NovelToon NovelToon
Cinta Dan Gairah

Cinta Dan Gairah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa / Model / Obsesi / CEO / Romantis
Popularitas:219
Nilai: 5
Nama Author: Li Qiqiu

Hidup Angel yang semula tenang berubah menjadi menakutkan setelah melihat sesuatu yang tak seharusnya. Setiap malam, tidur nyenyaknya harus terganggu oleh mimpi-mimpi aneh yang membuatnya terbangun tengah malam. Anehnya, mimpi itu hilang setelah ia bertemu William, generasi ke-3 dari Xun Yi Group tempat ia bersekolah dan bekerja. Sebagai tokoh utama di mimpinya, apakah ini ada kaitannya dengan berakhirnya mimpi yang ia alami selama ini? Meskipun William tidak melakukan apapun terhadapnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Li Qiqiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18

Perjalanan yang hanya ditempuh beberapa jam namun rasanya seperti setahun. Angel duduk di kursi penumpang, sambil memandang jalanan yang mulai basah karena gerimis, bibirnya tak berhenti merapal beberapa doa untuk keselamatan orang tuanya. Kakinya tak berhenti bergerak dan jari tangannya yang selalu mengepal. Detak jantungnya meningkat lima kali lipat, meneriakkan kegelisahan yang tak bisa lagi ia tahan.

Dalam pikirannya, perang dimulai dan ketakutan Angel adalah jika bagian paling buruklah yang akan menang. Itu tidak mungkin kan? Tanpa sadar Angel menggelengkan kepala lalu memukulnya ringan.

Darwin dan Chintya yang sedari tadi memperhatikan Angel melalui kaca spion tengah merasa khawatir akan kondisinya. Duduk gelisah dengan pikiran berkecamuk, semua tergambar jelas di wajah ayu remaja itu.

Chintya menyodorkan botol berisi air mineral. "Minumlah, tenangkan dirimu. Berdoa agar papa dan mamamu baik-baik saja."

Angel menerima botol tersebut, membuka tutupnya, dan menegaknya sedikit. "Terima kasih om, tante. Aku baik-baik saja," respon Angel kontras dengan ketenangan yang gagal ia sembunyikan. "Om dan tante kenal papa dan mamaku?"

"Kami dulu teman bermain saat kecil. Tante sebenarnya lebih mengenal pamanmu baru papamu. Namun karena kesibukan kami lama tidak berkabar apalagi bertemu. Padahal sama-sama tinggal di Jakarta."

"Lebih tepatnya papa dan mamamu yang sangat sibuk, Angel," tambah Darwin sambil tersenyum miris.

Angel balas tersenyum meski sedikit dipaksakan. "Papa dan mama memang sibuk, tapi selalu meluangkan waktu ketika hari ulang tahunku. Di tahun-tahun sebelumnya, biasanya papa dan mama mengambil cuti. Aku tidak tahu kenapa hari ini tidak. Katanya ada pekerjaan yang sangat mendesak," papar Angel dengan mata berkaca-kaca dan suara yang menahan tangis mengingat kembali momen-momen perayaan ulang tahunnya selama ini.

"Kesibukan papa dan mamamu dapat dimengerti, mereka bekerja untuk perusahaan besar. Otomatis beban kerja juga semakin besar."

Angel tak menanggapi perkataan Darwin, lebih tepatnya ia tidak tahu harus bagaimana meresponnya. Perkataan Darwin benar dan dalam hal ini Angel sudah sangat mengerti dengan kesibukan papa dan mamanya. Hanya saja saat ulang tahunnya dan mereka malah pergi entah kemana dan masih menjajikan makan malam seperti biasanya. Bukankah itu terlalu memaksakan?

***

"Aku ingin lebih banyak mendapatkan kesempatan untuk tampil di catwalk, bu." Keputusan Angel sudah bulat, dalam beberapa tahun ia bertekad untuk menjadi model papan atas. Sementara untuk pendidikan ia akan memilih jurusan yang tidak terlalu menguras tenaga dan pikirannya.

"Of Course you can, Angel. But for now, you need to practice a lot and build your personal branding with social media. That's important for your career growth," jelas Bu Dian.

Angel mengerti, menjadi yang terbaik memang butuh proses yang panjang. Selama ini akun sosial medianya belum ia manfaatkan dengan maksimal. Dan runway belum ia kuasai sepenuhnya. Pernah, ia mendapat pekerjaan dari brand besar, saat itu ia merasa sedikit tertekan dan gugup. Masih banyak PR yang harus Angel kerjakan untuk mengasah kemampuan modelingnya.

"By the way, saya manggil kamu ke sini karena memang akan ada pekerjaan untukmu Angel. Ada beberapa designer yang karyanya saya rasa cocok dengan kamu. Kamu bisa mempelajarinya," Bu Dian menyodorkan beberapa dokumen. Angel mengambilnya dengan sumringah. "Jika kamu merasa ada yang cocok, kamu bisa datang untuk casting."

Angel membuka lembar demi lembar dokumen di tangannya. "Lebih baik, aku mencoba casting untuk semua brand ini, Bu. Aku ingin mendapat banyak peluang."

"Baiklah jika itu keputusanmu. Kau persiapkan baik-baik. Karena ini brand yang cukup besar, jadi pesaingmu tidak sedikit. Kau harus lebih banyak berlatih."

***

Mentari perlahan mulai turun, langit biru di ufuk barat berubah merah keemasan. Bunyi klakson kendaraan memenuhi indra pendengaran, terlebih di jam pulang kerja. Semua orang ingin segera kembali dan bertemu dengan keluarga, mencoba melepas penat dengan pelukan orang tersayang.

Melalui kaca jendela mobil, Angel melihat mobil yang familiar parkir di depan rumahnya. Siapa lagi jika bukan William Wijaya? Ia benar-benar pantang menyerah. Angel sungguh tidak tahu lagi bagaimana menghadapi manusia satu itu.

Memarkirkan mobilnya di garasi, Angel membawa satu plastik sayuran dan beberapa bahan lainnya untuk ia masak malam ini. Turun dari mobil dan berjalan ke depan tanpa peduli dengan keberadaan William.

"Kau mengubah pin rumahmu?" William bertanya begitu melihat Angel.

"Setiap orang butuh privasi, pak," jawab Angel, jemarinya yang bebas menekan enam angka lalu bunyi klik terdengar. Pintu terbuka, ia masuk diikuti William.

"Baiklah. Aku hargai keinginanmu untuk mendapatkan privasi. Tapi bisakah kau memberi tahuku pinnya, agar jika sesuatu terjadi padamu aku bisa menolong."

"Bapak menginginkan sesuatu terjadi padaku?" Angel berjalan menuju dapur, meletakkan barang yang ia beli, dan mengeluarkannya. Satu ikat kangkung, satu ekor ikan gurame yang telah dibersihkan, dan beberapa bumbu dapur.

"Bukan itu maksudku, Angel." William berdiri di sisi lain meja, melihat bahan yang dibeli Angel. "Kau akan memasak?"

"Lalu apa maksud bapak?"

"Aku hanya ingin menjagamu, jika aku mengetahui pin rumahmu, bukankah itu lebih bagus?" William mengambil ikan gurame, lalu mencucinya. "Kau ingin ikan ini dimasak bagaimana?"

Angel menoleh, cara William mencuci ikan terlihat begitu terampil. "Di goreng, semakin cepat matang, semakin cepat aku makan." Membelakangi William, ia memotong kangkung dan menyiapkan bumbu lainnya. "Gunakan asam jawa agar bau amisnya hilang."

"Bukankah jeruk saja sudah cukup?"

"Memang, tapi akan ada banyak rasa jika memakai asam jawa juga."

"Baiklah, aku ikuti saja keinginanmu," pasrah William, tangannya lihai menyiapkan bumbu marinasi. Ikan yang sudah dicuci ia baluri dengan lada bubuk lalu asam jawa. Sementara untuk marinasi menggunakan bumbu kuning instan ditambah dengan perasan jeruk nipis serta irisan bawang merah dan putih. Tak lupa tambahan garam dan penyedap rasa, diberi sedikit air, lalu ikan siap untuk direndam. "Kau benar-benar marah padaku karena sikapku kemarin?" William bertanya setelah mencuci tangannya, berbalik dan memeluk Angel.

"Siapapun akan marah jika dipaksa berciuman seperti itu, pak."

"Jika aku tidak memaksa untuk menciummu, apa kau mau menciumku?"

Angel menyingkirkan tangan William dari perutnya. Berbalik menghadap William. "Atas dasar apa aku mencium bapak?"

"Nah itu dia!" seru William. "Kau bertanya apa alasan yang pas untuk kita bisa berciuman. Setelah aku memberi alasan dengan memperjelas hubungan kita, kau menolaknya. Jadi, sebenarnya apa mau kau My Little Angel?" geram William gemas. Ia serba salah menghadapi ABG satu ini.

Membawa baskom kecil berisi kangkung yang sudah ia potong kecil-kecil ke wastafel, lalu mencucinya. "Waktu dan sedikit privasi, pak." Angel mengambil wajan dan meletakkannya di atas kompor, menyalakan kompor, dan menuangkan minyak goreng.

William menggeser tubuh Angel, mengambil alih untuk menggoreng ikan. "Kau menyingkirlah, minyak ini panas akan bahaya jika mengenai kulitmu." Ia memasukkan ikan yang tadi dimarinasi ke wajan yang sudah panas, lalu menutupnya. "Kalau kita jarang bertemu, bagaimana kau akan jatuh cinta padaku?"

"Sebenarnya tidak masalah jika dalam seminggu kita bisa bertemu dua atau tiga kali, pak. Tapi akhir-akhir ini aku akan sibuk, aku sungguh tidak memiliki waktu untuk melayani bapak." Mengambil talenan, Angel memotong tipis bawang merah, bawang putih, dan cabai merah.

"Siapa yang memintamu untuk melayaniku, Angel? Tentu saja aku yang akan melayanimu."

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!