Ranaya Aurora harus rela mengakhiri hubungan asmaranya dengan sang kekasih karena perselingkuhan. akibat dari itu, Naya tidak lagi percaya cinta dan pria sehingga memutuskan untuk tidak akan pernah menikah.
akan tetapi, tuntutan keluarga membuatnya harus menikah. Aero Mahendra menjadi pilihan Naya, lelaki asing dengan usia empat tahun di bawahnya. Walaupun pernikahan itu di tentang keluarga hanya karena perbedaan status sosial, Naya kekeh memilih Mahen atau tidak menikah sama sekali.
Bagaimana Naya menjalani pernikahan dan hidup bersama Mahen?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon intan_fa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Drama keluarga
Amarah begitu jelas di wajah Naya. Selama ini hanya diam untuk menghormati kakeknya.
"Tapi gak masalah juga sih Naya menikah dengan si Mahen ini, ya masih muda dan tampan. Setidaknya ada yang mau menikahnya, dengan usianya sekarang akan sangat sulit mendapatkan yang setara. Mentok paling duda atau perjaka tua," timpal Bagas terdengar begitu menyakitkan.
Naya menatap Pamannya itu dengan kesal. "Paman jangan ikut-ikutan deh! Aku tahu apa yang paman lakukan di belakang tante Gita!" ungkap Naya.
Gelagat Bagas menjadi berubah. "Hehh jangan menuduh sembarangan kau! Tidak ... Aku tidak akan ikut memojokkanmu," pungkasnya lalu terdiam.
"Sudah. Kalian jangan malah ribut, membuat suasana tidak nyaman saja," cetus Sigit.
"Kakek, ini semua gara-gara kakek. Mereka seperti itu ya karena kakek!" ungkap Naya berani.
"Naya, sudah. Jaga sopan santunmu!" ucap Ilham.
"Naya, kamu sudah kelewat batas. Apa yang kakek lakukan semuanya demi masa depan keluarga!" cetus Sigit. "Keputusan kakek tidak akan berubah, anak siapa yang menikah dan punya anak lebih cepat otomatis akan mewarisi perusahaan. Akan tetapi, tidak menikah dengan pria sembarangan!" sambungnya.
"Pa, maafkan aku untuk hal ini. Tenang saja, Naya tidak akan menikahi pria sembarangan. Nanti aku akan membujuknya," ujar Ilham.
"Urus anakmu dengan benar dan jangan buat malu nama keluarga Hardian!" pesan Sigit begitu menohok.
Terlihat keluarga ini begitu kacau. Bagaimana jika Sigit sudah tidak ada? Tentu semuanya akan lebih berantakan dari ini.
Berbanding terbalik dengan keadaan keluarga Mahen, yang tidak mau mengurusi perusahaan. Ayahnya saja begitu memaksa Mahen untuk meneruskannya alasannya hanya satu, mereka ingin bebas keliling dunia tanpa terbebani pekerjaan.
Mahen hanya menggelengkan kepala pelan seraya bergerutu karena terjebak dalam drama keluarga Naya.
"Keputusan akan tetap sama! Sudahlah, aku mau istirahat!" Sigit bangkit dari duduknya dan berlalu pergi ke kamarnya di temani asisten pribadinya.
"Keluargamu drama sekali!" bisik Mahen pada Naya.
"Begitulah."
"Pa, sebaiknya kita pulang saja dan bicarakan lagi di rumah," bisik Suci pada Ilham.
"Baiklah, Ma." Ilham setuju.
"Naya ... Naya ... Katanya perempuan pintar, tapi cari pasangan saja tidak becus." ejek Riri.
"Ilyas, kau bisa kendalikan istrimu itu?" cetus Ilham membela Naya. Sesalah apapun anak perempuannya, dia tidak layak untuk di rendahkan seperti itu.
"Itu kenyataannya, kak. Kau sendiri tidak bisa mengendalikan sikap anakmu itu! Lihatlah Yuna, anggun, sopan, tidak berani melawan pada orangtua. Makanya sekarang akan mendapatkan pasangan yang sangat sempurna dari keluarga kalangan atas!" tutur Ilyas bangga.
"Paman dan Tante selalu membangga-banggakan calon suami Yuna itu, tapi sampai saat ini aku tidak pernah melihatnya. Apa jangan-jangan itu hanya halusinasi kalian saja?" ujar Naya.
"Hehh kau ya ... Putra keluarga Nugroho itu sibuk mengurusi bisnis, waktunya sangat berharga," ujar Riri.
Mahen hanya mengernyitkan dahinya menatap Riri heran. Keluarganya tidak pernah merasa kenal dengan orang-orang di hadapannya itu.
"Ciihhh ..." delik Naya.
"Sudah, sudah ... Lebih baik kita pulang saja, kakek sedang istirahat jangan sampai kita semua mengganggunya!" pungkas Suci. Ia tidak ingin semua ini berkelanjutan.
"Aku sudah ingin pergi dari tadi!" Naya melengos pergi seraya menarik tangan Mahen.
"Sudah, jangan marah-marah terus," ujar Mahen.
"Semua orang resek!" sahut Naya.
"Ya emang sih, tapi sudahlah jangan di pikirkan lagi. Bikin mumet ..." ujar Mahen.
"Hehh ... Kenapa kau tadi mengatakan akan menikahi saya? gila kau. Untung saja mereka menolaknya!" ketus Naya.
"Ya berusaha menyelamatkanmu," cetus Mahen.
"haaaaahhhhh setidaknya malam ini sudah terlewat. Semoga setelah ini tidak ada lagi tekanan untuk menikah!" ujar Naya.
"Segak mau itu menikah, ya?" tanya Mahen.
"Lagian untuk apa sih menikah? Toh saya punya segalanya, tidak perlu lagi yang namanya pria!" jawab Naya.
Mahen dapat melihat luka Naya itu begitu dalam dan tidak akan mudah untuk menyembuhkannya. Harus ada usaha keras jika memang ingin mendapatkan hatinya itu.
"Makasih buat malam ini, sana pulanglah!" titah Naya.
"Ngusir banget nih?"
"Emang mau ngapain lagi? Sudah sana pulang!" ujar Naya.
Saat akan hendak pergi dengan motornya, Ilham dan Suci menghampiri mereka. Dengan cepat Naya berubah sikap dan begitu manis pada Mahen.
"Hati-hati sayang di jalan. Jangan ngebut-ngebut bawa motornya."
Mahen Heran, tapi sadar kalau orangtua Naya mendekat. "Agh iya sayang, kamu juga ya. Sampai ketemu besok, bye. Eh mari om, Tante, saya duluan ..." ia melajukan motornya.
Menatap kepergian Mahen dengan tidak suka. "Kamu serius pacaran dengannya?" tanya Ilham.
"Emangnya kenapa sih, Pa? Dia cuman pake motor? Dia gak setara sama kita? Yaudah sih ... Toh uang itu bisa di cari," ujar Naya.
"Hmmm ... Dia terlihat baik dan sopan, tapi papa tidak bisa melawan tuntutan keluarga," ujar Ilham.
"Papa ... Sudah aku katakan, kalau memang nantinya semua harta kakek jatuh ke tangan paman Ilyas, ya biarkan saja! Kita gak kekurangan uang walaupun tanpa warisan dari kakek!" tegas Naya.
"Sudah, kita bahas di rumah saja. Ayo pulang ..." ajak Suci.
Mereka bertiga pulang dengan kendaraannya masing-masing. Tanpa pergi kemana-mana dulu, mereka langsung pulang ke rumah.
Karena penasaran dengan hadiah yang Mahen bawa, Suci dan Ilham menahan Naya untuk menjelaskannya.
"Barang ini kamu yang beli?" tanya Ilham.
"Bukan. Itu Mahen sendiri yang beli," jawab Naya.
"Kau serius? Ini jam tangan mahal loh, perhiasannya juga mahal. Mama kira kamu yang beli," ujar Suci.
"Aghh mungkin dia menghabiskan tabungannya untuk menyenangkan kalian!" jawab Naya datar.
"Effort juga dia," timpal Ilham.
"Ma, Pa, aku capek pengen istirahat. Aku ke kamar dulu, bye ..." Naya melengos pergi.
Ilham dan Suci saling melihat sembari memastikan hadiah itu asli atau palsu.
"Kalau benar dia menghabiskan tabungannya untuk menyenangkan kita, kasihan juga dia ..." ujar Suci.
"Papa juga jadi gak enak. Apalagi tadi keluarga kita menghinanya sampai segitunya," ujar Ilham.
Pada dasarnya Ilham dan Suci adalah orangtua yang baik dan pengertian, hanya saja tuntutan Sigit yang membuatnya terlihat banyak menuntut.
Naya menjatuhkan tubuhnya pada tempat tidur. Melepaskan lelahnya setelah seharian sibuk bekerja. Kemudian ia teringat pada Mahen dan ia belum meminta maaf atas perlakuan keluarganya yang begitu merendahkannya.
Meraih ponselnya dan mengiriminya pesan singkat.