Dikhianati keluarga kandung yang kejam, Naya dipenjara empat tahun demi menutupi kesalahan adiknya Rania. Malam sebelum ditangkap, ia bertemu pria misterius Arkan Wiratama di kebun dan mengandung bayi kembar. Satu bayi dicuri Rania jadi pewaris keluarga Wiratama, satu lagi dibuang paksa. Saat bebas penjara, takdir mempertemukan mereka lagi—semua kebohongan akan terbongkar, dan Naya akan menuntut kembali semua haknya yang dirampas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 19 - Pesta Ulang Tahun Rania
Rania tetap mengadakan pesta ulang tahun.
Bu Mira sempat menyarankan untuk menunda. Lila baru diculik, Arkan mulai menyelidiki, dan keluarga Pradipta seharusnya merendah beberapa waktu.
Rania menolak.
"Kalau aku menunda, orang akan bertanya."
Pak Surya mendukungnya.
"Tampil normal. Itu lebih baik."
Maka rumah Pradipta kembali dipenuhi bunga, lampu, makanan katering, dan orang-orang yang tersenyum sambil menghitung keuntungan hubungan. Undangan tidak terlalu besar, hanya keluarga dekat, rekan bisnis, beberapa sosialita, dan tentu saja keluarga Wiratama.
Rania berharap Arkan datang.
Ia juga berharap Naya tidak.
Harapan kedua hancur lebih dulu.
Menjelang acara dimulai, Naya datang bersama Yuni. Ia memakai kemeja putih sederhana dan celana hitam. Tidak ada perhiasan. Tidak ada riasan tebal. Lila tidak dibawa. Anak itu dijaga Nenek Sari dan pengasuh sementara.
Bu Mira melihatnya dari tangga dan langsung turun.
"Untuk apa kamu datang?"
Naya menatap ruang tamu yang dulu menjadi tempat ia dipaksa menandatangani surat pengakuan.
"Diundang."
"Siapa yang mengundangmu?"
Yuni mengangkat ponsel. "Saya. Sebagai plus one. Undangan digitalnya tidak melarang mantan korban keluarga Pradipta hadir."
Wajah Bu Mira mengeras.
Rania muncul dengan gaun elegan warna biru. Senyumnya langsung membeku saat melihat Naya.
"Kak Naya."
Beberapa tamu menoleh.
Kata kak itu sengaja diucapkan keras.
Rania mendekat, lalu memeluk Naya seolah mereka saudara yang lama tidak bertemu. Naya tidak membalas.
"Aku senang kamu datang," kata Rania.
"Jangan terlalu senang. Nanti terlihat palsu."
Senyum Rania retak.
Seorang tante dari keluarga Pradipta mendekat. "Ini Naya yang itu?"
Yang itu.
Naya hampir tertawa.
Rania menunduk seolah malu. "Tante, jangan..."
Tante itu menatap Naya dari atas ke bawah. "Sudah bebas, ya? Baguslah. Semoga sekarang bisa hidup benar."
Yuni langsung maju, tetapi Naya menahan lengannya.
"Aamiin," kata Naya tenang. "Semoga semua orang di rumah ini juga bisa hidup benar."
Tante itu tidak menangkap sindiran. Beberapa tamu lain menangkap dan mulai berbisik.
Bima, kakak laki-laki keluarga Pradipta, datang dari arah taman. Ia jarang muncul sejak Naya bebas. Wajahnya lebih tua, tetapi tatapannya masih sama: tidak nyaman melihatnya.
"Naya, jangan bikin masalah."
"Aku baru datang."
"Kamu selalu membawa masalah."
Naya menatapnya. "Lucu. Masalah di rumah ini biasanya lahir sebelum aku datang."
Bima mengepalkan tangan.
Rania cepat menyela. "Sudahlah. Ini ulang tahunku. Aku tidak mau ada pertengkaran."
"Kalau begitu berhenti memancing," kata Yuni.
Rania menatap Yuni seolah baru ingat ada orang lain.
"Kamu siapa?"
"Sahabat orang yang kalian buang."
Bu Mira memucat. "Jaga bicaramu."
"Saya sedang menjaganya. Kalau tidak, saya sudah teriak dari tadi."
Suasana mulai menegang. Pak Surya mendekat dengan wajah ramah palsu.
"Naya, kalau kamu datang untuk bicara, kita bisa bicara di ruang kerja."
"Dulu juga di ruang keluarga kalian bilang mau bicara. Hasilnya saya diborgol."
Beberapa tamu terkejut.
Rania langsung menangis. "Kak, kenapa kamu selalu mengungkit itu? Papa Mama sudah berusaha membantumu. Kamu sendiri yang..."
"Yang apa?"
Rania berhenti. Ia sadar jebakan itu terlalu dekat.
Naya menatapnya.
"Lanjutkan. Saya sendiri yang apa?"
Pintu utama terbuka.
Arkan masuk bersama Nenek Ratih dan Rayyan.
Seluruh ruangan langsung berubah.
Rania hampir berlari menyambut mereka.
"Arkan, Nek, Rayyan. Terima kasih sudah datang."
Rayyan memegang tangan Nenek Ratih dan melihat sekeliling. Begitu melihat Naya, wajahnya bersinar.
"Tante Naya!"
Ia hendak berlari, tetapi Nenek Ratih menahan lembut.
Rania tersenyum kaku. "Rayyan, Mama di sini."
Rayyan berhenti. Ia menatap Rania.
"Selamat ulang tahun, Mama Rania."
Mama Rania.
Para tamu saling pandang. Sebagian tersenyum canggung.
Rania merasa wajahnya terbakar.
Arkan tidak mengoreksi.
Itu lebih menyakitkan.
Acara makan berlangsung tegang. Rania berusaha duduk dekat Arkan, tetapi Rayyan memilih duduk di antara Nenek Ratih dan Naya. Bu Mira beberapa kali mencoba mengalihkan pembicaraan, tetapi rumor sudah terlanjur bergerak.
Seorang tamu perempuan berbisik cukup keras, "Katanya Naya itu pernah dipenjara karena nabrak orang, ya?"
Tamu lain menjawab, "Iya, tapi kok Pak Arkan kelihatan membelanya?"
Rania mendengar dan memutuskan menyerang lebih dulu.
Saat sesi potong kue, ia mengambil mikrofon kecil.
"Terima kasih semua sudah datang. Hari ini aku bahagia karena keluarga lengkap. Bahkan Kak Naya juga datang."
Lampu kamera ponsel tamu menyala.
Naya menatapnya dari sisi ruangan.
"Aku tahu masa lalu keluarga kami tidak sempurna," lanjut Rania dengan suara bergetar. "Kak Naya pernah membuat kesalahan besar. Tapi kami tetap menerimanya. Karena keluarga seharusnya memaafkan."
Yuni mengumpat pelan.
Naya berdiri.
Rania menatapnya dengan air mata siap jatuh.
"Kak, aku tidak bermaksud..."
"Kamu selalu bermaksud."
Ruangan hening.
Naya berjalan ke tengah.
"Kamu bilang keluarga memaafkan. Pertanyaannya, siapa yang harus dimaafkan?"
Pak Surya berdiri. "Naya, cukup."
"Belum."
Naya menatap para tamu.
"Empat tahun lalu saya datang ke rumah ini karena diberitahu orang tua kandung saya ingin membawa saya pulang. Di ruangan itu..." Ia menunjuk ruang tamu. "Mereka memberi saya surat pengakuan untuk kasus tabrak lari yang tidak saya lakukan."
Keributan pecah.
Rania langsung menangis. "Itu tidak benar!"
Naya mengeluarkan ponsel.
"Saya tidak datang tanpa apa-apa."
Arkan menatapnya. Ia tidak tahu Naya akan melakukan ini.
Naya membuka rekaman suara dari kantor polisi, bagian ketika pria penculik Lila menyebut Rania dan Pradipta. Lalu ia menunjukkan foto Lila setelah diselamatkan, tanpa memperlihatkan wajah anak sepenuhnya.
"Anak saya diculik dua hari lalu. Orang yang menculiknya dibayar oleh pihak yang terkait keluarga ini."
Bu Mira hampir jatuh.
Bima menatap Rania. "Apa maksudnya?"
Rania berteriak, "Dia fitnah! Dia sakit! Dia trauma karena anaknya mati, sekarang dia mengarang!"
Rayyan berdiri dari kursinya.
"Jangan bilang Tante Naya sakit!"
Semua orang menoleh.
Anak kecil itu gemetar, tetapi matanya marah.
"Lila diculik. Aku lihat CCTV. Tante Naya nangis. Mama Rania kenapa bohong?"
Rania pucat seperti kertas.
Arkan berdiri, berjalan ke tengah ruangan.
"Mulai hari ini," katanya, suaranya rendah tetapi terdengar ke seluruh ruangan, "kasus tabrak lari empat tahun lalu akan dibuka kembali. Siapa pun yang terlibat memalsukan bukti, menekan saksi, atau mengorbankan orang tidak bersalah, akan berhadapan dengan hukum."
Pak Surya menatap Arkan.
"Pak Arkan, ini urusan keluarga."
Arkan menatapnya dingin.
"Bukan lagi."
Rania kehilangan pegangan pada mikrofon. Benda itu jatuh ke lantai dengan suara keras.
Naya tidak merasa menang.
Dadanya sakit, tangannya gemetar, dan seluruh mata di ruangan menatapnya seperti tontonan.
Namun untuk pertama kalinya, kebohongan keluarga Pradipta tidak berdiri sendirian.
Ada retak.
Dan dari retak itu, kebenaran mulai masuk seperti cahaya yang menyakitkan.
Para tamu mulai berbisik.
Nama Rania yang tadi disebut dengan kagum berubah menjadi bahan pertanyaan. Beberapa ibu sosialita menunduk ke ponsel, mengirim pesan di grup yang mereka pikir lebih aman daripada suara. Beberapa pria bisnis menarik diri dari Pak Surya, seolah skandal bisa menempel di jas mahal.
Bu Mira naik ke panggung dengan senyum yang dipaksa.
"Ini salah paham keluarga. Mohon para tamu tidak merekam."
Terlambat.
Setidaknya lima ponsel sudah terangkat sejak Rayyan bicara.
Naya melihat itu dan merasa mual. Ia tidak pernah ingin anaknya menjadi tontonan, bahkan anak yang belum berani ia sebut miliknya di depan orang banyak. Ia berjalan ke Rayyan dan berjongkok.
"Rayyan, kamu ikut Mbak Yuni dulu, ya."
Rayyan menggeleng. "Aku mau sama Tante."
Rania seperti tersadar. Ia maju cepat. "Rayyan, sini sama Mama."
Rayyan mundur ke belakang Naya.
Gerakan kecil itu lebih keras daripada semua tuduhan.
Wajah Rania hancur.
"Kamu ajari dia membenciku?" teriaknya pada Naya.
Naya berdiri. "Anak kecil tidak perlu diajari takut. Mereka merasakannya sendiri."
Arkan memberi isyarat pada pengawal untuk membawa Rayyan keluar dengan hati-hati. Kali ini Rayyan mau pergi hanya setelah Naya mengangguk.
Ketika anak itu hilang dari ruangan, Rania menatap Naya seperti ingin menerkam.
"Kamu pikir setelah malam ini kamu menang?"
Naya menggeleng.
"Tidak. Saya baru mulai mengambil kembali apa yang kalian curi."
Lampu pesta masih menyala. Kue ulang tahun masih utuh. Musik sudah berhenti.
Di tengah kemewahan yang mendadak hambar, Rania akhirnya tampak seperti dirinya yang sebenarnya: perempuan yang memegang mahkota curian dan baru sadar kepalanya sendiri berdarah.
AKU BELA2IN BEGADANG BUAT BACA INI CERITA🤧
Ceritanya baguss dan aku belum pernah baca cerita yg alurnya sedarderdor ini😍
LUVVV buat kaka💕💕