renata tak menjawab, ia hanya menoleh sebentar. Apa yang Alka katakan memang benar, Fellisya selalu merasa puas, jika Alka atau Lista sedang ada masalah.
Tatapan Alka jatuh kosong ke jalanan. Hatinya lelah terus disalahkan. Tapi kalau dia nyerah, siapa yang bakal percaya kalau dia juga pantas dianggap ada. Alka menghela napas panjang. Berharap bisa menghilangkan rasa lelahnya.
Keheningan kembali menggantung dalam mobil. Tak ada lagi yang berbicara, hanya suara samar kendaraan di jalanan.
Mobil putih itu kini masuk ke halaman rumah mewah. Malam sudah tiba saat mereka turun dan masuk ke dalam rumah.
Malam itu sama seperti biasanya. Rumah besar itu tetap ramai, tapi tak pernah terasa hidup. Selalu ada sindiran kecil, tatapan dingin, atau perdebatan yang seolah tak pernah selesai.
Dalam sekejap, malam telah berlalu. Pagi ini penghuni rumah itu sudah kumpul di meja makan panjang.
Suara denting piring dan sendok, aroma bumbu dan makanan memenuhi ruangan. Dari arah tangga, Alka turun pelan. Kakinya masih terasa nyeri.
"Cucu Oma, gimana kondisinya sekarang?" Nadira langsung menyambutnya hangat.
Alka hanya tersenyum. lalu menoleh ke belakangnya. Lista tersenyum miring. Sudah biasa baginya tak ada sapaan atau bahkan pengakuan dari Nadira.
"Lista, hari ini kamu berangkat bareng, Alka, ya," kata Renata, saat Lista duduk di sebelahnya.
"Hmm," jawab Lista.
Fellisya menatapnya tajam. "Jawab yang bener, nggak sopan banget." nada suaranya tinggi.
Lista tak menjawab, ia hanya meliriknya sekilas. Lalu mengambil satu mangkok soto yang masih berasap.
Tatapannya bertemu dengan Alka. Alka menggeleng, seolah berkata, "biarin aja." Lista mengangguk kecil, lalu tersenyum tipis.
Kallista Alkaezar, atau sering dipanggil, Lista. Wajahnya memang mirip dengan Alka, tapi tidak dengan kepribadiannya. Lista lebih dingin, tak banyak omong, tapi orang-orang sering menyalah artikan. Menyebutkan gadis jutek.
Jelas berbeda dengan, Alka. Dia cenderung banyak omong. Kalau kena sindir Fellisya, dia pasti lawan.
"Jadi mulai sekarang kamu sekolah di tempat baru?" Tanya Fellisya datar. Ia mengetahui informasi ini dari Nadira saat mengurus surat-surat pindah sekolah.
"Iya," jawab Alka.
"Cucu kesayangan, Oma. Dari sekolah elit ke sekolah biasa. Gimana rasanya turun kasta?" ucap Fellisya lagi, nadanya datar, tanpa menoleh.
Alka menarik napas dalam. "Nggak semua orang belajar di tempat mewah buat kelihatan hebat."
Fellisya menyeringai. "Tapi gagal tetap gagal, Alka. Mau sekolah dimana pun."
Alka menaruh sendoknya. "Nona Fellisya yang terhormat. Kalau keluarga cuma bangga karena nama dan uang, saya tidak masalah kalau dibilang gagal." ia berdiri, lalu meninggalkan ruang makan.
"Felli, kamu jangan terus seperti itu ke anak-anak," kata Nadira, yang akhirnya bersuara.
"Lagian kamu kenapa, sih... sehari aja nggak usah nyinggung anak-anak nggak bisa, ya?" sahut Renata dengan nada kesal.
Fellisya menatapnya sinis. "Suka-suka saya dong, anda siapanya? kok ngatur-ngatur."
"Saya memang cuma sekedar Ibu sambungnya. Tapi saya tidak seperti kamu," jawab Renata, membalas tatapan Fellisya. "Lagian... kamu yang jelas-jelas sebagai Ibu kandungnya tapi tak pernah anggap mereka ada."
Melihat suasana semakin memanas, Lista segera pergi tanpa berpamitan kepada siapapun.
"Jaga mulutnya, sialan! Perempuan gila!" bentak Fellisya.
"STOP!" Varel menggebrak meja. "Kamu yang gila, Fellisya." Ia menunjuk wajahnya.
"Kamu sama gilanya, mereka anak kamu juga, kan? Tapi nggak pernah kamu anggap juga," jawab Fellisya. Dia berdiri, lalu pergi.
Tak lama Nadira juga kini pergi. Menyisakan Varel dan Renata di meja makan.
"Capek, aku. Sampai kapan harus kayak gini." Renata bangkit dari duduknya. Tapi Varel segera menahan.
"Tiga tahun lagi, kontrak aku sama dia selesai." kata Varel.
"Lagian kamu, Mas. mereka anak-anak kamu loh, kalau kamu nggak bisa nunjukin kasih sayang. Setidaknya kamu jangan biarkan Fellisya terus nyinggung perasaan mereka." Renata pergi tanpa menunggu jawaban dari Varel.
Ruang makan kembali hening. Hanya napas berat dari Varel yang masih duduk di sana.
Sudah enam belas tahun, meja makan itu tak pernah jadi tempat berbagi cerita. Hanya tempat orang-orang saling melukai dengan cara yang paling halus.
masih ada varel yang akan di incar.
kalau gue jadi lista, bakal lompat ke luar mobil dan biarkan Felissya mati di dalamnya