"I am cursed with an undying soul... forced to return, again and again. And in every life, in every death, it is always you my heart remembers."
"Aku dikutuk dengan jiwa yang tak bisa mati... dipaksa untuk kembali, lagi dan lagi. Dan di setiap kehidupan, di setiap kematian, hanya kamu yang selalu diingat hatiku."
"I cannot follow you beyond death, I cannot chase you through eternity... so I will stay here, loving you with an undying heart in every lifetime I'm given-until time finally takes me away from you."
"Aku tak bisa mengikutimu melewati kematian, tak bisa mengejarmu dalam keabadian... jadi aku akan tetap di sini, mencintaimu dengan hati yang tak pernah mati di setiap kehidupan yang diberikan padaku-sampai waktu akhirnya merenggutku darimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yersya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Dengan tangan yang gemetaran hebat, aku merogoh saku hoodie-ku dan menyambar ponsel. Jemariku mengetik tiga angka darurat dengan panik, memotong keheningan jalanan.
"Halo, Polisi? Tolong! Ada penculikan! Sahabat saya diculik dua orang pria dan dibawa ke dalam bangunan terbengkalai di daerah—"
"Dek, jangan bercanda ya," potong suara pria di seberang telepon dengan nada malas dan kelewat tenang. "Siang-siang begini jangan bikin laporan palsu atau prank. Kami sibuk."
"Saya tidak bercanda, Pak! Ciri-cirinya pria bertato, membawa gadis bertubuh kecil yang pingsan! Tolong datang sekarang!" jeritku, meyakinkan mereka dengan sisa warasku.
"Sudah, ya. Jangan main-main sama polisi."
TUT. TUT. TUT.
Panggilan diputus sepihak. Amarah yang pekat mendidih di dalam dadaku. Respon tidak masuk akal itu membunyikan alarm berbahaya di kepalaku. Polisi di daerah ini pasti sudah mengenal gerombolan bajingan itu—atau lebih buruk lagi, mereka telah disuap untuk menutup mata.
Merasa putus asa dan ditinggalkan tanpa pilihan, aku berlari. Masa bodoh dengan rasa pegal, masa bodoh dengan keterbatasan fisikku. Aku harus mengejar Rania, terlepas dari fakta bahwa aku sama sekali tidak tahu apa yang bisa kutingkatkan untuk melawannya.
Begitu tiba di area proyek mangkrak itu, aku menyelinap di balik dinding gedung kosong di sebelahnya. Napasku memburu, dadaku naik-turun. Aku mengintip ke arah pintu masuk bangunan terbengkalai. Tidak ada yang berjaga di luar.
Saat aku bingung mencari celah masuk, dari balik persimpangan gang, muncul sesosok pria paruh baya yang berjalan santai. Kemeja kerjanya sedikit kusut, membawa tas kulit hitam.
Itu ayah Rania. Beliau baru saja pulang kerja.
Sebuah titik terang harapan mendadak menyengat otakku. Aku segera melepas kasar masker dan kacamata hitamku, lalu berlari keluar dari persembunyian, menghampirinya dengan napas tersengal-sengal.
“Om! Om, tolong, Om! Rania diculik pria asing!” seruku dengan wajah panik, menunjuk histeris ke arah bangunan terbengkalai di belakangku.
Ayah Rania terhenti. Dahi berkerut menatapku dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Kamu... kamu temannya putriku, kan? Luna? Kenapa kamu ada di sini dengan penampilan seperti ini? Dan... apa maksudmu Rania diculik?”
“Tadi aku lihat sendiri, Om! Ada dua pria kekar menggendong Rania yang pingsan, terus membawanya masuk ke dalam bangunan terbengkalai itu!” jeritku, memohon seperti orang kesetanan sambil mencengkeram lengan kemejanya. “Tolong Rania cepat, Om! Aku takut dia kenapa-napa di dalam!”
Namun, reaksi yang kutunggu tak pernah datang.
Ekspresi panik di wajah ayah Rania perlahan menguap, berganti menjadi guratan dingin yang kelam. Ia mengibaskan tanganku dari lengannya, lalu mendecakkan lidahnya dengan nada sangat gusar.
“Cah... dasar orang-orang tidak berguna,” gumamnya dingin. “Apa mereka tidak bisa membawanya dengan lebih rapi? Padahal aku sudah membayar mereka sangat mahal.”
Duniaku mendadak berhenti berputar. Wajahku seketika pucat pasi. Mataku melebar, menatap pria di hadapanku seolah-olah dia baru saja berubah menjadi monster.
“Apa... apa yang Om katakan?” Kakiku refleks mundur satu langkah. Otakku menolak memproses deretan kata itu.
Ayah Rania membetulkan kerah kemejanya, menyunggingkan senyum tipis yang teramat gila.
“Kamu tahu, Luna? Cinta pertama seorang anak perempuan itu adalah ayahnya,” ucapnya dengan nada datar yang mengerikan. “Dulu, Rania itu sangat manis. Sewaktu kecil, dia selalu memelukku dan bilang ingin menikah denganku saat besar nanti. Dan aku... aku sangat memegang janji itu.”
Ia menghela napas, pandangannya menerawang penuh kebencian.
“Tapi belakangan ini, dia berubah. Dia sering keluar malam. Awalnya aku pikir dia pergi bersamamu atau Siti, jadi aku diamkan. Tapi seminggu yang lalu... aku membuntutinya. Dan tahu apa yang kulihat? Dia sedang duduk berdua dengan seorang bocah miskin di bangunan ini.”
Pria itu mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih, matanya memerah penuh rasa cemburu yang abnormal.
“Raut wajah Rania saat itu... dia tertawa, tersipu malu, dan menatap bocah itu dengan binar yang tidak pernah lagi ia tunjukkan padaku. Rania sayangku... putri kecilku... malah jatuh cinta pada pria miskin yatim piatu tidak berguna! Dia sudah mengkhianati cintaku! Dia berselingkuh dariku! Padahal dia milikku!”
Suaranya naik satu oktav, bergema mengerikan di gang sepi.
“Karena itu... aku harus memberinya sedikit hukuman. Menghancurkan kesombongannya, dan menghancurkan mental bocah miskin itu dengan menyajikan pemandangan Rania yang sedang dihukum di depan matanya sendiri.”
Seluruh bulu kudukku berdiri tegak. Tubuhku bergetar hebat dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kegilaan macam apa ini?! Logika manis tentang kasih sayang seorang ayah hancur berkeping-keping di depan mataku.
“BAJINGAN!” teriakku melengking, melupakan seluruh rasa hormat yang tersisa. “Kau membuat putrimu sendiri mengalami neraka biadab hanya karena omong kosong sakit jiwa itu?! APA KAU SUDAH GILA, HAH?!”
PLAKKK!
Tamparan telak berkecepatan tinggi mendarat keras di pipi kiriku. Pukulan tenaga pria dewasa itu membuat tubuhku terpelanting, jatuh tersungkur ke atas aspal kasar. Sudut bibirku robek, menghadirkan rasa amis darah di lidahku.
“Berhentilah berteriak, Bocah!” bentak ayah Rania, melangkah mendekatiku yang terkapar. “Tidak akan ada yang mendengarmu di jalanan mati ini. Lagi pula, siapa yang percaya pada omongan anak kecil sepertimu?”
Rasa sakit di pipiku tidak ada apa-apanya dibandingkan amarah yang merusak seluruh saraf sadarku. Aku mendongak, menatapnya dengan tatapan membunuh.
"Kau bukan manusia..." bisikku serak, sebelum akhirnya memaksakan diri bangkit dan menerjangnya. "KAU MONSTER!"
Aku mengayunkan tinjuku sembarangan, mencakar muka dan kemejanya. Pria itu terkejut, namun dengan cepat mendorongku hingga punggungku menghantam dinding beton gedung.
BUG!
"Kalian berdua sama saja! Sama-sama mengganggu!" raungnya histeris. Ia melayangkan pukulan ke perutku.
"Ugh...!" Pandanganku seketika memutih. Rasa mual yang teramat sangat menyergap perutku, membuatku berlutut memegangi lambung.
Namun, membayangkan Rania yang sedang dalam bahaya di dalam sana membakar sisa-sisa kekuatanku. Sambil memekik histeris, aku memeluk kakinya, menggigit betisnya sekuat tenaga melalui celana kain yang dikenakannya.
"ANJING! LEPAS!" tumpah amarah pria itu. Ia meringis kesakitan, lalu mencengkeram rambutku dengan kasar, menarik kepalaku ke belakang hingga tenggorokanku terekspos.
"Rania... tidak akan... pernah sudi... memanggilmu ayah lagi..." desisku di antara napas yang tersendat, menatap matanya yang sudah dibutakan oleh kegilaan.
Pernyataan murni itu memicu ledakan mania di dalam otaknya. Wajahnya menggelap total.
"Tutup mulutmu!"
Dalam dorongan emosi tak terkontrol untuk membungkamku, ayah Rania mencengkeram leher dan bahuku, lalu menghempaskan tubuhku ke arah depan dengan tenaga penuh.
Ia tidak menyadari apa yang ada di belakangku.
KREEEKK—STEEB!
Keheningan mendadak menyergap jalanan sepi itu.
Sesuatu yang tajam, dingin, dan kaku menembus bagian belakang leherku. Pipa besi berkarat yang mencuat dari tumpukan puing bekas konstruksi di tepi gedung menyambut jatuhku. Besi itu menembus kulit, merobek tenggorokan, dan mencuat keluar di bagian depan leherku.
Darah hangat menyembur deras dari mulutku, membasahi hoodie dan daguku.
"Uh... ugh..."
Mata ayah Rania membelalak horor saat melihat darah mengucur deras membasahi tanah. Tangannya yang ternoda merah gemetaran hebat. "Ti-tidak... aku... aku tidak sengaja..." racau tewasnya keberanian pria gila itu, runtuh seketika saat menyadari apa yang baru saja ia lakukan. Ia mundur ketakutan, lalu berbalik dan berlari kencang meninggalkan tempat itu.
Aku masih berada di sana. Terpaku. Terpancang di atas pipa besi.
Rasa dingin yang teramat sangat mulai merayap dari ujung kakiku, perlahan mematikan saraf-sarafku satu demi satu. Pandanganku yang kabur menatap lurus ke arah bangunan terbengkalai yang tinggal beberapa puluh meter di depan.
Rania...
Airmata bercampur darah menetes dari sudut mataku.
Maaf... aku gagal lagi...
Duniaku mendadak meredup, menggelap, dan runtuh dalam keheningan yang abadi.