Apa jadinya kalau Zyan, Direktur dingin yang dunianya cuma berisi angka dan rapat bosan, harus menikah dengan Alexa, mahasiswi bar-bar yang lebih sayang motor ZX-nya daripada sisir rambut?
Zyan baru saja menduda dan bersumpah nggak mau berurusan sama drama cinta lagi. Tapi, takdir (dan paksaan orang tua) membawanya ke pelaminan bersama gadis rambut wolfcut yang hobinya nantangin maut.
Bagi Alexa, nikah muda itu bencana. Tapi melihat wajah kaku Zyan yang kayak manekin, jiwa jahilnya meronta-ronta. Misi Alexa cuma satu: Bikin si Om kaku ini darah tinggi tiap hari sampai minta ampun! Tapi, siapa sangka, di balik tembok es Zyan, ada kehangatan yang bikin Alexa perlahan lupa cara nge-gas motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Hujan semalaman ternyata membawa dampak buruk bagi sang Direktur yang selama ini hidupnya terlalu higienis. Zyan Arsalan, pria yang biasanya terlihat seperti dewa di balik meja kerja, kini terkapar tak berdaya di atas tempat tidur besarnya. Wajahnya pucat, tapi pipinya merah padam karena demam tinggi. Tubuhnya menggigil di balik selimut tebal.
Alexa, yang awalnya sudah bertekad ingin mogok bicara dan tetap mendekam di bengkel, akhirnya luluh juga saat mendengar suara batuk-batuk Zyan dari jendela bengkelnya yang menghadap ke kamar utama.
"Cih, katanya kuat, kehujanan dikit langsung KO. Payah banget sih jadi cowok," gumam Alexa sambil berjalan masuk ke rumah dengan wajah judes yang masih terpasang rapi.
Begitu sampai di dapur, Alexa baru sadar kalau Bi Ijah pulang kampung karena ada urusan keluarga mendadak. Rumah itu kosong. Hanya ada dia, Zyan yang demam, dan Pak Bambang—satpam rumah yang kumisnya setebal aspal jalanan—yang sedang berjaga di depan.
"Gue harus bikin bubur... tapi gimana caranya?!" Alexa menatap beras di dalam wadah seolah itu adalah komponen mesin yang meledak. "Oke, kalau mesin butuh bahan bakar, orang sakit butuh bubur. Logikanya sama."
Alexa keluar ke pos depan. "PAK BAMBANG! TOLONGIN GUE!"
Pak Bambang yang lagi asyik minum kopi kaget sampai tersedak. "Aduh, Non Alexa! Ada apa? Ada maling? Ada perampok? Mana senjatanya?!"
"Bukan, Pak! Om Duda... eh, Pak Zyan sakit. Gue mau bikin bubur tapi nggak tahu caranya. Bapak bisa masak nggak?"
Pak Bambang mengusap kumisnya dengan bangga. "Waduh, kalau urusan masak, saya dulu juara lomba nasi goreng antar satpam se-kecamatan, Non! Siap laksanakan!"
Maka dimulailah tragedi di dapur mewah Arsalan Group. Alexa dan Pak Bambang berdiri di depan kompor dengan gaya sangat serius, seolah-olah mereka sedang merakit bom nuklir.
"Non, ini berasnya dicuci dulu. Jangan pakai sabun cuci piring ya, Non," instruksi Pak Bambang.
"Ya kali gue bego amat, Pak! Gue tahu lah!" Alexa mencuci beras dengan kasar. "Terus airnya seberapa?"
"Pakai rumus perasaan, Non. Kalau perasaannya dalam, airnya banyakin," jawab Pak Bambang asal.
"Rumus teknik dong, Pak! Satu banding berapa?!"
"Aduh, pusing saya kalau pakai teknik. Pokoknya cemplungin aja, Non!"
Setelah beras masuk ke panci, Pak Bambang memberikan instruksi selanjutnya. "Sekarang bumbunya, Non. Kasih garam, lada, sama kaldu ayam. Biar mantap, kasih irisan jahe, biar badannya Pak Bos anget."
Alexa mengambil jahe. Alih-alih diiris tipis, dia malah mencincang jahe itu dengan tenaga penuh sampai ukurannya lebih mirip baut motor. "Gini kan, Pak?"
Pak Bambang melotot. "Itu mah kegedean, Non! Kasihan Pak Bos, nanti dikira lagi makan kayu jati."
"Biar cepet sembuh, Pak! Makin gede jahenya, makin panas, makin kabur penyakitnya!" balas Alexa keras kepala.
Sambil menunggu bubur matang, Alexa mulai mengaduk-aduk. Tapi karena pikirannya masih kacau soal surat perjodohan itu, dia mengaduk bubur dengan kecepatan tinggi seperti sedang mengocok oli mesin.
"Non! Pelan-pelan! Itu bubur bukan semen buat ngecor pondasi!" teriak Pak Bambang panik melihat cipratan bubur mulai mengenai keramik dinding dapur yang mahal.
"Gue mau teksturnya halus, Pak! Kalau pelan-pelan kelamaan!"
Sepuluh menit kemudian, bau gosong mulai tercium.
"NON! BAWAHNYA GOSONG!"
"ANJIR! KOK BISA?! KAN AIRNYA BANYAK?!" Alexa panik, dia malah menuangkan satu botol air mineral dingin ke dalam panci yang panas itu.
CESS!
Asap mengepul tinggi, menutupi seluruh dapur. Alarm asap di rumah mewah itu hampir saja berbunyi kalau Pak Bambang tidak segera mematikannya dengan sapu.
"Aduh, Non... ini buburnya kok warnanya jadi abu-abu gini?" Pak Bambang menatap hasil karya mereka dengan prihatin. Teksturnya kental, lengket, dan ada butiran jahe raksasa di tengahnya.
"Ini namanya... Bubur Industrial, Pak. Memang trennya begini kalau di luar negeri," dalih Alexa sambil menahan malu. "Udah, Bapak balik ke pos aja. Makasih ya bantuan-nya."
"Siap, Non. Kalau Pak Bos pingsan habis makan itu, langsung telepon ambulans ya, Non," bisik Pak Bambang sebelum lari kembali ke posnya.
Alexa membawa nampan berisi bubur abu-abu itu dan segelas air hangat ke kamar Zyan. Ia masuk tanpa mengetuk, tetap dengan mode judesnya.
Zyan perlahan membuka matanya. Suaranya serak dan sangat lemah. "Alexa... kamu masuk?"
"Jangan ge-er. Gue cuma nggak mau dituduh melakukan pembunuhan berencana karena ngebiarin lo mati kelaparan di rumah ini," ketus Alexa sambil duduk di pinggir tempat tidur.
Zyan mencoba duduk, tapi kepalanya pusing. Alexa, meski dengan gerakan kasar, akhirnya membantu menyandarkan punggung Zyan di bantal. "Nih, makan. Gue bikin sendiri sama Pak Bambang."
Zyan menatap mangkuk di depannya dengan ragu. "Ini... bubur atau bahan baku ban motor?"
"Banyak bacot lo, Om! Mau dimakan apa gue cekokin pake tang?!" ancam Alexa.
Zyan akhirnya menyuap satu sendok kecil. Begitu bubur itu masuk ke mulutnya, matanya langsung membelalak. Rasa jahenya sangat menyengat, teksturnya kenyal seperti karet, dan ada rasa gosong yang samar-samar. Tapi di balik semua itu, ada rasa kaldu yang sangat kuat—sepertinya Alexa tadi menuangkan satu kotak penuh penyedap rasa.
"Gimana? Enak kan?" tanya Alexa sambil melipat tangan di dada.
Zyan menelan bubur itu dengan perjuangan keras. Ia melihat ke arah Alexa yang sedang menatapnya dengan raut wajah yang sebenarnya khawatir, meski mulutnya dikerucutkan.
"Sangat... bertekstur," jawab Zyan jujur. "Tapi saya menghargai usaha kamu."
Zyan terus menyuap bubur itu perlahan. Di sela-sela makannya, ia meraih tangan Alexa yang sedang asyik memilin ujung selimut.
"Alexa, soal yang kemarin... tolong jangan minta cerai. Saya akui, awalnya ada wasiat Papa. Tapi surat itu sudah lama saya simpan di laci terdalam, karena bagi saya, kamu sudah bukan lagi soal amanah. Kamu adalah satu-satunya alasan saya ingin cepat pulang dari kantor setiap hari," ujar Zyan dengan tatapan sayu namun tulus.
Alexa menarik tangannya, tapi suaranya melembut. "Halah, gombal terus. Lo itu cuma lagi halusinasi karena demam. Udah, abisin buburnya!"
"Saya tidak berbohong. Kamu mau bukti?" Zyan mencoba meraih ponselnya di nakas, tapi ia terlalu lemah. "Buka laci itu, Alexa. Ada kotak kecil berwarna biru."
Alexa membuka laci nakas Zyan dengan curiga. Ia menemukan sebuah kotak beludru biru kecil. Di dalamnya ada sebuah cincin, tapi bukan cincin berlian biasa. Itu adalah cincin yang desainnya sangat unik—lingkarannya berbentuk seperti rantai motor yang diperhalus dengan emas putih, dan di tengahnya ada batu safir biru yang sangat cantik.
"Itu saya pesan sejak dua minggu yang lalu. Saya berniat memberikan ini ketika di Bali. Tapi... saya malah mengacaukannya dengan urusan kantor," bisik Zyan.
Alexa tertegun menatap cincin itu. Desain rantai motor? Pria sekaku Zyan sampai kepikiran membuat desain seperti itu demi menyesuaikan hobi Alexa?
"Om... lo beneran niat?" tanya Alexa pelan.
"Sangat niat. Jadi, bisakah kita mulai dari nol? Lupakan soal surat itu. Anggap saja kita dua orang asing yang tidak sengaja terjebak di rumah yang sama, dan salah satunya sedang mencoba memenangkan hati yang lain."
Alexa menunduk, ia merasa matanya mulai panas lagi. Ia mengambil cincin itu dan memainkannya. "Gue nggak janji bakal langsung maafin lo ya, Om. Dan gue tetep bakal sering di bengkel."
Zyan tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh kelegaan. "Asal kamu tidak minta cerai, kamu boleh bongkar seluruh rumah ini jadi bengkel kalau kamu mau."
"Dih, sombong banget mentang-mentang kaya!" Alexa akhirnya tersenyum kecil. "Ya udah, sekarang minum obatnya. Habis itu lo tidur."
"Kamu tidak akan pergi ke bengkel malam ini?" tanya Zyan penuh harap.
Alexa menghela napas, ia mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur yang redup. Ia menarik kursi ke samping tempat tidur Zyan. "Gue di sini sampe lo tidur. Jangan banyak tanya, ntar demam lo naik lagi."
Zyan menggenggam tangan Alexa, dan kali ini Alexa tidak menepisnya. Di bawah pengaruh obat dan perut yang penuh dengan bubur industrial, Zyan perlahan tertidur dengan senyum di wajahnya.
Alexa menatap wajah Zyan yang sedang tidur. "Dasar Duda aneh. Kenapa sih lo harus bikin gue baper lagi?"
Alexa kemudian mengambil HP-nya dan mengirim pesan ke Pak Bambang.
[21.30] Alexa: Pak, buburnya sukses. Dia belum pingsan. Bapak aman.
[21.31] Pak Bambang: Alhamdulillah, Non! Besok kita coba menu nasi goreng racing ya, Non!
Alexa terkekeh pelan. Ia menyandarkan kepalanya di pinggir tempat tidur, ikut tertidur sambil menggenggam tangan Zyan. Namun, damai itu mungkin tidak akan lama, karena di luar sana, Clarissa baru saja menerima kabar bahwa rencana proyek gagal-nya mulai membuahkan hasil, dan Zyan akan menghadapi krisis terbesar di perusahaannya besok pagi.
Bersambung........