Tiga tahun menikah, Aize akhirnya dinyatakan hamil di saat suaminya, Cakra, divonis memiliki masalah kesuburan. Aize tak pernah berselingkuh, dia selalu setia dengan pernikahannya dan tak pernah menjalin hubungan dengan pria mana pun, sehingga dia yakin anak dalam kandungannya adalah anak sang suami.
Namun, saat Aize tengah berbahagia menantikan kelahiran anaknya, pria yang mengaku telah menghamili muncul. Dia adalah, Biru saudara kembar Cakra yang selama ini tak pernah Aize dan Cakra kenal. Tiba-tiba saja dia datang membawa dendam untuk Cakra atas kesalahan orang tua mereka di masa lalu.
Akankah Aize bersikap jujur pada Cakra tentang Biru yang menghamilinya? Apakah Carkra akan menerima anak dari orang lain yang telah menikmati tubuh istrinya?
follow ig aku ya @ittaharuka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itta Haruka07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DKS ^ Bab 20
Mama Cakra akhirnya menceritakan semua kejadian saat Cakra dan Birru dilahirkan. Birru lahir dengan kesehatan yang normal, sementara Cakra harus dirawat karena ada gangguan pernapasan. Kehidupan yang miskin membuat orang tua Cakra kebingungan. Sampai akhirnya, ada seseorang yang ingin mengadopsi Birru karena bayi itu sangat tampan, sedangkan orang tua itu tidak memiliki keturunan.
Dengan berat hati dan untuk menyelamatkan nyawa Cakra yang harus dirawat dan membutuhkan banyak biaaya, akhirnya orang tua si kembar itu merelakan putra pertamanya untuk diadopsi. Mereka menerima uang yang cukup banyak, bahkan melebihi dari tagihan rumah sakit. Setelah Cakra dibawa pulang, uang itu masih tersisa dan akhirnya digunakan untuk mengubah nasib.
Namun, kedua orang tua Cakra dan Birru tidak pernah mencari keberadaan putra mereka yang diadopsi. Itu semua karena perjanjian awal mereka yang tidak diperkenankan untuk mencari tahu keberadaan bayi itu.
Penjelasan dari orang tuanya itu sudah sangat membuat Cakra kesal dan kecewa. Laki-laki itu akhirnya kembali ke rumah untuk menyelesaikan masalahnya dengan Aize.
Namun, saat sampai di rumah ternyata Aize sedang tiduran di sofa. Cakra pikir, mungkin karena Aize terlalu lama menangis sampai membuatnya tertidur. Karena tidak mau mengganggu Aize, juga karena masih ada rasa kesal di hati, Cakra pun naik ke lantai dua dan mencari Arka yang sedang sakit.
“Arka!” panggil Cakra sembari membuka pintu sang putra, tapi nihil.
Cakra sudah terlambat. Sekarang Arka sudah dibawa pergi oleh Birru dengan meninggalkan sepucuk surat di meja.
Kamu nggak perlu mencari tahu keberadaan Arka, karena aku lebih berhak membawa anakku pergi.
Cakra menggenggam surat dari Birru itu dan menghampiri Aize yang tadinya dia pikir sedang tidur. Hampir saja dia menuduh Aize yang dia pikir lalai menjaga Arka.
“Aize! Aize bangun!” Cakra berusaha membangunkan istrinya dengan memanggil namanya dan menggoyangkan tubuhnya.
Namun, setelah dibangunkan berkali-kali dan tidak juga bangun, Cakra jadi khawatir. Dia tahu ada sesuatu yang tidak beres dengan istrinya itu, lalu dengan sigap Cakra menggendong Aize dan membawanya ke rumah sakit.
Melihat istrinya yang pingsan, Cakra benar-benar merasa khawatir dan berpikir macam-macam. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, dia teringat dengan masa-masa bahagianya bersama Aize.
Wanita itu sudah menemaninya sejak awal merintis usaha. Sekarang, dia mulai teringat pengorbanan Aize yang rela menjadi istrinya meski banyak rintangan termasuk restu dari sang ibu.
Cakra juga mulai berpikir dengan logikanya. Aize mungkin benar karena tidak bisa membedakan antara dirinya dengan Birru yang sangat identik. Hal itu membuat Cakra sadar bahwa ini bukanlah salah Aize. Dia adalah korban dari Birru dan keegoisan keluarganya.
Sesampainya di rumah sakit, Aize segera ditangani oleh para medis di ruang gawat darurat. Di situ, Cakra merasa sangat sedih dan khawatir dengan keadaan sang istri.
“Aize, maaf!” Cakra benar-benar takut sekarang. Dia tak bisa membayangkan hidupnya saat kehilangan Aize. Bahkan sekarang Arka pun dirampas darinya.
Cakra memikirkan putranya yang baru berusia empat tahun itu. Dia tahu Arka mungkin anak kandung Birru, tapi dirinya yang merawat dan membesarkan anak itu sejak dalam kandungan. Dia teringat saat Arka baru lahir, dan itu merupakan kebahagiaan terbesar yang pernah Cakra rasakan.
“Aize, sadarlah! Aku ingin kita mencari Arka sama-sama. Aku nggak peduli Arka itu anak kandungku atau bukan, yang jelas kamu masih istriku, Aize. Arka adalah putraku!”
***
like komennya banyakin gaess 😘😘😘