Alexander pria yang dingin dan sangat susah untuk di sentuh. Dan semenjak meninggalnya sang istri, Alexander tidak lagi membuka hati untuk siapapun. Karena hati dan cintanya juga ikut mati dengan istri tercintanya.
Dan karena satu insiden membuat Alex terpaksa menikahi wanita yang bernama Kartika.
Mampukah Kartika meluluhkan hati Alex, atau malah sebaliknya?
"Cinta? Bagiku hanya ada satu cinta untuk satu wanita saja."
"Cinta? Bagiku, selama kau bisa membuat orang bahagia maka itulah yang di sebut cinta." Kartika Wijaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon momian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Sepanjang perjalanan, Mora terus saja berbicara tentang Kartika. Menyanjung Kartika yang memiliki semua kelebihan, dan tak tanggung-tanggung Mora pun berbicara jika sangat menyukai kehadiran Kartika di rumah besarnya. Sedang Molki, dia hanya sesekali tersenyum menanggapi ucapan sang adik tercinta. Berbeda dengan Alex. Pria itu justru hanya diam, dan sesekali memijat keningnya, karena merasa pusing mendengar sang anak yang selalu saja menyanjung wanita yang sama sekali tidak ia sukai.
"Mora diam." Kata Alex karena tidak suka jika Mora berbicara terus, apalagi Mora terus menyanjung Kartika.
"Dad, why?" Tanya Mora tidak teriam dengan perintah Alex yang menyuruhnya untuk diam.
"Ganti topik lain." Kata Alex dengan tajam.
Ya, Alex suka jika anaknya berbicara sepanjang perjalanan menuju ke sekolah, hanya saja Alex tidak suka jika menyangkut Kartika. Maka dari itu Alex menyuruh Mora untuk mengganti topik.
Mora mengangkat kedua tangan dan bahunya. Ingin bertanya kenapa? Kenapa harus ganti topi. Tapi pertanyaan belum sempat keluar dari mulutnya kala Molki langsung berkata.
"Mora, apa kau sudah mengerjakan tugas sekolahmu? Apa buku-buku mu sudah beres? Kau tidak lupa kan dengan mata pelajaran hari ini?"
"Tidak! Semua sudah beres. Untung saja ada tante Kartika yang menolongku. Pokoknya tante Kartika the best." Ucap Mora dengan penuh kebahagian.
"Diam!" Sentak Alex yang tidak suka dengan anaknya yang terus membahas Kartika di hadapannya.
"Sekali lagi bahas tentang wanita itu, maka daddy akan menghukum kalian."
Molki dan Mora pun langsung diam. Bibir Mora menggerucut, dan kedua tangan di lipat di depan da*danya.
Beberapa saat kemudian. Mobil telah berhenti tepat di depan sekolah Mora, dan juga Alex. Sekolah yang memang satu kompleks. Mora yang masih marah tidak terima dengan apa yang Alex lakukan tadi, langsung turun dari mobil tanpa berpamitan.
"Mora belajar yang rajin." Kata Alex namum Mora tidak memperdulikannya.
Begitupun dengan Molki ia juga langsung turun dari mobil tanpa berpamitan dengan Alex.
"Molki, Mora." Gumam Alex sambil memijat keningnya yang pusing melihat tinggah kedua anaknya.
•••••••
"Bagaimana? Apa kau sudah dapat informasi dari wanita itu?" Tanya Alex yang kini duduk di kursi kebesarannya.
"Maaf tuan." Kata Aris.
"Maksud mu?"
"Data tentang nona Kartika sampai saat ini belum saya dapatkan tuan."
Branggggggkk. Alex menggebrak meja dengan kedua tangannya.
"Bagaimana bisa?" Tanya Alex.
"Data terkait tentang Kartika tidak ada sama sekali. Orang tua, alamat dan yang lain tidak ada." Jawab Aris.
Ya, selama ini Aris terus mencari tahu tentang siapa Kartika dan ada motif apa dia datang dan meminta Alex untuk menikahi dirinya. Tapi sejauh ini, Aris tidak dapat satu data pun mengenai siapa Kartika dan dari mana asal usulnya.
"Cari tahu lagi. Aku beri waktu dua hari." Kata Alex.
"Baik tuan." Lalu Aris setengah membungkukkan badannya dan keluar dari ruangan Alex.
"Siapa kamu." Gumam Alex sambil menggerakkan jari jemarinya dia atas meja.
"Lihat saja. Aku akan buat kau pergi sejauh mungkin dari kehidupan ku dan juga kehidupan anak-anak ku." Geram Alex. Karena sejauh ini Alex terus saja mencari dan mencari tentang siapa Kartika namun tetap saja hasilnya nihil.
"Aku akan ikuti permainan mu sampai dimana. Tapi jika waktunya sudah tiba, aku akan membuat mu menangis hingga memohon ampun dari ku."
"rumah yang tadinya gelap, kini menjadi terang kembali. suasana yang tadinya sunyi, kini kembali diisi suara obrolan, candaan dan tak jarang terdengar tawa riang. hingga akhirnya beberapa jam kemudian kembali terdengar sunyi. tak terasa waktu bergulir, matahari kembali menampakkan diri di ufuk timur. kegiatan manusia kembali nampak di lingkungan rumah itu. termasuk truk sampah yang rutin singgah mengambil sampah dari rumah itu. ketika sang awak truk turun untuk memindahkan sampah dari dekat pagar rumah, beberapa serpihan kertas coklat jatuh dari tong sampah yang dibawa sang awak truk. ya, serpihan kertas sampul coklat yang berisi surat gugatan cerai yang kini sudah koyak hancur tak bersisa. hanya menyisakan kenangan di secuil tempat di sudut hati. untuk menjadi pelajaran menatap masa depan yang bahagia. TAMAT.