Author update hari, SELASA dan KAMIS
Reyna Maureen Alexandria seorang gadis dingin tak tersentuh. dia juga seorang ketua Geng motor Black Rose.
Reyhan Saputra Smith adalah ketua OSIS sekaligus kapten basket disekolah TUNAS BANGSA. Reyhan adalah cowok dingin dan cuek dia terkenal di sekolah Tunas bangsa disebut Ketos kutub karena sifatnya yang dingin sama orang lain.
Reyhan juga adalah siswa paling pintar disekola Tunas bangsa. Setelah kedatangan siswi baru yang bernama Reyna, Reyhan menjadi pribadi banyak bicara.
Apakah mereka akan tumbuh benih-benih cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 003: Pertemuan di Kantin dan Danau
Reyna menyantap makanannya dengan tenang, seolah tak ada satu hal pun yang bisa mengganggunya. Namun, ketenangan itu sedikit terusik saat riuh rendah suara gadis-gadis di sekitar kantin terdengar memekakkan telinga.
"Gila, Reyhan keren banget, deh!"
"Iya, lihat tuh Dimas dan Brian juga ada. Ganteng-ganteng semua, cool abis!"
Tiga sosok paling berpengaruh di sekolah itu, para most wanted yang paling diidamkan memasuki kantin dengan aura yang begitu kuat hingga semua mata tertuju pada mereka. Dimas mengedarkan pandangan, mencari tempat kosong, namun hampir seluruh meja sudah terisi penuh.
"Kursi penuh semua, nih," gumam Dimas.
Pandangan mereka pun jatuh pada satu-satunya meja yang masih memiliki ruang kosong, tempat Reyna duduk sendirian. Reyhan berjalan mendahului menuju meja itu, diikuti kedua temannya.
"Boleh kami duduk di sini? Di tempat lain sudah penuh," ujar Dimas ramah.
Reyna mengangkat wajah sekilas, menatap ketiga pemuda itu satu per satu dengan tatapan datar, lalu mengangguk pelan sebagai tanda boleh. Mereka pun duduk, sementara Brian beranjak pergi untuk memesan makanan dan minuman untuk mereka bertiga.
Dimas yang periang tak bisa diam saja. Ia menyodorkan tangan kanannya ke arah Reyna sambil tersenyum. "Perkenalkan, nama gue Dimas. Lo murid baru ya?"
Reyna hanya diam menatap uluran tangan itu tanpa berniat membalasnya. Tangan Dimas tergantung di udara beberapa saat sebelum akhirnya ditarik kembali dengan rasa malu.
"Itu di sebelah gue ada Reyhan, Ketua OSIS kita lho," tunjuk Dimas, berusaha mencairkan suasana. Reyna hanya melirik sekilas, lalu kembali menyantap makanannya tanpa respon. "Terus yang tadi pergi namanya Brian..."
"Berisik," potong Reyna ketus. Kesabarannya habis mendengar celoteh panjang lebar Dimas yang tak ada hentinya.
Tanpa menunggu reaksi mereka, Reyna langsung berdiri dan pergi meninggalkan meja itu. Baginya, makan dengan tenang jauh lebih penting daripada harus meladeni mereka.
Sepulang sekolah, Reyna tak langsung pulang ke rumah. Ia mengarahkan motornya menuju markas besar gengnya. Di sana, anak buahnya sudah berkumpul. Dion, orang kepercayaannya, menyambut kedatangannya.
"Kapan ada balapan lagi?" tanya Reyna dengan nada datar khasnya.
"Malam ini ada pertandingan, Queen," jawab Dion singkat dan jelas.
"Daftarkan gue," perintahnya tegas, lalu ia berbalik badan.
"Mau ke mana lagi?" tanya Dion bingung.
"Ada urusan gue Pulang dulu," jawab Reyna sambil berlalu pergi dan menaiki motornya.
Ia memacu kendaraannya dengan kecepatan sedang, tak terburu-buru. Tujuannya kini adalah sebuah danau tenang di pinggiran kota, tempat favoritnya saat ingin sendiri. Ia mematikan mesin, lalu duduk di tepi danau, melemparkan batu-batu kecil ke dalam air sambil termenung.
Suara langkah kaki mendekat, namun Reyna tak menoleh.
"Boleh gue duduk di sini?" tanya sebuah suara berat.
Reyna hanya mengangguk tanpa menatap. Sosok itu pun duduk di sampingnya. Suasana hening menyelimuti mereka berdua, tak ada yang berani memulai percakapan. Pria itu sesekali melirik ke arah gadis di sampingnya, namun Reyna tetap fokus pada air danau yang bergelombang pelan.
Saat Reyna beranjak berdiri hendak pergi, pria itu bertanya spontan, "Mau ke mana?" Ia lalu terlihat gugup dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Ma... maksud gue, apa gue ganggu sampai lo mau pergi?"
"Enggak," jawab Reyna datar, lalu melangkah pergi menuju motornya dan melesat menjauh.
Pria itu tak lain adalah Reyhan, hanya menatap motor itu hingga hilang dari pandangan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring.
"Menarik. Hanya dia yang sama sekali tidak tertarik dengan pesonaku," gumamnya pelan.
Ponselnya berdering memecah lamunan. "Halo, ada apa?"
"Rey! Lo di mana sih? Kami sudah nungguin lo hampir satu jam di markas, tapi nggak datang-datang," gerutu Dimas dari seberang telepon.
"Di danau," jawab Reyhan singkat, lalu mematikan sambungan teleponnya.
Tak lama kemudian, Reyhan sudah berada di markasnya bersama Dimas dan Brian. Ia duduk bersandar santai.
"Ada apa lagi?" tanya Reyhan.
Dimas langsung bersemangat. "Denger nih, malam ini ada balapan liar lagi. Kabarnya, Ratu Racing yang legendaris itu bakal ikut turun tangan lagi."
"Terus hubungannya sama gue apa?" tanya Reyhan bingung.
"Gue sudah daftarin lo buat tanding lawan dia. Gue pengen lihat siapa yang lebih hebat antara lo sama Ratu Racing itu," jawab Dimas polos.
Reyhan menatap tajam temannya, seolah ingin memakannya hidup-hidup karena bertindak semena-mena.
"Eh, santai dong, Bro. Jangan marah-marah, nanti cepet tua lho," cegah Dimas sambil nyengir.
Reyhan menghela napas kasar, berusaha menahan emosi. "Jam berapa acaranya?"
"Jam dua belas malam," jawab Brian cepat.
Reyhan langsung berdiri dan berjalan keluar.
"Lho? Cepat amat lo pulang, Rey?" tanya Brian heran.
"Ada urusan," jawabnya singkat.
Ia masuk ke dalam mobilnya dan melaju perlahan menuju rumahnya. Sesampainya di halaman, ia bergegas masuk dan mengedarkan pandangan mencari sosok ibunya, namun rumah itu terasa begitu sepi dan sunyi.
bedahxbeda
kepalahxkepala
bedah, melongoh.,
wlpun reader tau mksudny tp kurang enk aja d bacanya.