Renazia Putri Maharaja, adalah salah satu orang yang beruntung di dunia. Selain pintar dan cantik, wanita yang baru saja menginjak umur 27 tahun itu, juga memiliki keluarga yang sangat sayang padanya, serta teman yang banyak.
Ditambah dengan kesuksesannya di dunia desainer, membuat orang-orang iri padanya.
Namun, semuanya hilang dalam semalam, ketika Rena tiba-tiba terbangun di tempat yang asing dengan tubuh yang berbeda, dengan nasib yang berbeda juga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vaestra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
duapuluh
Rena menatap heran Dante yang pulang lebih cepat dari biasanya. Namun, pria itu pulang bersama dengan seorang pria yang Rena tidak kenal.
"Rena, ada yang ingin bertemu denganmu," ucap Dante yang berdiri di depan Rena yang sedang membaca buku di ruang keluarga.
Rena tidak menjawab, dia beralih menatap pria yang datang bersama dengan Dante sambil mengernyitkan keningnya.
"Hai! Aku Daniel. Adik sepupunya, Dante." Daniel mengulurkan tangannya ke depan Rena.
Rena mencoba mengingat. Apakah ada tokoh Daniel di novel yang dia baca? Namun, dia tidak mengingatnya.
"Hai juga. Aku Rena." Rena melirik Dante. "Aku istrinya ... Dante."
Daniel terkekeh. "Aku tau. Dante sudah menceritakan tentang dirimu. Salam kenal, yah. Dan, aku minta maaf, karna tidak datang waktu pernikahan kalian. Dante tidak mengatakan apapun."
Rena tersenyum tipis. Dia tau, jika penikahannya dengan Dante, memang tidak dihadiri oleh keluarga dari pria itu. Namun, Dante membayar orang untuk menjadi saksinya.
"Sudah, kan? Sekarang kembali ke apartemenmu," usir Dante.
Daniel mendengkus, menyenggol lengan Dante. "Kok, kakak begitu." Daniel menatap naik ke atas lantai dua. "Aku yakin, rumah sebesar ini pasti memiliki kamar yang kosong."
"Tidak. Kamu harus ke apartemenmu," ucap Dante sambil menarik lengan Daniel untuk mengikutinya keluar dari mansion.
"Tunggu!"
Langkah keduanya berhenti ketika Rena tiba-tiba berdiri dan berseru. Dante menaikkan salah satu alisnya sambil menatap wanita itu. Dia mempertanyakan tingkah Rena yang tiba-tiba menghentikan mereka.
"Biarkan dia menginap di sini."
Daniel tersenyum puas mendengar perkataan Rena. Dia beralih menatap Dante dengan tersenyum mengejeknya.
"Kamu tidak hak untuk menentukan, siapa yang bisa menginap di tempat." Dante maju selangkah. "Tempat ini, adalah milikku bukan kamu."
Rena terdiam. Dia sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Dante. Walaupun benar, tapi harusikan Dante berterus terang begitu? Di depan orang yang pertama kali bertemu dengan Rena.
Daniel menghela napas. Dia menghampiri Dante, dan menepuk pundaknya. "Sudah, Dante. Bukan begitu, menghadapi wanita." Daniel beralih menatap Rena, dia tersenyum menenangkan wanita itu. "Maaf, kakak sepupuku ini tidak pernah berurusan dengan wanita. Jadi, dia agak sedikit kaku. Aku akan pulang ke apartemenku. Mungkin untuk menginapnya, bisa di lain hari."
"Kalo gitu, aku pamit dulu. Kakak ipar, aku harap kita bisa ketemu dan berbincang lebih banyak lagi."
Pria itu berbalik meninggalkan Dante dengan Rena. Rena juga ikut beranjak meninggalkan Dante yang hanya bisa menghelakan napas panjang.
Sampai di kamar, Rena langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur. Awalnya, dia ingin menenangkan dirinya dengan membaca novel, namun perkataan Dante, membuatnya kesal.
"Apa aku kabur aja sekarang?"
"Kabur ke mana,Nyonya?"
Rena sontak menegakkan tubuhnya. Dia kaget ketika melihat Riri yang berdiri di dekat ranjang kasurnya. Padahal, dia yakin, dia masuk ke dalam kamar sendirian.
"Sejak kapan, kamu berdiri di situ?"
"Ah, maaf, Nyonya. jika nyonya kaget. Saya tadi mengikuti nyonya dari belakang."
Rena bangkit berdiri dari kasurnya. "Tidak apa-apa. Lain kali, buat suara agar aku tidak kaget."
"Baik, Nyonya."
Rena menghela napas lalu, berbalik hendak ke balkon kamar. Dan, tentu saja Riri mengikutinya dari belakang.
"Nyonya, maaf. Tadi saya tidak sengaja mendengar Nyonya ingin kabur. Kalo boleh tau, nyonya ingin kabur kenapa?" Riri kembali bertanya, membuat Rena menaikkan alisnya sebelah.
"Kenapa kamu ingin tau?" tanya balik Rena.
Menyadari ada yang berbeda dari nada bicara Rena, Riri segera membungkukkan badannya. "Maaf, nyonya. Saya hanya penasaran."
"Tegakkan badanmu, Riri," perintah Rena yang langsung dilakukan oleh Riri. "Lupakan apa yang kamu dengar tadi."
"Baik, Nyonya."
Rena menghela napas panjang. "Buatkan aku jus alpukat."
"Baik, Nyonya."
Setelah memastikan Riri sudah beranjak dari kamarnya, Rena kembali menatap ke arah pepohonan yang ada di belakang mansion.
"Aku memang harus kabur dari sini."
...
Julian tidak menyangka jika Daniel akan ke Indonesia, dan kini berdiri di depan rumah yang kini dia tinggal. Dengan segera, dia menghampiri pria itu. Dia menatap pria itu dengan tatapan tidak suka. "Kenapa kamu ke sini?"
Setelah pulang dari mansion Dante, Daniel tidak langsung pulang. Dia pergi menemui Julian berdasarkan informasi di mana Julian berada dari orang suruhan Dante yang mengawasi Julian.
Dan, informasi itu membawa Daniel ke rumah sederhana ini. Pertama kali melihatnya, Daniel cukup terkejut. Karna, tidak menyangka seorang Julian memilih tinggal di sini. Ditambah lagi, tempat itu jauh dari perkotaan. Dia saja, sampai di rumah itu, hari sudah gelap. Padahal, dia berangkat dari kota langit masih cerah.
Namun, ketika dia kembali mengingat apa yang sudah terjadi pada pria, Daniel memakluminya.
"Seharusnya, kamu tidak kembali ke negara ini, Daniel," lanjut Julian.
Daniel sudah mengira reaksi Julian ketika melihat dia, makanya dia tersenyum. "Di sana, aku juga terancam." Sebelum melanjutkan, Daniel memperhatikan sekitar. Takut jika, ada yang mendengar mereka.
"Jangan khawatir. Tidak ada yang akan mendengarkanmu. Kecuali, anak buah Dante yang berkeliaran di sini," ucap Julian ketika menyadari kekhawatiran Daniel.
"Tapi, sebaiknya, kita membicarakannya di dalam," ucap Daniel, membuat Julian berpikir sejenak lalu mengiyakan walaupun, dia enggan.
Mereka masuk ke dalam rumah, setelah Julian membuka kunci rumahnya. Tanpa dipersilakan, Daniel langsung duduk di sofa.
"Jadi, kenapa kamu kemba--" Julian terdiam ketika Daniel meletakkan buku hitam itu ke atas meja. "kenapa--"
"Apakah pemilik bukunya, benar-benar belum mengetahui jika bukunya berada di kamu?"
Hening sejenak, Julian menatap buku hitam itu, lalu mengangkat kepalanya, menatap Daniel. "Jika, aku masih berada di depanmu, berarti pemilik buku itu belum mengetahuinya."
"Dante sudah mencari tau, dia merasa jika pemilik buku ini, sudah mulai mencurigaimu. Makanya, kamu ditempatkan di sini dengan pengawasan ketat."
Saat perjalanan menuju mansion, Dante sedikit memberikan informasi ke Daniel mengenai Julian.
Julian mendengkus, dia beralih menatap keluar jendela rumahnya. "Aku tau. Makanya, aku menitipkannya di kamu. Tapi, kamu malah ke sini."
Dante memajukan badannya sedikit, menatap Julian dengan tatapan serius. "Aku juga merasa seperti diikuti setelah kamu menitipkan buku ini. Aku belum tau siapa orang itu, tapi yang pasti, sepertinya ini ada kaitannya dengan buku ini. Aku sudah tidak ingin menjaga buku ini. Aku masih muda untuk mati."
Setelah diikuti beberapa hari, Daniel menyadari sesuatu. Dia sudah terlibat dengan urusan yang tidak seharusnya. Dia juga sedikit menyesal, karna sudah menerima buku itu.
Tidak ingin terus berlanjut, dia memilih untuk mengembalikan buku itu.
William Volkov adalah orang yang paling berbahaya, walupun dia terlihat baik di luarnya. Tapi, dia akan menghancurkan hidup siapa yang mencoba menghalanginya. Makanya, Daniel memilih untuk mengembalikan buku itu.
... bersambung