"Slebor banget sih jadi orang?" -Delta
"Emang kayak elo? Udah jalan kek Putri Keraton, muka kayak es batu, mana galak lagi. Gak akan ada cewek yang mau sama lo, gue jamin!" -Alpha
Alpha si cewek slebor dengan bentuk super abstrak. Baju berantakan, rambut diikat asal-asalan dan yang paling penting, dia manusia paling kikir sedunia!
Delta dengan sifat batu dan antisosial, tidak ada yang boleh menyentuhnya karena bisa ditebasnya habis-habisan, wajah dingin dengan aura mencekam di sekitarnya membuat semua orang tidak mau berinteraksi cowok itu.
Hingga Alpha membalikkan semuanya.
"Gue bakal buat lo jatuh cinta sama gue! Ingat itu baik-baik!" -Alpha
"Ogah." -Delta
Ngalahin Sang Raja Es? Emang bisa?
Ice Breaker started
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blackblue_re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 | A Promise
Setelah puas main becekan sekarang malah gue yang kena imbasnya, kaki gue lecet kena kerikil dan terpaksa dibawa ke UKS.
Chiko sama Luffi udah duluan balik karena katanya ada ulangan, tinggal gue sama Saga yang saling diam-diaman. Kadang dia bantu lap luka gue dengan alkohol.
"Masih sakit?" tanya dia dengan polosnya, alias dengan muka Saitama. Polos-polos lampu taman.
"Kalau gak sakit ngapain gue ke UKS dodol!"
"Mana gue tau," bela dia membantu membersihkan luka di kaki gue.
"Gue inget banget dulu, pas kecil kita sering main becekan gini terus ngayal di comberan itu ada ikan paus besar. Lo bilang kalau besar lo mau jadi perompak biar bisa bawa gue ke laut lepas, kan kalau cewek gak boleh ikut berlayar kalau sama lo gue boleh ikut. Kan kan kan?" ucap gue dengan antusias.
Gue sama Saga udah temenan sejak kecil, dia sempat dirawat di rumah sakit karena kebakaran di rumahnya dan terpaksa harus disembuhkan sampai berbulan-bulan.
Gue yang waktu itu tinggal di panti asuhan, berseberangan dengan rumah sakit itu memang sering main di sana sekedar nyari temen baru. Karena kalau main sama temen sekompleks, mereka semua katanya gak mau temenan sama gue dengan alasan yang klise. Joroklah, dikatain udik, dan yang paling menyakitkan karena gue gak bisa ikut merasakan masa TK kayak mereka.
Saga waktu itu sakit parah dan gue sering ajak dia bicara biarpun cuma gue yang bicara sendiri sedangkan dia cuma nyimak. Orangtuanya kadang ngusir gue supaya gak deket-deket dia, entah buat alasan apa.
Banyak hal baru yang kami lakuin bareng sampai masa rawat dia berakhir dan gue gak pernah ketemu lagi dengan dia. Tapi, sejak masa MOS ketemu Saga, tiba-tiba dia nangkep gue yang lagi mungutin sampah disuruh sama senior.
"Alpha, ya? Wey dah lama gak ketemu!"
"Eh, eh, lo siapa dah SKSD sama gue?"
"Gue temen lo di yang sering main di taman rumah sakit dulu. Masa lo gak inget temen paling gaul lo yang satu ini? Kejam lo, Al. Kejaaam!"
"Lo bukannya yang pendiam itu ya? Orangtua lo ngeselin bat sumpah pengen gue slepet di ban metromini!" ucap gue dengan bahagia, akhirnya gue punya temen di hari ketiga masa MOS.
"Eh perasaan..."
"Nama lo siapa?" sahut gue asal nyerobot.
"Saga, nama gue Saga Gerhana Dhika. Panggil gue ayang beb aja. Kalau enggak gue sepak pake tusuk sate lo."
"Udah berubah lo, ya!"
"Hehe, iya dong."
"Woi Al, melamunin apa lo?" gue tersentak mendengar suara Saga, menatap dia heran lalu berdehem pelan.
"Gak. Gak ada," jawab gue menggantung.
"Lo ingat gak pernah janji sama gue waktu itu?" gue membenarkan posisi dengan gelisah, karena jujur aja sejak ketemu sama Saga gue gak pernah mengungkit hal penting yang selalu jadi pertanyaan gue.
Apa dia lupa? Gue juga gak tahu, karena itu cuma janji yang diucapkan anak kecil tanpa tahu makna sebenarnya.
"Janji yang mana?"
Jleb.
"Eh, Al...? Lo kenapa?"
"Enggak, kok. Gak apa-apa kalau gak ingat," ucap gue sambil mengucek mata. Sempat hampir nangis sih, haha, cengeng ya gue.
"Emang janji yang mana? Gue lupa, sumpah!" tambah Saga dengan khawatir, gue menggeleng pelan. "Kalau gak ingat gak apa, mungkin nanti bakal teringat."
"Penting, ya?"
Dia nanya itu penting atau enggak? Kok kampret sih?
"Gue balik dulu." gue memaksa pergi sebelum ketahuan kalau hati gue benar-benar rusak.
Apa cuma gue yang jagain perasaan ini sampai bertahun-tahun?
¢¢¢
"Alpha, udah ngerjain tugas Sejarah lo? Bentar lagi Pak Nizam masuk tuh," ujar Reff yang daritadi gue kacangin. Kesel sih, tuh anak peka gak peka banget, orang lagi badmood juga.
"Woi denger gak? Mau lo disuruh bersih-bersih WC?" gue mendelik sinis pengen nampol muka datar dia.
"Lo kok nyebelin sih? Gak liat apa gue lagi kesel?"
"Yah mana gue tahu, gue bukan cenayang."
"Makanya gak usah ajak bicara, diem aja," marah gue sambil tidur di lipatan lengan. "Biasanya juga lo yang ajak bicara. Kenapa lo, lagi ada masalah apa?"
"Saga, Reff. Ngeselin banget!"
"Biasanya lo lengket banget sama dia. Udah kayak cicak sama dinding." Reff menggeser posisinya hingga menghadap gue dengan bertopang dagu.
"Itu dia masalahnya, lo tahu kan gue sama dia udah temenan dari kecil..." gue mengesah panjang. "Dia gak ingat pernah janji sama gue."
"Janji apa?"
"Banyak tanya lo! Nyebelin!"
"Nah, kan, gue juga kena," sela Reff gak terima.
"Pokoknya semua nyebelin, Pak Nizam ngapain coba pake acara tugas-tugas segala, ishh!" decak gue gak karuan sambil mengacak rambut yang gue gerai sebahu.
Yakin aja nih, penampakan gue kayak wewe gombel kesetrum tiang tower.
"Mungkin bagi lo semua orang kelihatan nyebelin, tapi sebenarnya bukan itu yang terjadi. Ada sesuatu dalam diri lo yang tersinggung, membuat hati lo gelisah, marah, khawatir dan terakhir, lo malah menyalahkan orang lain," kata Reff memperbaiki rambut gue yang udah acak-acakan.
"Gue gak pernah tahu apa terjadi sama diri lo pribadi, karena yang tahu cuma lo sendiri. Pahami apa yang lo takuti sampai bisa semarah itu. Dan kalau lo gak bisa selesaikan semuanya, orang di sekitar lo siap buat bantuin lo." Reff tersenyum teduh, baru tahu gue, orang yang kelihatan kasar kayak dia bisa berubah 360° berbeda dari pandangan gue.
"Makasih, bisa ya lo baik banget sama gue?" tanya gue bahagia setelah tahu sisi baik nih anak.
"Cepat kerjain PR-nya!" gertak dia menampol kepala gue menyuruh nyalin tugas dia.
"Baiknya cuma sebentar rupanya, ih kampret lo!!!"
"Mamam tuh," ejek dia kembali fokus dengan tumpukan buku di atas mejanya.
Di ujung sana, gue melihat Saga lagi bercanda dengan para cewek berfamily chili-chilian.
Yah, mungkin dasar kegelisahan gue adalah dia. Gue takut dia lupa janji yang waktu itu menjadi alasan gue tetap bertahan sampai sekarang, karena terlalu berharap kedatangan dia membawa gue berjalan di sebelahnya.
Tapi, kenyataannya?
Janji waktu itu, cuma candaan.
Dan gue sadar, perasaan gue gak sebercanda itu.
¢¢¢
Sukses selalu thor
tapi gila keren kak karya mu👍👍👍👍❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️