NovelToon NovelToon
Benih Kakak Tiri

Benih Kakak Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Single Mom / Hamil di luar nikah / Lari Saat Hamil
Popularitas:30.1k
Nilai: 5
Nama Author: Qwan in

Sejak usia lima tahun, Raya Amelia hidup dalam neraka buatan ayahnya, Davin, yang menyalahkannya atas kematian sang ibu. Penderitaan Raya kian sempurna saat ibu dan kakak tiri masuk ke kehidupannya, membawa siksaan fisik dan mental yang bertubi-tubi. Namun, kehancuran sesungguhnya baru saja dimulai, di tengah rasa sakit itu, Raya kini mengandung benih dari Leo, kakak tirinya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qwan in, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20

Leo menghela napas berat.

Ia tak tahan lagi.

Tangannya merogoh ponsel, lalu menekan nomor asistennya. Suaranya rendah, tertahan, seolah takut keputusan ini terlalu jauh.

“Aku butuh bantuan,” ucapnya singkat. “Atur supaya beban kerja pemetik hari ini berkurang. Tapi jangan sampai namaku muncul. Kau mengerti, kan.”

Tak lama setelah sambungan terputus, Leo kembali menatap Anna. Ia melihat perempuan itu nyaris tersandung, lalu menopang tubuhnya dengan keranjang anyam. Dadanya terasa nyeri.

Tak sampai setengah jam kemudian, suasana kebun teh berubah.

Seorang mandor datang tergesa, wajahnya tampak heran sekaligus gembira. Ia memanggil para pemetik, suaranya lantang memecah keheningan.

"Sudah, sudah! Semuanya berhenti memetik!" teriak si mandor sambil melambaikan tangan.

Anna menghentikan gerakannya, wajahnya yang pucat tampak bingung. "Ada apa, Pak? Ini masih jam sepuluh pagi. Keranjang saya belum penuh."

"Ada kabar baik. Ada pembeli besar dari kota yang baru saja memborong seluruh hasil panen hari ini secara tunai dengan harga tinggi. Dia minta semua pekerja berhenti bekerja sekarang juga, pulang, dan beristirahat. Kalian tetap akan dibayar penuh, bahkan dikasih bonus tiga kali lipat upah harian," jelas sang mandor dengan wajah sumringah.

Bisik-bisik bahagia terdengar dari para pekerja lain. Namun, Anna hanya terdiam. Matanya menyipit penuh selidik. "Pembeli besar? Siapa, Pak? Kenapa tiba-tiba sekali?"

"Aduh, Anna, jangan banyak tanya! Yang penting kamu bisa pulang cepat dan obati demammu itu. Ini, ambil upahmu dan bonusnya," mandor itu menyerahkan amplop cokelat yang terlihat tebal.

Anna menerima amplop itu dengan tangan gemetar. Ia merasa ada yang janggal, tapi rasa pening di kepalanya yang semakin hebat mengalahkan kecurigaannya. Ia benar-benar butuh istirahat jika ingin punya tenaga untuk menjemput Lili nanti siang. Perlahan, Anna mulai melangkah meninggalkan area perkebunan.

Leo ikut melangkah, menjaga jarak beberapa puluh meter di belakang. Agar Anna tidak menyadari keberadaannya. Dengan langkah yang sangat pelan dan hati-hati, ia mengikuti Anna yang berjalan gontai menyusuri jalan setapak menuju rumah sederhananya.

Melihat punggung Anna dari belakang, Leo bisa merasakan betapa rapuhnya wanita itu sekarang. Beberapa kali Anna tampak berhenti, menyandarkan tubuhnya pada batang pohon di pinggir jalan, atau sekadar memejamkan mata sejenak untuk meredam rasa pening yang hebat. Setiap kali Anna terhuyung, jantung Leo serasa berhenti berdetak, ia nyaris berlari untuk menangkapnya, namun akal sehatnya selalu menahan langkah itu tepat waktu.

Jalan setapak itu terasa begitu panjang bagi Leo. Ia melihat Anna sesekali menatap amplop cokelat di tangannya dengan tatapan bingung, seolah masih tidak percaya dengan keberuntungan yang baru saja dialaminya di kebun teh.

Ia tahu, bantuan ini tak akan menghapus masa lalu. Tak akan serta-merta menyembuhkan luka Anna. Tapi setidaknya, hari ini, perempuan itu bisa beristirahat, bagi Leo, itu sudah lebih dari cukup.

Leo terus mengekor, bersembunyi di balik rimbunnya semak atau belokan jalan setiap kali Anna tampak ingin menoleh. Ia memastikan jarak mereka tetap puluhan meter. Baginya, melihat Anna bisa berjalan pulang tanpa harus memikul beban keranjang teh yang berat sudah sedikit mengurangi sesak di dadanya.

Hingga akhirnya, Anna tiba di depan rumah kayunya. Wanita itu tampak memutar kunci dengan tangan yang gemetar, lalu perlahan masuk ke dalam dan menutup pintu.

* * *

Di dalam rumah, Anna segera merebahkan tubuhnya di atas dipan kayu yang sederhana. Rasa pening yang tadi menghantamnya kini mulai sedikit mereda setelah ia meminum sebutir obat pereda nyeri yang tersisa di laci meja.

Helaan napas berat keluar dari bibirnya yang pucat. Ia memejamkan mata sejenak, membiarkan rasa hangat dari obat itu menjalar ke seluruh tubuhnya yang menggigil. Namun, rasa penasaran mengalahkan rasa kantuknya. Tangannya yang masih sedikit gemetar merogoh saku kain, menarik keluar amplop cokelat pemberian mandor tadi.

Perlahan, Anna membuka perekat amplop itu. Matanya yang sayu mendadak melebar saat melihat tumpukan uang kertas berwarna merah di dalamnya. Dengan jantung berdegup kencang, ia mulai menghitung lembar demi lembar.

"Satu... dua... sepuluh... dua puluh..."

Anna terdiam. Ia menghitung ulang, takut jika matanya sedang berhalusinasi karena demam. Namun hasilnya tetap sama.

"Dua juta?" gumamnya dengan suara parau yang hampir menghilang.

Ia terduduk di tepi ranjang, menatap uang itu dengan pandangan tak percaya. Di desa ini, upah memetik daun teh biasanya hanya berkisar lima puluh ribu rupiah sehari, itu pun jika ia bekerja dari fajar hingga punggungnya terasa patah. Namun hari ini, dalam waktu beberapa jam saja, ia memegang uang yang setara dengan upah kerjanya selama satu bulan lebih.

“Ini banyak banget…” bisiknya nyaris tak bersuara.

Buliran bening mulai menggenang di sudut matanya, lalu jatuh membasahi uang kertas di tangannya. Ia tidak memikirkan baju baru, tidak juga memikirkan perbaikan atap rumahnya yang bocor. Pikiran Anna langsung tertuju pada satu nama, Lili.

"Terima kasih, Tuhan... Terima kasih," isaknya pelan sambil memeluk amplop itu di dadanya.

Selama ini, beban yang paling berat di pundaknya bukanlah kemiskinan, melainkan tagihan medis. Lili, putri kecilnya yang malang, harus menjalani perawatan cuci darah rutin akibat kondisi kesehatan yang menurun sejak dua tahun lalu. Setiap rupiah yang dikumpulkan Anna selalu mengalir ke rumah sakit, dan sering kali jumlahnya tidak pernah cukup. Uang ini bukan sekadar bonus, bagi Anna, uang ini adalah napas tambahan untuk putrinya.

Di tengah haru yang membuncah, sebuah tanya kecil sempat melintas di benaknya. Siapa pembeli kota yang begitu dermawan itu? Mengapa bantuan ini datang tepat saat ia sedang di titik terendah? Namun, rasa syukur yang luar biasa segera menepis kecurigaan itu. Ia terlalu lelah untuk mencari jawaban, ia hanya ingin percaya bahwa ini adalah keajaiban yang dikirimkan Tuhan untuk Lili.

Sementara itu, di luar sana, tak jauh dari dinding kayu rumah Anna, seorang pria masih berdiri mematung. Leo mendengar isak tangis itu dari celah jendela yang sedikit terbuka. Ia bisa mendengar bisikan doa dan ucapan syukur Anna yang tulus.

Hati Leo terasa seperti diremas. Ironis sekali. Baginya, dua juta rupiah hanyalah harga untuk sekali makan siang yang mewah di kota. Namun di sini, di tangan wanita yang pernah ia hancurkan hidupnya, uang itu disambut seperti sebuah mukjizat besar.

Leo memejamkan mata, membiarkan rasa perih menjalar di dadanya. Mendengar Anna menyebut nama Tuhan dalam syukurnya membuat Leo merasa semakin hina. Ia tahu, uang itu tidak akan pernah bisa membayar tujuh tahun penderitaan Anna, namun melihat beban wanita itu sedikit terangkat, ada setitik kelegaan yang menyeruak di antara rasa bersalahnya.

"Hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang, Raya," bisik Leo dalam hati.

1
Bunda Dzi'3
up thor💪
Reni Anjarwani
lanjut thor doubel up
merry
gk rela si raya ksh kesempatan gt buat Leon,, keslhn Leon msk krmh besar dmn raya tgl. bukn y ksh perlindungan dr perbuatan Bpk kandung tp leo dan mmy mlhnn nambah luka buat raya,, di jambak,, di tampar,, dipukul,, trs di perkosa lgg,, mrk ber3 monster buat raya smpai raya loncat dr jmbatan itu,,, tapi Leon juga gila dan ud menyesal ats perbuatan ya smpai smpai nywan roni do ujung tanduk klo leo ngmukk😄😄😄 ,,, gmn raya dech tau yg terbaik buat dirinya lgian seorang ibu psti ngalah demi ank ya 🙏🙏🙏tp jgn cepat juga maaf inn mrk raya anggp ajj ap yg Leon lakukan itung itung nebus dosa y 🙏🙏🙏🤭🤭🤭🤭
Bunda Dzi'3
raya meskipun leo bnykkk mmberi luka di hdupmu...mungkin leo bisa menyembuhkan luka dihdupmu juga
Bunda Dzi'3
raya knpa slalu mncari kesalahan leo trs....hehehehhee trs aja raya di uji kesabaran leo🤭😄
merry
nasibmu Ron apes 🤣🤣🤣🤣
Reni Anjarwani
lanjut thor
merry
kirain cerita y bklnn tegang ajjh,, ternyta ada juga gokil ya 🤣🤣🤣🤣 syukur lhh ada yg bkn gokil disini 🤣🤣🤣 aduh Ron hrs y td pgl raya
Fitri Yama
cari pasangan Roni,,biar engga di tuduh LGBT
merry: bnr Ron bos mu sok kuat pdhl semlm ngamuk kyk singa hutan yg kehilangan mangsa ya 😄😄😄😄
total 1 replies
Dian Fitriana
double up thor
Bunda Dzi'3
up thor...smngts💪😍
Reni Anjarwani
lanjut thor semanggat doubel up
Dian Fitriana
update...smoga raya mau mnerima Leo demi kesembuhan lili
Muji Lestari
lanjutt thor slalu di tggu
Bunda Dzi'3
kaa doubel bab...biar raya tau rapuhnyaa leo meskipun tdk sehancur raya
Bunda Dzi'3
roni hrsnya kmu ksh tau raya selama ini leo juga sakit mentalnyaa dgn rasa bersalah telah buat raya bunuh diri
Her$a: kan dia kerja sama Leo baru 5 tahun, sedangkan raya ngilang 7 tahun lalu 😁
total 3 replies
Reni Anjarwani
lanjut thor up trs thor
Reni Anjarwani
semanggat doubel up
Bunda Dzi'3
Raya berdamailah dgn masa lalu&rasa sakitmu demi kesembuhan lili...Leo bnr2 mau berjuang demi klian😍
merry
ksh ginjal mu br lili sembuh,,,, ray km jgn salahin dri kmu tp semuanya salh bokmu yg banjingan itu sm mm trimu dan leo hrsy lindungi kmu tp yg perbuatan pdmu,, bukti sm bpk mu klo kmu dlu kcil gk mngkin bunuh mmu klo kmu pembunuhnya mlam mu mngkin lili dh kmu gugurin wktu itu setelah slmt dr sungai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!