bagi orang lain, cinta pertama seorang anak perempuan adalah seorang ayah tapi tidak Resty, karena baginya ayah adalah neraka baginya
inilah kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 19
Pelajaran pertamanya Bahasa Indonesia. wali kelas yang bernama Bu linda menulis “Pengenalan Diri” di papan.“Siapa yang berani maju duluan?” Bu Guru nanya sambil senyum.
Kelas langsung hening. Ada yang menunduk, ada yang pura-pura cari pulpen di kolong meja. Resty otomatis pegang saku kirinya lagi. Sapu tangan Awi sudah lecek kena keringat. Dinda malah nyolek dia. “Ayo Res, suaramu bagus pas jawab hadir tadi.”
Resty menggeleng pelan dan matanya langsung melirik ke arah jendela. bambu diluar kelas ikut bergoyang kena angin.
“Ya udah,” Bu Guru akhirnya tunjuk yang paling depan. “Caca, kamu dulu.”
Caca maju. bicaranya lancar. “Nama saya Caca, hobi baca novel, cita-cita jadi dokter.”
Tepuk tangan kecil dari teman-teman. Satu-satu maju, Ada yang gugup, ada yang pede sampai joget dikit. Resty menghitung dalam hati. Tinggal 4 orang lagi sebelum giliran bangku pojok. Jantungnya makin kenceng setiap nama disebut.“Bagas..., Dinda...!”
“Resty Wulandari?”
Lagi-lagi nama itu. Resty berdiri. Kakinya berat. Dia jalan ke depan, matanya cuma berani lihat ujung sepatu sendiri. “Halo...! nama saya Resty.” Suaranya hampir tidak terdengar. Dia jeda, terus pencet sapu tangan di saku. Baunya sabun colek dan tembakau Awi bikin napasnya agak tenang.
“Saya...suka dengerin angin!. Cita-cita saya ingin membuat orang yang saya sayangi tidak bersedih lagi.” setelah selesai dia berbicara, kelas langsung diam dan hening .Kelas juga diem setengah detik,
Bu Guru Linda, yang tepuk tangan duluan. “Bagus...nak!. Jujur ke diri sendiri Itu poin ketiga kita tadi.”
Saat Resty balik ke bangku, pipinya panas. Tapi Dinda membisikan dengan suara pelan, “Keren....?Aku juga suka dengerin angin.”
Terus dia gambar angin-angin kecil di pinggir buku Resty pakai pensil.Bel istirahat bunyi, Tiba-tiba lorong yang tadi sepi jadi ramai lagi. Tapi kali ini Resty tidak merasa ketinggalan karena sekarang sudah ada teman yang mau berteman dengannya.
Dinda langsung beres-beres buku secepat kilat. “Ayo Res!, sebelum rebutan tempat di kantin!” Ia menarik ujung lengan Resty lagi, tapi kali ini Resty tidak kaku dan ia ikut jalan.
Lorong yang tadi bikin Resty panik. sekarang ramai sama tawa. Sepatu nyeret lantai, botol minum pada bunyi klotok-klotok. Resty jalan di sebelah Dinda. tidak di depan, tidak di belakang, Pas di samping. Di kantin, baunya gorengan campur kecap. Anak-anak sudah mengantri panjang. Dinda mencari bangku kosong. Setelah dapat ia letakkan map tebalnya, terus menoleh ke Resty.“Kamu mau apa? Aku traktir. Anggap aja selamat datang di 7B.”
Resty kaget. Dia ngubek saku, cuma nemu uang receh lecek pemberian Awi pagi tadi. Cukup buat es teh aja.“tidak usah...din! Aku bawa bekal,” bohongnya pelan. Padahal bekalnya cuma nasi sama garam yang sudah dingin.
Dinda mengerti, ia tidak memaksa. Cuma mendorong piringnya ke tengah. Ada tahu isi dua sama mie goreng. “Ya udah bagi dua. Lagian aku tidak habis kalau makan sendiri. Perut aku kecil.” Dia nyengir, gigi renggangnya keliatan lagi.
Resty mengambil tahu isi paling ujung. Digigit pelan. Kriuk, terus pedesnya nendang. Mata Resty langsung berair. Bukan karena sedih. Sudah lama dia tidak merasakan pedas yang bikin melek gini.
“Nah...kan!. Muka kamu jadi hidup,” Dinda ketawa. Terus dia .enunjuk ke luar jendela kantin.“Lihat tuh pohon jambunya. Kalau anginnya kencang, buahnya suka jatuh sendiri. Mau kita mungutin nanti?”
Resty mengangguk, Untuk pertama kalinya, dia punya rencana buat jam istirahat. Bukan buat ngumpet di toilet seperti yang dia bayangin pagi tadi.Di piring tengah, tahu isi makin habis. Di saku kiri, sapu tangan Awi sudah tidak diremas sekuat tadi. Di sebelah kanan, ada Dinda yang mengunyah sambil cerita kalau emaknya jualan roti selai setiap subuh. Setelah 30 menit, Bel masuk bunyi lagi. Terlalu cepet rasanya.“Besok kamu bawa apa Res?” Dinda bertanya sambil mengangkat mapnya.“Biar aku tidak bawa roti terus. Nanti kamu bosen.”
Resty mau jawab, tapi tenggorokannya masih malu. Dia cuma senyum sambil menunjuk saku kirinya.Dinda mengerti isyarat itu. Dia ketawa kecil.“Oh... berarti besok aku yang kebagian sapu tangannya ya? Buat lap keringat kalau kepanasan.” Dia mencolek saku Resty pelan, tidak mengambil. Cuma nunjukin kalau dia mengerti itu barang penting.Mereka balik ke kelas sambil bawa sisa mie di ujung sendok. Lorong sudah tidak seseram tadi pagi. Bahkan ada anak cowok yang nyenggol bahu Resty sambil bilang “maaf”, bukan “singkir!”.
Pelajaran kedua masuk. Matematika. Bu Guru menis perkalian di papan, kapurnya berdecit. Resty catat pelan-pelan. Tulisannya jelek, tapi dia tersenyum setiap kali Dinda nyodorin penghapus. karena penghapus Dinda ketinggalan di rumah.“Pinjem ya?” bisik Dinda. Resty mengangguk, tangan mereka ketemu sebentar pas tukar penghapus dan tidak ada dari raut Dinda yang jijik karena bersentuhan dengan resty.
Jam terakhir hari itu pelajaran Seni Budaya. Bu Guru nyuruh gambar “dirimu di masa depan”. Kertas HVS dibagi rata.
Dinda langsung mencoret-coret gambar dia jualan roti bareng emaknya, gerobaknya besar, asapnya banyak.“Kamu gambar apa Res?”
Resty lama bengong. Pensilnya muter-muter di atas kertas kosong. Masa depan? Dia tidak pernah mikir sejauh itu. Selama ini masa depan hanya angan kosong dan yang selalu dia pikirkan besok masih ada nasi atau tidak. Terus dia gambar bangku pojok dekat jendela disana Ada bambu kuning. Ada dua piring tahu isi. Ada sapu tangan kecil ditaruh di atas meja. Dan ada dua anak perempuan duduk sebelahan. Satu rambut kuncir dua, satu lagi rambutnya diikat seadanya. Dia tidak kasih nama, tidak kasih warna. Cuma sketsa tipis.
Dinda mengintip, terus bisik. “Itu kita ya? Kamu pinter gambar anginnya.”
Bel pulang bunyi...Keras! Tapi kali ini tidak membuat Resty mau lari. Dia beresin buku pelan. Masukin gambarnya ke map Dinda. “Buat kamu. Biar tidak bosen bawa roti sendirian.”
Dinda melek. lalu dia lipat kertas itu rapi, masukin ke map tebalnya. Map yang isinya tugas, roti, dan sekarang masa depan Resty.