Perusahaan keluarga nyaris bangkrut, keuangan menipis lantaran terbiasa hidup mewah.Nabila harus menerima takdir Siska menolak dijodohkan dengan pak tua mesum dari keluarga Gunawan yang terkenal. Demi keluarga dia rela berkorban, dia rela di gadaikan, dinikahkan dengan pak tua mesum ituh yang terkenal kaya raya. Namun ituh tidak menujukan dirinya, sebelum hari penikahan mereka tiba. Sosoknya yang misterius dan selali sembunyi di balik kamera,akhirnya terungkap saat ia menikahi Nabila dengan cara hormat. " Kk-kamu.... masih muda? " tanya Nabila dengan polosnya. " kamu kira saya sudah tua gituh? " Nabila menggeleng panik. " tapi kata kaka siska, kamu orang tua yang mesum dari keluarga Gunawan yang terkenal. "Ituh hanya rumor palsu tentang saya, kamu jangan percaya rumor sebelum kamu liat langsung sendiri buktinya. "Apakah Nabila yang selalu menderita bisa hidup bahagia setelah menikah dengan suaminya Devan? Ataukah Siska akan menjadi duri dalam penikahan Nabila dan Devan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Annisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
"AKU tidak menyangka, Kakak menyembunyikan kabar itu dariku. Apa salahnya Kakak memberitahuku tentang kondisi mereka? Ibuku sakit, Kak, beliau--"
Nabila menutup mulutnya begitu Devan menaruh jari telunjuknya di bibirnya sendiri. "Nanti aku jelaskan, jangan bertengkar di sini."
Devan melangkah lebih dulu. Dia sudah menghubungi Rangga untuk mengumpulkan data-data terbaru tentang keluarga Atmawijjaya dan memintanya ke rumah nanti. Dia juga sudah menghapus nomor ponselnya, sebelum membiarkan Nabila menyerahkan ponsel yang baru ia beli itu pada Siska.
Devan tidak akan memberikan satu kesempatan pun untuk Siska masuk. Dia sudah bersyukur Nabila tidak bodoh dan main iya-iya saja, jangan sampai dia kecolongan dan membuat Siska merusak rumah tangga yang sedang ia bangun dengan istrinya.
"Tunggu!"
Devan tak kuasa mengabaikan. Terlebih Nabila menghentikan langkah yang otomatis membuat Devan ikut berhenti dan menatapnya. Nabila menoleh ke arah Gilang yang menghampiri mereka dengan berlari tergesa-gesa. Gilang tidak sendiri, ada ayahnya yang menyusul di belakang dengan senyuman hangat menghiasi bibirnya.
"Ada apa lagi?" tanya Devan yang malas meladeni. Dia masih ingin menyumpal mulut Gilang dengan kaus kakinya, karena tindakan lancangnya beberapa saat lalu.
Namun, beda dengan Devan, Nabilakali ini tersenyum ramah dan mengangguk pada Gilang. "Terima kasih, kamu sudah membawa kakakku kemari." Gilang mengangguk, dia pun tersenyum tipis. Senyuman yang membuat Devan ingin menonjok wajahnya, karena berani flirting dengan istrinya, di depan mukanya pula!
"Bagaimana keadaanmu, Van? Aku sudah lama tidak pernah melihatmu di kantor saat berkunjung ke sana."
Dewa Tsanjaya, salah satu rekan kerjanya. Dia jelas mengenal Dewa dengan baik, selain karena Dewa dan omnya cukup dekat, berulang kali Dewa pun menawarkan putrinya untuk dinikahi oleh Devan, tapi pada akhirnya putri sulung Dewa memilih orang lain dan menikahi orang itu, daripada mengejar Devan layaknya pempuan murahan.
"Baik, Om. Seperti biasa."
Devan melihat Nabila yang sedang menundukkan kepala. Diam, tanpa berani bicara apalagi menatap, sepertinya dia segan atau takut dengan Dewa. Tentu saja demikian, Nabila memang anak yang pemalu saat bertemu orang yang baru. Dia juga termasuk anak yang sopan, kecuali pada Devan. Dewa menatap Nabila intens.
"Dia ... siapa?"
"Aku memungutnya dari keluarga Atmawijaya. Hanya seorang anak angkat yang dibodohi keluarganya."
Gilang mendelik mendengar kata-kata Evan yang begitu kasar dan kejam. Namun, Nabila hanya diam, kepalanya menunduk. Dia jelas tidak akan menyangkal, karena kalimat Devan yang kasar itu memang kenyataan sebenarnya.
"Apa rumor soal itu memang benar?" Dewa mendengar selentingan kabar tentang keluarga Atmawijaya beberapa tahun yang lalu. Mereka yang sengaja mengangkat anak untuk dijadikan pembantu. Namun, dia tidak pernah berpikir jika isu itu memang benar.
Evan mengangguk. "Aku tidak akan mengiyakan, jika aku tidak mengetahui kebenaran." Devan melirik Gilang sinis. "Om sepertinya perlu memperingatkan dia untuk tidak dekat-dekat dengan mereka."
Dewa mendelik ke arah putranya.
"Apakah itu benar?"
"I-itu-—-" Gilang tidak tahu apa-apa. Dia hanya bertindak, jika menurutnya, apa yang ia lakukan itu benar. Ia tidak tahu, kalau ternyata dirinya hanya dimanfaatkan saja.
"Baiklah, kami permisi dulu, Om." Devan menarik Nabila dengan cepat meninggalkan mereka, sebelum Nabila tahu lebih banyak tentang keluarga yang telah mengadopsinya.
Devan malas menjelaskan apa pun. Biarkan penjelasan itu dikatakan oleh Rangga nanti. Dia malas melakukannya, sangat-sangat malas sekali.
Devan meneliti satu per satu nilai Devan meneliti satu per satu nilai Nabila yang kini ada di tangannya. Tatapan malas ia lemparkan pada istrinya yang hanya bisa cemberut, karena ia tahu, dirinya tidak bisa memuaskan suaminya dengan nilai pelajaran semester ini.
"Tidak terlalu parah, tapi tetap tidak bisa."
Nabila memalingkan wajah. Tidak bisa mengunjungi panti asuhannya sekarang, lalu kapan dia bisa ke sana? Nabila kembali menatap Devan dengan mata memohon penuh harapan.
"Kalau tidak boleh ke panti, aku masih boleh mengunjungi Ibu, kan?" tanyanya, penuh harap. Jujur saja, dia masih kepikiran soal kata-kata Siska.
Nabila tidak terlalu peduli pada kakaknya, mau dia menjadi gelandangan atau tidak punya uang pun, Nabila tidak peduli. Hanya saja ibunya.
Farah adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya lebih baik. Tidak seperti kakak maupun bapaknya, Farah ebih perhatian padanya, walau dia tidak lantas memperlakukan Nabila secara istimewa.
Jika memang ibunya sakit, dia ingin di sana. Minimal merawatnya sampai membaik. Dia memang tidak punya uang untuk membawa ibunya berobat, tapi ... tunggu, apa kartu kredit Devan boleh dipakai untuk membawa ibunya berobat?
"Aku ingin merawat Ibu, Kak. Aku ... boleh tidak memakai uang Kakak untuk membawanya berobat, kalau tidak boleh, aku pinjam dulu beberapa, nanti aku ganti kalau suatu saat nanti aku sudah bekerja."
Devan mendelik. "Memang Siapa yang mengizinkanmu bekerja?" Evan mendengkus. "Setelah lulus kulian nanti, tugasmu hanya di rumah dan merawat anak-anak kita, Nabila."
Nabila menelan ludah susah payah. Kepalanya menunduk. "Lalu, bagaimana cara membawa Ibu berobat kalau aku tidak punya uang?"
Devan mendengkus. Dia melirik jam tangannya, sebelum menghubungi Ranggasekali lagi. "Di mana kamu?"
"Di depan rumah, Tuan."
"Cepat, Chris. Ada manusia tolol di hadapanku." Devan memutus sambungan, tak lama kemudian suara pintu ruang kerja yang diketuk dari luar mendapat sambutan.
"Masuk!"
Rangga terhenyak saat melihat Nabila berdiri dengan wajah cemberut. Dia pasti emosi, karena Devan mengatainya tolol secara
terang-terangan di depan mukanya.
"Jelaskan pada dia, apa yang terjadi dengan keluarganya," titah itu membuat Rangga mengernyitkan dahi.
"Semuanya?" tanyanya, terdengar ragu sendiri.
"Secukupnya saja. Jelaskan, kalau orang tuanya baik-baik saja."
Rangga tak kuasa mengangakan mulutnya. Dia menatap Nabila yang kini menatapnya penuh harap. "Kamu mau tanya soal apa?"
"Apa ... ibuku baik-baik saja?" tanya Lilya dengan wajah menunduk.
"Iya, dia baik-baik saja."
Kepala perempuan itu mendongak, menatap lurus matanya. "Dia tidak sakit?"
Rangga menggeleng. "Tidak, mereka baik-baik saja. Siapa yang bilang dia sedang sakit?"
"Kak Siska tadi bilang, Ibu sedang sakit parah?"
Rangga mengernyitkan dahi, dia menatap Devan yang mendengkus keras, kemudian dia mengerti kenapa bosnya itu tampak sedang kehilangan kendali dirinya. Itu kenapa, dia lebih memilih dirinya yang mengatakannya langsung pada Nabila.
Sepertinya, Devan memang berniat memberi tahu Nabila tentang kejadian yang sebenarnya.
Rangga tersenyum tipis menatap Lilya. "Perusahaan keluarga Atmawijjaya sudah bangkrut, itu benar. Uang dua milyar yang diberikan Tuan Devan hanya cukup untuk membayar hutang dan menyewa rumah kecil. Mereka terpaksa pindah, karena rumah itu pun sudah digadaikan sejak lama. Kalau soal keadaan, sejauh ini, mereka baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir."
Evan mendengkus keras.
"Lalu, kenapa tadi Kak Siska bilang, Ibu sedang sakit dan dia tidak punya biaya untuk membawanya ke rumah sakit? Dia bahkan menyewa kontrakan kecil yang jauh dari sini."
Chris pun mendengkus. "Dia membohongimu. Siska bekerja di perusahaan Gunawan, tentunya, uang yang ia terima lebih dari cukup untuk tempat tinggal dan makan. Kemungkinan dia berkata seperti itu, mungkin dia memliki niat lain padamu."
"Niat lain?" Nabila menatap Devan yang kini mengangguk padanya.
"Apa?"
Devan menghela napas kasar. "Dia ingin tinggal di sini."
Rangga tersenyum miring. "Jika dia berhasil tinggal di sini, maka bukan tidak mungkin, dia akan menghancurkan pernikahanmu dengan Tuan Devan. Rencana aslinya adalah mengambil alih semua kekayaan keluarga Gunawan dan menjadikan Tuan Devan sebagai bonekanya."
Nabia terdiam, dia jadi ingat kata-kata Siska sebelum ini dan senyum kepuasan Devan saat Nabila lebih memilih menawarkan uang dan ponselnya, daripada mengiyakan keinginan Siska yang ingin tinggal di sisinya.
"Jadi, begitu ...."
"Iya, dan jangan berani-beraninya kamu mengizinkannya tinggal di sini."
Devan berkata tegas.
"Kenapa tidak? Apa kamu takut jatuh cinta padanya? Mengingat dia lebih cantik dan lebih dari segalanya dariku? Bukankah akan lebih serasi, jika kamu dan dia bersatu, daripada denganku yang memiliki kebodohan di atas rata-rata ini?"
Rangga ingin memukul kepalanya sendiri ke tembok. Sepertinya, hanya Nabila yang mau suaminya direbut orang lain. Devan meliriknya tajam dan Rangga pamit tanpa pikir panjang.
Devan berdiri dari kursinya. Dia menghampiri Nabila yang berdiri dan balas menatapnya.
"Kamu memang bodoh, itu kenapa kamu lebih memilih melepaskanku daripada mempertahankanku. Asal kamu tahu Lilya, aku manusia normal. Aku tidak mau dimanfaatkan ataupun dijadikan boneka oleh orang lain. Aku bukan dirimu yang bodoh, dan aku tidak akan pernah menjadi sama seperti kamu."
Nabila cemberut. "Apa kamu tidak takut jatuh cinta padaku, karena selalu mengata-ngataiku?"
Devan mendengkus. "Tidak masalah, karena kamu istriku, bukan orang lain. Berbeda soal kalau sampai aku jatuh cinta pada kakakmu atau kamu menyuruhku tinggal seatap dengannya." Devan memiringkan kepalanya dan menatap Nabila dengan seringai mengerikan.
"Lebih baik aku menjadi pembunuh daripada harus melakukannya."
Nabila memalingkan muka. "Baiklah, silakan jatuh cinta padaku, tapi aku tidak akan jatuh cinta padamu."
Devan mendengkus. "Lalu, kamu mau jatuh cinta pada siapa?"
"Siapa pun, asal bukan kamu."
"Terserah." Devan mendengkus.
"Kalau hal itu sampai terjadi, kamu akan menyesal telah membuang kesetiaanku."
Nabila menyiku perut suaminya. "Memangnya kamu orangnya setia? Siapa tahu, kamu di luar sana punya wanita lain, kan?"
"Memang kapan aku keluar rumah?" "I-itu ..
Liya mengingat-ingat, memang kapan Evan keluar rumah?
"Bulan lalu, kamu keluar rumah, kan?"
Devan mendengkus. "Aku keluar hanya untuk ke kantor. Tidak lebih. Jangan membayangkan macam-macam, kamu selalu menganggapku buruk. Apa kamu tidak bisa sekali-kali menilaiku secara positif?"
NABILA menggeleng. "Karena aku tidak benar-benar mengenalmu. Apa aku boleh mengenalmu lebih dekat lagi?"
Devan tak kuasa mendaratkan sebuah ciuman di bibir istrinya. "Bukankah sudah lama aku memberimu izin untuk melakukannya? Ke mana saja, sampai kamu tidak menyadarinya?"
Pipi Nabila merona. Benarkah? Apakah dengan Devan menciumnya atau dengan membiarkan Nabila mengenal keluarganya?
"Nabila, aku tidak pernah main-main dengan pernikahan ini, kamu ingat itu, kan? Dan aku berharap kamu membalasnya dengan hal yang sama.
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan lupa jadiin favorit ya, biar bisa dapat notifikasi saat novel ini up. Dan jangan lupa like, vote, dan komentar yang positif. Terimakasih, kalau mau ngasih kritik dan saran juga boleh, itu bagus. Jadi saya tahu mana yang salah dan mana yang benar. Salam hangat dari saya. 🤗
Oh iya, kalau mau lebih dekat dengan sang penulis, teman-teman bisa Follow ig aku @Aisyahsnisa.07atau fb aku Aisyahanisa
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...