Awal Judul Ada & Tiada
Berawal dari kesurupan massal di malam puncak penerimaan mahasiswa/i baru menjadi titik awal temu mereka. Saling menyadari bahwa mereka sama, sama-sama hidup diantara mereka yang tiada namun sebenarnya ada.
Kisah tentang perjalanan sekelompok anak muda yang memiliki kemampuan sixth sense, melihat apa yang semestinya tidak terlihat, dan merasakan kehadiran mereka yang tak tersentuh.
Akankah mereka bisa menjalani hidup normal seperti orang lain?
Kisah mereka akan hadir setiap hari pukul tujuh malam. Jangan baca sendiri, siapa tahu kau sedang tak sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Arin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Something New (Sesuatu yang Baru)
"Maaf Bu, apa Ibu melihat dua orang anak muda yang tadi makan disini?" tanya Al ke ibu pedagang gudeg tempat Awan dan Ochi makan.
"Ah, pasangan manis itu sudah pergi dari tadi Mas. Apa Mas temannya?" tanya ibu penjual gudeg.
"Iya Bu, ya sudah saya ijin pamit ya Bu, terima kasih infonya." balas Al sopan dan berbalik arah menuju teman-temannya.
Al pun menghampiri teman-temannya yang lain, sambil menggeleng pelan kepalanya, pertanda Al gagal menemukan Awan dan Ochi. Ari yang paham pun langsung meraih ponsel miliknya dan mencoba menghubungi Awan. Untungnya telepon itu berhasil tersambung ke Awan.
"Kau dimana Wan?" tanya Ari singkat, ia menempelkan ponsel miliknya ke telinga sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling alun-alun kidul Djogja.
"Kita di tukang dawet dekat mobil Dewa. Kenapa?" tanya Awan balik.
"Tunggu di sana, kita mau ke tempat selanjutnya." ujar Ari, Awan pun mengiyakan, dan menyudahi pembicaraan ke mereka.
"Siapa?" tanya Ochi penasaran sambil meniupkan gelem nunggu e kembung balon.
"Ari. Ayo, Ari dan yang lainnya menunggu kita, kita mau lanjut ke tempat lain." ujar Awan yang mencoba menghentikan Ochi sedang bermain membuat gelembung di sekitaran lapangan alun-alun kidul Djogja.
"Sebentar lagi!" ujar Ochi tanpa menghiraukan Awan dan masih asyik dengan kegiatannya.
"Ochi ...." panggil Awan dengan nada kesal, tangannya sudah berkacak pinggang menatap Ochi seperti bapak kos yang sedang menagih iuran kosan.
"Cih ... Dasar pria kaku!" cibir Ochi yang menghentikan kegiatannya.
"Kau bilang apa tadi?" tanya Awan kesal, ia mampu mendengar cibiran pelan Ochi untuknya.
"Aku? Aku tidak bicara apapun, mungkin hantu." jawab usil Ochi dan berjalan lebih dulu ke mobil Dewa.
"Dasar perempuan aneh!" cibir balik Awan, ia mulai berjalan mengikuti langkah kaki Ochi.
"Aku mendengarnya loh ...." teriak Ochi tanpa menoleh ke belakang.Awan pun hanya bisa tersenyum mendengar teriakan Ochi.
****
"Bisakah kita pulang dulu, mandi lalu pergi lagi, aku sungguh tidak nyaman, bahkan kita habis basah-basahan karena rafting." ujar Haura ke kakak-kakak nya.
"Boleh banget, aku juga mau mandi dulu, dandan yang cantik pakai baju yang lebih nyaman buat nongkrong, biar bisa cuci mata." timpal Ochi dengan ekspresi cerianya.
"Ya sudah kita kembali ke rumah Dewa dulu baru kita lanjutkan jalan-jalannya." ucap Al yang kini mengendarai mobil tamasya mereka, ditemani Awan disampingnya.
"Dandan atau tidak, tidak ada bedanya, hidung mu tidak bertambah dua, mata mu tidak bertambah tiga. Lagi pula siapa juga yang mau melirik wanita aneh seperti mu." cibir Awan, lagi-lagi mereka kembali meributkan hal sepele dan menimpali ucapan satu sama lain. Mereka semua yang mendengarkan seperti mendengarkan acara radio butut.
Sesampainya di rumah Dewa ternyata Mommy Dita dan Daddy Bayu juga baru sampai di villa.
"Bukankah kalian mau pulang malam? Apa sudah selesai jalan-jalannya?" tanya mommy Dewa.
"Kami mau mandi dulu Tante, biar jalan-jalannya lebih semangat." jawab Ochi dengan nyengir kudanya itu.
"Oh, ya sudah kalian mandi dulu, kalau kalian lapar bibi pelayan sudah buatkan cemilan di meja makan. Tante dan Om masuk dulu, mau ganti baju dan istirahat." jawab mommy Dewa dan berpamitan masuk lebih dulu. Ketika semua sudah masuk ke dalam Awan menahan tangan Ochi.
"Apa?" tanya Ochi kesal, baru ini ia kalah debat dengan pria, bahkan rayuan dan kejahilannya pun tidak mempan ke Awan.
"Bisakah kau tidak selalu menimpali ucapan ku? Aku tidak mau yang lain berfikir ada sesuatu di antara kita." tegas Awan ke Ochi. Ochi yang mendengar ucapan Awan pun semakin kesal dan semakin merasa jika ucapan Awan bermakna bahwa dirinya tak menarik.
"Kau yakin ingin aku menjauh dan cuek padamu Kak Awan?" tanya Ochi pelan, ia melangkahkan kakinya mendekat, dan semakin mendekat ke Awan.
"Kau ingin lihat seperti apa yang dinamakan ada sesuatu?" tanya Ochi ke Awan. Awan pun mengerutkan dahinya tanda kebingungan.
Tiba-tiba Ochi mencium pipi Awan begitu saja tanpa ada rasa ragu. Awan pun membulatkan matanya sempurna, ia begitu kaget atas tindakan gila yang Ochi lakukan. Mukanya memerah, jantungnya berdegup kencang, ia terpaku tak berkutik sedikitpun.
"Jangan mengajari ku karena aku lebih berpengalaman dari mu Kak." ucap Ochi, ia pergi masuk ke dalam meninggalkan Awan yang masih berdiri terpana karena mendapat ciuman tiba-tiba dari seorang wanita, bahkan ini adalah ciuman pertamanya.
Awan tidak pernah berciuman selama menjalin kasih dengan sang mantan, bertemu saja jarang, ia hanya melakukan kegiatan biasa seperti jalan, nonton, dan pegangan tangan, karena itu adalah pengalaman pertamanya menjalin kasih dengan wanita sekaligus pengalaman pahit pertama dalam hidupnya karena wanita. Wanita itu lebih memilih menikah dengan temannya yang memang Awan dan semua teman-temannya akui dia pria yang romantis dan selalu memberikan ujaran-ujaran manis.
Awan memegangi pipinya yang di kecup oleh Ochi, tangan lainnya memegangi dadanya yang sedang gaduh di sana. Awan mulai tersadar dari lamunannya.
"Argh! Ayolah Wan jangan lagi tertipu dengan sikap wanita!" ucapnya ke diri sendiri sambil mengacak-acak rambutnya di depan rumah Dewa.
Awan pun berjalan sambil menggerutu kesal, ia membanting pintu kamar dan merebahkan tubuhnya di sofa, Ari yang baru saja selesai mandi dan pakai baju menghampiri Awan yang sedang sendirian di sofa.
"Apa yang kau fikirkan sampai menghela nafas panjang seperti itu?" tanya Ari penasaran. Kini Ari sudah duduk di dekat Awan.
"Ah tidak ada." jawab Awan singkat sambil tersenyum, Ari pun membuka minuman yang ada di meja dan meneguknya.
"Apa kau pernah di cium oleh perempuan lebih dulu?" tanya Awan dengan polosnya. Ari yang sedang meneguk minumannya pun tersedak karena mendengar pertanyaan konyol Awan.
"Ah maafkan aku. Ini tissue." ucap Awan sambil memberikan tissue ke Ari, Ari pun mengelap mulutnya.
"Kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" selidik Ari, Awan pun kikuk dan bingung harus jawab apa.
"Apa jangan-jangan ...." ucapan Ari pun terpotong karena Awan sudah bicara lebih dulu.
"Jangan-jangan apa? Tidak ada yang terjadi antara aku dan Ochi, jangan mikir yang aneh-aneh ya." jawab Awan begitu lugas, Ari pun tertawa karena nya.
"Kenapa kau tertawa?" tanya Awan, ia bingung kenapa Ari menertawakannya, apa ternyata Ari juga pernah dicium oleh wanita lebih dulu, begitulah fikirnya.
"Pertama, aku tidak menyebutkan sedikit pun nama Ochi tapi kau secara tidak langsung memberi tahu ku siapa wanita yang sedang kau bahas ini. Kedua, jawaban ku ya, aku pernah di cium lebih dulu oleh wanita, tapi asal kau tahu Wan, akan lebih indah jika kita yang mencium mereka lebih dulu dan berbalas." ujar Ari sambil menepuk pundak Awan dan kembali tertawa.
"Sial kau! Aku tidak akan pernah mau mencium wanita terlebih dahulu." jawab Awan sambil menepis tangan Ari dari pundaknya.
"Siapa yang mencium siapa?" tiba-tiba suara Al terdengar dari arah pintu lain kamar yang terhubung ke taman depan, Al baru saja selesai merokok di sana.
"Ini loh Al, si Awan tanya aku, pernah tidak aku dicium oleh wanita terlebih dahulu, dia habis di ...." ucapan Ari pun tak terdengar lagi karena mulutnya sudah dibungkam oleh tangan Awan. Ari yang susah bernafas pun menepis tangan Awan dari mulutnya.
"Apa-apaan si Wan, mana kamu belum cuci tangan pula." ujar Ari sambil mengelap mulutnya yang terkena tangan Awan.
"Dia habis di cium Ochi Al." lanjut Ari dengan lancarnya. Awan pun langsung meringkuk Ari dan menghujaninya jitakan-jitakan sayang antar saudara.
"Wah, apa aku melewatkan hal penting dalam hidup mu Wan?" ledek Al ke Awan, Awan pun menghentikan tingkahnya.
"Lain kali kau harus membalas ciuman Ochi ke bibirnya jangan cuma diam saja, seperti ini." ucap Al sambil mempraktekan ekspresi Awan yang berdiri diam sambil memegang pipinya dan dadanya. Awan pun terkejut bahwa Al melihat kejadian itu.
"Kau melihatnya?" tanya Awan penasaran, Ari pun yang sedang merapihkan bajunya ikut menatap ke arah Al.
"Menurutmu?" ucap Al sambil bersedekap.
"Ciye yang sebentar lagi punya pasangan buat diajak gandengan." ledek Ari ke Awan. Awan pun kembali mengejar Ari, berusaha membalas ledekannya dengan pukulan.
Bersambung ....
semangat Kaka Arin...lanjuttt yaaa
kalo Ari suka Haura Krn sbg adik saja kan
TPI aku terharu Aldi bisa juga mengikhlaskan Anita dan TDK menganggap Haura bayangan nya Anita...