NovelToon NovelToon
KETIKA ANGAN MENJADI NYATA

KETIKA ANGAN MENJADI NYATA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:250
Nilai: 5
Nama Author: Nura_thequeen

Bagi Shavia Aurelien (Via), dunia nyata adalah tempat yang abu-abu, bising, dan melelahkan. Itulah mengapa dia memilih menjadi arsitek di dalam kepalanya sendiri—menciptakan sebuah dunia khayalan yang sempurna. Di balik pelupuk mata yang terpejam, Via menganyam kisah cinta yang utuh bersama seorang pria tampan yang selalu dia panggil "Sayang". Sosok sempurna tanpa cela yang selalu memperlakukannya dengan penuh kehangatan.

Namun, dunia yang indah itu mendadak retak saat sang pria membawa Via masuk lebih jauh untuk menemui orang tuanya di alam mimpi. Sebuah penolakan dingin dari sang ibu seketika menghancurkan segalanya. Hubungan mereka tidak direstui karena adanya batas dimensi yang memisahkan. Sejak malam yang menyakitkan itu, sosok "Sayang" lenyap tanpa aba-aba, dan dunia khayalan Via perlahan mulai memudar kehilangan warnanya.

Disaat keputusaan itu melanda, jalan takdir mulai menunjukan arah warna nyata untuk hidup via, membuatnya beralih merangkai kisah indah di dunia nyata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nura_thequeen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jejak Tanggapan yang Hilang

Tepat pukul dua belas siang, bel tanda istirahat pun berbunyi nyaring. Aku yang sejak tadi tidak fokus memperhatikan penjelasan dosen langsung merapikan buku-buku kuliah dengan kilat. Jarum jam ini sudah kunantikan sejak pagi, aku buru-buru merogoh tas, mengeluarkan ponsel, dan membuka ruang obrolan dengan Arga.

Jemari tanganku baru saja hendak mengetik kalimat sapaan, namun tiba-tiba layar ponselku berkedip. Sebuah notifikasi sistem muncul di bagian atas layar ponselku.

Arga memberikan tanggapan ❤️ pada foto Anda.

Jantungku langsung melompat kegirangan. Napasku seolah berhenti di tenggorokan saat menyadari Arga baru saja menyukai foto kemeja biru langit yang kukirimkan pagi tadi, dengan gerakan cepat, aku langsung mengetuk notifikasi tersebut untuk masuk ke dalam ruang obrolan kami.

Namun, begitu ruang obrolan terbuka dan aku melihat ke arah fotoku, lambang hati kecil berwarna merah yang harusnya menempel di sudut bawah foto itu mendadak hilang. Layarnya kembali bersih, seolah tanggapan itu tidak pernah ada. Arga rupanya langsung menarik kembali tanda sukanya dengan sangat kilat.

Aku tertegun selama beberapa detik, lalu tawa renyahku pecah seketika di sudut kelas yang mulai sepi. Sifat gengsi dan kaku cowok itu benar-benar terlihat sangat menggemaskan sekarang. Pria itu pasti berniat melihat kembali fotoku secara diam-diam, namun tidak sengaja menekan layarnya dua kali hingga memberikan reaksi suka, lalu karena panik dia buru-buru menariknya kembali.

Aku memutuskan untuk tidak membiarkannya lolos begitu saja. Ini kesempatan emas untuk menggodanya sampai kesal.

“Eh, Arga,” ketikku dengan seringai jail yang menghiasi wajah.

“Tadi di HP aku muncul notifikasi kalau kamu kasih reaksi love di fotoku, yang mengenakan kemeja yang pagi tadi aku kirim deh. Tapi kok pas aku buka chat-nya, love-nya langsung hilang sih. Kamu buru-buru hapus ya? Hehe.”

Pesan terkirim.

Statusnya langsung beralih menjadi terbaca dalam waktu kurang dari satu menit. Gunung es itu tampaknya memang sedang memegang ponselnya. Sebuah balasan masuk dengan ketikan yang terlihat sangat defensif.

“Salah pencet. Layar hp gue eror pas gue mau scroll ke atas. Gak usah kegeeran.”

Bibirku otomatis melengkung semakin lebar membaca pembelaannya. Aku kembali mengetik balasan dengan cepat, enggan melepaskan umpanku begitu saja.

“Masa sih salah pencet. Layar eror kok bisa nge-pas banget nge-love foto aku ya, hayo ngaku... Kamu diam-diam lagi merhatiin foto aku ya. Makanya jarinya sampai khilaf gitu, iya kan, jujur aja gak usah gengsi aku malah senang kok kalau kamu suka fotoku?”

“Gak. Gak usah ngaco lu. Mending lu hapus aja fotonya.” Balasannya kali ini terasa sangat ketus, menggambarkan betapa panik dan jengkelnya dia karena tertangkap basah.

“Ih, kok disuruh hapus sih. Bukanya autfit ini bagus. Lagian kalau emang hp kamu eror, berarti hp kamu pinter banget ya, tahu aja kalau pemiliknya sebenarnya suka sama foto aku.”

Garis tiga di atas ruang obrolan sempat berkedip lama sekali, menandakan dia sedang mengetik sesuatu lalu menghapusnya lagi berulang kali karena kehabisan kata-kata untuk mengelak. Akhirnya, sebuah pesan pendek masuk dengan nada yang sangat kesal.

“Via, berisik. Gue blokir juga lu ya kalau masih bahas ginian.”

Ancaman blokirnya sama sekali tidak membuatku takut lagi, karena aku tahu bahwa jika dia benar-benar terganggu atau merasa terancam, dia sudah melakukannya sejak awal.

Sifat dinginnya perlahan mulai mencair menjadi rasa jengkel yang kasual, layaknya interaksi sepasang teman dekat yang sedang beradu argumen.

Aku akhirnya memutuskan untuk menyudahi godaanku sebelum dia benar-benar mengamuk, lalu beralih ke rencana keduaku hari ini untuk mencairkan hatinya lebih jauh.

“Iya, iya, maaf ya, Arga... Jangan galak-galak terus dong sama aku, nanti cepat tua loh. Btw, karena hari ini kamu udah baik mau nge-love foto aku (walaupun alasannya eror), besok aku mau kirimin kamu makanan buatan aku lagi ya?”

Hening sejenak. Aku menunggu balasannya sambil menahan napas di atas menatap layar dengan penuh harap. Lima menit kemudian, sebaris kalimat datar muncul sebagai penutup obrolan siang kami.

“Terserah. Yang gak pedes.”

Aku langsung mengepalkan tangan di udara dengan perasaan menang telak. Dia tidak menolak. Kalimat 'terserah' dari mulut seorang Arga Wijaya adalah sebuah lampu hijau besar bagi kelanjutan misiku. Hari keenam besok akan menjadi babak baru di mana kotak bekal buatanku akan kembali mengetuk pintu hatinya yang perlahan mulai terbuka.

"Sumpah, Via. Muka lo itu lho, tolong dikondisikan!" Suara Rara mendadak menggelegar dari balik tumpukan buku diktat saat kami berdua sudah bergeser ke kantin kampus siang itu.

Dia menatapku dengan dahi berkerut dalam, sementara aku masih saja senyum-senyum sendiri menatapi layar ponsel yang sudah mati.

"Emangnya kenapa sama muka ku, kelihatan makin cantik ya?" godaku sambil mengedipkan mata jail.

"Bukan cantik, tapi kelihatan kayak orang kurang waras!" Rara mendengus, menyeruput es jeruknya sampai kandas setengah gelas.

"Dari tadi semenjak bel istirahat bunyi, lo cuma bolak-balik ngeliatin layar sambil senyam-senyum sendiri. Ada kemajuan apa lagi sih sama si gunung es itu?"

Aku langsung mencondongkan tubuhku ke depan meja, merapatkan jarak agar suaraku tidak terdengar oleh mahasiswa lain di meja sebelah.

"Ra, kamu harus tahu kejadian paling epik siang ini. Tadi pas bel istirahat bunyi, aku baru aja mau buka room chat dia. Eh, tiba-tiba di bagian atas layar muncul notifikasi sistem."

"Notifikasi apa?" Rara mulai terpancing penasaran, dia menaruh gelasnya kembali ke meja.

"Tulisannya begini, Arga memberikan tanggapan suka ❤️ pada foto Anda." ujarku dengan mata berbinar-binar, menahan pekikan girang di dada.

Rara langsung membelalakkan matanya, hampir saja tersedak es jeruk. "Hah?! Dia nge-love foto Lo?!"

"Iya, Ra. Tapi pas aku klik notifikasinya buat masuk ke dalam chat, lambang hati merah di pojokan foto aku itu mendadak hilang. Dia sepertinya buru-buru narik lagi reaksi itu dalam hitungan detik!" Aku tertawa renyah, membayangkan betapa paniknya Arga di seberang sana.

"Dia pasti mau nge-scroll atau ngeliatin foto-foto aku secara diam-diam, terus jarinya khilaf ketuk dua kali. Gengsinya kan setinggi langit, makanya langsung dihapus!" lanjutku.

Rara ikut tertawa kecil, menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pandangan tidak habis pikir. "Ya ampun, konyol banget. Terus, lo diem aja atau lo tembak langsung di chat?"

"Ya aku godain lah. Mana mungkin aku lepasin momen emas kayak gini," ujarku bangga sambil memamerkan riwayat chat kami ke depan wajah Rara.

"Aku tanya kan kenapa dihapus, terus dia ngeles bilang layarnya eror dan minta aku hapus saja fotonya, yang ujung-ujungnya dia ngancem mau blokir aku, gara-gara aku goda terus."

Rara membaca baris-baris balon teks itu dengan saksama. Senyuman tipis perlahan terukir di wajah sahabatku itu. "Tapi dia gak beneran blokir lo, kan?"

"Enggak dong. Malahan setelah aku minta maaf, aku langsung pakai kesempatan ini buat nawarin kirim makanan lagi buat dia besok yang akan ku kirim ke kampusnya. Kamu tahu Ra dia bales apa di pengujung chat?" Aku menjeda kalimatku, memberi efek dramatis.

"Dia bilang, 'Terserah. Yang gak pedes.'"

"Wah, gila sih." Rara menepuk meja pelan, raut wajahnya kini dipenuhi rasa takjub. "Kata 'terserah' dari mulut orang se-kaku Arga itu artinya dia udah mulai pasrah dan ngebuka pintu, Via. Selamat ya, perjuangan lo mulai kelihatan hasilnya."

"Nah, karena dia udah kasih lampu hijau buat menu besok, sekarang aku butuh bantuan kamu, Rara sayang," Aku langsung menggenggam kedua tangan Rara di atas meja, memasang wajah paling memelas yang kupunya.

Rara langsung menarik tangannya dengan waspada, matanya menyipit curiga. "Bantuan apa. Awas ya, kalau lo mau suruh gue yang nganterin bekal itu ke kampusnya, gue ogah!"

"Bukan nganterin, kalau nganterin kan bisa pakai ojek online kayak kemarin," ujarku sambil menyengir lebar.

"Sore ini temenin aku ke supermarket dekat kosan, yuk. Aku mau belanja bahan makanan segar buat menu besok. Aku mau bikin menu yang bener-bener enak, nutrisinya lengkap, dan pastinya gak pedas sesuai request dari pangeran es ku. Mau ya, Ra? Please...."

Rara menghembuskan napas panjang, berpura-pura cemberut, meskipun aku tahu dia tidak akan pernah bisa menolak permintaanku.

"Dasar budak cinta," cibir Rara sambil membereskan buku-bukunya ke dalam tas ransel.

"Ya udah, iya. Sore ini kita ke supermarket. Tapi awas ya, bahan-bahannya lo yang bayar sendiri. Gue cuma bertugas jadi konsultan resep dan nemenin lo milih sayuran yang segar."

"Siap, Bos Rara! Gak usah khawatir, dompet aku aman kok buat investasi masa depan sama Arga!" seru ku riang, langsung merangkul lengan Rara erat-erat saat kami mulai melangkah keluar dari kantin kampus.

Hari kelima ini ditutup dengan tawa hangat di antara kami berdua. Rasa canggung yang sempat menggantung kemarin kini menguap sepenuhnya, digantikan oleh semangat baru untuk meracik menu bekal esok hari, yang kuharap bisa kembali melunakkan hati sang gunung es.

1
falea sezi
😒 Arga php bgt meluk belom di tembak
zru!
baguss kak
Nura_thequeen: terimakasih ♥️🙏
total 1 replies
falea sezi
q kirim bunga lagi🤭
falea sezi
lanjut q kirim bunga lagi 👍
falea sezi: siap thor🤭 rajin up nanti q rajin kasih hadiah
total 2 replies
falea sezi
😕 ga jangan sakitin. via atau php ya 😓bisa. gila anak orang ga
Nura_thequeen: iya ni. moga aja Arga gak gitu ya. bisa-bisa via balik lagi kesetelan halunya🤣
total 1 replies
falea sezi
moga aja Arga gk php ya🤣
falea sezi
🤣 sweet nya mas kulkas
falea sezi
akirnya rara jujur😕
falea sezi
👍 q kirim hdiah tp buat via jangan terlalu ngemis ya😓
Nura_thequeen: wihhh, terimakasih besti. gak kok tenang via gak ngemis. cuma agak cegil sedikit aja.... haha
total 1 replies
falea sezi
malu maluin mbk🤣 ngemis ngemis lu halu di bawa ke ngata
falea sezi
🤣🤣 kebanyakan halu ya gini
Nura_thequeen: begitulah🤣🤣🤣
total 1 replies
falea sezi
moga bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!