Beberapa hubungan berakhir bukan karena rasa cinta yang pudar, melainkan karena rahasia yang terlalu berat untuk dipikul sendirian.
Diputus sepihak oleh Putri membuat Alex terjebak dalam labirin pertanyaan tanpa jawaban. Rasa patah hati membawanya pada titik terendah, memaksa Alex merangkak bangkit dan menata ulang takdirnya lewat kata demi kata yang ia tulis.
Kehadiran Syafa seperti cahaya senja yang tenang—menghangatkan hatinya yang beku dan membantunya menyembuhkan luka. Namun, saat batas antara masa lalu dan masa depan semakin kabur, Alex dihadapkan pada kenyataan pahit yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Setelah Kata Usai" adalah perjalanan emosional tentang bagaimana menyembuhkan diri dari pengkhianatan, memahami arti melepaskan, dan menemukan cinta sejati di tempat yang paling tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahri Sohil Munawar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Momen Romantis
Asyik! Jadi kita resmi pacaran nih?" ucap Syafa sambil tersenyum dan terkekeh tipis.
"Iya, Sayang," balas Alex menatap mata Syafa seraya membalas senyuman manis itu.
Langit perlahan berganti gelap, digantikan sinar rembulan yang mulai terang. Mereka berdua akhirnya beranjak meninggalkan tepi pantai—tempat di mana mereka resmi mengikat perasaan sebagai sepasang kekasih.
"Mau langsung pulang atau mau ke mana dulu?" tanya Alex seraya bersiap menaiki motor.
"Lapar... pengin makan," jawab Syafa dengan nada manja yang seketika membuat dada Alex makin meleleh.
Alex terkekeh pelan. "Ya udah, yuk kita cari makan dulu."
Mereka pun melaju mencari rumah makan terdekat dari pantai.
Setelah selesai makan dan memastikan Syafa pulang dengan selamat sampai ke rumahnya, Alex pun tiba di rumahnya sendiri. Saat merebahkan badan di kasur, ia baru teringat ada pesan dari Umam yang belum sempat ia baca.
Umam: Lex, Putri putus.
Alex: Terus?
Alex membalasnya santai. Perasaannya biasa saja saat menerima kabar tersebut.
Umam: Lah, tumben? Katanya kemarin lu masih pengin balikan? Ya tuh, deketin lagi lah!
Membaca balasan sahabatnya itu, tanpa ragu Alex langsung mengunggah dan mengirimkan foto kebersamaannya dengan Syafa tadi sore di pantai.
Alex: Ekhem.
Umam: Anjir! Cepet amat?! Baru 3 hari dekat udah resmi aja wkwkwk.
Alex: Hehehe.
Alex hanya membalas singkat, bingung harus merespons apa lagi selain memamerkan kebahagiaannya.
Tak lama setelah obrolan dengan Umam selesai, Alex langsung menekan tombol panggilan video (video call) ke ponsel Syafa.
"Assalamualaikum," ucap Alex begitu layar terhubung.
"Wa'alaikumsalam," sahut Syafa di seberang sana.
"Ay, besok kamu masuk kuliah?" tanya Alex.
"Iya dong, kenapa?"
"Aku jemput, kan?" tanya Alex agak ragu-ragu. Meski sudah berstatus pacar, sisa-sisa rasa canggung di antara mereka masih sedikit terasa.
"Nggak! Nggak usah dijemput!" cetus Syafa sambil memasang raut muka pura-pura sebal, berharap Alex paham maksud tersembunyinya.
Sebenarnya Alex tahu betul kalau Syafa cuma ingin digoda. Karena ingin bercanda, Alex berpura-pura polos.
"Kenapa?" tanya Alex datar.
"Ihhh kamu mah! Orang aku bercanda... ya jemput lah!" seru Syafa makin sebal melihat kepolosan Alex.
Alex tertawa lepas melihat tingkah gemas pacar barunya itu. Panggilan video malam itu terus mengalir hangat, mengiringi obrolan mereka hingga akhirnya keduanya tertidur lelap sampai pagi menjelang.
Ayang, bangun..."
Suara lembut namun samar-samar dari Syafa terdengar di telinga Alex, perlahan menyibak kesadaran dari tidur lelapnya pagi ini.
"Enghh... kenapa?" sahut Alex lemas, berusaha mengumpulkan nyawa yang belum terkumpul penuh seraya membuka matanya perlahan.
"Coba lihat jam..." ucap Syafa dengan nada sebal. Sebenarnya sejak jam lima pagi Syafa sudah berulang kali mencoba membangunkan laki-laki itu. Namun karena Alex tertidur terlalu pulas, ia baru benar-benar terbangun jam tujuh pas.
"Jam berapa emang?" Alex mengerjap, lalu melirik ke arah layar. Seketika matanya melotot. "Hah?! Jam tujuh?! Kenapa enggak dari tadi banguninnya, sih?!" Alex panik setengah mati. Tak biasanya ia kesiangan separah ini.
"Dih, dari tadi juga udah dibangunin! Ya udah, cepet bangun, mandi, bersih-bersih. Aku tunggu," seru Syafa gemas.
"Oke, oke, aku mandi sebentar terus langsung OTW!"
Panggilan video yang tersambung sejak semalam itu akhirnya terputus. Alex sadar ponselnya mati karena kehabisan daya. Tanpa membuang waktu, ia buru-buru menyambungkan ponselnya ke pengisi daya. Sembari menunggu baterai terisi, Alex melesat ke kamar mandi dan bersiap-siap secepat kilat untuk berangkat kuliah.
Setelah rapi dan siap meluncur, Alex kembali ke kamar untuk mencabut ponselnya. Namun naas, nasib buruk menyapa: listrik di rumahnya padam! Saat layar ponselnya menyala, persentase baterai hanya menunjukkan angka 5%.
"Ah, sial! Malah mati lampu lagi... Mana cuma lima persen doang! Ayolah, bertahan sebentar cuma buat kabarin Syafa doang..." ceracau Alex panik sambil memaksa ponselnya tetap hidup.
Begitu berhasil menyala, dengan jemari gemetar Alex mengetik pesan kilat ke Syafa.
Alex: Ay, aku OTW ya. Maaf banget ponselku lowbat. Kamu ada powerbank enggak? Kalau ada, aku minjem dong.
Namun, sebelum sempat menunggu balasan dari Syafa, layar ponselnya berkedip lalu mati total.
Tepat beberapa detik sebelum layarnya menjadi hitam pekat, netra Alex sempat menangkap satu notifikasi pesan masuk yang melintas di layarnya. Sebuah nama dari masa lalu yang tak asing: Putri.
Putri: Lex...
Alex berdiri terpaku sejenak menatap layar ponsel yang kini mati total di genggamannya. Di tengah kepanikan karena kesiangan, pikirannya sempat terdistraksi. Ah, paling cuma halusinasi gue aja, batin Alex berusaha menepisnya, lalu bergegas menyambar kunci motor dan berangkat sebelum Syafa makin sebal padanya
judul dan tagar tidak nyambung " dusta yang sempurna" tema balas dendam, romansa fantasi tapi deskripsi nya hanya berbicara putus cinta dan trauma tidak ada unsur kebohongan, fantasi, atau persaingan.
tidak memancing penasaran.
kurang emosi yang terasa
dan cover tulisan belum menyatu
kurang memikat mata
belum ada menggambar isi cerita