Rindu Prameswari memiliki segalanya rekor nasional, popularitas, dan masa depan yang cerah. Setidaknya begitulah yang dilihat orang lain. Tidak ada yang tahu bahwa setiap kali berdiri di atas balok start, Rindu merasa seperti boneka yang hidup untuk memenuhi harapan keluarganya.
Saat konflik dengan ayah dan ibu tirinya semakin memburuk, performa Rindu mulai menurun. Demi menyelamatkan kariernya, ia dikirim ke program pelatihan khusus yang dipimpin oleh seorang pelatih muda bernama Kenzo Adhyaksa.
Kenzo berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Rindu. Ia tidak peduli dengan medali, rekor, atau nama besar keluarga Prameswari.
"Kalau tidak ada lomba, tidak ada rekor, dan tidak ada tuntutan keluarga... apa yang sebenarnya Rindu inginkan?"
Pertanyaan sederhana itu justru menjadi awal perubahan terbesar dalam hidup Rindu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Begitu Rindu melangkah masuk melewati pintu depan yang besar, suasana sunyi rumah mewah itu langsung digantikan oleh ketegangan yang familier. Di ruang tengah yang luas, sang ayah Pak Baskoro terlihat sedang duduk di sofa kulit bersama Diana.
Diana, yang sedang bersandar manja di bahu Pak Baskoro sambil memainkan ponselnya, langsung menegakkan punggung begitu mendengar suara pintu terbuka. Senyum tipis yang sarat akan maksud terselubung langsung terukir di wajah wanita itu.
"Lho, baru pulang, Rin? Jam berapa ini? Katanya tadi latihan renang tambahan, tapi kok pulangnya telat banget sampai jam segini?" suara Diana memecah keheningan, terdengar lembut di telinga Pak Baskoro namun terasa sangat menyindir di rungu Rindu.
Pak Baskoro yang awalnya fokus pada berkas di tangannya langsung mendongak. Guratan lelah di wajah pria paruh baya itu seketika berubah menjadi tatapan tegas dan menuntut penjelasan. Tatapannya tertuju pada mata Rindu yang masih sedikit sembap dan penampilannya yang agak kusut.
"Rindu, dari mana saja kamu baru pulang sekarang? Benar kamu latihan tambahan dengan pelatih kampus itu, atau kamu keluyuran?" tanya Pak Baskoro dengan suara beratnya yang berwibawa, langsung terpengaruh oleh pancingan kalimat Diana.
Rindu menarik napas dalam-dalam, mengingat pesan Kenzo di mobil tadi untuk tetap tenang dan langsung masuk ke kamar. Ia meremas tali tasnya, mencoba mengumpulkan keberanian untuk menjawab dengan sopan tanpa memicu perdebatan panjang.
“Cek saja langsung sama pelatihnya kalau nggak percaya”
Mendengar jawaban Rindu yang ketus dan bernada menantang, garis wajah Pak Baskoro langsung mengeras. Suasana di ruang tengah mendadak menjadi sangat dingin.
"Rindu! Sopan sedikit kalau bicara sama orang tua!" tegur Pak Baskoro dengan suara baritonnya yang meninggi, membuat seisi ruangan terasa mencekam.
Diana yang duduk di sampingnya langsung mengusap lengan Pak Baskoro, berpura-pura menjadi penengah padahal senyum kemenangan tersembunyi di sudut bibirnya. "Sudah, Pa, sabar... Jangan emosi dulu. Mungkin Rindu memang kecapekan karena latihan. Tapi ya... kalau memang latihan, kok matanya sembap begitu ya, Rin? Seperti habis menangis."
Pancingan Diana sukses besar. Pak Baskoro langsung berdiri dari sofanya, menatap tajam ke arah anak perempuannya itu. "Kamu ini makin hari makin susah diatur ya sejak Ibu kamu gak ada? Ditanya baik-baik malah menjawab begitu. Gak usah kamu tantang Papa, sekarang juga Papa telepon pelatih kamu itu!"
Pak Baskoro langsung merogoh kantong celananya dan mengambil ponselnya, bersiap menghubungi nomor Kenzo yang untungnya sudah tertera di data administrasi atlet privat Rindu untuk meminta klarifikasi langsung malam ini juga.
Rindu hanya berdiri mematung di dekat pintu, jantungnya berdegup kencang. Di satu sisi ia takut, namun di sisi lain ia teringat kata-kata Kenzo di mobil tadi: "Kalau Papa kamu kemakan hasutan, kamu langsung telepon kakak. Detik itu juga, kakak yang bakal telepon Papa kamu buat selesaiin urusannya." Ternyata, tanpa perlu Rindu menelepon, Kenzo memang harus langsung berhadapan dengan ketegasan Pak Baskoro malam ini.
Kalimat yang keluar dari bibir Rindu terdengar begitu tenang, namun getaran luka di dalamnya terasa begitu pekat. Kata-katanya menghantam ruang tengah yang megah itu seperti hantaman ombak yang memecah kesunyian.
"Miris," ucap Rindu lirih, matanya menatap lurus ke arah sang ayah tanpa ada rasa takut lagi. "Lebih percaya orang luar ketimbang anak sendiri."
Mendengar itu, tangan Pak Baskoro yang sudah memegang ponsel mendadak kaku di udara. Kalimat pendek itu seolah menelanjangi semua keputusannya selama ini.
Untuk pertama kalinya, Diana yang biasanya selalu punya seribu kata untuk menghasut, merasa benar-benar tertampar kenyataan oleh perkataan Rindu. Senyum licik di wajah wanita itu langsung lenyap seketika. Wajahnya memucat, lidahnya mendadak kelu karena sadar bahwa posisinya di rumah ini baru saja disebut secara terang-terangan sebagai 'orang luar' oleh anak tiri yang selalu ia remehkan.
Suasana ruangan mendadak menjadi sangat senyap, bahkan suara helaan napas pun bisa terdengar jelas.
Pak Baskoro tertegun, menatap anak perempuan satu-satunya yang kini tampak begitu asing sekaligus rapuh. Belum sempat sang ayah mencerna rasa bersalah yang tiba-tiba menyergap dadanya, ponsel di tangannya tiba-tiba bergetar dan berdering nyaring.
Layar ponsel itu menampilkan sebuah panggilan masuk dari nomor yang baru saja hendak ia hubungi.
Kak Kenzo calling...
Ternyata Kenzo, yang sejak tadi masih memantau dari dalam mobilnya di depan gerbang, tidak tinggal diam. Seolah memiliki ikatan batin dengan kekasihnya, kapten tim renang itu langsung bergerak maju untuk menjadi perisai bagi Rindu.
Rindu tidak menunggu lama. Ketika ponsel berdering terus berdering, ia melangkah maju dengan tatapan dingin, dengan gerakan cepat, lalu menggeser layar untuk mengangkatnya.
"Ya halo, Coach. Papa mau bicara nih," ucap Rindu dengan nada suara yang terdengar sangat enggan dan datar, sengaja mengeraskan suaranya agar Diana bisa mendengar dengan jelas.
Tanpa menunggu balasan dari seberang telepon, Rindu langsung menyodorkan ponsel tersebut tepat ke hadapan Pak Baskoro.
Pak Baskoro sempat terpaku melihat keberanian anaknya, namun harga dirinya sebagai seorang ayah membuat pria itu langsung menyambar ponsel tersebut dan menempelkannya ke telinga.
"Halo, Selamat malam, Kenzo," ujar Pak Baskoro dengan suara beratnya, mencoba mengintimidasi sejak awal percakapan. Matanya masih menatap tajam ke arah Rindu yang kini berdiri bersedekap dada. "Saya Baskoro, papanya Rindu. Saya mau konfirmasi, benar anak saya baru selesai latihan jam segini? Kenapa pulangnya bisa sampai larut malam dan penampilannya berantakan seperti ini?"
Di sampingnya, Diana ikut mendekat, memasang telinga lebar-lebar dengan wajah yang masih agak masam karena sindiran Rindu tadi, penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh pelatih muda itu untuk membela Rindu.
Di seberang telepon, suara Kenzo terdengar sangat tenang, berwibawa, dan sama sekali tidak terintimidasi oleh nada berat Pak Baskoro. Sebagai seorang kapten dan pelatih, ia sudah biasa menghadapi berbagai situasi tekanan tinggi.
"Selamat malam, Pak Baskoro," jawab Kenzo dengan nada santai namun tetap menjaga kesopanan yang profesional.
"Betul sekali, Pak. Rindu memang baru saja menyelesaikan sesi latihan tambahan yang cukup intens dengan saya hari ini. Mengingat kompetisi nasional sudah semakin dekat, porsi latihannya terpaksa saya naikkan untuk mengejar target limit waktu," jelas Kenzo runut, menyusun alibi yang begitu rapi hingga tidak menyisakan celah untuk dicurigai.
Kenzo menjeda kalimatnya sejenak, sengaja memberi penekanan pada kalimat berikutnya.
"Mengenai pulangnya yang larut dan penampilannya yang berantakan... itu sepenuhnya tanggung jawab saya, Pak. Tadi setelah latihan fisik di kolam yang menguras energi, Rindu sempat mengalami kram perut yang lumayan hebat karena kelelahan. Saya tidak mau ambil risiko melepas dia pulang sendirian dalam kondisi lemas, jadi saya putuskan untuk menemaninya beristirahat dulu di mes atlet sampai kondisinya benar-benar pulih sebelum saya antar pulang dengan aman."
Mendengar penjelasan Kenzo yang begitu logis dan penuh tanggung jawab, rahang Pak Baskoro yang tadinya mengeras perlahan melunak.
"Saya minta maaf kalau hal ini membuat Bapak dan keluarga di rumah khawatir," sambung Kenzo lagi, suaranya terdengar sangat tulus. "Sebagai pelatih pribadinya, fokus utama saya bukan cuma mencetak Rindu sebagai juara, tapi juga memastikan keselamatan dan kesehatannya di luar kolam."
Pak Baskoro terdiam sejenak. Penjelasan Kenzo yang begitu gamblang dan protektif terhadap anaknya membuat tuduhan yang sempat dilontarkan Diana tadi mendadak mentah begitu saja. Di sampingnya, wajah Diana semakin masam karena rencananya untuk menyudutkan Rindu malam ini gagal total.
"Baik Kenzo, terima kasih sudah menjaga Rindu. Saya percayakan anak saya pada kamu," ujar Pak Baskoro akhirnya, melunak sepenuhnya sebelum memutus pembicaraan dan menyerahkan kembali ponsel itu ke tangan Rindu.
Rindu menerima ponselnya dengan jemari yang bergetar. Ia sengaja tidak mematikan sambungan telepon itu, membiarkan Kenzo di seberang sana tetap mendengarkan apa yang terjadi di dalam rumah ini.
"Rindu, kenapa kamu tidak bilang dari awal kalau kamu sakit sampai kram seperti itu? Kenapa harus memicu keributan dulu?" tanya Pak Baskoro, nadanya kini berubah menjadi tuntutan yang sarat akan rasa bersalah yang ditutupi ego.
Rindu menatap ayahnya untuk terakhir kali malam ini. Sebuah senyum getir terukir di bibirnya.
"Emang selama ini Papa peduli?"
Kalimat telak itu menjadi penutup konfrontasi malam ini. Tanpa menunggu jawaban dari ayahnya yang seketika bungkam, atau lirikan sinis dari Diana, Rindu langsung membalikkan badan. Ia melangkah lebar menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua, meninggalkan ruang tengah yang mendadak sunyi senyap seperti kuburan.
Begitu sampai di kamar, Rindu langsung mengunci pintu rapat-rapat. Ia menyandarkan tubuhnya di balik pintu, merosot perlahan hingga terduduk di lantai, lalu mendekatkan ponsel yang sejak tadi masih menyala ke telinganya.
"Kak Kenzo..." bisik Rindu lirih, suaranya parau menahan tangis yang kembali mendesak keluar.
“Halo sayang kamu masih di sana Rin..” suara Kenzo terdengar khawatir.
"Iya, Kak... Rin di sini," bisik Rindu, air matanya perlahan luruh lagi, namun kali ini bukan karena amarah, melainkan karena rasa lega yang luar biasa mendengar suara Kenzo.
Di seberang telepon, terdengar helaan napas panjang dari Kenzo. Suara deru mesin mobilnya yang samar menandakan bahwa cowok itu memang masih setia menunggu di depan gerbang rumah Rindu, memastikan gadisnya aman sampai ke kamar.
"Kakak masih di sini, Sayang. Gak akan ke mana-mana," ucap Kenzo, suaranya melembut berkali-kali lipat, dipenuhi rasa sayang dan khawatir yang kentara. "Kakak denger semuanya tadi. Kamu hebat banget, Rin. Kamu berani suarain apa yang kamu rasain."
Kenzo terdiam sejenak, memberikan jeda agar Rindu bisa mengatur napasnya yang sempat memburu karena emosi.
"Sekarang, kakak minta kamu berdiri dari lantai ya? Lantainya dingin, Rin, gak bagus buat dada kamu. Yuk, pindah ke kasur, selimutan yang hangat," bujuk Kenzo dengan nada baritonnya yang sangat menenangkan, seolah ia sedang berada di samping Rindu dan menuntunnya langsung.
Rindu menurut. Dengan sisa tenaganya, ia bangkit berdiri dan berjalan gontai menuju tempat tidur, lalu merebahkan tubuhnya di bawah selimut tebal sembari terus menempelkan ponsel di telinganya.
"Udah di kasur, Kak," lapor Rindu manja, suaranya terdengar kecil dan lelah.
"Pintar," puji Kenzo tulus, membuat dada Rindu kembali berdesir hangat. "Malam ini, lupain semua omongan di bawah tadi. Anggap aja malam ini cuma ada kamu dan kakak. Kakak bakal tetap nyalain telepon ini sampai kamu benar-benar tidur nyenyak. Jadi, merem ya, Sayang? Kakak temenin dari sini."
“Kak..”
“Ya sayang..”
"Rin beruntung banget bisa punya Kak Kenzo sekarang," bisik Rindu pelan, menyembunyikan sebagian wajahnya di balik selimut hangatnya. Pengakuan tulus itu mengalir begitu saja dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Di seberang telepon, terdengar kekehan rendah dari Kenzo. Suaranya yang berat dan seksi terdengar begitu dekat di telinga Rindu, seolah cowok itu sedang berbisik langsung di sampingnya.
"Kebalik, Sayang," balas Kenzo lembut. "Kakak yang beruntung karena Rindu akhirnya mau buka hati dan percaya sama kakak. Makanya, sekarang tugas kamu cuma satu: istirahat yang cukup. Biar semua beban dan urusan di luar, kakak yang jagain buat kamu."
Mendengar perhatian Kenzo yang begitu besar, rasa aman yang utuh perlahan-lahan menyelimuti hati Rindu. Kamar tidurnya yang biasanya terasa dingin dan asing, malam ini mendadak terasa jauh lebih hangat berkat suara cowok itu.
"Makasih ya, Kak... Jangan dimatiin ya teleponnya," gumam Rindu yang matanya sudah mulai terasa sangat berat karena kelelahan emosional sepanjang hari.
"Iya, gak akan kakak matiin. Tidur yang nyenyak, Sayang. Good night," bisik Kenzo dengan nada penuh kasih sayang, bersiap menemani Rindu mengarungi malam lewat untaian napas yang saling terhubung di balik sambungan telepon.
Di seberang telepon, keheningan mulai mendominasi. Tidak ada lagi gumaman manja atau suara kasur yang bergeser. Hanya terdengar suara helaan napas yang halus, teratur, dan dalam tanda bahwa Rindu akhirnya telah menyerah pada rasa lelahnya dan menjelajahi alam mimpi dengan tenang.
Kenzo mendengarkan deru napas halus itu selama beberapa saat. Lengkungan senyum tipis terukir di wajah tampannya yang diterangi temaram lampu dasbor mobil. Rasa lega seketika memenuhi dadanya mengetahui gadisnya kini sudah aman di tempat tidur.
"Mimpi indah, Sayang," bisik Kenzo sekali lagi dengan sangat lirih, hampir seperti sebuah mantra pelindung.
Perlahan dan dengan gerakan seringan mungkin agar tidak menimbulkan suara klik yang mengejutkan, Kenzo menjauhkan ponsel dari telinganya. Ia melirik layar yang masih menampilkan durasi panggilan mereka yang cukup panjang, lalu menyentuh tombol merah untuk menyudahi sambungan telepon tersebut.
Setelah ponselnya mati, Kenzo tidak langsung melajukan mobilnya. Ia menyandarkan punggungnya di jok kemudi, menatap ke arah jendela lantai dua rumah megah di hadapannya yang lampunya baru saja meredup. Rahangnya kembali mengeras sejenak saat mengingat rekaman suara perdebatan Rindu dengan ayah dan ibu tirinya tadi.
Kenzo membuang napas pendek, lalu mencengkeram setir mobilnya dengan tekad yang semakin bulat. Mulai besok, ia tidak akan membiarkan siapa pun termasuk keluarga Rindu sendiri membuat gadis itu menangis lagi.
Dengan gerakan tenang, Kenzo memindahkan transmisi mobilnya ke posisi Drive menginjak pedal gas perlahan, dan membiarkan SUV hitamnya membelah keheningan malam, meninggalkan perumahan elit itu untuk bersiap menjemput Rindu esok pagi.
—bersambung—