NovelToon NovelToon
Ku Cium Wanita Bercadar Itu

Ku Cium Wanita Bercadar Itu

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romantis / Tamat
Popularitas:35.7k
Nilai: 4.8
Nama Author: Unchi

menceritakan tentang pengalaman seorang Mustafa yang nekat mencium seorang wanita baik-baik dan bahkan bercadar.

Hingga kebejatannya itu membuatnya harus menikahi sang wanita bercadar.


Baca kisahnya di sini...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unchi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20

Ku tatap baju yang sudah ia siapkan. Kaos hitam, celana hitam. Dan ada jaket hitam yang biasa aku pakai. Ternyata dia suka warna gelap.

Segera aku masuk kamar mandi. Aku basahi kepala. Niatnya mau shampoan. Ternyata yang ada shamponya Azzahra. Kayaknya gak masalah jika aku minta dikit. Aku lupa kalau gak bawa shampo pas kesini.

Pas ku buka dan ku balurkan ke tangan. Shamponya sangat harum. Aku jadi kebayang saat menciumi rambutnya.

Pikiranku jadi tak tertolong. Membuat kejantananku naik. Buru-buru aku guyur kepalaku dengan air. Akhirnya pikiran mesum itu reda.

"Jahat banget sih istriku ini. Suami udah pengen, tapi dianya masih belum siap ku sentuh," gerutuku saat baru selesai mandi.

Ku usap rambutku dengan handuk biar cepat kering. Kemudian aku keluar kamar, tak disangka istriku sudah menunggu giliran mandi. Sebab dia sudah menyiapkan pakaian di tangannya.

Dada terekpos, hanya pakai celana pendek sepaha. Lagi-lagi Azzahra malu dan menutup mukanya.

Aku cengengesan. Di sini aku gak berani macem-macem. Coba kalau di rumah kayak kemarin. Pasti udah ku jaili.

"Hehe, maaf dek!" jawabku sambil mengambil kaos yang ada di samping Azzahra.

Dia mengangguk kecil.

Usai pakai kaos. Ku lihat dia, ternyata masih duduk. Kali ini dia menatapku dengan matanya. Biasanya mata itu menatap malu-malu. Namun sekarang? Apakah dia terpana dengan wajahku? Pikirku dengan percaya diri.

"Sini Mas biar Azzah bantu!" pintanya saat menatap rambutku yang basah.

"Ah eh, i... iya Dik!" Aku grogi minta ampun. Istriku tumben sekali.

Aku duduk di lantai. Dan dia di atas kasur. Dia memijat kepalaku dengan pelan. Handuk diusapkan-usapkan. Ternyata seperti ini rasanya punya istri. Saking nyamannya aku hampir lupa bilang kalau tadi minta shamponya.

"Emh Dik. Tadi mas minta shampomu," ucapku agak gelagapan.

"Oh pantes, baunya kayak familiar gitu," jawabnya.

Aku jadi gak enak mendengarnya. "Maaf ya Dik. Soalnya mas lupa gak bawa shampo kemarin."

"Oh gak masalah mas. Rambut mas udah ini. Azzah mandi dulu mas," pamitnya.

Dan ku tahan tangannya. "Dik!" panggilku. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Ku rebahkan tubuhnya bersamaan dengan tubuhku yang setengah menindihnya.

Entah bisikan apa, aku hampir saja menciumnya. Lupa kalau dia tengah trauma gara-gara kelakuanku beberapa hari yang lalu.

Dia mendorongku sambil berlari menuju kamar mandi. Sepertinya dia menangis.

"Dik! Maafin Mas Dik! Sumpah beneran, mas khilaf!" ucapku di balik pintu kamar mandi.

Aku kalut banget. Masalah bertubi-tubi menghampiriku. Alamat ini, kayaknya rencana pulang ke rumah bakalan gagal. Semua gara-gara diriku yang tak bisa menahan nafsu.

"Dik.....," panggilku lagi. Hanya terdengar suara gemericik air yang tak dimatikan.

Aku menyandarkan diriku di depan pintu. Aku bingung harua bagaimana? Sepertinya hidupku sudah tak berguna lagi. Baru saja aku bahagia, tapi aku sendiri juga yang merusaknya.

"Dik...., maafin mas Dik. Mas salah. Harusnya mas gak memaksa adik. Dik.... ku mohon," sesalku sambil memerosotkan diriku ke bawah. Kini aku berjongkok. Rasanya aku ingin menangis. Hidup bagai tak berpihak padaku untuk kesekian kalinya.

Ceklek.

Segera aku menoleh dan mendongak. "Dik!" panggilku sambil berdiri.

Dia tak terlihat sembab seperti kemarin. Lalu dia menangis kenapa? Pikirku bingung.

"Mas, maaf. Azzah belum siap. Azzah masih takut," ucapnya yang membuat hatiku lega.

"Iya Dik. Makasih," ucapku. Lalu ku peluk dia dengan erat. Harum badannya menyeruak ke hidungku. Tapi aku tak boleh keblabasan lagi.

"Mas janji Dik. Mas gak akan maksa kamu lagi," ucapku senang. Tanpa ku sadari, air mata kebahagiaan menetes di hijabnya. Ya, Azzahra sudah berpakaian lengkap dengan hijabnya. Mungkin dia menangis karena belum siap. Aku pikir, dia menangis karena trauma ciuman paksa waktu itu.

"Iya, Azzah percaya." Dia melepas pelukanku. Lalu berjalan ke depan menuju meja rias.

Aku bahagia melihatnya yang masih mau menerimaku. Jadi aku putuskan untuk duduk di belakangnya.

"Nanti jadikan Dik?" tanyaku memastikan. Sebab aku sudah tak betah sekaligus takut jika seseorang datang dari masa laluku di rumah ini.

Terlihat dia mengangguk tanda iya.

"Makasih Dik. Makasih!" ucapku bahagia.

Tiba akhirnya pak Rahmad dan umi Kulsum ada di ruang TV. Jadi aku mendekatinya sambil duduk agak jauh sedikit dari keduanya.

"Eh nak Mustafa!" Pak Rahmad menyambut kedatanganku. Tapi tidak dengan umi Kulsum yang cuek saja.

"Pak, boleh saya bicara sebentar?" ijinku padanya.

"Oh boleh."

"Umi, tolong kecilkan atau matikan TVnya ya?" suruh pak Rahmad.

Umi Kulsum menatapku sebelum mematikan TV di depannya.

Aku jadi tak enak hati. Merasa mengganggu ketenangan ibu mertuaku.

"Gimana Nak Mustafa?" tanyanya.

"Begini Pak!"

Tiba-tiba Azzahra duduk di sampingku, dengan jarak 2 kilanan. Pokoknya tak terlalu mepet.

"Iya gimana?"

"Rencananya hari ini...., saya dan Dik Azzah mau pamit untuk tinggal di rumah Mustafa. Sayang banget Pak kalau dikosongkan. Soalnya selama ini saya tinggal sendirian, jadi rencananya mau memboyong Dik Azzahra ke sana."

"Tidak boleh. Umi tidak mengijinkan!" potong umi Kulsum tiba-tiba.

Saya terkejut. Kenapa gak boleh? Bukannya kami udah suami istri? Pikirku.

"Tapi umi... saya ada rumah. Dik Azzah bisa ikut tinggal di sana bareng saya!" ucapku memohon.

"Kau pikir kami gak tahu akal bulusmu itu! Kau ingin menyakiti Azzah dari pantuan kami kan?" tudingnya membuatku terkejut. Tak masuk akal.

"Umi, tenangkan dirimu dulu!" Pak Rahmad menenangkan istrinya yang setengah emosi. Sepertinya umi berpikiran buruk tentang diriku. Pantas saja dari awal aku masuk ke rumah ini, dia seperti tak menyukaiku.

"Apa harus sekarang kalian akan pergi?" tanya pak Rahmad memastikan.

Aku mengangguk. "Iya Bi. Jika kelamaan ditinggal, takutnya makin berantakan. Lagi pula jarak ke tokoku lebih dekat dari sana," terangku.

"Oh, jadi kau mau jadikan anakku babu! Iya! Kau sengaja menodai putriku, lalu kau menikahinya agar bisa menyiksanya? Benar begitu?" Umi Kulsum melotot sempurna. Aku tak menyangka dia berpikiran seburuk itu tentangku.

"Umi!" teriak Azzahra tiba-tiba.

"Mas Mustafa gak seperti itu umi!"

Apa tadi? Azzahra membelaku. Aku bengong dibuatnya.

"Umi dengerin Azzah. Mas Mustafa sudah jadi suami Azzah. Gak mungkin dia nyakitin Azzah. Jika itu beneran terjadi, Azzah pasti akan laporin dia ke polisi!" jelasnya. Dan aku juga ketar-ketir mendengarnya.

"Umi, Azzah kita sudah dewasa. Apa gak kita ijinkan saja Umi?" tanya pak Rahmad seraya membujuk.

"Umi gak percaya Abi. Ini pasti akal-akalannya (sambil menunjuk mukaku), jadi Azzah kita mau pergi dengannya. Iya kan Azzah?"

Kini pandangannya menatap Azzahra, seraya diiyakan ucapan itu.

Aku dan pak Rahmad juga menatapnya. Hanya jawaban Azzahra yang jadi keputusan. Aku berharap Azzahra akan jujur. Sebab aku tak pernah memaksanya. Aku hanya pernah mengajaknya waktu itu.

Bersambung...

1
Arul Faiz
penasaran sama wajah azzahranya🤣
Sena
lanjut
cut Meutia
awas aja klo mustafa lengah
cut Meutia
lah diterima
Nana
next
Putri💗
lama gak up thor
cut Meutia
jangan mau maya, bisa2 ngrusak rt mu nanti
Juniya Ar
up
✰͜͡w⃠JENINA༄㉿ᶻ⋆
next
✰͜͡w⃠JENINA༄㉿ᶻ⋆
thor, lanjut jangan lama
Nana
bagus
Juwitha Arianty Ibrahim
ini kapan lagi up thor
cut Meutia
bagus thor
Juwitha Arianty Ibrahim
bagus crita nya update lagi domg thor
💜Balqish H😻
😍penasaran
Bella༄㉿ᶻ⋆
sabar ya mus🤭
💜Balqish H😻
next
💜Balqish H😻
gantengnya ma xioyu
Jack
next
Mia Ijaya
ya allah bneran ini tamat????????
Jack: belum
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!