NovelToon NovelToon
CEO Itu Ayahku

CEO Itu Ayahku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Single Mom
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: T Moel

Perjuangan seorang anak yang lahir dari sebuah kesalahan, Prayoga berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan ibunya, Rania yang berjuang seorang diri untuk membuat putranya di akui oleh dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T Moel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pesan si kembar

Leon seolah tidak percaya dengan perkataan Ryan. "jangan bercanda kamu, bukannya anak buah kamu paling bisa fi andalkan dalam hal peretasan CCTV, apalagi lalu lintas mungkin sangat mudah untuk di lakukan. "

"iya tuan, hal itu memang sangat mudah di lakukan, namun ada seseorang yang sudah menghapus rekaman CCTV lalu lintas dan yang di hapus hanya bagian taksi yang kembar naiki, baik yang datang maupun yang pulang, sehingga tidak dapat terdeteksi. "

Leon mengusap dahinya, rasa pusing tiba tiba saja menderanya, Apa mungkin kembar yang sudah melakukan hal itu agar tidak dapat di ikuti. Bathin Leon.

"iya tuan, begitu juga dengan hacket yang bakal membobol database kita, terlihat jejak digital dari hacker tersebut dan juga jejak digital milik hacker yang memakai id anak kembar papah. " jelas Ryan panjang lebar.

"Itu bisa sebagian bukti kalau putra kembar anda sangat pintar dalam bidang IT, jangan sampai orang lain tahu tentang kembar karena pasti akan di manfaat kan oleh orang yang b tidak bertanggung jawab. "

"Ya semoga saja, karena saya tidak dapat melindungi kembar karena tidak tahu di mana mereka tinggal. " ucapan Leon.

Dalam hati Leon berdoa semoga di manapun kedua anaknya berada selalu dalam lindungan Tuhan, karena dirinya tidak dapat melindungi kembar.

"Bagian IT perusahaan blitar bagaimana apa dia sudah bisa menemukan jejak digital kembar? "

'Belum tuan, tapi IT kita dan anak buah saya sedang berusaha unyuk mencari tahu identitas tersebut. "

"Saya harap secepatnya dapat identitas mereka, agar saya dapat menemuinya juga dapat melindungi mereka. "

"Ya tuan. Saya permisi dulu kembali ke ruangan saya. "

Hanya anggukan saja, Ryan kembali ke rumahnya ruangannya, sementara Leon masih memikirkan bagaimana caranya agar dapat menemukan kembar.

 "Apakah papah sudah tahu tentang kembar, biasanya papah selangkah lebih maju dari ku. " ujar Leon.

Di rumah, Rania sedang bersiap untuk berangkat ke tempat kerjanya, hari ini ada meeting kerja sama dengan perusahaan baru yang akan memakai jasanya restoran dan toko rotinya untuk kantin perusahaan mereka.

"Anak anak, mamah berangkat kerja dulu ya, mamah tidak ingin kejadian seperti beberapa hari yang kemarin." Rania berpesan pada dua anaknya.

"Iya mamah... " jawab mereka serempak.

"Ingat jangan meminta suster untuk membawa kalian keluar lagi. "

"Tapi mamah, Idan cama ila bocan di lu mah telus. " Zidan yang menjawab.

"Idan sama ila bosan di rumah? "

"Iya mamah. "

"Nanti mamah akan luangkan waktu satu hari untuk bermain bersama kalian. " Rania menghibur.

"Mamah janji? "

"Iya mamah janji. "

"Mamah, nenek cama akek beyum ke lumah Idan yagi. "

"Mereka masih di China sayang. Mau telpon sama mereka? "

"Iya... Hole hole telpon akek nenek. " Kembar kegirangan.

Rania mengbil ponselnya di dalam tas kemudian men scroll nama papah nya, kemudian melakukan video call.

"Halo akek... "

"Halo sayang, lagi apa, sudah sarapan belum?"

"Lagi telpon akek. "

"Ila sama Idan udah carapan, akek kapan pulang te lumah? "

"Nanti ya, setelah semua urusan kakek selesai, kakek sama nenek pulang. Mau di bawain oleh oleh apa? "

"Ila mai tas balu, cama topi plincess. "

"Idan mau beli kmputel balu. "

"Bukannya sudah ada laptop? ".

" Ada akek, tapi Idan mau yang balu, lebih canggih. "

"Iya nanti kakek bawakan. "

"Hole hole ada tas balu."

"Nenek mana akek? " tnya Naila.

"Nenek ada di apartemen, sekarang kakek ada di kantor. "

"Ohhhh... "

"Kok cuma ohhh? " tanya tuan Aditama sambil tertawa pelan.

"Telus halus gimana? " tanya Naila.

"Ya ga gimana gimana. "

"Akek, telpon na udah ya, mamah biyang udah telpona."

"Ya udah sayang, sampai nanti ya. "

Telpon pun di putuskan oleh kembar, kemudian memberikan kembali ponselnya ke Rania yang sedari tadi memberikan kode agar kembar sudahi telponnya karena takut mengganggu tuan Aditama, yang pasti sangat sibuk dengan klien nya.

"Sudah telpon sama kakek? "

"Cudah." Naila yang jawab.

"Seru..? " tanya Rania lagi

"Celu cekali mamah. "

"Kapan kakek pulang, bawa oleh oleh ga nanti kalau kakek pulang, Naila minta apa? "

"Ndak tahu, tapi ila minta tas balu. "

"Kok tas lagi, koleksi tas punya ila kan sudah banyak. "

"Ndak apa mamah, nenek bilang ila nanti akan cepelti wanita cocialita, jadi istrinya CEO. "

"Siapa yang bilang seperti itu? "

"Nenek Elina. "

Rania hanya bisa mengusap dada melihat kelakuan putri nya yang sudah sangat mirip dengan neneknya, dari cara bicara dan juga dari cara bergaya seperti sosialita.

"Sekarang mamah berangkat dulu ya, janji ya kalian tidak akan kemana mana? "

"Ote mamah. " jawab keduanya.

"Bu Ran pergi dulu, hari ini ga ada pengajian kah? " tanya Rania pada bu Arini.

"Kebetulan hari ini ibu ada di rumah jadi kamu tidak usah khawatir dengan kembar. "

"Makasih ya bu, Ran berangkat dulu sudah siang. " Rania mencium punggung tangan ibunya serta mencium kedua anaknya.

Rania masuk ke dalam mobil di ikuti kembar sampai depan pintu, mereka melihat mobil mamahnya sampai tidak terlihat di belokan keluar gerbang.

"Ayo anak anak masuk, kita ke atas."

"Idan mau macuk kamal aja. Mau bobo lagi. " Zidan beralasan.

"Loh kok tidur lagi, Idan sakit? " bu Arini mengusap dahi Zidan.

"Idan cehat nenek. " bantah Zidan.

"Bobobya mau di temani nenek ga? "

"Ndak, Idan mau cendili. " Zidan berlari ke kamarnya.

"ila mau ikut nenek atau mau ikut Idan? "

"Itut nenek. "

"Ayo"

Naila dan bu Arini masuk kedalam kamar nya, di sana bu Arini mengajari Naila mengaji. Jika bu Arini tidak sedang ada pengajian, Naila dan Zidan selalu mengaji dengan neneknya. Karena jika dengan nyonya Erlina, Nala pasti akan di ajarkan bagaimana menjadi seorang wanita karier dan juga menjadi wanita sosialita, karena menurut nya Naila harus menjadi istri seorang CEO, seperti kakek dan ayahnya.

Di dalam kamar nya, Zidan sedang mengutak atik laptopnya, Zidan sedang mengikuti sebuah kompetisi memecahkan sandi yang cukup rumit, di sponsori oleh sebuah perusahaan besar yang bermarkas di Eropa, dengan hadiah utama 1 miliyar rupiah (ceritanya jika di rupiah kan ya....)

Zidan sangat serius mengikuti kompetisi tersebut, banyak yang menjadi peserta nya dari berbagai negara di dunia, dari sekian banyak yang sudah tumbang tinggal beberapa orang lagi yang masih bertahan, di antara nya adalah Zidan.

Berbekal ilmu yang di dapat dari gurunya, serta pengalaman dari beberapa kali sebagai hacker, akhir nya Zidan memenagkan kompetisi tersebut. Zidan berhak mendapatkan uang sejumlah 1miliyar.

Dengan keahliannya di bidang IT, Zidan membuat rekening sendiri. Kini Zidan memiliki uang yang sangat banyak. Tanpa di ketahui mamahnya dan juga yang lainnya.

"Acik, uang Idan cekalang cudah banak. " Ucapnya pada diri sendiri.

"Idan kamal nenek Alini ah. "

Setelah membereskan peralatannya, Zidan berlari masuk ke dalam kamar neneknya yang masih mengajari Naila ngaji.

"Loh Idan, katanya mau bobo? "

"Idan cendili ga ada temana."

"Bisa di temani suster. "

"Ndak mau, Idan dicini aja cama nenek Alini. "

Zidan naik ke atas tempat tidur neneknya, bukan ikut mengaji bersama Naila, tidak lama kemudian Zidan tidur. Suara dengkuran halus terdengar. Bu Arini hanya tersenyum melihat Zidan yang tidur nyaman.

Mungkin Zidan merasa lelah karena tadi sudah menguras otaknya untuk berkompetisi, hingga akhirnya kelelahan dan tertidur dengan nyenyak.

Di kantor Leon sedang uring uringan karena niatnya ingin bertanya pada papahnya berkaitan dengan kembar. Namun sudah berkali kali Leon menelpon papahnya tidak ada jawaban juga. Begitu juga dengan mamahnya, mereka seperti ditelan bumi.

Semenjak mereka berangkat ke China, tidak ada kabar berita dari keduanya, seolah ingin menghilangkan diri. Leon mengirim banyak pesan namun tidak ada satupun yang di bca ataupun di balas oleh mereka.

"Papah sama mamah ke mana sih, di telpon ga di jawab terus. "

"Mungkin tuan Aditama dan nyonya sedang sibuk, sehingga tidak menjawab telpon anda tuan. " ujar Ryan.

"Sibuk dari mana, urusan papah sudah selesai dua hari yang lalu, mamah juga tidak pergi ke mana mana hanya diam saja di apartemen, jadi sudah pasti mereka sekarang sedang santai. " Jawab Leon dengan nada kesal.

Ryan tidak bisa berkata apa apa lagi karena melihat bosnya seperti kebakaran jenggot gara gara tidak ada telpon dari kedua orang tuanya.

Drrrt drttt ddrttt

Suara getar telpon berbunyi, dengan segera Leon mengambil ponselnya yang di letakkan di atas meja kerja nya. Tanpa melihat siapa yang menelpon.

"Halo pah. "

"Aku bukan papah kamu, aku Stela. "

"Hah Stela? " Leon melihat nama yang tertera di layar ponselnya.

"Iya aku. "

"Mau apa kamu telpon, kurasa kita sudah tidak ada urusan lagi. "

"Leon aku mohon tolong aku untuk sekali ini saja. "

"Tidak, aku tidak ingin ada urusan dengan kamu. " Leon menutup telpon nya sepihak.

"Kenapa wanita ular itu selalu saja membuatku jengkel. "

"Ryan, coba kamu telpon papah pakai ponsel kamu, mungkin saja papah menjawab nya." Perintah Leon.

"Baik tuan sebentar. " Ryan mengeluarkan ponselnya dari saku celananya.

Beberapa saat kemudian telpon Ryan untuk tuan Aditama di jawab. "Halo Ryan ada apa menelepon ku, pasti kamu di suruh anak itu. "

Belum juga Ryan menjawab perkataan Ruan Aditama, Leon sudah menyambar ponselnya.

"Halo pah, kenapa telpon Leon tidak papah jawab, sedangkan Ryan yang telpon langsung papah jawab.? "

"Untuk apa juga papah angkat telpon dari kamu, tidak ada kerjaan saja. "

"Apa papah bilang tidak ada kerjaan? "

"Iya tidak ada kerjaan, memangnya kamu lagi santai, berkas yang ada di meja sudah selesai kamu kerjakan? "

"Tapi pah.... "

"Tidak usah menjawab, papah mu ini pasti akan pulang ke rumah. Jadi nanti saja setelah kami pulang baru kita bicara. "

"Kok papah tahu kalau Leon mau bicara.? "

"Dasar anak bodoh, makanya kamu telpon sudah pasti ada hal yang ingin kamu biacarakan? "

"Iya, pah. Leon anak papah kenapa Leon di sebut anak bodoh.? "

"Sudah tidak usah banyak tanya, papah malas bicara sama kamu, tunggu saja kami pulang. Jangan telpon papah lagi, berisik dengar ponsel papah berdering terus. "

Tut Tut Tut.

Telpon di matikan secara sepihak, Leon hanya bisa memandangi ponsel yang sudah gelap. Kemudain memberikan ponsel tersebut pada Ryan yang masih berdiri tidak jauh dari Leon.

Setelah memberikan ponsel pada Ryan, Leon kembali duduk di kursi kebesarannya. Melihat bosnya sudah serius kembali dengan pekerjaan nya, Ryan kembali ke ruangannya.

Setelah Ryan keluar ruangan, Leon menghentikan pekerjaan nya, menutup laptopnya, kemudian berdiri di depan kaca jendela yang sangat besar, memandang ke bawah, pemandangan yang selalu seperti itu, mobil mobil seperti mainan yang tidak ada hentinya terus bergerak.

"Kenapa papah tidak ingin aku mengganggu nya, apa mungkin papah sedang menghindar dari ku karena mengetahui sesuatu tentang anak anaku? " Leon bertanya pada diri sendiri.

"Jika papah mengetahui tentang mereka, apa papah akan jujur menjawab semua pertanyaan ku. Arrrrgggghhhh. "

"Kenapa teras sesak dada ini, di mana kalian berada nak, papah sangat merindukan kalian berdua. "

Leon duduk kembali di meja kerjanya, memandangi foto kedua buah hatinya yang berada di mejanya.

Leon memang sengaja mencetak foto kedua buah hatinya, agar dirinya merasa rindu dengan mereka tinggal memandang foto mereka.

Sedangkan yang di rindukan oleh Leon saat ini sedang bermain di halaman belakang bersama suster dan juga bu Arini. Jika ada bu Arini, Zidan dan Naila benar benar menjadi dua anak kecil yang sebenarnya, agar orang dewasa yang ada di rumah itu tidak curiga jika mereka sebenarnya anak anak yang pintar.

"Idan pelan pelan larinya, nanti kakinya sakit seperti kemarin kena batu. " Ujar bu Arini yang duduk di bawah pohon.

"Iya nek, Idan lalina pelan pelan. " Sahut Zidan.

"ila juga pelan pelan lalina. " Jawab Naila.

"Sudah istirahat dulu, itu lihat keringatnya sampai membasahi pakaian kalian. " ujar bu Arini memberikan tisu mengelap keringan yang di dahi kedua cucunya.

Zidan dan Naila duduk di sebelah neneknya yang sedang mengelap keringatnya. Kemudian minum susu yang sudah di sediakan.

"Nenek, Idan mau jalan jalan, nanti bilang cama mamah ya, Idan cama ila bosan di lu mah telus. "

"Iya sayang, nanti nenek bilang sama mamah kalian untuk jalan jalan ke luar, memangnya kalian mau main keman? " tanya bu Arini.

"Pantai."

"Gunung."

Kembar menjawabnya berbeda, hal itu membuat bu Arini tertawa karena ternyata kedua cucunya walaupun kembar namun memiliki jawaban yang berbeda.

"Nanti nenek bicara sama mamah, karena kalian berbeda keinginan, jadi salah satu saja perginya ke pantai atau ke gunung.? "

"Pantai nenek , ila bisa main pasil bikin istana telus naik pelahu pancing ikan. " Ujar Naila

"Idan mau naik gunung, cepelti olang olang yang bawa lansel di cini. " Jawab Zidan menepuk punggung nya.

"Oh maksud Idan jadi pendaki gunung? "

"Iya cepelti itu nanti Idan bica pacang tenda. "

Bu Arini tertawa melihat ekspresi kedua cucunya saat berbicara tentang keinginannya jalan jalan menurut versi mereka masing masing.

"Kenapa kalian tidak minta jalan jalan ke luar negeri sama kakek Adi? "

"Mamah bilang ndak boleh Idan cama ila pelgi kelual negeli cama mamah. " Bibir Zidan tampak cemberut saat berbicara .

...****************...

1
tia
lanjut thor
tia
cepat satukan thor kembar sama papa nya
Nadia salma: ada lika liku dulu kak, biar ada gregetnya
total 1 replies
tia
tambah lagi Thor 🫢,,suka cerita ny
Nadia salma: siap kak...
total 1 replies
tia
update yg banyak lah thor
Nadia salma: akan saya usahakan kak, karena saya sambil kerja membagi waktu. Terima kasih sudah menyukai karya saya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!