Ivan hanyalah seorang remaja dari desa kecil yang jauh dari hiruk-pikuk stadion besar dan sorotan kamera. Namun, impiannya menjulang tinggi—ia ingin bermain di Eropa dan dikenal sebagai legenda sepak bola dunia.
Sayangnya, jalan itu tidak mulus. Ibunya, satu-satunya keluarga yang ia miliki, menentang keras keinginannya. Bagi sang ibu, sepak bola hanyalah mimpi kosong yang tak bisa menjamin masa depan.
Namun Ivan tak menyerah.
Diam-diam ia berlatih siang dan malam, di lapangan berdebu, di bawah hujan deras, bahkan saat dunia terlelap. Hanya rumput, bola, dan keyakinan yang menemaninya.
Sampai akhirnya, takdir mulai berpihak. Sebuah klub kecil datang menawarkan kesempatan, dan ibunya pun perlahan luluh melihat kegigihan sang anak. Dari sinilah, langkah pertama Ivan menuju mimpi besarnya dimulai...
Namun, bisakah Ivan bertahan di dunia sepak bola yang kejam, penuh tekanan dan kompetisi? Akankah mimpinya tetap menyala ketika badai cobaan datang silih berganti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR. IRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Tong, dan Bola
"Dus" suara bola yang kutendang.
Bola itu melesat, melambung tinggi. Bola itu berhasil menghantam tong, tetapi tidak berhasil masuk ke dalamnya "Ah..." seruku yang kesal.
"Bagus, Van. Terarah, iya. Tapi, bola itu belum berhasil masuk ke dalam tongnya. Jadi, kamu lakukan sampai bola itu masuk ke dalam tong, Bapak akan menemanimu disini sampai bolanya bisa masuk ke dalam tong!!" seru Pak Slamet sembari mengembalikan posisi tong ke posisi semula.
Aku hanya diam, mematung saat mendengar ucapan Pak Slamet "Hah? Itu artinya, jika bola belum masuk.... Aku belum boleh pulang?!" batinku.
Bola dilemparkan kembali ke arahku. Aku meletakkan bola, lalu mundur beberapa langkah untuk menendangnya "Huh..." aku menghela napas panjang sebelum menendang.
"Tendang!!" teriak Azzam menyuruhku untuk segera menendang bola itu.
Aku berlari, mengayunkan kaki kananku ke belakang. Lalu bola itu kutendang, keras, kali ini tidak melambung terlalu tinggi. Bola itu akhirnya melenceng jauh dari sasaran "Ah.... Meleset!!" desisku.
"Coba lagi!!" teriak Pak Slamet sambil melemparkan bolanya kembali.
Percobaan demi percobaan kulakukan.
"Meleset!!" seruku.
"Meleset!!" seruku.
"Meleset!!" seruku.
"Meleset!!" seruku.
"Meleset!!" seruku.
"Coba lagi!!" seru Pak Slamet.
"Coba lagi!!" seru Pak Slamet.
"Coba lagi!!" seru Pak Slamet.
"Coba lagi!!" seru Pak Slamet.
"Coba lagi!!" seru Pak Slamet.
Keringat sudah membasahi hampir seluruh tubuhku. Kakiku sudah pegal, tapi aku harus bisa memasukkan bolanya ke dalam tong itu.
"Ayo... Baru 18 percobaan!!" teriak Pak Slamet.
Matahari sudah mulai menghilang, para teman-temanku sudah pulang ke rumah mereka masing-masing. Sementara aku, aku masih berlatih bersama Pak Slamet.
Aku terduduk, lalu berbaring sebentar di rumput lapangan. Bernapas panjang sebentar sebelum melanjutkan latihan yang menyiksaku ini.
"Priitt!!!" suara peluit Pak Slamet.
"Ayo bangun, lanjutkan latihanmu!!" seru Pak Slamet dengan nada tinggi.
Aku bangun, lalu mencoba berdiri dengan perlahan. Meletakkan bola di depanku, lalu mengambil ancang-ancang untuk menendangnya "Jika ini gagal, aku harus mengulanginya lagi," gumamku sebelum menendang bola.
Kakiku sudah mulai gemetar, keringat terus menerus bercucuran dari tubuhku. Aku lalu menendang bolanya, bola itu melambung, mengarah tepat ke lubang di tong itu "Ayo, pasti masuk!" harapku.
Bola itu berhasil menyentuh pinggiran lubang tongnya, tapi sayang. Bolanya tidak berhasil masuk ke dalamnya. Dan secara tiba-tiba penglihatanku menjadi kabur, tubuhku lemah, lalu aku terjatuh ke tanah dengan cukup keras, aku pingsan karena kelelahan fisik dan juga mental.
Mataku mulai terbuka perlahan, penglihatanku masih agak buram. Tapi, yang pasti aku melihat langit-langit rumahku. Dan dengan samar, aku mendengar percakapan Pak Slamet dengan seseorang.
"Bukan, dia hanya kelelahan!!" seru Pak Slamet.
"Iya, saja juga tahu dia kelelahan. Tapi, dia kelelahan karena apa?!" tanya ibuku.
"Bu?!" suaraku pelan, samar.
Ibu dan Pak Slamet langsung menoleh ke arahku. Aku terbaring di kasur dalam kamarku, baru terbangun dari pingsan karena latihan tadi.
"Akhirnya kamu bangun," ujar ibu yang cemas.
"Ivan sudah bangun, kalau begitu saya pulang saja ya, Bu!!" seru Pak Slamet sebelum pulang.
"Iya," sahut ibu.
"Coba duduk, Van!" seru ibu sambil membantuku untuk duduk.
Ibu lalu mengambilkanku air yang sudah ia siapkan "Nih, kamu minum dulu," seru ibu sambil menyodorkan segelas air putih.
Aku mengambil air yang diberikan ibu, lalu meminumnya. Setelah selesai minum, ibu lalu menyodorkan beberapa pertanyaan ke aku.
"Ivan, kamu kenapa bisa sampai pingsan?!" tanya ibu yang khawatir.
Aku berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan yang diberikan ibu "Kalau aku jawab karena latihan sepak bola, pasti ibu akan memarahiku. Tapi, kalau aku berbohong. Ah ya sudah, bohong aja!!" batinku yang bimbang.
"Van?!" seru ibu.
"Karena... Tadi, aku bantuin Pak Slamet buat beresin lapangan, beresin ruang olahraga, sama bantuin ngisi angin bola sepak, voli, sama basket, Bu!!" jawabku, walaupun aku sedikit ragu untuk menjawab.
"Oh, ternyata anak ibu ini baik ya. Mau bantuin gurunya sampai pingsan," seru ibu sambil mengusap kepalaku.
"Iya dong, Bu!!" celetukku.
Ibu lalu berdiri, lalu berjalan keluar dari kamarku "Ivan, kamu segera tidur ya!!" seru ibu sambil berjalan ke luar kamar.
"Iya," sahutku.
Aku lalu berbaring lagi, mulai memejamkan mataku. Meluruskan kaki-kakiku yang pegal, lalu mulai mencoba untuk tidur "Tadi itu, latihan yang paling melelahkan bagiku!!" gumamku sebelum tidur.
Aku lalu tertidur pulas...
Ivan sudah tertidur, akhirnya dia bisa beristirahat dari hari yang melelahkan ini. Apa besok dia akan melakukan latihan yang sama lagi?
Bersambung...