NovelToon NovelToon
Benih Rahasia Mafia

Benih Rahasia Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Single Mom / Anak Genius
Popularitas:25.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

Tujuh tahun lalu, malam penyerangan musuh menghancurkan segalanya.

Venus terpaksa pergi membawa rahasia kehamilan yang belum sempat diungkapkan pada suaminya—Dante.

Kini, Venus harus bertahan hidup bersama Sean, putra mereka yang memiliki tatapan sedingin es milik ayahnya.

Saat takdir mempertemukan mereka kembali, dunia Venus seketika runtuh. Dante telah menikah lagi dengan wanita yang menyelamatkan nyawanya.

Meski Dante tak pernah mencintai istri barunya dan terus mencari Venus, Venus memilih bungkam. Venus tak ingin menghancurkan rumah tangga pria itu.

Namun, saat mata Dante tertuju pada sosok Sean, rahasia tujuh tahun itu terancam

Akankah Dante berhasil menemukan Venus dan mengenali Sean sebagai putranya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. Ciuman Kerinduan

Aula megah itu dipenuhi oleh aroma parfum mahal, denting gelas sampanye, dan alunan musik klasik yang mendayu.

Di bawah cahaya lampu kristal yang berpendar, ratusan orang mengenakan topeng mewah, menyembunyikan wajah di balik bulu-bulu, emas, dan permata.

Namun bagi Venus, tempat ini tidak lebih dari sarang ular yang menyesakkan.

"Fokus, Kak. Targetmu ada di sayap kiri, si pejabat tua itu sedang bersama simpanannya," bisik Leo melalui perangkat pendengar kecil di telinga Venus.

Venus membenarkan posisi topeng kulitnya yang tertutup lagi oleh topeng pesta berwarna hitam legam. Gaun hitamnya membalut tubuhnya dengan sempurna, memberikan kesan misterius sekaligus elegan.

"Aku tahu. Tapi ada gangguan besar di sini. Dante dan Bianca. Kau urus Bianca, Leo. Jangan biarkan dia mendekat."

"Sesuai perintah, Bos," sahut Leo santai.

Venus melangkah menuju kerumunan, namun baru beberapa langkah, sebuah tangan kokoh mencekal pergelangan tangannya. Sentuhan itu begitu hangat, akrab, dan mengirimkan sengatan listrik yang sudah sangat ia kenali.

Venus pun membeku di tempat.

"Berdansalah denganku," bisik sebuah suara bariton yang berat tepat di telinganya.

Tanpa menunggu jawaban, Dante menarik Venus ke tengah lantai dansa. Tangan pria itu berpindah ke pinggang Venus, menariknya begitu rapat hingga tak ada jarak di antara mereka.

Musik berganti menjadi waltz yang lambat dan intim.

"Tuan Dante, lepaskan saya. Saya sedang menjalankan tugas," desis Venus, matanya menatap tajam dari balik lubang topeng.

Dante justru mempererat dekapannya. Matanya yang gelap menatap Venus dengan intensitas yang seolah sanggup melelehkan gunung es.

"Tugasmu malam ini adalah bersamaku. Tidakkah kau merasakannya, Venus? Bagaimana jantungmu berontak ingin keluar saat aku menyentuhmu seperti ini?" lirihnya tepat di telinga Venus.

"Anda salah orang, Tuan. Nama saya Ve," balas Venus dingin, meski napasnya mulai tidak beraturan.

Dante terkekeh. "Kau bisa mengganti namamu seribu kali, kau bisa menutupi wajahmu dengan topeng monster itu seumur hidup, tapi kau tidak bisa menyembunyikan jiwa yang sangat kucintai. Wangi parfum lili putih ini, hanya kau yang memakainya dengan cara yang begitu memabukkan."

Dante memutar tubuh Venus, mengikuti irama musik, lalu menariknya kembali ke dalam pelukannya dengan posesif.

"Katakan padaku, apa kau juga merindukanku? Apa kau merindukan caraku memanggil namamu di tengah malam?"

Venus memalingkan wajah, mencoba menghindari tatapan Dante yang menghujam.

"Berhenti merayu, Dante. Kau punya istri yang sedang mengawasimu dari sudut sana. Bianca tidak akan senang melihat suaminya berdansa dengan monster sepertiku."

"Biarkan dia melihatnya," sahut Dante tanpa ragu. Ia menundukkan wajahnya, bibirnya hampir menyentuh telinga Venus. "Aku akan segera menceraikannya. Aku tidak peduli dengan hartanya, aku tidak peduli dengan ancaman keluarganya. Aku hanya ingin pulang, Venus. Dan rumahku adalah kau."

Venus merasa pertahanannya mulai retak. Kerinduan yang ia pendam selama tujuh tahun membanjir keluar.

"Kau tidak mengerti, Dante. Semuanya sudah hancur. Aku tidak sama lagi dengan Venus yang kau kenal dulu."

"Bagiku, kau tetap bintang paling terang," bisik Dante lembut. Ia mengangkat tangan Venus, mengecup telapak tangannya dengan sangat lama. "Aku tidak peduli dengan wajah palsumu. Aku mencintai wanita yang berjuang menyelamatkan putraku dari api. Aku mencintai wanita yang tetap berdiri tegar meski dunia mencoba menghancurkannya. Beri aku kesempatan untuk menyembuhkan luka itu, Sayang."

Sementara itu, di sudut balkon, Bianca berdiri dengan tangan mengepal hingga kukunya memutih. Matanya menyalang penuh kebencian menatap Dante yang sedang berdansa mesra dengan wanita bertopeng itu.

"Sialan! Beraninya dia berdansa dengan suamiku!" Bianca hendak melangkah maju untuk membuat keributan, namun sebuah sosok tinggi menghalangi jalannya.

"Mau ke mana, Nyonya yang cantik?" Leo berdiri di hadapan Bianca, memegang dua gelas sampanye dengan senyum miring di balik topengnya.

"Minggir, kau pesuruh jelek!" bentak Bianca. "Bisa-bisanya mau ada di sini!"

Leo tidak bergeming. Ia justru menawarkan satu gelas pada Bianca. "Kenapa terburu-buru? Lihatlah mereka. Bukankah mereka terlihat seperti pasangan yang serasi? Suamimu nampak jauh lebih bahagia malam ini daripada saat bersamamu selama tujuh tahun terakhir."

Wajah Bianca merah padam. "Tutup mulutmu! Kau tidak tahu apa-apa soal rumah tanggaku!"

Leo mendekat, memojokkan Bianca ke pagar balkon. "Aku tahu segalanya, Bianca. Aku tahu kau haus perhatian. Aku tahu kau merasa kesepian meski berada di tengah pesta semewah ini. Kenapa kau harus mengejar pria yang tidak menginginkanmu, jika ada pria lain yang bisa memberimu... sensasi yang berbeda?"

Bianca tersentak, ia menatap Leo dengan bingung sekaligus muak.

"Apa maksudmu? Kau merayuku? Pria menjijikkan sepertimu ingin merayuku?"

Leo terkekeh rendah, suara yang entah kenapa membuat bulu kuduk Bianca meremang. "Aku mungkin monster di matamu, tapi monster tahu cara memuaskan ego seorang ratu yang sedang terluka. Minumlah, Nyonya Carson. Mari kita biarkan mereka berdansa, dan kau... biarkan aku menghiburmu malam ini."

Bianca menelan ludah. Ia benci Leo, ia benci wajahnya, tapi ada sesuatu dari aura dominan pria itu yang membuatnya merasa terintimidasi sekaligus penasaran.

Ia menyambar gelas sampanye dari tangan Leo dan meminumnya sekaligus.

"Bagus, habiskan lah Bianca. Setelah ini aku akan membawamu menjauh dari kak Venus agar tak menganggu pekerjaannya," batin Leo.

Kembali ke lantai dansa. Musik mulai berakhir. Dante membawa Venus menuju balkon yang lebih sepi, jauh dari kerumunan.

"Kembalilah padaku, Venus," ucap Dante lirih. "Aku akan membuatkan istana baru untukmu dan Sean. Istana yang fondasinya dibangun dari kejujuran, bukan abu kebohongan."

Venus menatap langit malam, air mata menggenang di balik topengnya.

"Sean membencimu, Dante. Dia adalah segalanya bagiku. Jika dia tidak bisa menerimamu, maka aku pun tidak bisa."

Dante merengkuh pinggang Venus dan menariknya masuk ke dalam pelukan yang sangat hangat.

"Aku akan memenangkan hatinya. Aku akan menjadi ayah yang pantas untuknya. Beri aku waktu, dan aku akan membuktikan bahwa cintaku tidak pernah padam, bahkan oleh api paling panas sekalipun."

Dante perlahan meraih dagu Venus. Tatapannya mengunci netra Venus, seolah menyihir seluruh dunia untuk berhenti berputar.

Nafas mereka beradu, hangat dan memabukkan.

Venus terpaku, seluruh pertahanannya luruh begitu saja. Ia tak mampu lagi menolak saat Dante mendekatkan wajah, menghapus jarak hingga bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman yang sarat akan kerinduan tujuh tahun yang menyiksa.

"Mph... Dante..." desah Venus.

"Tidak sia-sia aku merencanakan pesta ini, bukan?" gumamnya di sela ciuman mereka.

Venus membelalak mendengar ucapan Dante.

Jadi, pria ini sengaja mengadakan pesta untuk menjebaknya?

1
Tiara Bella
pedes bngt loh Dante kata² anakmu...
Nice1808
bacanya sambil mewek lihat sean yg menangis dlm pelukan dante😭.Ayolah sean terima dan maafkan papamu agar bianca gk ambil papamu lagi🤣
Senja: kyak Teletubbies😆
total 3 replies
Arbaati
othooor...tanggung jawab...aku mewek ini
Senja: peluk jauh kak😚
total 1 replies
Sri Rahayu
ayolah Sean maafkan papa mu...karena semuanya itu bukan keinginan Dante...lanjut Thorr😘😘😘😘😘
Senja: Siapp
total 1 replies
tinie
akhirnya mulai luluh tembok dingin itu😭😭😭
Senja: huuhuhum
total 1 replies
Sri Rahayu
baru tau kamu Dante....anak mu Sean sangat cerdas, mulutnya pedas dan pemberani...lanjut Thorr😘😘😘
tinie
/Facepalm//Facepalm//Facepalm/🤣rasakan kau dantee
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
tidak bergeming = tidak diam?
Senja: Beda2 ya kak, 🤣🤭
total 4 replies
tia
nikmati benih u dante 😁😁
🇧🇬
😆😆😆
D
infooo si Venus makan apa sih waktu hamil??
sampe punya anak seJenius Sean??
Eh tapi kayaknya Anak seJenius Sean cuma ada di Novel deh 🫪
D
tau tuh si Dante, loe mau anak istri loe kembali,
tapi loe masih punya istri lain???
Huweeeeekkkkkkk, Venus gak akan sudiii Oiiiiii 😠
D
Udah didalem kamar pun masih nyaut 🥸
Tiara Bella
papahmu itu Sean....
D
bener kata Sean Ve,,,,, Suami mafia mu itu,, Oneng nya tuh Ngoneng bangettt /Scream//Scream/
D
Wkwkwkkwkwkwk
Boleh juga idenya si Leo 🤪🤣🤣
lovely_day
ayo Sean.. makan with papa🤗
D
Ttttaaapiiiii ucapan Sean bener loh 😳
D
Sayangnya suami mamamu itu adalah papamu Sean 👀👀
gimana donk??
D
Tapi elooo juga punya istri baru dante,
kata² cinta loe 7 tahun lalu itu Beneran pretttttttt pada waktunya 🙎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!