NovelToon NovelToon
9 Pintu Perunggu

9 Pintu Perunggu

Status: tamat
Genre:Action / Misteri / Time Travel / Identitas Tersembunyi / Tamat
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Herwanti

Anila yang seorang wanita biasa. Tiba-tiba masuk ke dunia lain dimana semua orang memiliki keahlian yang sangat berbeda dengan dunia asal Anila. Salah satunya adalah mencari harta karun di dalam makam. Pertama kali Anila masuk ke dunia itu dia ada dilorong yang sangat kegalap, dingin dan sunyi. Tapi Anila tidak patang menyerah untuk mencari jalan keluar. Dia merabah dinding di sebelahnya hingga dia menemukan sesuatu. Apa itu, lalu akan Anila bisa kembali ke dunia asalnya dengan selamat atau dia akan hidup di dunia itu selamanya?.

Kalau penasaran dengan ceritanya ayo baca novelnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Anila bersiap untuk memberikan kejutan. Wanita hantu sudah turun, menghilang seperti bayangan, seolah tak pernah ada. Aku masih belum terbiasa dengan semua ini. Bagaimana bisa aku berbicara dengan hantu wanita? Apa aku sudah gila karena terbangun di tempat ini? batin Anila, penuh keraguan.

Tepat saat ia hendak menggunakan pistolnya, sebuah senapan terlempar dari bawah, mendarat dengan mulus di tangannya. Senjata itu berat, jauh lebih berat dari pistolnya. "Kurasa ini jenisnya sama seperti yang kulihat di film. Senjata tentara militer," gumam Anila, kagum. Wanita hantu rupanya mengambilnya dari salah satu musuh di bawah.

Namun, Anila harus segera fokus. Nyawa orang-orang di bawah sana bergantung padanya. "Bagaimana cara menggunakannya?" Ia membalikkan senapan itu, mencari pelatuknya. Setelah menemukan dan menariknya, Anila segera memposisikan tubuhnya. Membidik salah satu pria berbaju hitam. Tepat saat wanita hantu membuat pengalihan, Anila menarik pelatuk.

Satu peluru melesat dengan cepat ke arah target. Anila menahan napas. Apa ini berhasil?

Peluru itu mengenai bahu salah satu orang berbaju hitam yang berdiri di dekat para sandera. Semua orang yang tadinya tidak waspada segera mencari sumber suara. Mereka mengangkat senjata, menatap sekeliling dengan waspada.

"Siapa di sana?!" teriak salah satu dari mereka.

“Jika kamu ingin hidup keluarlah,”ucap tetara bersenjata dibawah.

Anila, yang mendengar samar-samar, tetap bersembunyi. Mana mungkin aku keluar, pikirnya. Jantungnya berdebar kencang, tubuhnya bergetar. Suara nyaring senapan masih berdengung di telinganya. "Begini rasanya menggunakan pistol. Maafkan aku, Ayah, Ibu," bisik Anila. "Aku melakukan semua ini untuk bisa selamat dari tempat ini."

Meski ketakutan, mata Anila tetap tertuju ke bawah. Ia terus bekerja sama dengan wanita hantu. Dengan setiap pengalihan, Anila menembak satu per satu musuh. Jumlah mereka terus berkurang. Melihat hal itu, kelompok yang tertahan mulai bergerak. Salah satu dari mereka, seorang pria tampan, bergerak dalam kegelapan, berhasil menangkap musuh yang tersisa.

Saat Anila mengamati pria itu, ia melihatnya menoleh ke atas. Tatapannya dingin, seolah ia tahu persis di mana Anila bersembunyi. Anila terkejut. Tidak mungkin, apa dia tahu posisiku?

“Aku harus tenang dan fokus membantu mereka. Untuk mereka curiga atau tidak belakangan saja,”kata Anila kembali mengamati situasi dibawah dengan analisis yang dia ketahui.

Tiba-tiba, wujud wanita hantu yang tadinya samar-samar, kini sepenuhnya menghilang. Bersamaan dengan itu, Anila merasakan hawa dingin yang tak nyaman menusuknya dari belakang. Ia menoleh, mengarahkan senter ke lorong di belakangnya, tetapi tidak melihat siapa pun. "Hei, wanita hantu, apa itu kamu?"

Tidak ada jawaban. Anila menjadi semakin waspada. Di bawah, semua musuh sudah ditangkap. Anila menghela napas lega. Namun, perasaan dingin dari belakang kembali memanggilnya. Anila menoleh lagi, tapi tidak ada siapa-siapa. Ia mengalihkan pandangannya kembali ke bawah, memutuskan untuk turun.

Anila mengeluarkan tali dan merayap turun. Perasaan apa tadi itu? Kenapa aku merasa ada sesuatu yang memanggilku dari belakang? Perasaan itu sangat tidak enak, batin Anila. Semua orang di bawah memandangnya. Mereka terlihat waspada.

"Siapa kamu?" tanya seorang pria paruh baya, nadanya tegas.

Anila turun dan mendarat dengan mulus. "Aku orang yang tersesat," jawab Anila ramah. "Maaf sudah membuat kalian takut. Aku orang baik, kok. Aku hanya ingin keluar dari sini saja. Jika tidak keberatan, apa kalian mau membantuku keluar dari makam ini?"

"Paman, jangan seperti itu," ucap pria tampan berkaca mata yang tadi ia lihat. "Lihat dia, dia hanya wanita biasa. Kurasa dia tidak akan melukai kita. Lagipula dia sudah membantu kita. Maaf sudah membuatmu takut. Kami berterima kasih sudah menolong kami dari kepungan."

"Sudahlah," ujar salah satu pria di belakang mereka, "lebih baik kita lihat peti matinya."

Saat semua orang sibuk, Anila berjalan ke arah pintu besar yang terdapat sebuah ukiran waktu, buku dan orang yang menatap ke arah kedua benda didepannya. Tapi Anila sama sekali tidak berduli dengan gambar ukiran di pintu besar itu yang dia inginkan adalah melihat Pintu perunggu yang dimaksud wanita hantu. Anehnya, ia merasakan tatapan dari lorong tempat ia bersembunyi. Anila menoleh ke atas. Wanita hantu itu tersenyum tipis sambil mengucapkan kata-kata tanpa suara. "Semoga berhasil untuk keluar dari dunia ini."

Anila membaca gerakan bibirnya. Apa maksudnya? Ia memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya. Ia menaiki tangga menuju pintu perunggu itu. Ia mengamati bagian atas hingga bawah, tidak menemukan sesuatu yang aneh. Namun, di bawahnya, ia melihat sebuah tulisan.

"Perjalanan melintasi 9 dunia Raja Armaan Ars."

"Siapa dia?" gumam Anila, ini pertama kalinya ia mendengar nama itu.

"Apa yang kamu lihat?" Pria tampan dengan pedang di belakang punggungnya itu tiba-tiba berada di belakangnya.

"Aku hanya melihat tulisan ini. Apa kakak tahu siapa Raja Armaan Ars?" tanya Anila, penuh rasa ingin tahu.

Pria tampan membawa pedang itu hanya diam, menatap Anila. "Ada apa? Apa kamu juga tidak tahu? Tidak apa-apa," ujar Anila, melihat ke sisi lain, tapi ia tidak menemukan apa-apa. Pria itu masih mengikutinya dari belakang, membuat Anila merasa tidak nyaman. "Kenapa kamu mengikutiku? Aku tidak akan melukai kawanmu. Aku hanya ingin keluar dari sini. Apa tidak boleh?" kata Anila tegas.

Sementara itu, kawan pria tampan berkaca mata yang bersama dengan paman, itu memperhatikan mereka berdua. "Apa yang kakak ketua lakukan disana bersama wanita itu?" tanya seorang pria bertubuh gemuk didekat pria tampan berkaca mata.

"Aku juga tidak tahu. Mungkin dia masih curiga dengan wanita itu. Ayo ke sana, mungkin kita bisa berkenalan dengannya," kata pria berkacamata.

"Kakak ketua, apa yang kamu lakukan di sana? Kamu membuatnya takut," kata pria gemuk itu berjalan mendekat.

Tidak ada jawaban dari pria tampan membawa pedang itu. "Maaf soal kawanku itu," ucap pria berkacamata. "Dia hanya merasa kamu sedikit berbeda."

"Tidak apa-apa. Aku tahu kok kalau mewaspadai orang asing," jawab Anila tersenyum polos seperti tidak ingin memikirkan apa yang sudah terjadi.

“Tapi bagaimana kamu bisa sampai disini teman,”kata pria berkaca mata mencoba mencari informasi.

“Aku juga tidak tahu bagaimana bisa ada disini. Tapi aku ingin keluar dari sini. Lalu apa kamu tahu siapa raja Armaan Ash. Aku tadi bertanya kepda kakak itu. Dia hanya diam saja, mungkin dia juga tidak tahu siapa dia,”kata Anila.

“Kamu bertanya dengan dia,”tunjuk pria gemuk ke arah pria tampan membawa pedang yang bersikap dingin dan datar wajahnya. Anila mengangguk.

“Dia tahu hanya saja malas menjawab saja. Dia suka diam dari pada bicara,”jawab pria berkaca mata.

“Ohh jadi begitu,”jawab singkat Anila. Tapi pria tampan membawa pedang masih menatap ke arah Anila. Ia tahu kegelisahan pria tampan itu. Tapi, bagaimana ia bisa mendapatkan petunjuk dan keluar dari dunia ini?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!