Joko Tenang didedikasikan oleh ayahnya sebagai pendekar pembela kebenaran di dunia persilatan. Menjadi murid tokoh sakti aliran putih Ki Ageng Kunsa Pari membuatnya memiliki kesaktian pilih tanding.
Namun, penyakit keturunan dari kakeknya menjadi kelemahan terbesarnya sebagai seorang pendekar. Ia akan mengalami kelemahan hingga pingsan jika didekati oleh wanita kurang dari tiga langkah, terlebih jika sampai bersentuhan kulit.
Joko Tenang yang masih remaja turut ambil bagian dalam misi penumpasan gerombolan perampok yang suka menyerang desa, merampok harta, dan menculik gadis-gadis perawan desa. Namun, kelompok perampok itu sangat sulit ditemukan dan ditumpas.
Mampukah Joko Tenang menjalani misi pertamanya dalam dunia persilatan? Temukan jawabannya di novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Menyerang Sarang Rampok
Wusss!
Di belakang pinggang Nintari kini bercokol sinar merah dan kuning yang bergelembung-gelembung seperti sinar mendidih. Kemudian Nintari mengeluarkan kedua tangannya dari balik pinggangnya, sehingga Raja Anjas dan penonton di kubunya bisa melihat. Selanjutnya....
Wesss...!
Sekali hentak kedua tangan, Nintari bisa melesatkan puluhan sinar merah dan kuning dari kedua tangannya. Serangan keroyokan yang bidang bidiknya luas itu, tidak hanya menargetkan tubuh Raja Anjas, tapi juga akan menyerang area di belakang Raja Anjas. Bahkan, sejumlah sinar melesat ke samping dan ke belakang. Sinar yang melesat ke belakang itulah yang ditakuti oleh Kembalanga dan dua teman tuanya.
Kaaak...!
Kembali Raja Anjas membuat para penonton terkejut dengan tindakannya yang tidak biasa dalam menangkal serangan. Ia menjerit keras mengeluarkan suara seperti koakan burung rajawali. Koakan itu pun bukan koakan biasa, tetapi mengandung tenaga dalam yang sangat tinggi.
“Aak!” jerit Parsuto kesakitan sambil menutup sepasang telinganya.
Sementara yang lain spontan mengerahkan tenaga dalam untuk melindungi pendengaran mereka dari pengaruh koakan Raja Anjas yang sangat keras.
Bledar bdar bduarr....!
Koakan keras Raja Anjas meledakkan seluruh sinar merah dan kuning di udara sebelum mencapai sasarannya masing-masing. Meski demikian, daya ledak yang serentak di udara bukanlah daya ledak yang ringan. Sejumlah pohon berukuran kecil hingga sedang berhancuran dan berpatahan dahan-dahannya. Sejumlah batang pun harus tumbang. Hamparan tanah terbongkar secara acak.
“Demit!” maki Kubajrik yang nyaris tertimpa patahan dahan pohon yang patah di atasnya.
Sementara itu, Nintari terpental keras ke belakang dan menghantam batang pohon besar. Ia jatuh berdebam di akar besar, tapi ia segera bangkit dan memperlihatkan wajah cantiknya yang berlumur darah pada bagian dagunya.
Dengan agak sempoyongan, Nintari berjalan ke hadapan Raja Anjas yang masih berdiri di tempatnya. Di depan pria tampan itu, Nintari yang kini berwajah pucat, menyeka darah di sekitar mulutnya.
“Kau benar-benar sakti, Pendekar,” puji Nintari. “Aku rasa tidak perlu diriku menggunakan seruling, karena kau telah mampu mementahkan Semburan Neraka-ku dan tidak terpengaruh oleh daya pikatku. Aku kagum padamu dan aku mengaku kalah. Aku tidak tidak akan menghalangi jalan kalian.”
“Maaf telah melukaimu. Aku bisa menawarkan pengobatan cepat atas lukamu,” kata Raja Anjas.
“Hihihi!” tawa Nintari. “Tawaran sangat sulit untuk ditolak, tapi aku tidak mau menjerumuskan perasaanku jika harus tertarik kepadamu.”
Nintari lalu berbalik dan berseru kepada rekan-rekannya yang agak jauh berlindung.
“Jika kalian tidak ingin celaka dan mati sia-sia, lebih baik biarkan mereka memasuki wilayah perampok itu. Kesaktian pemuda itu terlalu tinggi untuk kalian!” kata Nintari kepada teman-temannya.
Nintari lalu berbalik lagi dan berjalan melalui keberadaan Raja Anjas.
Nenek Kipas Api, Kubajrik dan Kembalanga saling pandang, saling minta pendapat lewat mata.
“Benar kata Kubur. Melawan Kubur saja dia tidak bersusah payah, apa lagi melawan kesaktian kita yang berada di bawah Kubur,” kata Kubajrik.
“Jika kau mengganggu dia, nyawamu menjadi taruhannya!” seru Raja Anjas tiba-tiba kepada Nintari.
Nintari terlihat memandangi Joko Tenang seraya tersenyum saat berlalu di dekatnya. Ia lalu berpaling sejenak memandang Raja Anjas seraya masih tersenyum. Selanjutnya, Nintari melesat pergi lalu menghilang.
Melihat Nintari telah pergi, Sanggala lalu berjalan ke arah ketiga penjaga daerah itu yang tersisa.
“Baiklah, kami sepakat tidak akan menghalangi jalan kalian,” kata Nenek Kipas Api.
Kini Gadis Cadar Maut dan Gujara sudah berjalan di belakang Raja Anjas.
“Terima kasih, para tetua,” ucap Raja Anjas dengan gerakan kepala sedikit menunduk tanda hormat.
Tanpa bicara lagi, Kembalanga melesat pergi. Menyusul Nenek Kipas Api. Mau tidak mau, Kubajrik pun harus memilih pergi juga dengan berkelebat pergi.
“Kesaktianmu sungguh luar biasa, Senggala. Aku mencurigaimu sebagai murid dari tokoh sakti yang sudah lama menghilang,” kata Gujara.
“Mungkin kalian pernah mendengar nama Sintar Sadarmadewa?” kata Raja Anjas yang menyebut nama ayahnya yang berjuluk Dewa Bawah Langit.
“Aku belum pernah mendengar nama itu,” kata Gadis Cadar Maut.
“Aku baru dua kali turun ke dunia persilatan,” kata Raja Anjas.
“Wah! Ilmu Paman hebat sekali!” puji Joko Tenang.
“Aku kira Paman yang hebat, ternyata ilmu Paman yang hebat,” kata Raja Anjas berseloroh.
“Hahaha!” tawa Gujara dan Gadis Cadar Maut.
“Ilmu apa itu namanya, Paman?” tanya Tingkir.
“Bahana Alam Kahyangan,” jawab Raja Anjas.
“Alam Kahyangan?” ucap ulang Joko, seolah mengenal nama itu.
“Gurumu tahu tentang ilmu itu, Joko. Maka sepulang dari menumpas para perampok itu, kau tanya kepada gurumu,” kata Raja Anjas.
Joko hanya manggut-manggut dengan ekspresi wajah yang serius, seolah membayangkan apa yang akan terjadi jika ia memiliki ilmu sehebat Bahana Alam Kahyangan. Sementara Tembangi terlihat tersenyum-senyum samar melihat keseriusan wajah Joko.
“Kemari, biar aku sembuhkan lukamu!” kata Raja Anjas kepada Parsuto yang masih sibuk dengan kedua telinganya yang terasa sakit.
Parsuto lalu mendekat kepada Raja Anjas. Kepala Parsuto langsung dicengkeramnya dengan jari-jari tangan kanan. Yang lain hanya menyaksikan. Parsuto meringis sakit, karena kepalanya seperti hendak diremukkan oleh lima jari kuat Raja Anjas.
Bagi yang memperhatikan dengan seksama, mereka akan melihat munculnya sinar putih sekejap di ujung-ujung kelima jari yang mencengkeram. Kelima sinar itu masuk ke dalam kepala Parsuto. Setelah itu, Parsuto merasakan isi kepalanya sedang disuntik oleh hawa dingin. Seiring itu, rasa sakit pada kedua gendang telinga Parsuto berkurang hingga akhirnya lenyap tanpa ada sakit.
Raja Anjas telah melepas tangannya dari kepala Parsuto.
“Ayo kita menyerang!” seru Raja Anjas.
“Seraaang!” teriak Tingkir lebih keras lalu berlari sendiri ke depan mendahului semuanya.
Mereka pun melanjutkan perjalanan. Dugaan mereka, lokasi sarang Perampok Raja Gagah tidak akan jauh lagi. Tingkir akhirnya bosan berlari sendiri, karena ia juga tidak menemukan tanda-tanda keberadaan sarang perampok yang mereka cari.
“Sepertinya kau berbunga-bunga,” bisik Gadis Cadar Maut kepada adiknya. Mereka berdua berjalan agak di belakang.
“Ah?” tanya Tembangi sambil memperhatikan dirinya, tidak langsung mengerti maksud perkataan kakaknya.
“Wajahmu,” bisik sang kakak lagi.
Tembangi pun mengerti, karenanya ia langsung tersenyum kepada kakaknya.
“Kau jatuh cinta kepadanya?” tanya Cadar Maut.
Tembangi tidak menjawab, ia hanya tersenyum lagi, tapi kali ini mengandung tersipu malu.
“Aku khawatir kau akan sakit hati. Sebab, setelah urusan ini selesai, mau tidak mau kau akan berpisah dengannya,” kata Cadar Maut.
Tembangi terdiam, tidak langsung menanggapi perkataan kakaknya. Seolah ia sedang berpikir.
“Tapi, Kakak tahu tempat tinggal guru Joko?” tanya Tembangi.
“Tidak,” jawab Cadar Maut, membuat Tembangi menunjukkan wajah kecewa. Lalu katanya lagi, “Tapi kediaman Ki Ageng Kunsa Pari bisa dicari.”
“Jika demikian, tidak ada masalah, Kak,” kata Tembangi seraya tersenyum.
“Tapi, apakah kau yakin bahwa Joko menyukaimu? Bukankah kau dengar bahwa gadis yang dicintainya diculik Perampok Raja Gagah?” kata Cadar Maut lagi.
“Berarti akan ada persaingan,” kata Tembangi.
Rombongan itu kini berada di jalan yang diapit pepohonan hutan dan tebing batu tinggi. Sementara jalan yang mereka lalui terhampar menanjak.
“Hup!”
Tanpa bicara apa-apa lebih dulu, Raja Anjas tiba-tiba melompat tinggi naik hinggap di pertengahan badan tebing. Selanjutnya ia kembali melompat naik lebih tinggi, sehingga sampai ke atas. Raja Anjas lalu bergerak hingga hilang dibalik atas tebing.
Tindakan Raja Anjas membuat yang lain sempat terkejut.
“Apa yang dilakukan Senggala? Apakah ia mendengar sesuatu di atas tebing sana?” kata Gujara.
“Kita tunggu Senggala muncul lagi,” kata Cadar Maut sambil maju ke dekat Gujara.
Mereka semua berhenti dan mendongak memandang ke atas sana.
Namun, tidak berapa lama, kepala Raja Anjas muncul melongok di atas tebing. Ia mengulurkan tangan kanannya dan memberi tanda agar mereka yang di bawah menyusul naik.
“Apakah kalian bisa naik semua?” tanya Gujara kepada yang muda-muda.
“Tentu, Paman!” jawab Tingkir penuh semangat.
Ia lalu lebih dulu melompat naik. Dengan cekatan Tingkir memilih pijakan-pijakan yang baik di badan tebing untuk naik dengan sukses. Tebing batu itu memang tidak begitu sulit dinaiki. Orang biasa semodel Parsuto pun bisa menaikinya, hanya akan lebih lama.
Tidak mau kalah, Tembangi pun melompat naik dengan lincah. Dalam waktu singkat gadis cantik itu pun sampai di atas.
“Parsuto bagaimana, Paman?” tanya Joko, karena ia melihat sahabatnya itu tampak ragu.
“Parsuto biar bersamaku,” kata Gujara.
Gujara lalu merangkul pinggang Parsuto, kemudian membawanya bersama melompat menaiki tebing. Parsuto hanya mendelik dengan jantung berdesir saat merasakan seperti terbang ringan menaiki tebing.
Tinggallah Gadis Cadar Maut dan Joko di bawah.
“Apakah kau mau digendong naik ke atas juga, Joko?” tanya Cadar Maut kepada Joko.
“Ah!” kejut Joko mendapat tawaran seperti itu. Ia lalu cengengesan dan berkata agak gugup, “Ti... tidak, Bi. Aku bisa sendiri.”
Usai berkata seperti itu, Joko langsung melompat naik. Gadis Cadar Maut yang sengaja bercanda jadi tertawa dengan reaksi Joko.
Gadis Cadar Maut dengan mudah melesat menaiki tebing.
Setibanya di atas tebing, mereka dibuat terkejut dengan keberadaan tiga mayat lelaki yang tergeletak. Ternyata Senggala telah melumpuhkan tiga orang pengintai di atas tebing itu.
Dengan berada di atas tebing, mereka bisa melihat bahwa di balik tebing ada sebuah lokasi dataran rendah. Lokasi itu dikelilingi oleh tebing. Ada beberapa bangunan rumah kayu dan bambu, dilengkapi tanah lapang. Di satu sisi tebing batu terlihat jelas ada sebuah mulut gua besar yang dihiasi helaian-helaian kain panjang berwarna-warni. Kain-kain itu berkibar-kibar ditiup angin kencang. Di sana ada dua orang pria berbadan besar duduk berjaga.
Di sisi lain ada sejumlah kolam-kolam yang dialiri air mengalir. Kolam-kolam itu diisi dengan rakitan balok-balok kayu yang menyerupai kandang-kandang besar. Ternyata kandang-kandang itu diisi oleh sejumlah wanita yang dibelenggu dengan rantai panjang. Satu kandang berisi empat hingga enam wanita muda, bahkan ada yang tergolong remaja. Para gadis yang dipenjara di kolam harus berdiri, karena tinggi air kolam mencapai dada mereka. Jika mereka duduk, maka mereka akan tenggelam.
Di beberapa sudut sekitar kolam ada beberapa lelaki bersenjata golok yang terlihat seperti sedang berjaga.
Di salah satu rumah panggung, sejumlah pria sedang tertawa-tawa, lengkap dengan makanan dan minuman memabukkan. Terdengar pula jerit-jerit perempuan di antara tawa-tawa itu, seolah menunjukkan beberapa gadis itu sedang dilecehkan.
“Lihat di kolam-kolam itu, para gadis dikurung seperti ayam!” seru Joko seraya menunjuk dari balik tempat pengintaian mereka.
“Kalau di kolam, dikurung seperti ikan, bukan ayam!” kata Tingkir meluruskan.
“Coba cari, Limarsih, Kusuma dan Cucur ada di mana?” tanya Parsuto.
“Aku tidak jelas melihat orang-orang di dalam kurungan kolam,” kata Tingkir.
“Tapi, mereka pasti ada di salah satu kolam. Tapi, perempuan lain juga wajib kita selamatkan,” kata Joko. Lalu katanya kepada Gujara dan Raja Anjas, “Paman, biarkan kami langsung menyerang!”
“Tahan sebentar, atur dulu pernapasan kalian, tenangkan pikiran kalian!” kata Gujara.
“Aku rasa jumlah mereka lebih banyak di dalam rumah atau gua besar yang di sana,” kata Gadis Cadar Maut.
“Bagaimana, Senggala?” tanya Gujara.
“Aku berpikiran, biarkan para pendekar muda ini memulai serangan, kita beri perlindungan dari belakang. Biarkan mereka menunjukkan kemampuan maksimalnya dan menjadi pahlawan hari ini,” kata Raja Anjas.
“Tidak masalah,” kata Cadar Maut setuju.
Gujara pun mengangguk.
Mendengar dialog ketiga orang dewasa itu, Joko dan Tingkir tampak senyum-senyum.
Lalu Raja Anjas berkata dengan berapi-api kepada Joko dan ketiga temannya.
“Baik, para Pendekar! Saatnya kalian tunjukkan kependekaran kalian. Tunjukkan bahwa hari ini kalian adalah seorang pahlawan dunia persilatan!”
Joko, Tingkir dan Parsuto mengangguk serentak.
“Serang!” seru Raja Anjas sambil menunjuk ke bawah sana.
“Seraaang!” teriak Joko Tenang keras sambil langsung melompat terjun ke bawah.
Teriakan Joko yang cukup keras itu, ternyata terdengar ke telinga sebagian para lelaki yang ada di daerah terkurung tersebut. Para lelaki bersenjata golok yang memang adalah anggota Perampok Raja Gagah, segera melihat ke sumber suara.
“Basmi perampok!” teriak Tingkir pula sambil menyusul Joko Tenang.
Para anggota perampok yang berjaga melihat ada dua pemuda tanggung sedang berlari cepat. Kecepatan lari dan keringanan tubuhnya dalam melompat, menunjukkan bahwa dua penyusup itu bukan orang sembarangan.
Sementara itu, Tembangi Mendayu memandang kepada kakaknya. Gadis Cadar Maut hanya memberikan gerakan kepala agar adiknya ikut turun menyerang. Maka, Tembangi langsung menggenjot tubuhnya dan melompat menuruni tebing.
Empat orang lelaki bersenjata golok berlari menyambut kedatangan Joko Tenang.
“Hiaat!” pekik dua anggota perampok terdepan sambil bersamaan menebaskan goloknya mengincar leher Joko.
Namun, Joko gesit meluncur menjatuhkan tubuhnya lewat di bawah tebasan. Sementara kedua kakinya bekerja menghajar kaki dua lelaki di belakang.
Bababak!
Ternyata kedatangan Joko dengan cepat disusul oleh Tembangi Mendayu yang datang menerjang di udara. Terjangan Tembangi yang keras menghajar dua dada sekaligus anggota rampok yang tadi ingin menebas leher Joko.
Rupanya serangan Joko dan Tembangi tidak cukup melumpuhkan keempat rampok itu, karena keempatnya dengan cepat bangkit kembali.
Di sisi lain, Tingkir dikeroyok tiga anggota rampok yang juga bersenjata golok. Dengan semangat berapi-api Tingkir langsung menghajar ketiganya dengan jurus tertingginya. Namun faktanya, ketiganya bukan sekedar rampok biasa, satu kali penghajaran belum cukup untuk melumpuhkan mereka.
Tinggallah Parsuto yang bingung harus menyerang seperti apa. Ia jelas tidak bisa melakukan hal sama seperti yang dilakukan oleh Joko, Tingkir dan Tembangi.
Melihat kebingungan Parsuto, Gujara lalu berkelebat menyambar tubuh pemuda itu. Kemudian Gujara membawanya terbang di udara dengan ilmu peringan tubuh.
“Aaa...!” jerit Parsuto merasa ngeri, terlebih ketika Gujara melempar lepas tubuhnya ke bawah.
Jbuur!
Tubuh Parsuto yang dilempar dari atas jatuh ke dalam sebuah kolam, membuatnya seketika gelagapan tanpa arah dan pegangan.
Setelah itu, Gadis Cadar Maut juga berkelebat seperti burung yang turun ke bumi.
Raja Anjas memilih mengawasi dari atas tebing. (RH)