NovelToon NovelToon
Godaan Sang Pembantu Baru

Godaan Sang Pembantu Baru

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Romantis / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:29.5k
Nilai: 5
Nama Author: Lady Matcha

Cerita Dewasa‼️

Bayangan gelap menyelimuti wanita bernama Sarah. Suaminya, Bagas Aryanaka, mengalami kecelakaan tunggal dan berakhir hilang ingatan. Parahnya lagi, yang lelaki itu ingat hanyalah seberkas memori indah bersama mantan kekasihnya-adik kandung Sarah yang bernama Farah.

Hal tersebut menjadi kesempatan bagi sang ibu mertua untuk turut mengusirnya karena dianggap sebagai wanita pembawa sial.

‎Demi membalaskan dendam dan menuntut hak anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyamar sebagai pembantu di rumah keluarga Aryanaka. Sarah berjuang untuk menyembuhkan amnesia Bagas dengan terus berada disisi pria itu, sekaligus, melancarkan aksi liar dengan menggoda sang mantan suami.

‎Apakah Bagas akan kembali?
‎atau malah keduanya akan semakin lepas kendali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Matcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20 RUN!

Mentari telah pulang kepada peraduannya. Senja kini menyelimuti langit kota dengan sinar temaram, berkilat, juga terasa hangat. Sarah ada disana—berdiri dekat pada tepi jendela yang berada di lantai teratas kediaman Aryanaka.

Tangannya yang mulai kasar karena beban pekerjaan sebagai pelayan—saat ini tengah menggenggam erat ponsel hitam berlayar retak. Didalamnya, terdapat rangkaian scene yang telah disusun apik oleh Rania.

> Siapkan wine tengah malam untuk Bagas Aryanaka.

> Campurkan obat perangsang secukupnya.

> Beraksi di kamar seperlunya.

> Jika sudah mendidih, suntik Bagas dengan bius yang sudah disiapkan.

> Rancang keadaan ranjang menjadi berantakan.

> Pura - pura polos besok paginya. Kemudian segera minta tanggung jawab segera.

"Huh, berasa baca resep masakan kalo kayak gini, Rania ada-ada aja emang," gumam Sarah setelah selesai membaca sekaligus menghayati setiap part dari rencana yang mereka siapkan malam ini.

Sebentar lagi waktunya eksekusi. Sarah telah mempersiapkan diri. Se-baik dan se-natural mungkin agar Bagas tidak mengira bahwa semuanya adalah sebuah jebakan.

Sarah hanya bisa berharap semoga malam ini berjalan lancar dan sesuai dengan yang telah direncanakannya.

"Semoga, semua baik-baik aja."

...****************...

Seperti biasa, hanya sunyi yang senantiasa menyambut kehadiran pria 35 tahun— yang merupakan tuan rumah Aryanaka itu setiap malamnya. Sepulang kerja, hanya detak jam berdentang yang senantiasa membersamai langkah-langkah kaki penuh wibawa sang putra tunggal Aryanaka.

Rutinitas sehari-hari pun ia lakukan secara akrab. Jas serta tas yang ia bawa—langsung ia lempar asal di atas sofa. Dasi hitam yang seakan mencekik lehernya itu juga dengan senang hati ia hempaskan secara sembarang.

Dengan santai, Bagas berlanjut melangkah ke arah bar dekat dapur rumahnya. Menjelang tengah malam adalah waktu baginya untuk melepas penat dan menikmati wine favorite-nya.

Sendiri dan tenang, benar-benar dua hal yang teramat Bagas butuhkan.

Tetapi, tampaknya malam ini akan sedikit berbeda?

Karena belum sampai pada tempat yang hendak ia tuju, Bagas dapat melihat ada sosok wanita disana. Raut wajahnya kian polos tidak bersalah. Guratnya tenang—berbeda dengan terakhir kali mereka bertemu Penuh ketakutan dan tangisan. Bagas masih mengingatnya dengan jelas.

Dan apa ini?

Perempuan itu dengan mudahnya hadir kembali dihadapannya. Datang sendiri disaat terakhir kali secara tersirat mengikrarkan janji untuk tidak ingin bersinggungan kembali dengannya, yang dianggap telah menggores harga diri sang dara berseragam pelayan disana.

Bagas tersenyum sinis, "So, bitchy. Mau menggoda lagi pasti," tebak Bagas dalam hati.

Ketukan sepatu tergema cukup keras dalam keheningan malam yang merekat. Sarah berdiri disana dengan perasaan gugup dan napas yang terkadang tercekat setiap kali sang pria semakin mendekat.

Sikap tenang senantiasa ia pertahankan. Bagaimanapun ia harus bersandiwara sebaik mungkin. "Kamu bisa Sarah, bisa!"

Aroma maskulin tercium jelas saat Bagas telah berada tepat dihadapan Sarah. Keduanya hanya dibatasi oleh meja bar panjang yang diatasnya telah tersedia beberapa botol wine yang biasa Bagas minum setiap malamnya.

Mata saling menatap, kesunyian mengiringi dingin yang menerpa kulit mereka berdua. Cukup lama, hingga Sarah tidak kuasa melepaskannya, serta Bagas yang sepertinya enggan untuk mengakhirinya.

Namun, Sarah yang detik demi detiknya diliputi resah—akhirnya memutus kontak mata itu secara sepihak.

"Ehem."

Sarah berdeham sejenak, bermaksud mengembalikan suasana aneh diantara dirinya dengan sang mantan suami.

"Tuan. Saya disini menggantikan bik Umi untuk menyiapkan keperluan tuan malam ini," lanjut Sarah menjelaskan.

Tidak langsung menanggapi, Bagas memilih memejamkan mata, membiarkan angin berhembus disekitarnya—membawa semerbak harum Vanila yang terasa asing namun juga seakan menyeretnya pada kenangan yang tampak ia lupakan.

Wanita itulah sumbernya. Manis. Bagas seperti enggan untuk melepaskan kenikmatan yang hadir—yang tiba-tiba menyusup ke dalam hatinya.

Membuka mata dan mendesah cukup panjang, Bagas Aryanaka akhirnya berbicara. "Lalu mengapa masih disini? Saya hanya perlu wine."

Perkataan lelaki itu cukup lembut, tiada emosi tertentu disana. Tetapi mengapa Sarah merasa dituduh, dikuliti, bahkan disiksa sendiri?

"Maaf tuan, saya hanya bermaksud menemani. Juga.... sebagai bentuk permintaan maaf saya atas perilaku dan perkataan tidak sopan saya kemarin kepada tuan Bagas."

Bagas mengernyit heran, "Begitukah?"

Menelan ludah kasar, Sarah mengangguk sebagai bentuk penegasan.

Lelaki itu pun pada akhirnya tidak mampu menahan kekehan geli yang sedari tadi ia tahan. Merasa lucu dengan aksi si pembantu baru yang sungguh membuatnya semakin muak, sekaligus terus memanggil rasa penasarannya.

"Really Thalia? Kamu ini apa sebenarnya? Saya masih ingat jelas, kemarin kamu dengan yakin mempertahankan harga diri kamu. Tapi sekarang? Kamu mendekat—mengaku salah disaat kita tahu benar, ucapan saya lah yang paling kejam hingga membuat kamu berakhir mengutuk saya. Kamu berniat mempermainkan saya hmm?"

Tuduhan Bagas tidak serta merta membuatnya mundur. Sarah berusaha tetap tenang sesuai rencana.

"Saya hanya ingin meminta maaf dan melayani tuan untuk menikmati wine, menggantikan tugas bik Umi yang kebetulan beliau sedang tidak enak badan," jawab Sarah mencoba terlihat jujur.

"Ck, terserah kamu. Saya berubah pikiran. Saya ingin langsung tidur saja."

Sarah seketika membeliak, tidak disangkanya Bagas setidak mau itu, dengan memilih pergi dan melewatkan wine kesukaannya begitu saja.

Tidak boleh dibiarkan. Rencananya harus terlaksana hari ini!

"Setidaknya minum satu gelas dulu tuan. Saya mohon, sebagai tanda bahwa tuan memaafkan saya," pinta Sarah mencoba mencegah Bagas yang hendak meninggalkannya.

"Kenapa kamu yakin saya mau memaafkan kamu Thalia?"

Menggigit bibir pelan, Sarah menjawab dengan sedikit ragu. "Say-saya hanya yakin saja tuan Bagas adalah orang baik."

Orang baik katanya?

Sial, Bagas ingin tertawa keras.

Orang baik mana yang dengan kurang ajarnya melecehkan wanita dengan menyentuh sekujur tubuhnya dan mengucapkan kata-kata kasar tepat di depan wajahnya?

"Thalia sudah lupa ingatan 'kah atau bagaimana?" pikir Bagas acak.

"Saya bukan orang baik, kamu tahu sendiri Thalia. Bahkan baru kemarin saya membuat kamu murka dan menangis bukan?"

Sarah sangat tau, tentu ia sadar. Namun, bagaimana lagi? Dirinya kini harus menekan segala kepahitan, demi berjalannya lakon yang telah ia siapkan.

"Saya percaya tuan tetap orang baik. Mungkin yang kemarin itu hanya khilaf. Saya mengerti."

Seketika Bagas tertawa dalam temaram malam nan gulita. Sarah hanya terdiam, terus menunggu hingga lelaki itu puas menertawai kebodohannya.

"Huh, lucu sekali kamu. Baiklah anggap saja begitu. Seperti katamu, saya memang orang baik. Siapkan satu gelas wine. Saya akan minum sedikit demi menghargai kebodohanmu itu Thalia," ujar Bagas sarkas.

Segera setelahnya, Sarah menuangkan wine dengan cekatan, dan Bagas langsung meminumnya begitu saja.

"Sudah puas?" tanya Bagas setelah menenggak wine hingga habis tak bersisa.

Sarah hanya tersenyum sopan dan mengangguk. Tentu saja ia sangat merasa puas karena rencananya berhasil. Tinggal menunggu waktu saja.

Boom

Terlihat hanya dalam beberapa saat—pada pijakan tangga ketiga dari bawah, Bagas Aryanaka tampak memegang kepala— badannya sempoyongan, sekujur tubuhnya dengan merasa sangat panas seperti menginginkan sesuatu yang tidak seharusnya.

Menyadari keanehan yang menimpa dirinya, Bagas melebarkan matanya, kemudian langsung saja berbalik—berjalan cepat ke arah pembantu baru yang masih setia berada di tempat yang sama.

"Apa yang kamu masukan ke wine saya Thalia!"

Bagas meremas erat pundak sang dara. Matanya merah menyalang. Sedangkan Sarah yang tidak cukup siap, hanya bisa meneguk ludah kasar dan memejamkan mata.

"Saya tidak tau tuan," ucap Sarah pelan.

Bagas nyaris meledak. Bahkan disaat terlihat jelas kesalahan si wanita, namun masih saja ia berkelit tanpa rasa bersalah.

Bagas tidak kuat lagi, bagian bawahnya telah menegang sempurna. Bagas merasa tidak lagi mampu memandang Thalia dengan cara yang benar. Kini hanya satu yang terpikir oleh pria itu.

"Pergi Thalia, pergi dari sini sebelum kamu menyesal," titah Bagas sambil mengguncang tubuh perempuan yang masih terdiam didepannya.

Sarah menatap lekat Bagas yang telah bercucuran keringat. Pergi katanya?

Tidak mungkin ia pergi disaat dirinya lah yang menginginkan semua ini terjadi. Tentu, Sarah pun tidak menuruti perkataan sang tuan, malah menggeleng keras—menolak pergi dari sana.

"Tidak tuan, saya akan bertanggungjawab menolong tuan. Ayo tuan saya bawa ke rumah sakit saja," usul Sarah pura-pura bersikap naif.

Bagas meremas rambutnya frustasi. "Saya gak butuh ke rumah sakit Thalia. Saya hanya butuh kamu pergi dari sini sekarang!"

"Maaf tuan, saya tidak sekejam itu. Saya akan tetap disini."

Wanita sialan. Semakin teguh pendirian Thalia untuk tidak meninggalkannya saat ini, maka semakin Bagas percaya bahwa rasa panas dan napsu membara yang menggerogoti tubuhnya, adalah karena ulah wanita licik dihadapannya sekarang.

"Thalia. Saya peringatkan sekali lagi. Kamu akan menyesal jika terus disini. PERGI! Run Thalia, RUN!"

1
partini
waa
partini
Bagas gelo,2 th loh ngab
partini
dua tahun Weh lama banget sandiwara nya ,,agak" deh gas
partini
ayo usaha betul" Sarah biar dia ingat udah boring ini masa ga ingat"
partini
hilang ingatan Ampe tamat ini cerita kah Thor,,masa lama permanen kah
Lady Matcha: Sebentar lagi kok kak. Ditunggu ya, jangan lupa terus ikuti cerita ini, karena bakalan ada plotwist mencengangkan nanti 🤫
total 1 replies
anonim
di tunggu up nya
Ela Sari Kamaruddin
klw bisa up yg banyak2 kk
Ela Sari Kamaruddin
bgus kk
Siti Amalia
udah baguss kaaa
partini
good story
Lady Matcha
Woww
FalconSC99
Gak akan bosan baca cerita ini berkali-kali, bagus banget 👌
Syaifudin Fudin
Gila, endingnya bikin terharu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!