Warning! Mengandung banyak bawang. Harap bijak dalam memilih bacaan.
Silahkan promo di atas bab 100 ya. Hargai penulis ya. 🤗
Kehilangan cinta kedua orang tuanya bersamaan membuat gadis belia delapan belas tahun bernama Naya, merasa masa depannya bahkan hidupnya telah berakhir.
Kebaikan dan Cinta seorang duda seusia bapaknya, membuat hidup Naya penuh intrik. Orang di sekitarnya mulai memanfaatkannya untuk alat membalas dendam dan mencapai tujuan pribadi.
Kira-kira nih, Naya akan tumbuh menjadi wanita yang seperti apa? Dan bagaimana dengan kisah cintanya? Karena terkadang cinta bisa membahagiakan dan menyakitkan di waktu bersamaan.
Ini adalah novel ketiga DewiOmega, semoga bisa menghibur pembaca semua. Tetap dukung karya para penulis dengan memberikan Like, komen vote dan rate bintang 5 ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DewiOmega, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Monster
Keesokan harinya, dokter spesialis mata memeriksa Naya. Kesimpulan sementara adalah retina mata yang bertugas menerima cahaya masuk mengalami trauma karena percikan api yang terlalu dekat hingga menyebabkan buta sementara.
“Berapa lama saya akan mengalami kebutaan, Dokter?”
“Seharusnya tidak akan lama. Semoga hari ini penglihatanmu berangsur membaik. Nanti saya resepkan obat tetes mata untuk membantu memulihkan. Pesan saya, jangan pernah mengucek mata.”
Sepeninggalnya dokter mata, Naya meminta Bagas untuk membawakan tas sekolahnya bila nanti dia ke rumah sakit karena ada sesuatu yang harus Naya kerjakan. Tak perlu menunggu lama, Bagas datang bersama Rini yang akan menggantikan Laras menjaga Naya. Naya mengambil amplop cokelat dari dalam tasnya dan menyerahkannya pada Laras.
“Bu, Naya minta tolong ya.” Ujarnya seraya menyerahkan amplop.
“Iya, kamu tenang saja. Ayo kita kembali ke panti, Gas.” Laras mengajak Bagas pergi.
“Kata bu Laras kamu buta ya?” Rini melambaikan tangan di depan wajah Naya untuk mengujinya.
“Hanya sementara menurut dokter.” Sahut Naya tak acuh.
Rini berjalan menuju meja pasien dan mengambil sebuah jeruk milik Naya tanpa izin dan mengupasnya. “Makin menyedihkan hidupmu bakalan.”
Naya tidak menggubris omongan Rini agar tidak terbawa emosi. Melihat Naya yang sepertinya sengaja tidak mendengarnya, Rini mencoba menyakiti Naya sekali lagi. “Aku prihatin melihat kondisimu sekarang. Makanya jangan sok kecakepan, ngerayu anak dan bapak sekaligus. Kena karmanya kamu sekarang.” Rini mengunyah jeruknya dengan rakus.
“Apa sekarang yang mau kamu banggakan? Tubuhmu memiliki luka yang menjijikkan, mata buta dan parahnya, paman Indra yang selalu kamu banggakan tidak datang menjengukmu.”
“Aku tidak peduli dengan perkataanmu, Mbak. Simpan saja tenagamu untuk hal berguna lainnya karena kata- katamu sama sekali tidak menyakitiku.”
Rini bangkit dan meraih vas bunga di dekatnya. Tangannya terangkat tinggi ingin menghantam Naya dengan vas di tangannya. Namun pintu terbuka dan seseorang masuk tanpa permisi.
Alan terkejut melihat gadis bodoh itu hanya diam mematung ketika temannya berniat melempar vas ke atas kepalanya. Gadis dungu! umpatnya dalam hati.
Rini tergagap dan segera meletakkan kembali vas di tangannya. Merapikan bajunya dan tersenyum manis ke arah putra sulung pemilik yayasan. Rini tidak ingin dinilai sebagai wanita mengerikan oleh pria tampan di sampingnya itu.
“Siapa itu, Mbak?” tanya Naya menoleh dan mengerjapkan matanya berusaha mengenali tamu yang baru datang.
Sombong sekali dia. Bukankah kami pernah bertemu? Harga diri Alan terkoyak menyadari gadis panti ini tidak mengenali wajah tampannya.
“Sebuah kehormatan mas Alan datang ke sini.” Sapa Rini tanpa berniat menjawab pertanyaan Naya. “Silahkan duduk, Mas. Mau minum apa?”
“Setahu saya ini rumah sakit, bukan restoran.” Sahut Alan dingin. “Tolong tinggalkan saya berdua dengannya. Kamu bisa belikan saya minuman di kantin rumah sakit bukan?” Alan membuka dompet dan mengulurkan selembar uang seratus ribu untuk mengusir Rini.
“Kalau ingin bicara berdua dengan Naya, seharusnya tidak sebanyak ini uang yang diperlukan.” Ucapnya sambil menerima uang Alan.
Alan menarik dua lembar uang lagi dari dompetnya untuk memuaskan Rini, yang disambut dengan senyuman paling menjijikkan yang pernah Alan lihat.
“Selamat menikmati waktunya.” Rini melangkah pergi dengan hati gembira.
Naya yang diam mematung sejak mengetahui siapa yang datang, semakin erat meremas ujung piyamanya. Dadanya bergemuruh saat tahu bahwa orang yang berada dalam ruangan bersamanya sekarang adalah orang yang sangat ingin mencelakakannya.
“Aku dengar kau terluka. Apa papaku sudah mendengar tentang ini?”
Rupanya dia ke sini karena khawatir aku melaporkan kejadian ini pada paman Indra. Pria bre**sek!
“Hei, apa kau tuli? Dan kenapa sejak tadi kamu tidak memandang ke arahku?” Alan memperhatikan Naya dengan seksama. Wajahnya menghadap ke arah Alan, namun tidak dengan mata itu.
“Kalau anda datang hanya ingin menanyakan itu, saya jamin paman Indra tidak akan mengetahui ini dari mulut saya.” Jawab Naya dengan geram.
Cerdas juga rupanya gadis ini, gumam Alan sambil tersenyum miring. “Karena sepertinya kamu hanya mengalami luka luar, jadi aku tidak perlu terlalu khawatir kamu akan melaporkan adikku. Ambil ini.” Alan mengulurkan selembar cek, namun Naya tidak bergeming. “Ambil ini.” Ulangnya.
Alan meraih tangan kanan Naya dengan kasar dan menyelipkan cek ke dalam genggamannya. “Argh, anda menyakiti saya!” hardik Naya hampir menangis menahan sakit.
Ada sesal yang menyelimuti Alan ketika tahu bahwa luka gadis itu tidak hanya di bahunya tetapi juga lengannya yang sedari tadi ditutupinya. Tapi ego yang mengalir dalam darahnya melarangnya meminta maaf.
“Apa ini?”
“Apa kau buta? Itu cek. Apa karena nominalnya kurang, sehingga kamu pura-pura tak melihatnya?”
“Maaf, Tuan. Sekedar informasi saja, saya memang buta karena ulah adik kesayangan anda. Dan saya tidak butuh cek ini sebagai jaminan tutup mulut atau permintaan maaf dari anda. Saya tegaskan sekali lagi, saya tidak akan mengadu pada paman Indra atau berhubungan dengan keluarga monster kalian. Puas?”
Dada Naya naik turun karena amarahnya yang sejak tadi dia tahan dan akhirnya menyembur keluar. “Silahkan keluar. Saya muak berurusan dengan cek berharga keluarga kalian.”
Alan terpaku mendengar gadis itu berkata dengan lantang padanya. “Apa maksudmu keluarga monster?” suaranya menjadi serak karena marah.
“Apa sebutan bagi orang-orang yang membayar sesamanya dengan cek agar menuruti kemauannya selain monster?” Naya juga menggunakan nada tinggi saat bicara.
“Orang-orang?” Alan tidak mengerti.
“Anda dan adik perempuan anda, sama-sama monster.” Naya mendesis jijik. “Anda bisa pergi sekarang. Jangan buang waktu berharga anda untuk bicara dengan gadis kampungan seperti saya.” Naya memalingkan wajahnya dan tangannya tak sengaja menyentuh tas punggungnya. “Dan satu lagi,” Naya mengeluarkan foto yang dulu pernah terpampang di mading sekolahnya dan menunjukkan pada Alan.
Posisi kertas itu terbalik hingga Alan kesulitan melihatnya dan merampas kertas itu dari tangan Naya. “Kenapa foto ini bisa ada di tanganmu?” Alan sangat kenal dengan foto yang ada di tangannya saat ini karena dia yang meminta Henry untuk melakukannya.
“Bukankah anda yang dengan sadar dan sengaja menempelnya di mading sekolah saya dan membuat saya jadi bahan cemoohan dan gunjingan satu sekolah sampai sekarang?” Naya menatap ke sembarang arah seolah di situ ada Alan. “Apa sebutan yang lebih pantas selain monster?!” kali ini Naya berteriak histeris hingga kepalanya berdenyut. “Keluar. Keluar kataku!” bentaknya.
Alan meremas foto di tangannya dan melangkah pergi. Baru kali ini seorang Alan Hartawan dibentak oleh seorang gadis ingusan seperti ini. Pintu kamar VIP menjadi pelampiasan kemarahan Alan. Naya menangis tersedu, dadanya terasa sesak hingga sulit bernapas. “Aku bersumpah tidak akan mengenal keluarga kalian lagi. Maafkan Naya, Pak. Naya tidak bisa menemani paman Indra lebih lama lagi.”
Di depan Freya Design, Laras menggenggam amplop milik Naya sambil memanjatkan doa agar Naya berhasil meraih juara dalam lomba kali ini.
“Ada yang bisa saya bantu, Bu?” sapa gadis cantik yang bertugas di meja resepsionis.
“Saya ingin menyerahkan karya anak saya untuk mengikuti lomba desain pakaian di sini, Mbak.” Laras menyerahkan amplop yang sedari tadi dipeluknya.
“Baik. Silahkan tulis di sini data diri dan nomer yang bisa kami hubungi, Bu.” Gadis cantik itu menyodorkan sebuah buku besar dan pena di dalamnya.
Selesai menuliskan nama dan alamatnya, Laras meninggalkan gedung itu dan kembali ke panti. Sepeninggalnya Laras, seorang pria keluar dari balik pintu. “Mana amplop yang barusan datang?” pria itu menarik buku besar mendekat ke arahnya dan membaca tulisan yang tertera paling bawah. Larassati.
“Ini, Pak.” Gadis cantik itu menyerahkan amplop yang baru saja diterimanya.
“Tutup pendaftaran lomba tahun ini.” Ucap pria itu sambil menarik garis lurus di bawah tulisan Laras.
“Tapi pak,”
“Tidak ada tapi.” Pria itu bergegas kembali ke ruangannya sambil membawa amplop di tangan kanannya.
****
Acuh - mengacuhkan : menghiraukan
Geming - bergeming : diam tidak bergerak
teganya kamu Thor..harusnya Kanaya merasakannya kebahagian 😭😭
minta dua an aja...cemburu yaa sm Ji min😀
kenapa sih pak Indra ngga terus terang aja..kalo Dari awal udah jelas pasti anak2nya maklumin....
semangat nanyaaa 😘😘
aku padamuuuuu💖💖😀
untung ada Alan ..
apa tuh wasiatnya om Indra Hartawan 🤔
aku mah udah ngacirrr 😂
tambah penasaran bacanya
Lanjutttt..