Michelle sudah lama mencintai Edward, namun ternyata lelaki itu justru jatuh cinta dan menjalin hubungan dengan Kimberly, teman baik Michelle sendiri.
Rasa benci Michelle terhadap Kim semakin membara. Sehingga salah seorang sahabatnya yang lain mengajaknya ke desa sepupunya.
Michelle membawa pulang barang antik berupa cermin tua yang sangat menyeramkan setelah pulang dari hutan. Cermin itu bisa mendatangkan petaka.
Hingga kabar tentang kematian Kim setelah beberapa hari menikah dengan Edward pun tersebar di kalangan masyarakat.
Ada misteri apa di balik kematian Kimberly?
Ayo temukan jawabannya dengan membaca novel ini sampai selesai, selamat membaca 🥳
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Siang ini Claudie kembali bertemu dengan arwah Kim. Hampir setiap saat ia diganggu oleh orang yang sudah cukup lama meninggal itu.
Arwah tersebut mengatakan bahwa nyawa Frans sedang dalam bahaya. Claudie semakin bingung dibuatnya. Dia tidak tahu harus berbuat apa.
Mungkin maksud arwah Kim selalu menemuinya adalah karena ingin meminta bantuan kepadanya. Ia memikirkan bagaimana caranya membantu menyelamatkan nyawa Frans.
Ditambah lagi arwah Kim berkata padanya bahwa jangan terlalu memercayai orang terdekat sekalipun itu suami Kim sendiri.
Claudie duduk di kursi kerjanya. Dia menopang kepalanya dengan tangan kirinya. Sembari dipijat karena ia merasa sedikit pusing.
"Kim, apa maksud semua ini? Kenapa harus aku? Bagaimana cara aku membantunya?"
"Aku harus bertemu dengan om Frans untuk memberitahunya soal ini." gumamnya lagi.
Alhasil ia memutuskan untuk pergi ke rumahnya Frans. Kebetulan Frans sedang tidak datang ke kantor dikarenakan malam ini ia akan pergi ke luar kota.
"Ada apa Clau? Om dengar kamu baru saja sembuh dari sakit. Apa sekarang sudah mulai membaik?"
"Syukur aku sudah sembuh om."
"Syukurlah."
"Ada yang mau aku bicarakan dengan om. Ini sangat penting om."
"Apa itu?"
"Sebenarnya aku habis didatangi oleh arwahnya Kim. Dia bilang ke aku kalau om sedang dalam masalah. Ada seseorang yang menginginkan kematiannya om. Termasuk orang terdekat om sendiri."
'Aku yakin pasti bukan hanya Michelle sendiri. Pasti Edward juga bersangkutan.' batin Claudie.
"Orang terdekat saya?"
"Iya, kemungkinan besar menantu om sendiri juga bagiannya." ucap Claudie dengan ragu. Takut Frans tidak memercayainya.
Frans terlihat sedang mempertimbangkan perkataan Claudie dengan baik-baik. Walau sebenarnya dia kurang yakin. Dia terlampau sudah terlalu memercayai Edward.
"Saya tidak tahu harus percaya atau tidak. Tapi kalau kamu mau, kamu bisa tolong ikut dengan om saat om pergi ke luar kota pada malam ini."
"Tentu om, saya pasti akan menemani om."
Di tempat lain, Chris sedang pergi berbelanja di supermarket. Dia mendorong trolinya untuk mencari bahan makanan yang ingin ia beli.
Saat mendorong trolinya, tanpa sengaja ia menabrak troli belanja milik Andre. Lelaki itu menoleh dan melihat ke arah Chris.
"Kamu sepupunya Sisca bukan?"
"Iya, kamu temannya Kak Sisca ya?"
"Iya, benar sekali. Kalau tidak keberatan, apa kamu tau dimana keberadaan kakak sepupu kamu saat ini? Karena dia pernah tinggal di rumahku. Tapi sekarang dia tiba-tiba menghilang. Aku khawatir terjadi sesuatu kepadanya."
"Aku tadi sudah mencoba untuk menghubunginya. Tapi hasilnya nihil. Nomornya tidak aktif. Padahal yang aku tahu dia waktu itu pergi ke kota ini karena ada urusan pekerjaan dan tinggal sementara di rumah Michelle teman dia sendiri."
"Tapi, waktu aku dan teman-temanku ke rumah Michelle kemarin dia sama sekali tidak ada di sana." tambahnya.
"Kalau begitu, apa kamu mau aku ceritakan sesuatu kepadamu?"
"Tentu, kamu mau kita cerita dimana?"
"Uhm, bagaimana jika di rumahku atau kamu. Aku ragu jika harus menceritakannya di tempat umum seperti kafe."
"Baiklah, bagaimana jika di apartemen ku saja. Sekalian ada teman-temanku juga."
Mereka berdua telah berada di apartemen bersama yang lainnya. Chris menceritakan semua yang Sisca beritahu kepadanya.
Termasuk Michelle seorang psikopat, Sisca yang hampir dibunuh oleh Michelle, rencana Sisca dan dirinya untuk mengungkapkan kejahatan Michelle, hingga mengenai Sisca yang sudah beberapa hari tidak pulang ke rumah.
"Michelle benar-benar keterlaluan. Beraninya dia berlaku seperti itu terhadap sepupuku."
"Aku yakin sekali Michelle dan Edward tersangkut dalam misteri hilangnya kakak kamu." ujar Chris.
"Sebenarnya kami juga sudah mengetahui sesuatu tentang Michelle yang psikopat itu. Aku melihat ia membawa pulang mayat seorang wanita ke rumahnya."
"Jadi, apa rencana kita selanjutnya?" tanya Andre kemudian.
...****************...
Sebuah gelas berisi alkohol dilempar ke lantai hingga gelas tersebut pecah berkeping-keping. Pecahan beling nya berada di mana-mana.
James menutup matanya ketakutan. Dia sudah tidak ingin berhubungan lagi dengan sosok lelaki di hadapannya itu.
"Apa lagi maumu, huh?!" teriaknya hingga urat-urat di sekujur lehernya tampak menonjol.
"Aku hanya minta kita kembali bersama seperti dulu! Tapi kamu susah sekali diatur!"
James yang duduk di sebuah kursi dengan keadaan tangan terikat itu semakin jengah dengan sikap Aryan terhadapnya.
Apalagi Aryan yang tidak pernah sadar bahwa perbuatannya itu salah dan tidak dibenarkan. Ia sudah beberapa kali memberikan Aryan peringatan namun lelaki itu selalu saja menyangkalnya.
Aryan pergi meninggalkan James di tempatnya karena ia merasa meninggalkan sesuatu di luar sana. Ia ingin menunjukkan sesuatu kepada James.
Sementara kepergiannya, James bergoyang-goyang agar kursinya terjatuh dan ia dapat menggapai pecahan beling di lantai.
Dia meraih pecahan beling tersebut dan mencoba untuk melepaskan ikatan tali di tangannya menggunakan pecahan beling.
Nasib baik usahanya berhasil dan tidak sia-sia. Talinya putus dan sekarang tangannya sudah bebas. Dia juga bisa menyelamatkan diri.
Tanpa ragu, setelah berhasil keluar dari sini ia akan segera melaporkan Aryan ke pihak yang berwajib agar Aryan segera ditangani. Karena ini bisa membahayakan dirinya dan orang lain.
Saat dia ingin keluar dari sana, Aryan tiba-tiba datang lagi dengan membawa sebuah foto. Dia tampak tersenyum ketika melihat ikatan di tangan James sudah terlepas.
"Wah, ternyata ikatannya sudah lepas." ucapnya sambil bertepuk tangan.
"Biarkan aku pergi dari sini kalau kamu masih ingin hidup!"
"Justru karena aku masih ingin hidup aku tidak akan membiarkanmu pergi dari sini, hahaha!!"
"Lihat! Ini adalah foto kita dulu. Mesra sekali, bukan?" tambahnya.
"Aku tidak peduli! Itu dulu! Sekarang beda lagi. Aku sudah tau mana yang benar dan salah. Bodoh sekali aku dulu karena ditolak perempuan malah menjadi gay."
"Dan itu semua karena pengaruh darimu, Aryan! Aku benci kamu!" teriaknya dengan penuh emosi.
Plakkkk!!!!
Karena sudah terlalu emosi, tanpa ia sadari dirinya telah menampar wajah Aryan dengan sangat kuat. Hingga sekarang wajah lelaki itu tampak memerah. Dan dia sepertinya sedang menahan sakit akibat tamparan.
"Kamu benar-benar keterlaluan, James! Beraninya kamu melakukan KDRT terhadapku!"teriaknya tidak terima diperlakukan kasar.
"Apa KDRT? Hahahaha! Kita belum berumah tangga!"
Setelah mengatakan itu, James segera berjalan menuju keluar dari rumah tua itu. Bahkan tanpa ragu ia menepis tangan Aryan yang mencoba untuk menghalangi jalannya.
"Jangan halangi jalanku!"
James sudah bebas. Dia sudah berada cukup jauh dari tempat penculikan tadi. Dia mengambil handphone di kantong celananya untuk menghubungi polisi.
Ternyata Aryan mengejarnya dari belakang. Untunglah James sudah selesai menghubungi polisi. Jadi polisi akan segera tiba untuk menyelamatkannya.
Namun, dia tetap harus berlari dan jangan sampai tertangkap lagi dengan lelaki itu. Aryan terus mengejar seperti kesetanan. Sementara orang yang dikejar sudah tampak kelelahan.
Beruntung mobil polisi sudah tiba. Dua orang polisi segera keluar dan menodongkan pistol ke arah Aryan. Sementara lelaki itu refleks mengangkat kedua tangannya keatas.
Tapi, dia tidak mungkin akan menyerah begitu saja. Polisi itu berjalan semakin mendekatinya. Dia telah mengambil ancang-ancang untuk berlari mundur.
Aryan segera berbalik ke belakang dan berlari sekuat tenaga. Namun, dia kalah akal dengan para polisi. Polisi itu segera menembaknya di bagian betis kaki sebelah kanan.
Sehingga membuat ia terjatuh. Dia tetap berusaha berdiri dan ingin berlari walau berjalan dengan keadaan pincang.
Namun sial. Dia ditangkap oleh polisi dan tangannya telah diborgol. Aryan berusaha untuk pasrah. Akhirnya dirinya harus bisa menerima dipenjara dua kali.