Shania, seorang gadis modern, terjebak dalam tubuh Aurelia Valerius—istri dari Damian Valerius, jenderal tiran yang kejam dan membencinya. Mengetahui takdir aslinya akan berujung pada kehancuran dan penyiksaan, Shania memilih kabur diam-diam dan merintis hidup baru sebagai pembuat roti di sebuah kota kecil.
Sementara itu, Damian yang awalnya merasa lega mendadak tersiksa oleh kehampaan di rumahnya. Ketika ia berhasil menemukan sang istri yang kini hidup mandiri namun diliputi ketakutan mendalam, sang jenderal harus membayar mahal semua dosa masa lalunya untuk mendapatkan kembali hati wanita yang dulu ia abaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20
Kilatan dingin dari bilah pisau pemotong roti kecil yang bergetar di tangan Aurelia memantulkan cahaya suram dari jendela toko, menciptakan ketegangan yang begitu pekat hingga udara di dalam ruangan seolah membeku. Namun, sebelum ujung logam tajam itu benar-benar menorehkan luka pada kulit lehernya yang jenjang, Damian bergerak dengan kecepatan seorang predator terlatih.
"Jangan!" seru Damian dengan suara berat yang pecah, sebuah bentakan putus asa yang sarat akan teror kehilangan.
Dalam satu ayunan kilat, tangan kekar sang Jenderal mencengkeram pergelangan tangan Aurelia, meremasnya dengan cukup kuat untuk membuat pisau itu terlepas dari genggamannya dan berdenting nyaring menghantam lantai kayu. Tubuh Aurelia yang kehilangan keseimbangan langsung terhuyung jatuh ke depan, terperangkap di dalam pelukan dada bidang Damian.
Wanita itu meronta liar, mengeluarkan isak tangis histeris yang memilukan, memukul-mukul dada Damian dengan kepalan tangan kecilnya sambil berteriak agar dilepaskan dari mimpi buruk yang kembali menghantuinya. "Lepaskan aku! Biarkan aku mati! Jangan bawa aku kembali ke sana!" raung Aurelia, suaranya parau dan hancur lebur oleh sisa-sisa trauma psikologis yang melampaui batas kewarasan.
Damian tidak membalas rontokan itu. Ia membiarkan wanita tersebut melampiaskan seluruh ketakutannya, sementara kedua lengan kokohnya mengurung tubuh Aurelia dengan erat namun penuh kehati-hatian—memastikan tidak ada cederanya yang bertambah buruk.
Di ambang pintu dapur belakang, suara derap langkah kaki panik terdengar mendekat. Lily, sang pelayan muda setia, bersama seorang pelayan toko lainnya dan seorang pelanggan tetap pria—seorang nelayan paruh baya berwajah ramah yang tadi pagi sempat mengobrol hangat dengan Aurelia—tercengang di tempat melihat pemandangan mengerikan di hadapan mereka.
"Nona Auris!" teriak Lily histeris, hendak menerobos maju untuk menolong majikannya.
Namun, sebelum Lily sempat melangkah lebih jauh, Damian mengangkat kepala dan melemparkan pandangan tajam bagai silet ke arah mereka. Manik mata abu-abu badai itu memancarkan otoritas mutlak dan peringatan mematikan yang membuat ketiga orang di sana serta-merta membeku di tempat, terperangkap dalam ketakutan yang mencekam.
Aurelia, yang menyadari kehadiran orang-orang di sekitarnya dan merasakan tatapan mengerikan dari sang Jenderal, mengerahkan sisa-sisa tenaga terakhirnya. Dengan sentakan putus asa yang liar, ia melepaskan diri dari rengkuhan tangan Damian, lalu berbalik dan berlari kencang menerobos tirai linen menuju ke ruang belakang toko, membanting pintu kayu itu rapat-rapat dan menguncinya dari dalam, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di ruang utama.
Damian berdiri mematung di tengah ruangan. Tangannya yang tadinya menggenggam udara kosong perlahan-lahan terkulai di sisi tubuhnya.
Pria itu menatap lurus ke arah pintu kayu tertutup di hadapannya. Tidak ada kemarahan di wajah kerasnya yang terpahat sempurna; yang ada hanyalah ekspresi kehancuran yang mendalam, rasa sakit yang tak bertepi, dan penyesalan membakar yang mengoyak-ngoyak nuraninya. Ia telah melihatnya dengan kepala matanya sendiri—bukti mutlak bahwa kehadirannya adalah racun paling mematikan bagi wanita yang ia cintai dalam diam.
Hari itu, toko roti Roti Hangat Auris ditutup lebih awal. Para warga sekitar berbisik-bisik penasaran melihat pria berbadan besar berbalut jubah militer gelap yang berdiri kaku di seberang jalan selama berjam-jam, menatap jendela tertutup lantai dua dengan pandangan kosong yang menyayat hati.
Sejak hari itu, dinamika di kota pelabuhan kecil yang tenang ini mengalami perubahan yang aneh dan perlahan-lahan menjadi bagian dari rutinitas harian warga.
Setiap sore, tepat ketika matahari mulai condong ke barat dan bayang-bayang bangunan memanjang di atas jalanan berbatu, sosok Damian Valerius selalu muncul. Pria itu tidak lagi mengenakan atribut militer kebesarannya yang mencolok; ia mengenakan mantel panjang hitam polos tanpa lencana kekaisaran, namun aura dominasi dan ketegasan garis wajahnya tetap tidak bisa disembunyikan oleh siapa pun.
Damian tidak pernah mendobrak masuk. Ia tidak pernah mencoba memaksa membuka pintu belakang tempat Aurelia mengurung diri atau menghindari tatapannya.
Setiap harinya, pria itu melangkah masuk ke dalam toko dengan langkah tenang, memilih meja paling sudut di dekat jendela kaca yang menghadap langsung ke arah dapur tempat Aurelia bekerja. Ia duduk di sana dalam kesunyian mutlak, tidak berbicara kepada siapapun, tidak pula menebar ancaman. Ia hanya memesan satu potong roti keras sederhana dan secangkir teh tawar, lalu menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengawasi Aurelia bekerja dari kejauhan.
Bagi Aurelia, yang sesekali mengintip melalui celah tirai dapur, keberadaan pria itu di sudut ruangan adalah siksaan psikologis yang luar biasa. Setiap kali ia melihat bayangan tubuh tinggi besar itu duduk diam di meja sudut, dadanya kembali sesak oleh memori malam mengerikan itu. Namun seiring berjalannya waktu, seiring Damian tidak pernah melakukan pergerakan agresif atau ancaman kekerasan—hanya duduk di sana dalam diam, menatapnya dengan tatapan penuh rasa bersalah dan kesedihan yang tulus—ketakutan histeris itu perlahan-lahan bergeser menjadi ketegangan yang membingungkan.
Bagi para warga kota kecil, kehadiran Damian memicu spekulasi liar yang berkembang dari mulut ke mulut di pasar.
"Hei, lihat pria bermantel hitam di sudut toko Nona Auris itu," bisik seorang ibu paruh baya kepada tetangganya sambil berbelanja sayur. "Dia sudah datang setiap sore selama dua minggu berturut-turut. Apakah dia seorang penagih utang?"
"Mana mungkin penagih utang bersikap seperti itu!" sangkal seorang nelayan tua sambil menggeleng kepala. "Kau tidak melihat caranya mengawasi jalanan? Matanya tajam sekali, seperti elang. Siapa pun yang berani mengganggu Nona Auris di dekat pria itu, dia akan menatap tajam, bahkan sekedar menatap Nona Auris pasti pria itu menatap garang. Dia pasti seorang pelindung galak yang disewa secara khusus untuk menjaga toko roti ini dari preman pelabuhan."
Spekulasi itu menyebar dengan cepat di antara warga. Alih-alih merasa terancam, para penduduk lokal justru merasa jauh lebih aman karena mengira Damian adalah seorang pengawal pribadi berwajah seram yang bertugas menjaga keamanan bisnis kecil Aurelia. Tidak ada yang berani mendekati toko tersebut lewat dari jam sore, membuat lingkungan sekitar menjadi sangat tenang bagi Aurelia untuk merintis kembali kehidupannya.
Namun, di balik ketenangan palsu itu, siksaan batin yang dialami Damian jauh lebih kejam dari apa pun yang dibayangkan warga.
Setiap sore, duduk di kursi kayu keras itu, Damian menghabiskan waktunya dengan mengamati setiap gerak-gerik Aurelia. Ia melihat bagaimana wanita itu kini jauh lebih kurus, bagaimana jemari lentiknya cekatan menguleni adonan, dan bagaimana bayangan trauma masih sering membuat bahu Aurelia terlonjak kaget setiap kali ada suara pintu yang berderit terlalu keras.
Dan yang paling menyiksa batin sang Jenderal adalah kenyataan bahwa setiap kali pandangan mereka tidak sengaja beradu—bahkan hanya sepersekian detik melalui pantulan cermin etalase—Aurelia akan segera mengalihkan pandangannya dengan tubuh yang menegang kaku, menunjukkan bahwa luka yang ia ciptakan terlalu dalam untuk disembuhkan dengan sekadar kehadiran penyesalan.
Sore itu, awan kelabu mulai menggantung rendah di atas langit pelabuhan, menandakan badai musim semi akan segera datang. Toko mulai sepi dari pelanggan. Di meja sudutnya, Damian duduk dengan cangkir teh yang telah mendingin di hadapannya. Matanya terpaku lurus pada sosok Aurelia yang sedang membereskan nampan-nampan kosong di dekat etalase.
Tiba-tiba, pintu utama toko terbuka dengan dorongan yang cukup keras, menghempaskan angin dingin dari luar ke dalam ruangan.
Seorang pria asing—berpostur tegap dengan bekas luka bakar di pipi kanannya, mengenakan jubah perjalanan berdebu dan lambang militer faksi pemberontak utara yang tersamar di balik mantelnya—melangkah masuk tanpa ragu. Pria itu menatap sekeliling ruangan dengan mata beringas, lalu melayangkan pandangan penuh ancaman langsung ke arah Aurelia yang berdiri sendirian di dekat etalase.
"Jadi, ini tempat persembunyian tikus kecil dari ibu kota?" gerai pria asing itu dengan suara serak yang mengerikan, sambil merogoh saku mantelnya dan menarik keluar sebilah belati berkarat. "Adipati Christopher sudah jatuh, dan sekarang giliran orang-orang terdekatnya yang harus membayar harga atas pengkhianatan ini!"
Aurelia terperanjat mundur, napasnya tersangkut di tenggorokan saat melihat bilah belati itu berkilat di bawah temaram lampu toko.
Sebelum pria asing itu sempat melompat melewati etalase untuk menculik atau melukai Aurelia, sebuah bayangan hitam melesat dari meja sudut dengan kecepatan kilat—menerjang maju dan mencengkeram leher pria asing itu dari belakang dengan cengkeraman tangan bersarung kulit hitam yang begitu kuat hingga tulang leher pria itu berbunyi nyaring, membantingnya telak ke lantai kayu hingga pingsan seketika dalam satu gerakan mematikan tanpa ampun—
mampir diceritaku juga ya😊