Pengantin Pengganti Untuk Mafia.
Laura dijebak saat dia berniat bekerja sebagai seorang Nanny di sebuah mansion besar McManaman, Irlandia. Ia justru dijadikan pengantin untuk menggantikan putri berharga sekaligus pewaris McManaman dan menikahkan Laura dengan seorang Killian Marcano demi keuntungan sekaligus menjadi jembatan perdamaian antara dua keluarga mafia Irlandia dan New York.
Tekanan, ancaman, darah dan nyawa menjadi taruhan bagi Laura sehingga dia terjebak dalam lingkaran Sindycat. Dan berniat meracuni Killian Marcano di malam pertama mereka.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon Dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OTM — BAB 20
PASRAH
Lengan kiri Laura dicengkeram kuat oleh Muchus, kepalanya tertutup kain hitam yang menyisakan kegelapan pekat. Ia berjalan diseret, napasnya tersengal, rasa takut bercampur amarah meluap di dadanya. Ia meronta sekuat tenaga, tubuhnya bergerak ke kiri dan kanan, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman itu.
Tiba-tiba, tangan kanannya terlepas dari genggaman anak buah yang tak waspada. Tanpa membuang waktu, Laura meraih tepian kain yang menutupi kepalanya, menariknya ke bawah hingga jatuh ke bahu. Ia membuka mata lebar-lebar, lalu tanpa ragu menggigit punggung tangan Muchus sekuat tenaga.
"Argh!" Pria itu melepaskan cengkeramannya secara refleks, mundur selangkah sambil menatap tangannya yang berbekas gigi.
Kesempatan itu tak disia-siakan Laura. Ia berlari secepat kakinya mampu, menyusuri lorong yang panjang dan gelap, napasnya memburu di tenggorokan.
“TANGKAP JALANG SIALAN ITU! JANGAN BIARKAN DIA KABUR.” Sentak Muchus.
Para penjaga segera mengejarnya.
Sementara Laura masih berlari kencang. Tumit sepatu kakinya terlepas satu per satu di tengah lari, kedua telapak kakinya kini menyentuh lantai dingin, namun ia tak peduli. Keringat membasahi wajahnya, rambutnya berantakan, dada naik turun menahan rasa sakit dan kelelahan.
Ia menembus pintu samping yang terbuka, melesat ke halaman belakang yang luas dan gelap. Angin malam menerpa wajahnya, menusuk kulit yang mulai kedinginan, namun ia terus berlari menuju gerbang besi yang terlihat jauh di ujung sana — satu-satunya jalan keluar yang terlihat.
-‘Aku harus pergi dari sini. Mereka akan menghabisi ku sebelum adikku...’
Belum sempat ia melangkah jauh, suara dentuman memecah keheningan malam.
DARR!
Sesuatu yang panas melesat melewati udara, dan seketika rasa perih yang tajam menyergap paha kirinya.
“Ah..”
Laura terhuyung, kakinya tak mampu lagi menopang tubuh, lalu jatuh berlutut ke tanah yang lembap. Darah mulai merembes membasahi kain kaus kakinya, rasa sakit itu menyebar ke seluruh tubuh. Ia menahan rintihan, menggigit bibir, mencoba bangkit kembali namun kakinya tak sanggup.
Sandra menyeringai kecil dengan pistol di tangan.
Beberapa anak buah segera mengelilinginya, menahannya agar tak bergerak. Laura meronta, menatap mereka dengan mata yang memerah dan berair, penuh kemarahan yang tak bisa diredam.
“Le-lepaskan aku! LEPAS!”
Sandra melangkah maju perlahan, di belakangnya berdiri Muchus dan Zoey. Bibir Sandra menyunggingkan senyum tipis yang penuh kemenangan.
"Seorang pengkhianat tidak akan pernah bisa kabur dari sini," ucapnya tenang namun tajam. "Kau hidup di sini, dan akan mati di sini."
Laura mengangkat wajahnya, menatap wanita itu tanpa menunduk sedikit pun. "Aku bukan pengkhianat. Aku tidak melakukan kesalahan apa pun."
“Perkataan yang konyol.”
Sandra tertawa pelan, lalu tiba-tiba mengangkat gagang pistol yang digenggamnya, menghantamkannya ke pipi kanan Laura. Rasa perih yang tajam menyusut ke tulang pipi, membuat Laura meringis namun tak menunduk.
Darah mulai menetes dari sudut bibirnya, namun ia justru menyunggingkan senyum tipis yang menyakitkan.
"Kalian hanya bisa membunuh," ucapnya dengan suara bergetar namun tegas. "Kalian selalu menjadikan orang lemah sebagai kesenangan semata. Apa yang kalian banggakan huh?"
Wajah Sandra memerah padam. Ia kembali menghantam wajah Laura, berkali-kali, hingga pipi kanan gadis itu memar, hidungnya berdarah, dan sudut bibirnya robek. Laura terhuyung, kepalanya terasa pening, namun matanya tetap menatap tajam ke arah wanita itu.
Tutup kepalanya lagi!" pint Sandra penuh emosi.
Kain hitam kembali ditarik menutupi pandangannya. Laura meronta, mengumpat dengan suara yang tertahan dan kedua tangannya diikat dari belakang. "Aku bersumpah kalian semua akan menanggung dosa besar! Lepaskan aku!"
***
Jauh dari sana, di sebuah bangunan yang sunyi dan suram, Lily masih terbaring lemah di atas ranjang. Tubuhnya terasa berat, pandangannya kabur, namun ia berusaha mengangkat kepala sedikit. Wajahnya berantakan, rambutnya kusut, dan air mata kembali menetes perlahan dari sudut matanya.
"Kakak..." bisiknya nyaris tak terdengar. "Laura... tolong aku..."
Di ruangan lain, seorang pria berjas putih berdiri dengan wajah tegang, menatap anak buah McManaman yang berjaga di sana.
"Masih belum ada pesan lain dari Tuan Kieran?" tanyanya, suaranya penuh kekhawatiran yang tak disembunyikan. "Aku tidak ingin dikhianati. Aku tak ingin dirugikan. Aku sudah menuruti perintah kalian — mengurung gadis yang waras di sini seolah dia gila. Sampai kapan hal ini akan berlangsung?"
Pria yang berjaga itu tetap diam, wajahnya datar tanpa ekspresi. "Tunggu saja perintah selanjutnya. Itu saja yang kami tahu."
“Fuck!” umpatnya.
Kembali ke kediaman Marcano, kain hitam ditarik kasar dari kepala Laura. Ia berkedip menyesuaikan cahaya, napasnya tersengal, kedua tangannya diikat erat di belakang punggung.
Paha kirinya masih terasa nyeri, darah perlahan membasahi pakaiannya. Wajahnya penuh luka, memar di pipi, darah dari hidung dan bibirnya — namun matanya tetap tegak menatap ke depan.
Di hadapannya, berdiri Vincenzo Marcano. Pria tua itu menatapnya tajam, seakan hendak membaca setiap rahasia yang tersembunyi di balik wajah yang terluka itu. Mereka berada di ruang tengah yang luas, hening, dan penuh ketegangan.
"Kau sudah mendengar semuanya. Izinkan aku menghabisinya sekarang juga, Vincen."
Vincenzo mengangkat tangan perlahan, menahan langkahnya. Matanya tak beralih dari wajah Laura.
"Siapa kau sebenarnya?" tanyanya pelan namun berat. "Dan apa hubunganmu dengan McManaman?"
Laura menelan ludah, menahan rasa sakit yang menjalar di tubuhnya. Ia menatap pria tua itu lurus-lurus dengan bibir gemetar dan tatapan tegas.
"Aku Laura... Laura Sharon." Suaranya bergetar namun jelas. "Aku bukan putri mereka. Aku hanyalah orang yang dipaksa untuk menggantikan tempat yang bukan milikku."
Vincenzo mengangguk pelan, seakan mengerti sebagian kebenaran. "Jadi kau bekerja di bawah perintah Kieran McManaman. Berapa banyak rahasia keluarga Marcano yang sudah kau ketahui?"
"Aku tidak tahu banyak," jawabnya jujur, tanpa berusaha menyembunyikan apa pun. "Dan aku juga tidak berharap berada di sini. Baik di kediaman McManaman maupun di kediaman ini — keduanya sama saja bagiku."
Zoey dan Sandra saling bertukar pandang, menyeringai kecil dan ingin sekali mengahbisi nya. Muchus menatap Laura tajam, seakan menilai mangsa yang tak akan lolos lagi.
"Seorang pengkhianat dan mata-mata," ucap Vincenzo pelan. "Orang sepertimu selalu berakhir tewas di rumah ini."
Darah seakan membeku di pembuluh darah Laura. Ia tak takut mati untuk dirinya sendiri, namun ia takut — takut tak bisa menyelamatkan adiknya yang masih terkurung di tempat yang entah di mana. Dadanya sesak, napasnya tertahan.
Brugh!
Belum sempat ia berkata apa-apa, seseorang menendang bagian belakang kakinya dari belakang. Laura jatuh berlutut ke lantai marmer yang dingin, menahan rasa sakit yang tajam. Ia menunduk sejenak, air mata jatuh perlahan ke lantai, lalu mengangkat wajahnya menatap Vincenzo dengan ketabahan yang tersisa.
"Aku tidak takut mati," ucapnya pelan namun tegas. "Karena aku tidak bersalah."
"Gadis sombong," umpat Sandra di sampingnya.
Vincenzo menatapnya dingin, sedingin es yang tak mencair. Ia menoleh ke arah Muchus.
"Muchus," ucapnya datar. "Habisi dia sekarang."
Ia berbalik perlahan, melangkah pergi meninggalkan ruangan itu tanpa menoleh kembali.
Laura menatap punggung pria tua itu menjauh dengan pasrah.
Sementara Muchus melangkah maju, pistol sudah digenggam erat di tangannya. Ia berdiri tepat di samping Laura yang masih berlutut, lalu menempelkan laras dingin itu ke pelipis gadis itu.
"Memohonlah," bisik Muchus sedikit membungkuk, seakan memberi kesempatan terakhir.
Laura menatapnya tajam, mata yang berair namun tak menyerah. "Aku tidak akan memohon kepada pria menjijikan sepertimu."
Muchus menyeringai tipis penuh emosi. Ia mulai menarik pelatuknya. Laura menatap lurus ke depan, tak memejamkan mata sedikit pun, meski jantungnya berdegup kencang seakan mau meledak dari dadanya.
Tepat saat itu, suara berat terdengar menggelegar di ruangan itu.
"Jangan ada yang berani menyentuhnya."
Semua orang menoleh serentak. Di ambang pintu, berdiri Killian. Kemeja hitamnya rapi, mantel panjangnya tergantung lurus, tatapannya tajam dan mengancam. Ia melangkah masuk dengan langkah panjang dan tegas, berhenti tepat di samping Laura.
"Kau tidak bisa..." Sandra maju selangkah, suaranya meninggi. "Menghabisi mata-mata bajingan ini adalah perintah dari Vincenzo Marcano sendiri!"
"Aku tahu," jawab Killian tegas, matanya menatap tajam ke arah Sandra. "Jika berani menyentuhnya maka aku tidak akan segan kepada kalian."
"Kenapa?" tanya Zoey maju mendekat. "Dia hanyalah musuh yang dikirim untuk menipu kita! Kenapa kau melindunginya?"
Killian berhenti sejenak, menatap Zoey dengan tatapan yang tak bisa dibantah. Lalu ia berkata singkat, tegas, dan jelas, seakan memaku kebenaran di udara.
"She is my wife."
Keheningan menyelimuti ruangan itu seketika. Sandra, Zoey, dan Muchus terdiam tak mampu berkata apa-apa. Laura yang masih berlutut di lantai menatap punggung pria itu — suaminya.