Seorang gadis terbangun di tengah rimbunnya hutan benua Vlagria tanpa ingatan bagaimana ia bisa sampai disana. Ini adalah dunia Celestia Online, sebuah MMORPG megah yang menjanjikan petualangan tanpa batas. Namun, bagi Alice, petualangan itu berubah menjadi teka-teki mematikan. Bisakah Alice pulang ke dunia nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alicea0v, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 1-Ibu
Krieeek...!
Pintu jati raksasa kediaman Duke Franscov berderit pelan saat terbuka, menyingkap sosok sang Duke yang berdiri tegap di ambang pintu. Di sampingnya, Leon, ksatria kepercayaannya, mematung dengan tatapan waspada. Pemandangan di hadapan mereka sungguh mencekam: halaman yang semula asri kini menyerupai ladang pembantaian dengan tubuh-tubuh prajurit berzirah perak bergelimpangan tak berdaya di atas marmer.
Mata Franscov menyempit, kilatan amarah dan keterkejutan berkecamuk di sana.
"Apa yang kau lakukan?" suaranya rendah, tertahan oleh keterpanaan yang membekukan lidahnya.
Guinevere, yang sebelumnya mendongak ke langit seolah menghirup sisa-sisa euforia dari darah yang tumpah, perlahan menurunkan wajahnya. Ia menatap Franscov dengan mata yang kembali dingin dan tajam, kontras dengan rona merah yang masih tersisa di pipinya.
"Duke, Tuan Lusputh memanggilmu," ucapnya datar, tanpa nada penyesalan sedikit pun.
"Pak tua itu? Apa urusan dia denganku?" Franscov mendesis, mencoba mencerna situasi di tengah kekacauan ini.
"Tuan, biarkan saya yang mengusir wanita ini dari sini." Leon maju satu langkah dengan gerakan taktis. Tangannya sudah menggenggam hulu pedang, sementara tamengnya siap diangkat untuk meredam serangan mendadak.
Namun, sebuah tangan kuat dari Franscov menahan bahu Leon.
"Tunggu, kita tidak bisa membuat keributan lebih banyak lagi. Warga sedang memperhatikan," bisik Franscov pelan. Matanya melirik ke arah gerbang besi, di mana kerumunan warga mulai berkumpul, menatap ngeri ke arah tumpukan mayat sambil berbisik-bisik penuh kecurigaan.
"Duke, aku mengerti kekhawatiranmu. Tapi wanita ini punya kapasitas stamina yang setara denganku. Aku yakin bisa segera menumbangkannya jika Anda memberi perintah," Leon berbisik balik dengan nada peringatan.
Di dunia ini, kekuatan ksatria diukur melalui tingkatan 1 hingga 8, setara dengan hierarki penyihir. Bedanya, jika penyihir mengandalkan aliran mana, para ksatria menggunakan stamina mereka untuk mengeluarkan skill.
"Dia adalah ksatria tingkat 6, sama denganku," tambah Leon, matanya tak lepas dari sosok Guinevere yang masih tampak tenang.
"Cepatlah ikut aku. Atau status sosialmu akan segera diumumkan sebagai penganut aliran sesat oleh Tuan Lusputh setelah ini, Duke," ucap Guinevere sembari membalikkan badan dengan gerakan yang sangat elegan. Ia melangkah ringan, melintasi jasad-jasad yang ia habisi seolah mereka hanyalah kerikil di jalan setapak, menuju gerbang kediaman.
"Tua bangka sialan..!!" Duke Franscov menggeretakkan gigi. Rahangnya mengeras menahan amarah yang hampir meledak, namun ia tahu posisi politiknya sedang di ujung tanduk.
"Duke?" Leon menatap tuannya dengan cemas.
"Ikut aku, kita temui tua bangka itu. Jangan katakan apa pun, Leon. Tetaplah diam," perintah Franscov dengan suara ditekan. Ia melangkah mengikuti Guinevere, sementara Leon mengekor di belakangnya dengan sikap sigap dan punggung yang tegap.
"Baik!!"
Rombongan kecil itu berjalan melewati gerbang, menuju katedral megah yang menara-menaranya menjulang mencakar langit ibu kota. Di sepanjang jalan, bisik-bisik warga Eltra Celestia yang fanatik terhadap Dewa lama mereka pun mulai terdengar seperti dengungan lebah.
"Bukankah itu ksatria suci gereja?"
"Kenapa ksatria suci menggiring sang Duke?"
"Apa ada sesuatu yang salah?"
Kecurigaan mulai merayap di benak penduduk. Ketegangan antara otoritas Duke dan kesucian Gereja mulai terasa di udara.
Sementara itu, jauh dari hiruk-pikuk ibu kota, di perbatasan Kerajaan Eltra Celestia yang sunyi...
Sepuluh prajurit patroli berkuda berhenti di sebuah persimpangan jalan setapak yang membelah jalur menuju Desa Tura dan Desa Vhalha. Kapten Fredrick, sang pemimpin rombongan, menghentikan kudanya saat melihat kepulan asap yang membubung tinggi di cakrawala, jauh di arah Desa Vhalha.
"Kapten Fredrick, apa itu?" tanya seorang prajurit sambil menunjuk ke arah asap.
Fredrick memicingkan mata, mempertajam indra penglihatannya. Namun, bukannya pasukan musuh, yang ia lihat justru sekumpulan warga sipil yang memacu kuda mereka seperti orang kesurupan.
"WOOOOOH...!!!"
"AKU YANG DULUAN!"
"TUNGGU, KITA HARUS KOMPAK!"
"AKU MAU MEMASTIKAN DEWI INI BENAR ATAU TIDAK!"
Wuuush....!!!
Angin kencang menerpa wajah Fredrick dan pasukannya saat rombongan warga itu melesat lewat begitu saja, mengabaikan kehadiran para prajurit patroli.
"Dewi Alice..!!!"
"Dewiii... Dia milikku!!"
Teriakan histeris warga Desa Vhalha yang sedang menuju Tura itu kian menjauh, meninggalkan keheningan yang canggung bagi Kapten Fredrick dan pasukannya.
"Dewi? Apa maksud semua ini?" Fredrick menatap tanah dengan kening berkerut, lalu menoleh ke arah anak buahnya.
"Apa kalian tahu tentang ini?"
Seluruh pasukannya menggeleng serentak.
"Tidak, Kapten. Tidak ada kabar tentang dewi bernama Alice. Hanya Dewa Athos yang selama ini kita puja," jawab seorang prajurit dengan tegas.
"Mereka... Mereka sudah sesat. Kita harus menghentikan kegilaan ini!" Fredrick mengepalkan tangan, amarah mulai menyulut dadanya.
Tak lama kemudian, dari arah yang sama, muncul sebuah kereta dagang yang bergerak sangat lambat, sangat kontras dengan hiruk-pikuk warga berkuda sebelumnya. Kereta itu berhenti tepat di persimpangan.
"Fredrick!!! Apa kabarmu?" seru seorang ksatria dari atas kereta. Arthur, yang semula tampak kelelahan, seketika menunjukkan wajah cerah saat mengenali sosok di depannya.
"Kapten? Itu benar-benar kau? Kemana saja kau selama ini? Dan... kenapa kau berada di atas kereta dagang?" tanya Fredrick dengan nada hormat yang bercampur kebingungan besar.
"Itu... Begini.." Arthur menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tampak canggung dengan situasinya sekarang.
"Owh, kenalan Arthur?" tanya Xena dengan mata yang berbinar-binar penuh bintang, membuat Fredrick tertegun sejenak melihat kecantikan yang polos namun ganjil itu.
"Ah.. Ya, Nona. Maaf, Nona ini siapa?" Fredrick bertanya balik.
"Dia.." Belum sempat Arthur menjelaskan, Xena sudah memotong dengan nada bangga.
"Aku teman Dewi Alice, hummp... Dan juga pelindung Dewi, sama seperti Arthur!" ucap Xena sembari berkacak pinggang, memberikan senyum menggemaskan yang terlihat sangat yakin.
"Pe... Pelindung Dewi? Tuan Arthur juga?" Fredrick ternganga, dunianya seolah jungkir balik mendengarnya.
"Tentu saja!! Kalian juga harus tunduk pada Dewi! Dia menyembuhkan semua penyakit! Bahkan di surga, dia adalah ibu dari Dewa Athos!" Xena berucap dengan lantang dan wajah tanpa dosa.
Brakk..!!
Seketika Fredrick dan beberapa prajuritnya nyaris terjatuh dari kuda mereka. Pernyataan Xena benar-benar menghantam logika mereka.
"I... Ibu Dewa Athos?" Fredrick terbata-bata. Di belakangnya, para prajurit mulai saling berbisik dengan riuh.
"Dewa Athos punya ibu?"
"Aku tidak pernah mendengar ini di katedral."
"Jika itu benar, kita harus segera bersujud!"
"Pantas saja Kapten Arthur tidak kembali ke Silph..."
Suasana menjadi sangat canggung. Arthur berkeringat dingin melihat reaksi mantan anak buahnya. Ia turun dari kereta dan mendekati Fredrick.
"Umm.. Fredrick..." Arthur mencoba menjaga wibawanya, "Ini sangat sulit dijelaskan dengan kata-kata."
"Kapten! Kenapa kau meninggalkanku dan menjaga Dewi itu sendirian? Kami ini prajuritmu yang paling setia!!! Apa kami tidak pantas melayani sang Dewi?!" Fredrick tiba-tiba berlutut di tanah, menatap Arthur dengan mata yang berkaca-kaca karena merasa "tertinggal" dalam pengabdian suci.
"Itu.. " Arthur kehilangan kata-kata.
"Bawa saja mereka ke Tura, Arthur. Kau terlalu lama berpikir," sela Albertio dari atas kereta dengan nada malas.
"Diam kau, pengguna katana bodoh!!" balas Arthur kesal.
"Begini saja, tuan-tuan," Xena mengambil alih pembicaraan dengan wajah serius yang dibuat-buat.
"Kami sedang membangun kuil untuk Dewi Alice di Desa Tura dan membutuhkan dana segera. Bagaimana jika kalian memberi kami sedikit uang untuk pembangunan, dan... sedikit anggur? Ehehe.. Ehehehe.." Wajah Xena mulai berubah aneh, setitik air liur tampak di sudut bibirnya saat membayangkan anggur.
Fredrick terdiam, otaknya bekerja keras. Jika Kapten Arthur saja sudah mengabdi, maka ia tidak boleh kalah dalam hal kesetiaan.
"Ba.. Baik.. Jika Kapten Arthur sudah berbakti pada Dewi, maka kami juga akan melakukannya! Prajurit!!" Teriak Fredrick. Seketika seluruh prajuritnya bersikap tegap, merogoh tas mereka, dan menyerahkan koin serta botol anggur kepada Xena dengan penuh khidmat.
"Nah, ini dia... Kalian akan kupastikan mendapat berkah pertama dari Dewi tanpa perlu mengantri!" seru Xena riang sembari meraup harta karun tersebut.
"Woooooohhh.... Kita ke Tura sekarang! Persetan dengan patroli Vhalha!" teriak salah satu prajurit histeris, disambut sorakan setuju dari yang lain.
Arthur hanya bisa menatap mereka dengan pandangan lesu, sementara Albertio tetap bersandar tenang, seolah sudah memprediksi kekacauan ini. Arthur dan Xena kembali menaiki kereta saat rombongan prajurit itu bersiap mengawal.
"Fredrick, sebagai bawahan kepercayaanku, aku mengizinkanmu bertemu Dewi Alice. Tapi ingat..." Arthur memberi peringatan dengan nada berat.
"Jangan menyebarkan berita ini di kota sebelum kuperintahkan."
"Kenapa, Arthur? Dewi telah membawa kehidupan pada dunia! Semua orang pantas tahu!" bantah Xena dengan wajah cemberut tapi tetap imut.
"Diamlah, Xena. Duduk yang tenang," potong Albertio, sembari bersedekap. dia adalah pengguna katana Tingkat 5. kekuatannya setingkat dengan Arthur.
"Apaan sih! Kalian tidak dengar perintah Dewi semalam? Dia bilang kita harus memberi tahu semua orang bahwa dia adalah ibunda Dewa Athos!" Xena membalas dengan nada jengkel.
"Kapten, jika benar beliau adalah ibunda Dewa Athos, maka seluruh penduduk wajib mengetahuinya," sahut Fredrick dengan nada penuh rasa hormat.
"Tidak!!" Arthur menegaskan,
"Percayalah padaku, Fredrick. Dewi punya alasan tersendiri kenapa ia belum ingin menginjakkan kaki di kota."
Fredrick tertegun, otaknya mulai berspekulasi liar.
"Alasan... Apa karena dunia ini terlalu penuh dosa sehingga Dewi enggan menginjakkan kakinya di Silph?" gumamnya penuh keyakinan sendiri, tubuhnya bergetar hebat membayangkan Dewi yang marah karena dunia ini telah menjadi tumpukan sampah.
"Arthur!! Kita harus memberitahu semua orang!" Xena masih mencoba protes.
"Xena, aku akan mencarikan jantung beruang yang kau cari begitu kita sampai di Tura, jadi tolong... diamlah," ucap Arthur, mencoba menyuap gadis itu.
Xena terdiam sejenak, sebelum sebuah senyum aneh yang lebar merekah di wajahnya.
"Aa.. Aah benar!! Kita harus merahasiakannya sementara! Ayo pulang ke Desa Tura!"
Arthur menghela napas lega, kereta mulai bergerak kembali.
Pasukan Fredrick mengikuti dari belakang kendaraan Arthur.
"Kapten Fredrick, apa kita benar-benar akan meninggalkan tugas patroli demi ke Desa Tura?" bisik seorang prajurit ragu.
"Kita lihat seberapa benar keajaiban ini, baru kita putuskan langkah selanjutnya," bisik Fredrick mantap.
"Tapi melihat kapten Arthur, aku sangat yakin bahwa Dewi ini benar adanya. Kapten adalah orang yang menjunjung kehormatan di atas segalanya, ia tidak mungkin berbohong." Tambah Fredrick sembari memacu kudanya.
Perlahan, rombongan yang terdiri dari pedagang, ksatria elit, dan pasukan patroli itu bergerak menuju Desa Tura.
Sebuah desa kecil yang tanpa disadari penduduknya, tengah menjadi pusat gravitasi dunia yang baru, di mana seorang gadis bernama Alice mungkin sedang sibuk mengaduk masakan tanpa tahu porsinya harus ditambah untuk ratusan orang lagi.
cape😅