Dear diary...
Siapa yang akan mati selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Far Choinice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mimpi yang belum berakhir
Langit pantas mati... Mereka pantas mati... .
Saat mata Dei terbuka, ia menemukan sebuah lampu neon berpijar di depan matanya. Terang dan memancarkan cahaya yang menyilaukan juga menenangkan. Dei berkedip sejenak sebelum benar-benar membuka matanya, mendengar dari telinganya dan merasakan sakit di pergelangan tangannya. Sebuah benda plastik hijau bertengger di depan hidungnya. Sebuah masker. Manik mata Dei menatap sekelilingnya yang masih belum leluasa. Nyeri di pergelangan tangannya kembali berdenyut. Dia tidak ingat apapun. Dia hanya ingat jika dia ingin mati. Yah, setidaknya itu yang ia harapkan. Mati.
Dia menarik napas panjang dan mencoba memejamkan mata. Ia berusaha menggerakkan tubuh namun terasa begitu berat. Dia kembali menatap langit-langit putih pucat di depannya. Di mana dia? Apa dia berhasil mati? Tapi, kenapa tangannya masih terasa nyeri? Ah, Tapi, rasa nyeri itu tidak sebanding dengan kematian Sherin, Deka dan... Langit. Benar. Langit sudah mati.
“Kamu udah sadar, Dei?” tanya sebuah suara yang membuyarkan bermacam pikiran Dei. Suara yang cukup familiar.
Susah payah menghadapi rasa pusing yang mendera, Dei menelengkan kepala, Yuna nampak berdiri menatapnya dengan wajah berbinar cemas bercampur lega. Dua mata Yuna tampak sembab, tanda ia baru saja menangis hebat. Dei merasa begitu lemah. Ia kembali merasakan oksigen yang terus terpompa melalu masker di hidungnya. Apa yang terjadi? Kenapa dia begini?
“Yuna?” tanya Dei bingung, suaranya mendengung karena terhalang masker, “Aku di mana?” tanya Dei.
Dei meringis kecil dan mengangkat lengan tangan kanannya. Sebuah perban membungkus pergelangan tangannya dan di atas perban terdapat selang infus yang masuk dalam dagingnya. Dei mengerutkan keningnya penasaran, menyentuh perban dengan setitik warna merah di satu bagian.
“Setelah kematian Langit, Aku khawatir sama kamu. Jadi, kemarin aku datang ke tempat kamu. Kamu nggak muncul setelah lima belas menit aku gedor-gedor pintu. Akhirnya, aku manggil satpam dan ngedobrak rumah kamu. Kamu di kamar dengan tangan tersayat. Aku bawa kamu ke rumah sakit.” Yuna menggenggam tangan Dei dnegan wajah cemas, “Aku benar-benar takut, Dei. Aku pikir akan kehilangan kamu juga... .”
Dei tidak tahu harus berkata apa. Pikirannya kosong dan hanya mengingat sekilas. Yah, terakhir dia hanya mencium aroma anyir darah saat itu, saat ia menyayat tangannya. Tapi, rasa sakit sayatan di tangannya... sama sekali tidak terasa. Mungkin, dia sudah gila.
“Aku sudah gila, Yun.” Ujar Dei dengan nada penuh frustasi.
Yuna menggeleng sambil semakin terisak, “Please, jangan bilang gitu. Kita masih bisa bersama... Kita bisa menghadapi ini, Dei. Kamu bisa. Kamu kuat.” Yuna meraih jari jemari Dei. Dei bisa merasakan hangat tangan Yuna.
Dei terdiam, dan meneteskan air mata. Ingatannya kembali lagi pada waktu itu. Saat rasa kehilangan Langit membuncah dan membuatnya tersiksa. Ia nekat menenggak obat penenang dari dokter Elisa melebihi dosis dan tanpa sadar ia menemukan pisau di bawah ranjangnya. Yah, dia menyayat tangannya sendiri. Dei menghela napas panjang dan meneteskan air mata. Sial, kenapa pisau itu ada di sana? Seolah memang pisau itu tersedia di sana untuk mempermudahnya mati.
Sebuah genggaman hangat di tangannya, kembali membuat Dei menoleh ke arah Yuna yang nampak berkaca-kaca. Yuna terlihat cukup kurus sejak kematian Deka dan sekarang semakin terlihat kacau. Sesaat, Dei mulai merasa bersalah. Apakah mati adalah jalan keluar terbaiknya?
“Aku kehilangan Deka, Dei. Tapi, aku masih punya kamu. Jadi, tolong jangan ikut hilang.” Yuna nampak memasang ekspresi memohon, “Kamu juga mungkin kehilangan Langit,. Tapi, kamu masih ada aku. Tolong, jangan membuatku gila karena cemas.”
Dei merasakan setetes air mata Yuna jatuh di atas punggung tangannya, membuat Dei ikut terharu. Rasa sakitnya menguap setengah. Perlahan, Dei mengangguk lemah. Dia juga tidak ingin melihat Yuna semakin bersedih.
“Maaf... aku... aku masih sakit. Aku nggak sanggup kehilangan Langit. Aku... aku... mencintainya.”
“Langit nggak hilang, Dei. Dia ada di hati kamu. Kamu harus hidup. Oke?” tanya Yuna. “Seperti Deka dan Sherin... aku yakin, mereka selalu ada di sekeliling kita, mereka ingin kita hidup.”
Dei ingin tertawa mendnegar ucapan Yuna. Mereka bertiga yang telah mati, memang masih ada di sekeliling Dei, tapi mereka penuh kebencian padanya. Dei menatap Yuna yang masih terlihat cemas, membuatnya urung tertawa geli. Dei kembali terdiam lalu perlahan mengangguk lemah, pasrah. Air matanya semakin deras menetes sementara Yuna berusaha menguatkan Dei dengan genggaman di bahunya.
“Janji. Awas kalo kamu bohong,” ujar Yuna penuh ancaman, penuh sayang dan penuh kelegaan.
Tidak. Dei belum puas. Belum. Sebelum buku terkutuk dan arwah mamanya yang sialan itu masih ada. Dei belum tenang. Tapi, Dei juga tidak mau menceritakan hal ini pada Yuna. Langit tewas karena kebodohan Dei yang menceritakan soal buku kutukan itu. Dei membuat Langit terjebak dengan bayang kematian dari buku itu. Jadi, dia tidak mau menceritakan hal ini pada Yuna. Tidak akan.
Dia tidak ingin membuat satu-satunya orang yang ia sayang juga mati. Satu-satunya yang tersisa. Untuk ini, Dei harap bisa melindungi Yuna. Semoga buku terkutuk itu tidak menyentuh Yuna. Semoga. Hanya Yuna yang tersisa... .
‘Kumohon, mama... jangan menyentuh Yuna.’
Tok tok tok
Yuna menghapus air mata dan bersama dengan tatapan Dei, mereka menoleh ke arah ambang pintu dan melihat tiga orang polisi tengah berdiri di sana bersama seorang perawat.
“Nona Dei?” sapa salah seorang polisi.
“Ada apa ya, Pak? Teman saya masih baru sadar.” Ujar Yuna.
“Maaf mengganggu. Kami juga memahami kondisi nona Dei. Tapi, kami mau meminta kesaksian dari nona Dei soal kematian saudara Langit.”
“Apa tidak bisa besok saja? Teman saya baru sadar dan hampir mati.” Sergah Yuna dengan nada gusar.
“Baik. Kami mengerti. Kami akan menunggu kabar dari nona Dei atau dari anda, kapan nona Dei bisa memberi keterangan pada kami.”
“Baik. Tolong tinggalkan teman saya. Beri dia waktu.” Ujar Yuna tegas.
“Baik. Maaf sudah mengganggu. Selamat siang.” Pamit seorang polisi.
Tak lama, ketiga polisi dan perawat tadi ijin meninggalkan kamar Dei. Yuna kembali duduk dengan setengah bersungut. Dei masih terkulai lemas dan hanya bisa memandang Yuna yang nampak kesal.
“Dari kemarin, mereka maksa terus. Padahal, kamu masih belum sadar.”
“Kenapa? Apa mereka menemukan sesuatu?” tanya Dei.
“Mereka menemukan sesuatu di CCTV yang ada di supermarket dekat rumah Langit.”
Dei terdiam. Apa yang ditemukan para polisi? Entah kenapa, perasaan Dei mendadak tidak nyaman. Apa yang akan ditemukan mereka? Ini adalah perbuatan dari buku kutukan, khan?
-oOo-
Bersambung
Jangan lupa berikan like dan komentarnya ya.. ^^
Regards Me
Far Choinice ^^
Silence mampir kak, semangat berkarya baru 🥰💪🌹