PERHATIAN! Ini Karya pertama saya yang banyak banget kekurangannya, jika cerita ini tidak sesuai selera kalian silahkan kalian tinggalkan. Oke!
.. ..
.. ..
.. ..
Tania adalah wanita cantik yang penuh dengan misteri hidup, mulai dari pengalaman masa kecilnya, masa lalu yang kelam, hingga ke kehidupannya yang sekarang pun Tania tidak pernah membongkar siapa dirinya yang sebenarnya.
Tania tidak suka di pandang sebagai orang kaya yang sombong akan harta, Tania juga tidak suka jika ada yang berteman dengannya karena penampilan dan juga derajat kekayaan.
Wajah cantik Tania yang blaster itu, ia ubah menjadi jelek dan kumuh di mata umum.
Pada dasarnya Tania hanya ingin bersenang-senang sekaligus mengawasi sekolahan papanya itu namun siapa sangka Tania malah di hadapkan dengan masalah-masalah pembullyan, pertengkaran dan percintaan yang mengganggu kehidupannya sampai di mulailah pilihan Tania yang membuat dirinya di permainankan oleh takdir.
Bagaimana pilihan hidup dan takdir hidup seorang Tania?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suci Ans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part_ 20
...Tringg! All today's lessons have been completed, See you tomorrow bla bla ......
...suara bel pulang sekolah....
"Karena jam pelajaran sudah habis, Bapak akhiri pelajaran hari ini dan akan kita lanjutkan pembahasan selanjutnya di hari berikutnya." ucap guru Biologi sembari permisi keluar duluan.
Satu per satu semua murid keluar dari gerbang sekolah begitu juga dengan Aldy dan para sahabatnya serta para sahabat Tania sedangkan Tania masih sibuk mencari sesuatu yang hilang.
"Duh! Buku Kenan tadi gue tarok mana ya?" gumam Tania menggaruk kepalanya pusing mencari buku milik Kenan yang ia pinjam hilang entah ke mana.
"Ohya, tadi 'kan di pinjem Abdi!" ucap Tania mendengus sebal karena entah kenapa dirinya bisa menjadi pelupa kemudian wanita itu berjalan keluar menuju kantin bie'em.
"Kasian mobil kesayangan gue, gak pernah masuk ke parkiran sekolah," ucap Tania menatap mobilnya yang tidak pernah ia bawa ke parkiran dalam sekolah.
Namun Tania membulatkan matanya kaget saat secara tiba-tiba Leo menarik tangannya dan membawanya entah ke mana.
"Lepasin tangan gue, lo mau bawa gue ke mana. Akh!" pikik Tania tapi tidak di pedulikan Leo, padahal Tania sudah meringis karena genggaman tangan Leo sangatlah kuat.
"Leo lepas!" pekik Tania dengan lantang sehingga Leo melepaskan tangan Tania tepat mereka sudah berada di taman belakang kantin bie'em.
"Kenapa kamu bisa sama Faza tadi?" tanya Leo membalikkan badannya menatap Tania membuat wanita itu mendongakkan kepalanya menatap Leo.
"Tau dari mana dia kalo gue tadi sama pak ketua osis? Jangan-jangan dia ngikutin gue ke rooftop sekolah? Ck, dasar penguntit!" batin Tania dengan malas.
"Tania, aku tanya kenapa kamu bisa sama Faza tadi?" tanya Leo kini menggenggam kedua pundak Tania.
"Bukan urusan lo," ucap Tania menepis kedua tangan pria itu kemudian ia mengalihkan pandangannya ke samping, rasanya muak jika harus bertatap muka dengan Leo.
"Jelas itu urusan aku karena kamu pacar aku, Tania." ucap Leo dengan keras, mata Tania langsung membulat tapi dengan cepat Tania menetralkan keterkejutannya atas ungkapan Leo tadi.
"Kita udah gak ada hubungan ...."
"Nggak, kita belum selesai," potong Leo cepat.
"Mau lo apa sih?" tanya Tania memaksakan dirinya untuk menatap mata Leo yang tajam, pria itu terdiam sesaat.
Tatapan ini kenapa terasa seperti menantang?
"Jauhin Aldy sama Faza," ucap Leo tidak tahu apakah itu sebuah permintaan atau kah sebuah perintah.
"Lo gak punya hak ngatur gue," sengit Tania.
"Aku nggak suka pacar aku deket sama cowok lain, Tania" ucap Leo menatap dalam netra Tania.
Sialan! Jantung Tania berdegup kencang, jujur saja ia merasa senang dengan sikap posesif Leo tapi ini semua palsu, lelaki itu tidak benar-benar menyukai dirinya, Tania tau itu.
"Pacar yang mana, Mauren? Alia? Atau siapa itu namanya, ah Sasya ya?" tanya Tania menyeringai.
"Bukan mereka tapi kamu Tania." tegas Leo.
"Munafik! Lo itu udah ketahuan bermuka dua Leo, jadi lo gak perlu akting lagi di depan gue," kesal Tania rasanya ingin memukul mulut Leo yang selalu membual di depannya.
"Siapa yang ngasih tau kamu tentang mereka bertiga termasuk so'al ... so'al taruhan itu, siapa yang ngasih tau kamu?" tanya Leo mengeraskan rahangnya.
"Dari mulut lo sendiri," jawab Tania.
"Karena itu kita putus sekarang, oke!" tegas Tania beranjak meninggalkan Leo tapi sayangnya tangan Tania di tahan oleh Leo.
"Kita jadian dengan persetujuan dua belah pihak jadi putus juga harus sama-sama persetujuan dua belah pihak," ucap Leo tidak terima di putuskan oleh Tania.
"Mau lo yang ngomong?" tanya Tania membalikkan badannya menatap Leo.
"Sesuai taruhan, lo yang bakal putusin gue jadi silahkan ngomong sekarang atau lo mau sekalian rekam suara lo, silahkan! Keluarin hp lo sekarang." ucap Tania datar. Degg! Degg! Apa yang terjadi? Jantung Leo berdegup kencang saat Tania berbicara seperti itu padanya.
"Enggak akan, aku gak akan pernah putusin kamu." ucap Leo membuat pupil mata Tania tersentak namun tangan wanita itu seketika terkepal kuat.
"Oh! Apa karna belum berhasil cium gue makanya lo belum mau putusin gue? Tapi ga usah gue yang bayar dua kali lipat taruhan itu, kita putus sekarang." sentan Tania dengan sengaja berucap demikian karena wanita itu sudah terlanjur emosi, Leo pun menggenggam kedua pundak wanita itu.
"Tania dengerin aku, kamu pasti salah paham sama aku karena ...." Tania menepis kedua tangan Leo,
"Cukup Leo! Lo ngerti gak sih kalo gue itu jijik sama cowok brengs*k kayak lo, jangan pernah ganggu gue lagi," ujar Tania benar-benar pergi meninggalkan Leo menuju mobilnya tapi saat tengah berlari tiba-tiba saja Tania menabrak seseorang.
"Aawww !!" pekik Tania terjatuh ke aspal.
"Eghhh !!" ringis laki-laki itu mengelus bokongnya yang habis bersentuhan dengan aspal, alias terjatuh juga ke aspal.
"Eh! Sorry sorry gue gak sengaja." ucap Tania masih dalam posisi terduduk menatap pria itu, pria itu terus meringis namun setelahnya ia mengernyit menatap Tania.
"Lo nangis?" tanyanya.
"Nggak! Gue gak nangis," sahut Tania langsung berdiri, dirinya memang tidak menangis tapi matanya memerah karena menahan air mata yang hendak jatuh dari pelupuk matanya.
"Bantuin gue dong." pekik pria itu mengulurkan tangannya minta di batu oleh Tania, kemudian Tania menarik tangan pria itu untuk berdiri.
"E e Eh." pria itu yang berdirinya tidak seimbang dengan cepat Tania menangkap tubuhnya hingga pria itu merangkul bahu Tania.
Leo sempat terpaku dan terdiam di tempatnya namun tak lama dari itu Leo berlari mengejar Tania namun ketika Leo sudah di depan kantin bie'em Leo melihat seorang laki-laki merangkul pundak Tania hingga Leo tersentak kaget menghentikan langkahnya sembari mengepal kedua tangannya.
"Sial," umpat Leo karena Tania berpandangan satu sama lain dengan pria yang tidak Leo kenal, hingga dirinya tidak tahan melihat pemandangan yang tidak mengenakan itu, Leo langsung berlari kembali ke belakang taman kantin bie'em.
"Hais! Kita duduk dulu di sana." ucap Tania memutus kontak matanya pada pria itu lalu ia melangkah ke kantin bie'em.
Setelah duduk di bangku, Tania menyuruh pria itu untuk menunggunya sebentar, tak lama dari itu Tania datang dengan membawa beberapa obat luka.
"Buat apa?" tanya pria itu.
"Luka sendiri kok gak kerasa sih," ucap Tania menarik tangan pria itu, di mana ada pecahan beling yang tertancap di sana. Pria itu melihat tangannya yang terluka lalu ia mantap Tania.
"Nggak perlu di obat ...."
"Diem deh." ucap Tania menarik tangan pria itu dengan paksa dan ketika pria itu menatap ke depan tiba-tiba saja Tania mencabut serpihan beling di tangan pria itu.
Sebenarnya pria itu merasa sakit karena saat Tania mencabut serpihan beling itu, pria itu tidak di beri aba-aba sedikitpun tapi untungnya pria itu bisa menahan teriakan rasa sakitnya di dalam hati.
Tania membersihkan luka pria itu dengan sedikit cairan alkohol setelah itu menekan lukanya dengan kain steril agar pendarahannya berhenti, setelah menekan selama lima menit, Tania membersihkan luka pria itu dengan air bersih lalu mengoleskan salep antibiotik dan terakhir membalutnya dengan perban.
"Selesai, pengobatan dari gue nggak sempurna jadi lo bisa ke rumah sakit buat buka perban ini dan di obatin langsung ke dokter nanti." ucap Tania menyodorkan uang 500 ribu.
"Gak usah, ini udah cukup." ucap pria itu mendorong tangan Tania lalu ia menggoyangkan tangan kanannya.
"Lo pegang aja ...."
"Enggak." tolaknya cepat.
"Ya udah gue masukin lagi." ucap Tania memasukan uangnya kembali ke saku bajunya.
"Karena gue udah tanggung jawab, lo bisa pergi sekarang." ucap Tania mempersilahkan pria itu untuk pergi.
"Ngusir." sahut pria itu.
"Bukan gitu, maksud gue karena lo udah gue obatin jadi lo bisa kembali ke habitat lo lagi sekarang." ucap Tania tidak bisa mengontrol mulutnya untuk berkata kasar.
"Lo kira gue binatang." ucap pria itu.
"Ngerasa mirip binatang?" tanya Tania membuat pria mendengus kesal karena wanita yang tidak memiliki paras cantik sedikitpun di sampingnya itu berani berbicara kasar dengannya.
"Lo sekolah di ECHS 'kan?" tanyanya.
"Kok lo tau? Lo ngestalk gue ya." tuduh Tania tiba-tiba melotot, dirinya tidak suka jika ada yang mencari tahu tentang dirinya.
"Gak usah kepedean, gue tau karena lo pake seragam ECHS." ucap pria itu membuat Tania memanyunkan bibirnya menatap seragam sekolahnya.
"Kalo lo tau gue sekolah di ECHS kenapa lo nanya lagi sama gue." dengus Tania merasa malu.
"Cuma mau mastiin doang." ucapnya.
"Oh!" sahut Tania.
"Lo kelas berapa?" tanyanya.
"Sebelas," jawab Tania
"Kelas sebelas berapa?" tanyanya lagi
"Ipa satu," jawab Tania.
"Oh." sahutnya.
"Lo kenal ...."
"Bisa gak kalo nanya itu nggak usah berbelit-belit, langsung aja ke intinya." ucap Tania jengkel setengah mamp*s.
"Iya! Ini gue baru mau tanya, lo kenal sama namanya Karamel?" tanyanya membuat Tania mengerutkan dahinya.
Tania memutar bola matanya berfikir Karamel siapa yang pria itu cari, "Karamel siapa?" tanya Tania.
"Karamel Listra," sahut pria itu membuat Tania terpaku mendengar nama itu.
"Kayaknya gue gak pernah denger nama itu di sekolahan ini," sahut Tania memutar bola matanya ke atas, dirinya berusaha sedang mengingat.
"Oh." sahutnya
"Nama lo siapa?" tanya Tania.
"Maksud gue kalo gue ketemu sama yang namanya Karamel Listra, gue bisa kasih tau dia kalo elo nyariin dia." jelas Tania takut salah paham dikira naksir lagi nanti.
"Zayn." ucap Zayn berdiri dari duduknya lalu ia pergi meninggalkan Tania begitu saja.
"Bentar-bentar? Tadi gue ngobatin tangan dia, dia-nya ngomong makasih gak sama gue?" tanya Tania menunjuk dirinya sendiri.
.......
.......
.......
...Bersambung...
😍😍😍😍
dimana kamu?
kasihan greeydon.. cepatlah 15 tahun