NovelToon NovelToon
Lidah Perak Tinta Darah

Lidah Perak Tinta Darah

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Anak Genius / Fantasi
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Ragam 07

Di istana, kebohongan lebih mematikan daripada pedang.

Kian Arselio, anak haram jenius yang terbuang, menyewa Sura—seorang pencopet jalanan ulung—untuk menyamar sebagai putri bangsawan. Bersama, mereka merancang penipuan mematikan: memenangkan Turnamen Debat Kerajaan demi merebut kekuasaan.

Namun, kemenangan mereka justru melempar keduanya ke dalam sarang ular sesungguhnya. Terjebak di tengah konspirasi Perdana Menteri yang licik, intrik berdarah, dan sekte rahasia kuno, Kian dan Sura harus terus menipu untuk bertahan hidup.

Berbekal "lidah perak" Sura dan taktik jenius Kian, mampukah dua orang buangan ini meruntuhkan sebuah kerajaan? Mereka bukanlah pahlawan suci, melainkan pembohong yang siap mengukir sejarah dengan tinta darah.

Genre: Fantasy, Political Thriller, Heist/Con, Morally Grey MC, Fake Identity.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

BAB 19: Jalan Tikus di Lautan Api

[Sudut Pandang: SURA]

Dermaga kayu itu menjerit di bawah kaki mereka yang berlari.

Di belakang, gudang ikan Baron Zale sudah menjadi inferno. Lidah api menjilat langit malam, mengubah teluk yang berkabut menjadi neraka berwarna oranye terang.

"Cepat! Dorong!" teriak Sura. Punggungnya serasa mau patah menahan berat gerobak emas itu.

Di sampingnya, Ren menangis sambil terus mendorong. Lila sudah membuang tas rempahnya agar bisa berlari lebih cepat. Kian, yang jubah mahalnya kini sobek dan berlumuran jelaga, menarik gerobak dari depan.

"JANGAN BIARKAN MEREKA LOLOS!"

Suara Baron Zale terdengar menggelegar di atas suara ledakan meriam.

Sura menoleh sekilas. Zale berlari mengejar mereka dengan wajah merah padam, memegang pedang besar. Di belakang Zale, puluhan bajak laut mengikutinya. Namun, di belakang bajak laut itu, pasukan Iron Wall berbaju zirah hitam mulai membantai siapa saja yang ada di jalan.

Itu adalah kekacauan tiga arah. Zale mengejar Sura. Hanzor mengejar Zale. Dan takdir mengejar mereka semua.

"Perahunya di sana!" tunjuk Kian.

Sebuah perahu nelayan kecil terombang-ambing di ujung dermaga. Itu satu-satunya jalan keluar. Tapi ada masalah besar: Dermaga di depan mereka sudah putus sebagian karena hantaman meriam nyasar. Ada celah dua meter di atas air laut yang hitam dan berminyak.

"Kita harus melompat!" teriak Sura.

"Dengan peti emas seberat 200 kilo ini?!" jerit Lila histeris. "Mustahil!"

Kian berhenti di bibir patahan dermaga. Dia melihat celah itu. Lalu melihat Zale yang semakin dekat—kurang dari lima puluh meter.

"Kita tidak melompat," kata Kian, napasnya memburu. Dia menatap peti emas itu. "Kita lempar petinya dulu!"

"Kau gila?!" Ren panik. "Kalau meleset, emasnya tenggelam! Kita gagal turnamen! Kita dipenggal Raja!"

"Kalau kita mati di sini, kita juga tidak menang turnamen, Bodoh!" bentak Kian.

Kian dan Sura saling pandang. Mereka mengerti tanpa bicara.

"Satu... dua... TIGA!"

Kian, Sura, dan Ren mengerahkan sisa tenaga terakhir mereka. Mereka mengangkat peti besi itu dan melemparkannya melewati celah dermaga.

Peti itu melayang di udara sesaat... lalu mendarat dengan bunyi GUBRAK yang keras di atas dek perahu nelayan. Perahu itu berguncang hebat, miring nyaris terbalik, tapi untungnya kembali seimbang.

"Sekarang giliran kita!"

Lila melompat duluan, mendarat dengan mulus. Ren menyusul, meski mendarat dengan wajah mencium lantai perahu.

Sura bersiap melompat, tapi tiba-tiba kakinya tersandung tali jaring yang putus. Dia jatuh terjerembap.

"SURA!" teriak Kian.

Di belakang Sura, Baron Zale sudah tiba. Dia mengayunkan pedangnya ke arah leher Sura yang tergeletak.

DOR!

Sebuah tembakan pistol meletus.

Baron Zale meraung kesakitan, memegangi bahunya yang berdarah. Dia mundur selangkah.

Sura mendongak. Kian berdiri di tepi dermaga, memegang pistol flintlock berasap di tangannya. Tangannya gemetar, tapi tatapannya membunuh.

"Jangan sentuh partnerku," desis Kian.

Kian mengulurkan tangan. "Ayo! Cepat!"

Sura menyambar tangan Kian, bangkit, dan mereka berdua melompat bersamaan melewati celah dermaga, mendarat di atas tumpukan jaring di perahu.

"Dayung! Dayung!" perintah Sura.

Ren dan Lila menyambar dayung kayu. Perahu kecil itu melaju menjauhi dermaga, tepat saat Zale hendak melompat menyusul mereka.

Namun, Zale tidak sempat melompat. Dari balik asap, seorang prajurit Iron Wall menombak punggung Zale. Sang Baron jatuh berlutut, menatap emasnya yang dibawa lari oleh anak-anak ingusan.

"Sialan..." umpat Zale sebelum ambruk.

Mereka belum aman.

Teluk Mistry diblokade oleh armada kapal perang Jenderal Hanzor. Kapal induk Leviathan—benteng terapung raksasa dengan tiga deret meriam—berdiri menghadang di mulut teluk.

Cahaya sorot dari Leviathan menyapu permukaan laut, mencari pelarian.

"Mereka akan melihat kita," bisik Lila ketakutan. "Kita target empuk."

Kian menatap Leviathan. Di geladak kapal itu, dia bisa membayangkan Lysander berdiri dengan teleskop, menunggu untuk menenggelamkan adiknya sendiri.

"Kita tidak bisa lewat jalur utama," kata Kian. Dia menoleh ke arah tebing karang di sisi timur teluk. Ombak di sana ganas, memecah batu dengan suara gemuruh.

"Kita lewat sana," tunjuk Kian. "Karang Hantu."

"Itu bunuh diri!" protes Ren, yang memegang kemudi. "Banyak kapal karam di sana! Batu karangnya tajam seperti pisau!"

"Justru itu!" kata Sura, menyadari rencana Kian. "Leviathan terlalu besar untuk lewat sana. Mereka akan kandas kalau mengejar. Perahu kita kecil dan dangkal. Kita punya peluang."

"Tapi siapa yang bisa melihat batu karang dalam gelap dan asap begini?" tanya Lila.

Semua mata tertuju pada Ren.

Ren menelan ludah. Dia membetulkan letak kacamatanya yang retak satu lensanya.

"Aku... aku terbiasa melukis detail miniatur di bawah cahaya lilin redup," gumam Ren.

Kian mencengkeram bahu Ren. "Ren, anggap laut ini kanvasmu. Lukis jalan keluar untuk kita. Jangan sampai kuasmu meleset."

Ren menarik napas panjang. Dia mengangguk.

"Matikan lentera!" perintah Ren, suaranya tiba-tiba berubah tegas. "Aku butuh kontras bayangan ombak untuk melihat karang."

Lila mematikan satu-satunya lampu di perahu. Mereka tenggelam dalam kegelapan total, hanya diterangi oleh pantulan api kota yang terbakar di kejauhan.

"Kiri 30 derajat!" teriak Ren. "Ada batu di bawah buih putih!"

Sura memutar kemudi sekuat tenaga. Perahu miring tajam, lambungnya bergesekan dengan batu karang. Kreeek. Bunyi yang ngilu, tapi mereka lolos.

"Lurus! Cepat!"

Di belakang mereka, meriam Leviathan mulai menembak. BOOM! Air laut menyembur tinggi di sisi kanan perahu, membasahi mereka kuyup.

"Mereka menembak buta!" teriak Kian. "Terus maju!"

"Kanan tajam! Ada pusaran!" seru Ren, matanya membelalak menatap pola air yang tidak wajar.

Selama sepuluh menit yang terasa seperti sepuluh tahun, nasib mereka bergantung pada mata Ren dan otot lengan Sura. Mereka menari di antara kematian: satu inci ke kiri hancur oleh karang, satu inci ke kanan hancur oleh meriam.

Akhirnya, perahu mereka meluncur keluar dari gugusan karang, masuk ke laut lepas yang tenang dan gelap.

Suara ledakan meriam semakin jauh. Cahaya api kota Mistry kini hanya terlihat seperti titik kecil di cakrawala.

Mereka lolos.

Lila menjatuhkan dayungnya dan muntah ke laut karena mabuk laut dan stres. Ren merosot duduk, memeluk lututnya, gemetar.

Sura melepaskan kemudi, berbaring telentang di lantai perahu, menatap bintang-bintang. Napasnya masih belum teratur.

Kian duduk di atas peti emas itu. Dia basah kuyup, wajahnya hitam kena asap, rambutnya berantakan. Tapi dia tertawa.

Awalnya pelan, lalu makin keras.

"Kita hidup," tawa Kian histeris. "Kita hidup, Sura! Dan kita kaya!"

Sura ikut tertawa. Tawa yang melepaskan semua ketegangan.

"Kita tidak kaya, Bodoh," koreksi Sura di sela tawanya. "Uang ini punya Raja."

"Persetan dengan Raja," kata Kian, menepuk peti itu. "Malam ini, kita adalah Raja Lautan."

Tiga hari kemudian.

Aula Takhta Kerajaan Ostand kembali hening.

Pintu utama terbuka. Empat sosok berjalan masuk. Mereka terlihat berantakan. Baju mereka kotor, bau garam, dan wajah mereka lelah.

Tapi mereka menyeret sebuah peti besi di belakang mereka. Bunyi gesekan besi di lantai marmer menggema ke seluruh ruangan: Sreeeet... Sreeeet...

Raja Regulus menegakkan duduknya.

Di sisi lain, Lysander dan Jenderal Hanzor sudah berdiri di sana. Mereka baru saja tiba dengan kuda cepat pagi ini. Hanzor terlihat puas, baru saja melaporkan bahwa dia "berhasil memadamkan pemberontakan dengan api".

Kian dan Sura berhenti di depan singgasana.

"Kalian terlambat," cibir Hanzor. "Kota Mistry sudah rata dengan tanah. Pemberontakan sudah selesai."

"Pemberontakan mungkin selesai, Jenderal," kata Kian, suaranya serak tapi lantang. "Tapi bagaimana dengan Tujuan Utama Yang Mulia?"

Kian menendang peti besi itu hingga terbuka.

Tumpukan koin emas berkilauan di bawah cahaya chandelier istana.

"Sepuluh ribu koin emas," lapor Sura. "Pajak Kota Mistry tahun ini. Dibayar lunas. Tanpa satu pun tentara kami yang mati. Tanpa biaya satu butir peluru meriam."

Raja Regulus turun dari singgasananya. Matanya berbinar melihat emas itu. Dia mengambil segenggam koin, menimbangnya, lalu tertawa senang.

"Lunas?" tanya Raja.

"Lunas, Yang Mulia," jawab Kian. "Kami menggunakan diplomasi untuk meyakinkan Baron Zale membayar kewajibannya sebelum... yah, sebelum Jenderal Hanzor yang terhormat memutuskan untuk membakar pembayar pajak Anda."

Raja menoleh menatap Hanzor dan Lysander. Senyum di wajah Lysander hilang tak berbekas. Wajah Hanzor merah padam menahan marah.

Mereka menghancurkan kota, tapi gagal membawa uang (karena uangnya sudah dibawa lari Kian).

Kian dan Sura membawa uang, meski kotanya hancur (bukan salah mereka).

Dalam buku hitungan Raja yang serakah: Emas > Abu.

"Hanzor," kata Raja dingin. "Kau menghabiskan biaya 5.000 koin untuk amunisi meriammu menghancurkan kota itu. Sementara anak-anak ini... pulang membawa keuntungan bersih 10.000 koin."

Raja menepuk bahu Kian.

"Pemenang Turnamen Debat sudah jelas."

Raja mengangkat tangan Kian dan Sura.

"Kian Arselio. Sura Valerine. Mulai hari ini, kalian adalah Penasihat Muda Kerajaan (Royal Junior Advisors). Tugas kalian adalah memastikan pundi-pundiku selalu penuh seperti ini."

Sorak sorai terdengar dari para penonton (kebanyakan faksi Silver Quill yang berkhianat dari Lysander karena melihat angin berbalik).

Kian menatap Lysander. Kakaknya berdiri kaku. Untuk pertama kalinya, Kian melihat sesuatu di mata Lysander. Bukan kemarahan. Bukan kebencian.

Tapi Ketakutan.

Kian tersenyum. Dia bukan lagi adik yang dibuang. Dia sekarang adalah pemain di papan catur yang sama.

Sura menyenggol lengan Kian. "Kita berhasil, Partner. Kita di dalam istana."

"Ya," bisik Kian. "Tapi permainan baru saja menjadi jauh lebih berbahaya."

Karena di balik bayang-bayang pilar, Sura melihat seorang pria berjubah hitam menatap mereka. Pria itu bukan Hanzor, bukan Lysander. Pria itu memiliki lambang ular melilit tongkat di dadanya.

Perdana Menteri. Orang paling licik di seluruh Ostand. Dan dia tersenyum menatap Sura, seolah baru saja menemukan mainan baru yang menarik.

Turnamen selesai. Politik Istana dimulai.

1
riana rayyan
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!