Dimulai dari Evalia dan teman sekampusnya mendaki ke gunung untuk sekian lamanya, tidak menduga menjadi awal kehidupan yang berubah.
Evalia terbangun sebagai gadis desa di suatu negeri yang tidak dia kenali dengan wajah jauh berbeda, dan sialnya dia malah membangun obsesi sang tiran perang.
apakah hidupnya kali ini adalah kesempatan kedua atau sebaliknya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiana Ayu novita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 19
Eva menatap pantulan para pelayan yang sibuk mempersiapkan nya menemui perwakilan dari negeri Utara, walau belum resmi menjadi istri Felix sebagai sopan santun kerajaan, Eva tentu diikut sertakan sebagai calon pasangan Felix.
Dua hari setelah kejadian waktu itu, Eva masih berpikir alasan flashback memori yang bermunculan waktu itu, dia masih ingat sedikit tapi sabar. hanya ada perasaan sedih dan sakit mendalam tiap dia mencoba merasakannya.
Jika dia di Ilos, bisa saja dia meminta kedua orangtuanya untuk mengecek apa maksud dari memori itu. Tapi akan sulit jika dia masih ada di Odelions, identitas harus di rahasiakan dari keluarga kerajaan jika ingin keluar hidup-hidup.
Eva menatap pantulan dirinya, gaun yang di pakainya masih gaun yang dia bawa dari Ilos. Gaun putih perak dengan hiasan mutiara lembah naga, dan aroma khas embun peri membuatnya sangat cocok untuk Eva, para dayang masih berpikir ingin di buat seperti apa rambutnya mengingat Eva tidak terlalu bisa di udara Odelions yang cenderung panas untuknya.
Eva mengambil sisir dan mulai merapihkan rambutnya sendiri, memakai beberapa bunga yang ada di vas sebagai hiasan dan sedikit sentuhan mutian, rambutnya sudah tertata rapih.
"Anda sangat cantik yang mulia", velysa tersenyum riang.
"wajar jika wanita cantik, itu sifat alami mereka kan", Eva memasang sarung tangan.
Velysa tersenyum, semakin lama melayani Eva dia tau Eva tipe gadis yang rendah hati.
pelayan memberi kabar kalau Felix sudah ada di depan kamarnya, Eva bergegas keluar untuk segera menyambut perwakilan Utara untuk acara nanti malam.
Felix tersenyum ketika melihat Eva yang memakai gaun putih perak, Eva sedikit tidak menduga kali ini Felix tidak memakai setelan hitam seperti biasanya.
Kali ini Felix memakai setelah putih perak yang sama denganya, rambut yang tertata dengan menawan membuat Felix lebih kelihatan berkilau dari biasa nya.
felix mengulurkan tangannya, tangan mungil Eva melingkar di tangan kokoh itu, melangkah anggun menemui perwakilan Utara.
Di aula penyambutan, kaisar dan permaisuri sudah hadir lebih dulu. Eva duduk di samping Felix, dia sempat melirik kursi yang masih kosong. Dia ingat Felix punya seorang adik, dan sampai sekarang Eva belum tau sosok adik Felix hingga sekarang.
Felix sendiri tau dimana Flery, entah alasan apa yang membuat dia bisa lolos agar tidak bertemu dengan Eva, tapi setidaknya musuh yang biasa mencari masalah sedikit berkurang kali ini.
perwakilan masuk ke arena aula, ada satu rombongan yang berisi lima pemuda. Satu diantaranya memiliki pin militer dan beberapa tanda kerajaan, Eva menebak kali ini yang datang adalah putra mahkota dari negeri Utara sekaligus sahabat baik Felix.
Tatapan Eva dengan pangeran dari Utara bertemu, dan dia tersenyum sopan. Sebagai balasan Eva tentu balik tersenyum pada pangeran itu, tapi tidak tau saja raut wajah Felix yang sangat datar melihat ekspresi mereka berdua.
"salam bagi matahari Odelions, kami perwakilan yang diutus kaisar Utara", seorang seperti menteri menyapa kaisar.
"perjalanan kalian pasti berat, silahkan istirahat terlebih dahulu", kaisar tersenyum ramah.
Felix menarik lengan Eva membuat gadis itu kaget.
"kembali ke istana putri mahkota", raut Felix sangat datar ketika mengatakan itu.
Eva hanya mengangguk, jujur kelakuan Felix sangat mengejutkan nya. Tapi memang dia ingin segera kembali ke kamar karena mulai merasa tidak nyaman.
Felix menghampiri pangeran Utara, wajah datarnya kontras dengan raut riang pangeran Utara. Sudah terbayang akan apa yang di katakan rival sekaligus sahabatnya itu.
"hey tidak pernah memberi kabar padaku, kenapa kau sudah bertunangan. Apakah rumor kau menyukai lawan jenis hanya akal-akalan agar kau tidak di jodohkan hmm", Felix berdecak kesal.
"jangan omong kosong, kau ikut rombongan ini sebagai akal-akalan agar bisa kabur dari lady yang akan di jodohkan padamu kan", dia terkekeh mengiyakan apa yang Felix pikirkan.
Felix mengajak nya menuju istana putra mahkota untuk mengobrol, jika Felix tidak mengatakannya maka dijamin pemuda itu akan menghantuinya terus.
Felix menoleh ketika mendengar keributan di dekat istana putri mahkota, jarang sekali ada kericuhan disana. Eva gadis yang terlalu tenang hingga tidak mungkin memperlakukan pelayan tidak baik.
Felix berbelok, mengecek apa yang membuat kericuhan. Sekali indranya mendekat, dia bisa merasakan hal yang paling dia tidak suka ada di istana putri mahkota.
para pelayan membungkuk termasuk dengan Eva dan tamu yang membuat kericuhan di depan istana putri mahkota, lucinda tersenyum riang melihat Felix yang mendekat ke arahnya.
"ada apa ini?, apa seperti ini kelakuan kalian ketika ada tamu kehormatan", Felix menatap tajam lucinda.
Eva menatap Felix dengan tenang, "maafkan saya yang mulia, saya hendak menuju kamar sesuai perintah anda. Hanya saja entah datang lady ini yang sedikit memaksa saya untuk mengantarnya berkeliling".
"yang mulia, saya hanya ingin di temani gadis seusia saya. Apakah salah yang mulia?, terlebih lady Evanthe tidak pernah menerima undangan para lady. Saya takut beliau kesulitan bersosialisasi nanti jika naik ke posisi permaisuri". Lucinda tersenyum manis.
Eva memutar bola mata malas, dia mulai merasakan bau-bau drama yang paling dia benci. Baik di kehidupan sebelumnya,atau sekarang banyak sekali gadis yang seperti sosok lady di depannya.
Felix menatap Eva, lalu menatap ke arah lucinda. Dia tau keluarga lucinda adalah penjilat yang sangat dia benci. Jika bukan karena di naik ke posisi putra mahkota, mana mau mereka sebaik itu menjodohkan Putri mereka dulu, dan paling dia tidak suka adalah lucinda bukan tipe gadisnya.
"aku mencium bau-bau gadis yang berebut ya?", Felix melirik tajam ke sampingnya.
eva menatap pangeran dari Utara, dari jarak mereka Eva bisa melihat jelas wajah dan postur tubuh pangeran itu.
Kulit yang putih seperti salju, rambut perak dengan bola mata hitam obsidian yang menatap hangat. Tubuh yang cukup atletis dan dia tidak terlalu tinggi, jika berdiri bersanding Felix lebih tinggi dari pangeran Utara.
Felix meminta pelayan untuk mengantar lucinda pergi, rautnya lebih berkata kalau dia mengusir lucinda karena merepotkan.
Eva tersenyum meminta velysa yang mengantar lucinda, dia tidak masalah ke kamarnya sendiri.
"Senang bisa bertemu anda lagi nona, saat pertama bertemu tadi ada orang yang begitu buru-buru mengusir anda tadi, jadi saya tidak bisa berkenalan ", pangeran itu melirik Felix.
Eva tersenyum sopan, membungkuk sedikit untuk salam penghormatan.
"maaf saya tunangan yang mulia putra mahkota, saya Evanthe salam kenal".
"aku pangeran dari Utara, Ataraz obelioz. anda bisa memanggil saya Ataraz yang mulia putri mahkota", Ataraz menggenggam tangan Eva dan mengecupnya.
Eva tersenyum, tangan nya di tarik cepat karena mulai tidak nyaman dengan udara yang semakin panas.
Felix menarik kerah baju Ataraz untuk pergi dari istana putri mahkota, dia paham Eva tidak akan pergi jika mereka tidak pergi terlebih dahulu.
Eva menatap tingkah kedua pemuda itu yang sangat berlawanan, sekilas dia teringat dengan Leon dan Glen.
"sebagai sahabat mu, tindakan tadi sedikit tidak beradab sekali. Terlebih kau tidak mengatakan apapun kepada nya yang akan menjadi istri mu kelak", ataraz menatap Felix kesal. Dia hampir tercekik karena cengkraman di kerahnya benar-benar kuat.
"Jika kita lebih lama lagi, bisa ku jamin nanti malam dia tidak akan menyapamu lagi. Asal kau tau dia itu tidak cocok dengan udara Odelions yang terasa panas", Felix melihat tempat tadi. Eva sudah tidak ada di tempat tadi.
"panas?, ku rasa ini masih biasa tuh", heran Ataraz.
"udara Ilos dan Odelions itu tentu berbeda pangeran Ataraz obelioz". Ataraz berhenti melangkah.
Felix berbalik melihat wajah Ataraz yang tiba-tiba berubah datar, nadanya yang riang seketika berubah menjadi serius menatap tajam Felix
"kau harus ceritakan semuanya, tanpa terlewat satupun pangeran Felix Odelions".
...****************...