Mengejar Cinta Lala
Seorang gadis yang berjuang melupakan masa lalu yang kelam akhirnya jatuh cinta pada seorang pria yang mampu mengembalikan senyumnya.
Namun siapa sangka ternyata pria itu berhubungan dengan masa lalunya dan juga adik dari kekasih yang sangat dia cintai.
Kamu Hanya Milikku
Perjalanan Cinta terkadang tidak semulus yang kita harapkan. Kebersamaan, pertikaian dan perpisahan menyadarkan cinta yang sesungguhnya.
Setiap pertemuan akan ada perpisahan, setiap penderitaan akan ada kebahagiaan. Meski sudah terpisah jarak dan waktu, percayalah! cinta sejati akan selalu menemukan jalannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seindah Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kota S
"Besok aku dan istriku akan ke kota itu, meskipun aku tidak yakin kau sudah tiada aku hanya berharap kau bahagia dengan kehidupanmu saat ini. Ingin sekali aku memohon maaf padamu" Julian berbicara pada foto wanita yang pernah ia renggut kesuciannya di Kota S
"Aku sungguh menyesal mengikuti permainan terkutuk itu hingga aku menghancurkan masa depanmu"
"Kau sedang apa?" sambil terus mendekati Julian. Suara Lala mengagetkan Julian lantas memasukkan foto-foto yang ia pegang ke dalam laci dan menguncinya tanpa ia sadari selembar dari beberapa foto itu terjatuh ke lantai.
Tampak sekali ekspresi gugup dan takut di wajah Julian. Seketika itu badannya merasa gerah padahal sebelumnya biasa saja.
"Ada apa, Apa kau sakit? wajahmu pucat" menempelkan punggung telapak tangannya ke kening Julian
"Tidak kau tidak demam tapi kenapa keringatmu banyak sekali dan wajahmu juga memerah?" sambil menyeka keringat di pelipis Julian
"Ti tidak ada apa-apa Lala aku juga tidak sakit. Aku sedang berpikir bagaimana menghadapi kakakku besok" jawab Julian tergagap
"Baru memikirkannya saja kau sampai segugup itu, jika kau takut menghadapi kakakmu sebaiknya biarkan saja karena tidak berpengaruh besar dengan perusahaan pusat"
"Tidak, aku tidak takut. Ini sudah tidak bisa lagi dibiarkan. Jika ini semakin berlarut maka kerugian besar yang akan kita alami. Lagi pula itu adalah hasil kerja keras dulu sebelum menjadi anak cabang perusahaan Ayah yang aku pegang sekarang"
"Oh ya jika Lala bertemu dengan Kakak dan pe maksudku istrinya jangan hiraukan perkataan mereka ya meskipun kasar atau lembut tidak usah kau pikirkan"
"Ok bos! cup " Jawab Lala spontan mencium pipi Julian sekilas dan berlari kecil meninggalkan Julian yang sedang tersenyum karena perlakuan Lala.
*****
"Rifki pastikan semuanya ditangani dengan baik selama kami di Kota S kabari aku sebelum mengambil keputusan apapun"
"Oke bos!" jawab Rifki tegas
"Sekarang kembalilah ke kantor" titah Julian
"Baik bos. Kalau begitu saya permisi bos, nyonya" ucap Rifki
*****
Kediaman Keluarga Rui
"Jangan sampai lalai sedetikpun, aku tidak ingin terjadi hal buruk terhadap putriku. Jika dia terlihat syok atau kaget jangan mendekatinya tapi usahakan untuk mengatasi hal yang membuatnya seperti itu baik itu tempat atau orang sekalipun segera atasi. Jangan sampai ketahuan kalau kalian aku tugaskan untuk mengawasi putriku, bisa-bisa mereka curiga. Paham! Lakukan tugas kalian dengan baik!" ucap Papi lalu memutus panggilan.
*****
Kota S
"Ayo La, itu dia sudah datang" ajak Julian sambil menarik koper dengan satu tangan dan tangan lainnya menggenggam jemari Lala.
"Hei apa kabar teman?" tanya pria yang sedang menjemput mereka
"Seperti yang kau lihat, bagaimana denganmu?" balas Julian
"Aku juga baik, oh ini" melihat ke arah Lala
"Iya ini istriku Lala, Lala ini Ferdinand temanku sekalian kepercayaanku disini untuk memantau si brengsek itu"
"Saya Ferdinand" ucap Ferdinand sopan sambil menjulurkan tangannya. Lala kemudian menjabat tangan Ferdinand.
"Sudahlah, cepat antar kami ke hotel. Istriku pasti lelah" titah Julian menarik Lala. Ferdinand menyusul dan menarik koper mereka lalu memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Mobilpun melesat meninggalkan bandara
"Kalian akan menginap di hotel?" tanya Ferdinand bingung
"Iya memangnya ada masalah?
"Tidak tapi kenapa tidak ke rumah saja?"
"Aku malas bertemu mereka" jawab Julian cepat
"Tujuanmu m memang ingin bertemu dengannya dan itu rumahmu juga"
"Aku tidak yakin istriku akan nyaman bertemu dengan mereka apalagi perempuan itu"
Lala hanya diam saja mendengarkan pembicaraan antara Julian dan Ferdinand.
"Berarti Istrimu sudah tahu tentang kakakmu dan istrinya mengenai"
"Aku sudah memberi tahu tentunya. Kau tidak usah tanyakan lagi" sela Julian sambil melihat ke arah Lala sebelum Ferdinand menyelesaikan kalimatnya. Lala bingung melihat wajah pucat suaminya
"Kau selalu pucat jika berbicara tentang kakakmu dan istrinya. Kau tampak sangat takut, ada apa sebenarnya?" tanya Lala pelan.
"Tidak ada apa-apa Lala. Aku hanya mengkhawatirkan dirimu. Mereka orang-orang licik itu saja" sambil mengelus lembut pipi Lala. Ferdinand dapat melihat kerisauan Julian saat mengelus-elus pipi Lala
Jelas Ferdinand mengetahui segalanya, segala yang terjadi pada Julian hingga arti dari raut wajahnya dan kekhawatirannya saat ini pun Ferdinand sangat tahu.
tbc