Pernikahan yang berdasarkan untuk menghindari kesalahpahaman, hingga membuatku terpaksa harus menerima pernikahan yang sama sekali tidak kuinginkan.
Pernikahan yang ku fikir akan menyelamatkan ku dari fitnah ternyata justru membuatku hidup dalam kesengsaraan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20. Aldi Menutupinya
Langit di atas sana terlihat semakin berwarna, terlihat indah di sore hari. Semua aktifitas seakan telah usai dan waktunya untuk beristirahat.
Wajah pria yang duduk bersandar dengan kepala menengadah di sandaran sofa sesekali terdengar merintih saat sebuah kompres mendarat di bagian wajah lebamnya.
"Maaf, Mas. Aku sudah pelan-pelan ini. Tahan yah sedikit lagi."
"Aw...aw..." Aldi terus merintih kesakitan.
Di sela-sela pengompresan yang di lakukan Meisa, sesekali wajah Naina ikut meringis seakan merasakan apa yang Aldi keluhkan saat itu.
"Tante Mei, Omnya habis ketemu sama orang jahat yah?" Akhirnya suara penasaran yang sejak tadi pun keluar begitu saja.
Meisa yang fokus kini memberikan segaris senyuman di wajah manisnya itu, Matanya yang lemah lembut menatap pada bocah di sebelahnya.
"Iya sayang, Omnya habis ketemu sama orang jahat. Makanya Naina pulang dulu yah? besok baru ke sini lagi main sama Tante Mei. Kasihan Omnya lagi sakit kan?" bujukan Meisa terdengar sangat lembut karena ia tidak ingin membuat hati Naina kecewa.
Manik mata hitam legam miliknya melirik jam beker di atas nakas, tepat di samping sofa keluarga itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima lewat empat puluh lima menit. Dan supir Naina sudah sejak tadi membujuk Naina agar mau pulang, sayangnya bocah itu enggan pulang mengingat di rumah besar milik Bu Rosa ia sangat kesepian.
Wajah penuh pertimbangan sejak tadi yang semakin menambah gemas akhirnya manggut-manggut pelan. Akhirnya Naina mau mengalah dengan suami Meisa. Ia sangat tidak tega melihat keadaan Aldi yang begitu memprihatinkan.
"Yaudah deh Naina mau pulang kalau begitu. Tante Mei jangan lupain Naina yah? besok pagi-pagi Naina mau ke sini lagi pokoknya."
Suara lembut khas bocah itu membuat Aldi yang kesakitan sedikit tertawa karena terhibur. Wajah yang sakit itu tak bisa menutupi senyuman yang ia tampilkan.
"Tuh Omnya jadi ketawa gara-gara kamu sayang. Tidak mungkin Tante Mei bisa lupain kamu. Kan kita baru ketemu dan besok ketemu lagi kan?"
"Yasudah, Mas aku antar Naina keluar dulu yah? Mas Aldi masuk ke kamar aja dulu. Nanti setelah ini aku nyusul deh."
Aldi menganggukkan kepala dan menatap kepergian Meisa dan juga Naina. Wajahnya tersenyum sungguh kelembutan Meisa benar-benar hal yang Aldi impikan saat memiliki istri dan saat ini itu sudah terkabul.
"Pak hati-hati yah bawa Naina nya. Oh iya Tante Mei titip salam yah sayang sama Oma." ucapnya sembari menuntun Naina masuk ke dalam mobil. Sebelum pintu mobil bergeser Meisa mendaratkan satu ciuman di kening bocah itu.
"Terimakasih Tante, tapi Naina boleh nggak kalau manggilnya Mommy Mei saja?" mata Meisa membulat karena terkejut.
Sedalam itukah dirinya masuk ke hati bocah cantik ini. Meski senang mendengarnya, namun Meisa tidak berani mengambil keputusan saat itu. Ia tersenyum mengusap lembut rambut Naina. Sungguh bukan Meisa namanya jika ia bisa menolak permohonan seseorang karena rasa tidak teganya yang terlalu besar.
"Em...bagaimana kalau Naina tanyakan dulu pada Oma dan Daddy?"
"Oke deh, Naina nanti kabarin Tante Mei yah kalo boleh?"
"Iya sayang, yasudah Naina pulang gih."
Tangan lembut Meisa menggeser pintu mobil, seketika itu juga mobil pun melaju dengan kecepatan sedang.
Wajah senyum bahagia tak bisa ia sembunyikan sampai Meisa masuk ke dalam kamar.
"Ada apa, Mei?" tanya Aldi penasaran.
Bahagia. Yah hanya satu kata itu yang tersirat di benak Meisa kali ini. Namun tak mampu ia ungkapkan dengan lisan. Sungguh bahagia mendapat posisi spesial di hati anak kecil.
Rasanya sangat tidak sabar untuk menunggu kelahiran bayinya Meisa menundukkan kepalanya memandangi perut yang belum terlihat begitu menonjol. Ia mengusap perlahan perut itu.
Aldi yang tadinya duduk di bibir kasur pun bangun dan memeluk tubuh Meisa. Tangan yang berukuran lebih besar itu dari milik Meisa ikut melingkar di perut sang istri.
"Kamu tidak sabar anak kita lahir yah?" tanyanya lembut.
"Iya Mas. Aku sangat menantikan kelahirannya. Sangat menantikan. Aku tidak sabar menjadi seorang Ibu." tutur Meisa.
Cukup lama Aldi menyentuh lembut perut rata sang istri dengan sentuhan sensual itu. Tangan sebelah meraih dagu lancip Meisa.
Kedua manik mata mereka saling bersitatap ada sesuatu yang ingin saling tersalurkan saat itu juga. Entah mengapa semenjak kehamilan Meisa, Aldi jauh lebih memiliki rasa keinginan yang lebih.
"Kalau begitu mari temani aku mandi." ajaknya dengan meraih tubuh sang istri ke dalam gendongannya. Meisa tak memberikan penolakan atau sejenisnya.
Tatapan mereka masih saja bertaut. Aldi menurunkan tubuh sang istri dan melucuti satu persatu kain yang ia pakai saat itu.
Keduanya sudah tak memakai satu helai kain pun.
Ruangan kamar mandi yang tadinya begitu dingin kini terasa mulai memanas karena adegan keduanya saling beradu. Peluh sudah mulai membasahi tubuh keduanya. Meisa menikmati setiap sentuhan yang di berikan sang suami.
Erangan demi erangan mengantarkan kenikmatan yang tiada duanya. Tubuh Aldi mengejang setelah Meisa mendesah panjang.
Usai sudah perang nikmat dan kini keduanya memutuskan untuk segera mandi. Wajah Meisa terlihat sangat segar. Aldi kembali di olesi obat penghilang bekas luka dengan Meisa.
Wanita itu begitu telaten mengobati luka itu. Di sela-sela kegiatan tangannya yang mengolesi wajah Aldi, ia merasa masih penasaran karena sejak tadi suaminya masih tutup bicara.
Kedua tangan Aldi melingkar di pinggang Meisa dan membawanya masuk ke dalam pangkuannya. Meisa memakai handuk kimono begitu juga dengan Aldi masih memakai handuk setengah badan.
"Mas, sudah selesai. Mas hutang penjelasan denganku. Katakan apa yang terjadi?" tanya Meisa lembut dan hati-hati.
Aldi tersenyum berusaha menutupi masalah yang ada. Ia tidak mungkin jujur jika Bimo yang melakukan ini padanya.
"Ini hanya kesalah pahaman saja, Mei. Tadi aku nolongin orang eh malah di sangka aku maling. Memangnya ada yah maling setampan aku?" goda Aldi berusaha mengalihkan rasa penasaran istrinya.
Gelak tawa terdengar memenuhi ruangan kamar mereka. Meisa memegangi perutnya karena geli mendengar pujian Aldi yang ia lontarkan untuk dirinya sendiri.
"Hahaha Mas Aldi yah, benar-benar." ucapnya di sela tubuhnya yang bergetar.
"Ada apa, Mei? memangnya aku tidak tampan yah?"
Buliran bening terlihat turun dari kedua pelupuk mata Meisa. Ia menggelengkan kepalanya.
"Apa? jadi aku jelek?" tanya Aldi lagi.
"Mas Aldi bukan jelek, tapi sejak kapan Mas Aldi sepercaya diri itu?"
"Yah sejak kamu mau menikah denganku. Berarti aku nggak jelek-jelek amatkan?" ucapnya.
Meisa menghentikan tawanya saat itu juga. "Mas, aku itu mencintai Mas. Tapi saat kita menikah jujur rasa itu belum ada. Namun karena pribadi Mas yang aku tahu sejak lama makanya aku mau menerima tawaran menikah dengan Mas. Bukan karena tampannya Mas Aldi."
"Mei, aku mencintaimu."
Suara penuh ketulusan itu kembali terdengar. Meisa tak kuasa mendengar hal manis dari bibir suaminya. Ia masuk ke dalam pelukan sang suami. Deru nafas Aldi membelah rambut yang mulai kering di sana. Meisa memejamkan matanya merasakan kenyamanan yang ia dapatkan dari suaminya.
Meski ada perasaan sakit, entah sakit karena apa? Meisa sendiri tidak tahu. Ia berpikir mungkin goresan luka lama yang telah Aldi tinggalkan itu masih belum menghilang sampai sejauh ini. Namun ia tidak ingin mengambil pusing. Sekuat tenaga Meisa terus menenangkan sesak di dadanya yang terkadang tiba-tiba muncul begitu saja.
Yang terpenting baginya saat ini adalah memulai kehidupannya yang baru dengan kepercayaan yang penuh. Dan berharap Aldi tidak akan memberi lubang pada kepercayaan Meisa padanya.
lanjut baca lagi lah
semangat thor 💪