Kekasih Lyra tiba-tiba menghilang seminggu sebelum pernikahan, membuat Lyra frustrasi apalagi kedua keluarga sepakat mengganti pengantin pria demi mempertahankan keuntungan masing-masing.
Lyra ingin menolak apalagi pengantin prianya adalah Ares-Kakak kekasihnya yang terkenal arogan, licik, penuh tipu muslihat, orang-orang menyebutnya Pangeran kegelapan. Selain itu, Ares juga memiliki kekasih seorang model papan atas. Akan tetapi, baik perasaan Lyra ataupun Ares tidak penting di depan keuntungan kedua keluarga sehingga keduanya terpaksa menikah meski menjadi pernikahan rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta, Luka dan Rahasia
“Kamu nggak perlu memaksakan diri, Ra.”
Lyra bersandar di dinding lift sembari menatap sepatu hak tingginya yang berwarna merah. “Jangan pedulikan pendapat orang lain, utamakan perasaanmu sendiri.”
“Aku baik-baik aja, Na.”
Lyra tahu, seharusnya ia tak perlu datang ke ulang tahun mantan kekasihnya, seharusnya ia menghilang saja dari hadapan pria itu. Tapi ego dan harga dirinya menolak. Malam ini, Lyra datang bukan untuk menghadiri acara ulang tahun Ryan melainkan untuk meresmikan status hubungan mereka.
“Oh ya, malam ini Ares pasti hadir juga,” kata Sena seraya menarik Lyra agar berdiri dengan tegak, ia juga merapikan helaian rambut Lyra yang menjuntai di wajahnya, memastikan sahabatnya itu berpenampilan sempurna untuk menghadapi sang mantan.
“Bagus.” Lyra mengulum senyum. “Malam ini, aku memang harus menyelesaikan semuanya dengan sepasang saudara sialan itu.”
Ares masih tidak pernah pulang, seakan pria itu bukan hanya ingin menghindari Lyra melainkan ingin menghilang dari hidupnya. Lyra juga sudah bosan menunggu, malam ini ia ingin memperjelas semuanya, bahkan jika bisa bercerai malam ini juga, ia dengan senang hati akan melakukannya.
Acara ulang tahun Ryan dirayakan di hotel Jatmika, tamu yang datang juga bukan orang-orang biasa pertanda acara tersebut bukan hanya sekadar merayakan hari kelahiran.
Saat memasuki ballroom, Lyra menarik napas panjang sebelum akhirnya melangkah dengan percaya diri. Wanita itu memakai gaun merah yang anggun, rambutnya diikat hingga menampakkan lehernya yang jenjang dan putih.
“Kita terlambat,” bisik Sena yang berjalan di sisinya. “Sekarang semua orang memperhatikan kita.”
“Aku tahu.” Lyra menjawab dengan senyum dan ekspresi yang tenang. Ia datang tepat di tengah acara berlangsung, tentu akan menjadi pusat perhatian.
keluarga Jatmika berdiri di tengah-tengah ballroom, di bawah lampu Kristal yang memantulkan cahaya keemasan indah. Di sana juga ada Ares, berdiri di sisi Ryan dengan tegak dan wajah datar, sementara di sisi Ryan yang lain ada Cahaya, yang menggandeng tangannya dengan mesra seolah keduanya adalah sepasang kekasih yang sedang dimabuk asmara.
Selama dua tahun menjalin hubungan, Ryan tidak pernah menggandengnya di depan begitu banyak orang seperti ini dan fakta itu kembali mencubit hati Lyra. Membuka matanya bahwa sejak awal pria itu memang tidak tulus padanya.
Lyra melangkah dengan tenang meski hatinya ingin menjerit meluapkan amarah dan kecewa, matanya menatap lurus pada Ryan yang juga membalas tatapannya dengan bingung dan penuh tanya. Orang-orang mulai berbisik, mempertanyakan siapa wanita yang tiba-tiba masuk di tengah acara.
Lyra tersenyum sinis mendengar bisik-bisik nyaring itu, sebab selama ini Ryan memang tidak banyak yang mengetahui hubungan mereka.
Lyra menatap Cahaya tapi yang ditatap langsung tertunduk takut, seperti pencuri yang tertangkap basah. Lyra hanya tersenyum sinis lalu mengalihkan pandangannya pada Ares yang tenang.
Walaupun tampak tenang, nyatanya jiwa Ares bergejolak melihat sang istri berdandan dengan begitu cantik hanya untuk menghadiri acara ulang tahun adiknya.
“Ryan?” Kini Lyra berdiri tepat di hadapan Ryan, tersenyum dengan begitu anggun yang berhasil menghadirkan getaran tak biasa di hati Ryan.
“Lyra, kenapa terlambat.” Nyonya Yuna hendak mengalihkan perhatian, ia mencoba menarik Lyra tapi wanita itu menolak dengan tenang.
“Tante, aku datang hanya untuk mengucapkan selamat ulang tahun pada Ryan,” ujarnya dengan kilat mata yang sama sekali tak bersahabat. “Juga mau mengucapkan selamat atas pertunangannya dengan adikku.”
Alih-alih senang, Ryan justru merasa seperti ada simpul rahasia di balik ucapan selamat Lyra sementara yang lain tampak begitu terkejut, termasuk kedua orang tua Ryan sendiri.
Kini semua orang mengeluarkan penilaian dan pendapat masing-masing, bahkan ada yang menyebut pertunangan antara Cahaya dan Ryan adalah hubungan bisnis antara dua perusahaan keluarga.
Lyra tidak ingin membuat kehebohan sedikit pun apalagi menjadi pusat perhatian, apa yang dikatakannya hanyalah isi hati yang ingin ia lampiaskan.
Tuan Tama menarik lengan Ryan, dengan kesal ia berbisik, “Pertunangan apa, Ryan?”
Ryan juga bingung pertunangan apa yang Lyra maksud, tetapi ia tahu menyangkal di saat seperti ini justru akan menjadi semakin menarik perhatian orang-orang sehingga yang bisa Ryan katakan hanya mengucapkan terima kasih.
“Terima kasih sudah datang, Lyra.” Pria itu tersenyum sambil menatap mata Lyra, mata yang entah bagaimana langsung menarik perhatiannya sejak wanita itu datang.
“Aku juga ingin mengatakan sesuatu.” Lyra maju selangkah hingga jaraknya semakin dekat dengan Ryan, tanpa ragu wanita itu mencondongkan tubuhnya membuat Ryan langsung menegang, bahkan harus menahan napas saat wajahnya dan wajah Lyra hanya berjarak satu inci. “Aku ingin meresmikan hubungan kita.”
Kening Ryan berkerut dalam, kini ia semakin bingung sekaligus penasaran akan sosok wanita cantik di hadapannya ini, “Mulai sekarang, hubungan masa lalu kita resmi berakhir. Kamu sudah resmi menjadi mantan tunanganku.”
“Maks_”
“Apakah aku datang terlambat?”
Hanya dalam hitungan detik kini perhatian para tamu teralihkan oleh kedatangan seorang pria yang memecah kerumunan. Seorang pemuda dengan sorot mata tenang dan senyum tipis di bibirnya. Ia tidak sendiri, enam orang bodyguard mengikuti langkahnya dengan tenang.
“Tuan Leo dari VC Group?” Tuan Tama menganga tak percaya, begitu juga dengan tamu yang lain.
Bisik-bisik mulai menjalar seperti api di rumput kering tentangnya. Nama-nama besar, nilai saham yang fantastis dan rumor tentang pengaruhnya yang bisa menjatuhkan bisnis seseorang hanya dengan satu panggilan telepon terucap dari mulut ke mulut.
“Jadi dia CEO VC yang terkenal sulit dihubungi apalagi ditemui itu?” bisik Lyra yang mau tak mau ikut merasa penasaran, sebab kehadiran pria itu bisa langsung merebut seluruh pusat perhatian dengan begitu mudah, caranya memasuki ballroom juga cukup menghebohkan, seperti di drama-drama yang ia tonton.
“Bukan.” Sena ikut berbisik. “Yang aku tahu, dia adalah Leo, orang yang mewakili VC Group. Sementara CEO-nya adalah orang misterius yang terkenal kejam dalam berbisnis. Aku dengar, mereka bahkan punya hukum sendiri untuk menjalankan bisnis.”
“Punya hukum sendiri?” Secara spontan Lyra melirik Ares. Kata-kata memiliki hukum sendiri-entah mengapa terasa begitu melekat pada pria itu.
Ah, mengingat Ares. Sejak tadi pria itu tidak bereaksi sedikit pun, tidak mengucapkan sepatah kata pun dengan semua yang terjadi, bahkan kedatangan orang besar seperti Tuan Leo juga tampaknya tidak menarik perhatian pria itu.
“Tuan Leo, selamatkan datang.” Sebagai Tuan rumah, Tuan Tama menyambut dengan senyum lebar. “Saya tidak menyangka Anda benar-benar datang, ini benar-benar keberuntunganku.”
Leo tersenyum miring sambil memasukkan tangannya ke dalam saku jas, ia melirik Ares lalu berkata, “Keberuntunganmu benar-benar sudah diatur dengan baik, Tuan Tama.”
Merasa urusannya sudah selesai, Lyra menarik Sena untuk meninggalkan keramaian yang mulai terasa bising itu. Jika tadi saat masuk ia menjadi pusat perhatian, kini saat keluar, tak ada satu mata pun yang tertuju padanya karena semua mata hanya tertuju pada Leo.
“Kamu nggak penasaran dengan Leo?”
Tujuan Lyra datang ke pesta itu untuk memutuskan hubungannya dengan Ryan secara resmi, hal itu sudah tercapai. Sementara tujuan yang lain adalah berbicara dengan Ares tapi sayangnya hal tersebut sepertinya tidak bisa dilakukan sekarang.
“Tujuanku datang adalah Ryan dan Ares. Leo yang kamu maksud itu sama sekali nggak membuatku tertarik.”
“Dia dari VC Group loh, Ra. VC Group, perusahaan internasional yang membuat semua pengusaha ingin mendekat.”
Lyra hanya mengedikkan bahu sambil menekan tombol lift. “Jangankan dari VC Group, bahkan kalau dia alien yang datang dari planet lain juga aku nggak peduli.”
“Lyra?”
Saat hendak masuk ke dalam lift, langkah Lyra terhenti ketika ada yang memanggilnya. Ia menoleh lalu menyunggingkan senyum tenang meski saat ini dadanya kembali bergejolak.
“Apa maksud ucapanmu tadi?”
“Maksudku sesuai yang kamu pahami, Ryan,” jawab Lyra yang justru membuat Ryan semakin bingung.
“Aku nggak paham, sedikit pun nggak paham.” Ryan tampak frustrasi, saat ini ia dikuasai rasa yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ia menggenggam tangan Lyra dengan erat, tak peduli meski wanita itu berusaha melepaskannya dengan marah. “Aku mohoh, Lyra. Jelaskan apa maksudmu.”
Semenjak sadar dari koma, semuanya menjadi tanda tanya, sekarang ditambah dengan kata-kata Lyra yang seakan keduanya memiliki masa lalu bersama.
“Jauhi temanku!” seru Sena seraya mendorong Ryan menjauh dari Lyra. “Sebaiknya sekarang kamu kembali ke acara ulang tahun dan pertunanganmu itu.”
“Itu bukan acara tunangan,” sangkal Ryan.
“Apa pun itu, aku nggak peduli.” Lyra berkata dengan nada dingin lalu masuk ke dalam lift.
“Lyra_”
“Ryan?”
Ryan menoleh mendengar suara sang Kakak. “Kenapa kamu di sini? Papa nyariin, dia mau kenalin kamu ke Leo.”
Dua minggu berpisah, kini akhirnya Lyra bisa bertemu dengan Ares. Namun, sayang sekali pria sama sekali tidak meliriknya, seakan mereka benar-benar hanya orang asing yang tak sengaja bertemu. Ketika pintu lift tertutup, Lyra langsung menghela napas panjang sambil memegang dadanya yang terasa sesak.
“Nggak apa-apa, Ra?” Sena bertanya dengan cemas yang hanya dijawab anggukan lemah oleh Lyra.
Keputusannya memang sudah bulat untuk melepaskan Ryan, bahkan rasa cintanya perlahan menjadi benci akibat pengkhianatan pria itu. Akan tetapi, rasa sakit akibat cinta terkhianati itu tak bisa hilang begitu saja dari hatinya.
“Dulu dia bilang nggak mau mengumumkan hubungan kami karena nggak mau ada yang mengambil keuntungan dari hubungan kami, Na.” Lyra tersenyum getir. “Bahkan direncana pernikahan kami, dia nggak mau mengundang banyak orang. Katanya cukup keluarga dekat aja supaya terasa lebih hangat. Sekarang aku baru tahu alasan sebenarnya, dia nggak pernah mengumumkan hubungan kami karena tujuan akhirnya memang bukan aku.”
“Ra?” Sena mengusap Pundak wanita itu dengan sedih.
“Nggak apa-apa, Na. Orang sepertiku ini …. “ Lyra bersandar lemas di dinding lift, sorot matanya menjadi kosong, bibirnya menyunggingkan senyum hambar. “Nggak dicintai dengan tulus sudah menjadi hal biasa.”
duh giliran ada gratisan langsung ok hehwhe
Kudukung kamu..
apa iya . hilangnya Ryan hari itu ulah ortunya lira