Kalista, seorang food blogger dengan ribuan penggemar dimana mana.
setiap konten yang di upload nya di media sosial akan selalu mendapat jutaan views.
tentu saja hobinya yang paling jelas adalah makan.
Aruna, putri dari seorang paruh baya pemilik restoran terkenal, dia bekerja ditempat ibunya sebagai latihan karena setelah lulus SMA dia akan meneruskan usaha ibunya itu.
salah satu kebiasaan nya adalah melakukan beatbox.
Luna, anak dari seorang petani, didesa nya orang tuanya adalah yang paling kaya.
mereka punya banyak tanah yang dijadikan kebun buah dan sayur, padi dan juga dijadikan tempat ternak hewan yang salah satunya adalah sapi dan kambing.
Luna sendiri punya satu sapi kesayangan yang dia berikan nama blackmoo, sapi nya hitam dan selalu lapar hingga terus berisik.
secara tidak terduga ketiga gadis itu mati dan berpindah ke masa lalu dijaman kuno, abad pertengahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
"Oh... thanks."
Tanpa mempedulikan reaksi dari pengantar barang itu yang terlihat kebingungan dengan apa yang baru saja dirinya dengar.
Rosetta dengan wajah riangnya menyeret dua kursi baru dan Caily yang menyeret gerobak berisikan dua kasur lembut nan mewah, pergi begitu saja.
Tanpa mempedulikan tatapan beberapa murid saat melihat keduanya membawa banyak barang dari gerbang.
Ya... Kedua gadis itu mengangkut banyak barang dan kebutuhan lainnya untuk kamar asrama mereka yang sebenarnya mungkin tidak layak ditempati.
Sesampainya di asrama, keduanya tanpa basa-basi langsung melakukan renovasi besar-besaran.
"Ini harus selesai sebelum perburuan hewan kontrak." Ujar Caily disela-sela tangannya yang masih mengecat tembok dinding.
Rosetta yang juga tampak sibuk hanya mengangguk singkat.
.
.
.
"... gua capek!" Keluh Rosetta sambil membaringkan tubuhnya yang kotor pada lantai.
Caily juga melakukan hal yang sama, dirinya memandangi seluruh ruangan yang tampak baru, rapi sekaligus terasa sedikit modern.
Dia berdecak kagum dengan hasil kerja kerasnya.
"Gua rasa nih ya... yang punya kamar begini cuma kita." Celetuk Caily secara tiba-tiba.
"Ya iyalah... nuansa modern begini mana ada ditempat lain." Sahut Rosetta sembari melirik seisi ruangan.
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, keduanya menyadari jika matahari telah terbit dan tentu saja mereka haru memulai hari pagi dikelas akademi.
Dengan malas, kedua gadis itu bangkit dan segera bersiap siap.
.
.
.
"Lo berdua kenapa?" Tanya Vione begitu dia melihat raut wajah Rosetta dan Caily yang tampak tidak sedap dipandang.
"Mmm..."
"What?" Vione mendekatkan telinganya kearah Rosetta saat mendengar gumaman tidak jelas darinya.
"Mmmm..."
"Apaan Oasu!" Tanpa sadar, Vione menaikkan volume suaranya hingga beberapa murid dikelasnya menoleh kearahnya.
"Maaf." Katanya dengan senyum kaku lalu kembali menatap Rosetta dan Caily yang ternyata sudah tertidur nyenyak.
Saat pintu terbuka dan pengajar memasuki ruang kelas, Vione dengan sengaja menyipratkan air pada wajah kedua gadis itu menggunakan elemen air miliknya, yang seketika itu juga, dua gadis itu langsung terbangun dari tidak lelap namun singkat itu.
Dengan wajah datar nan mengantuknya, Caily memperhatikan papan sambil menguap diam-diam.
Rosetta sendiri hampir saja tertidur lagi jika Vione tidak dengan sengaja menyenggol kakinya.
"Besok kita akan melatih kemampuan sihir kalian, memperkuat setiap elemen yang kalian miliki." Ujar sang pengajar dengan datar.
Namun setelahnya, ada banyak bisikan yang terdengar, sang pengajar langsung paham apa yang sedang mereka bicarakan, matanya yang setajam elang langsung mengarah pada dua gadis yang saat ini malah terlihat menahan kantuk seolah tidak mengamati pelajaran dengan baik.
Ctak!
Ctak!
"Ouh shit!"- Rosetta.
"Oh ghost!"- Caily.
Dua teriakan itu membuat seisi kelas mendadak hening, karena selain tidak mengerti apa artinya, mereka juga terkejut dengan ekspresi dan suara keras dari keduanya, tentu saja kecuali Vione yang malah menahan tawa.
Caily yang mengusap dahinya dengan pandangan lelah langsung terhenti saat melihat kapur putih patah diatas mejanya, pandangannya turun kearah podium dimana sang pengajar tengah menatapnya tajam sekali.
"Baik pak, akan saya perhatikan... lain kali." Katanya tanpa basa-basi.
Rosetta yang masih setengah sadar masih mengusap dahinya yang berkerut samar karena bingung.
Vione menariknya agar segera duduk kembali sambil memberikan kode melalui lirikan matanya.
Rosetta tersadar dan segera melambaikan tangannya kearah podium sambil nyengir kuda.
Caily yang diam diam melirik tingkah lakunya mendadak hening lalu mengalihkan pandangan seolah berkata 'aku tidak kenal dia'.
.
.
.
"Terus... Kamarnya udah bisa ditempatin dong?" Tanya Vione setengah meledek karena ia tahu jika pada awalnya asrama mereka berdua sangat tidak layak huni.
Caily mengangguk sambil memperhatikan gerakan tangan Vione yang sangat luwes melatih enam elementalnya.
"Itu, sensasi gerakin elemen gitu, gimana rasanya?" Celetuknya secara tiba-tiba.
Vione terdiam sesaat lalu menggerakkan tangannya dan para elemental itu berputar di sekitarnya.
"Susah juga ngejelasinnya, tapi rasanya tuh kek air sama angin tapi anget, gue ngevisualisasiin kek cahaya tipis yang bisa gua gerakin sesuka hati." Jelasnya yang juga merasa ragu.
Caily mengangguk lalu menatap kearah Rosetta yang masih menghitung nilai poinnya pada buku sistem ramalan miliknya.
"Gimana hasilnya?"
Rosetta menoleh. "Gak cukup, poin gue terlalu renda buat beli sepotong halaman."
"Itu karena lo gak aktif sama sekali, lo jarang buat kebaikan." Sahut Vione yang kini mendekat dibantu oleh elemen anginnya.
Caily tertawa. "Buat kebaikan apaan, dia aja kerjaannya ngumpat mulu!"
Rosetta memutar bola matanya. "Gue didunia ini bawaannya pengen marah mulu." Akunya tidak menyangkal.
Tiga gadis itu mengobrol sembari berlatih untuk persiapan berburu hewan kontrak.
.
.
.
Tiga hari kemudian, seluruh siswa diakademi dikumpulkan didepan pintu masuk gua yang menyambungkan suatu jalan menuju hutan dimana perburuan akan dilakukan.
Saat beberapa pengawas memberi aba-aba, mereka serentak memasuki gua dan berjalan dengan terburu-buru.
Beberapa berkelompok beberapa juga pergi sendiri.
"Masih gak ada kemajuan?" Tanya Vione sambil menatap sekeliling.
Rosetta menggelengkan kepalanya sambil menatap buku ramalan miliknya.
"Beneran gak ada, udah dibilang poin gue kurang buat beli sepotong halaman, nilai amal gue kurang." Katanya setengah mengeluh.
Caily menginjak ranting dibawah kakinya dengan gusar.
"Kita gak tahu apa yang akan kita hadapi di bab ini, kalau hewan kontrak gak dapet atau apa gue masih oke, tapi kalau berkaitan sama protagonis sama anjing anjingnya, gua nyerah." Ocehnya panjang lebar.
Vione tertawa terbahak bahak, elemen disekitarnya terus berputar saat dia memainkan tangannya.
Rosetta menutup bukunya dan menoleh.
"Tapi gue agak bingung, lo tunangan sama Shanez tapi Shanez masih sama Alisa, nanti itu gimana? lo bakalan tetep nikah sama Shanez atau mau dibatalin?"
"Yah... gua milih batal aja, terserah setelah itu gak dapat jodoh terserah, gua ngejomblo juga gak masalah, yang penting kekayaan bapak gua gak berkurang." Balas Caily.
.
.
.
Disisi lain, rombongan Alisa telah memasuki hutan bagian timur, dekat dengan sungai.
Diantara mereka ada Shanez, Charlos dan Chalios, serta beberapa orang lainnya (NPC).
Sebenarnya tiga pangeran itu sudah memilki hewan kontrak mereka sendiri, dan juga mereka adalah siswa tahun ketiga dan kedua, dengan alasan keamanan Alisa, mereka mengajukan diri untuk menjadi pengawalnya.
Tentu saja Alisa yang diistimewakan itu menjadi pusat perhatian dan mendapat banyak kebencian dari murid perempuan, namun juga ada banyak yang mendukungnya.
Saat ini, mereka semua beristirahat didekat sungai dan membangun tenda.
Alisa pergi dengan alasan ingin membersihkan diri disungai, dan tiga pangeran itu menawarkan diri untuk menjaganya dari jarak jauh untuk memastikan keselamatannya.
"Tuan, apa yang harus saya lakukan." Bisik Alisa sambil menatap sekumpulan asap hitam diatas sungai.
"Dibawah air sungai ini sudah aku tanamkan satu roh iblis, buatlah kontrak dengannya."
Suara berat dan serak itu terdengar dari sekumpulan asap hitam itu.
Alisa terdiam sejenak, roh iblis adalah keberadaan mengerikan yang mampu menghancurkan satu kota dikerajaan bila dia dilepaskan, maka pengguna roh iblis itu akan dihukum jika ditemukan, maka bila sampai ditahap melakukan kontrak dengan roh iblis itu, maka hukuman mati didepan seluruh penduduk kerajaan akan dilakukan.
Seolah mengerti akan pemikiran Alisa, sekumpulan asap hitam itu berputar dan sebuah tawa mengejek menggema diselruuh permukaan air hingga menciptakan riak halus yang perlahan bergelombang dan menyebar.
Secara perlahan, sebuah intensitas mengerikan muncul kepermukaan air, bentuknya terlihat seperti lendir dengan bau busuk yang mengerikan.
Namun saat partikel cahaya tipis perlahan menyebar, lendir itu luntur dan jatuh tenggelam ke dasar sungai dan tampaklah sebuah cahaya yang mirip seperti obor api mendekati Alisa.
Alisa berdiri diam karena tegang, pikirannya berkecamuk dan tak menentu.
Dia tidak mungkin harus menjalin kontrak dengan roh iblis, seluruh reputasinya yang dia bangun susah payah akan hancur jika hal ini diketahui.
Namun asap hitam itu hanya tertawa geli, mengejek ketakutan gadis itu.
"Lihat baik-baik." Katanya sambil berputar.
Beberapa detik kemudian setelah ia berputar, seekor pegasus bertanduk satu tiba-tiba muncul dan jatuh tergeletak didekat kaki Alisa hingga gadis itu mundur dan terhuyung karena terkejut.
"Apa?" Gumam Alisa saat melihat pegasus itu bahkan tidak bergerak sedikitpun.
Namun sebelum ia meredakan keterkejutannya, cahaya yang mirip obor api itu mendekati pegasus itu, dia masuk dan menyatu begitu saja.
"Ap-Argh!!"
Alisa jatuh terduduk karena begitu terkejut dengan pegasus yang tiba-tiba bangkit dihadapannya, matanya menyala dan aura hitam membungkus seluruh tubuhnya.
"Hewan itu telah lama mati, roh iblis itu akan hidup ditubuhnya dan menjalin kontrak denganmu." Ujar asap hitam itu dengan suaranya yang berat dan serak.
Alisa mendongak, dia masih mencerna keadaan itu dengan tatapan bingung.
"Tapi itu tetap saja terlihat seperti iblis, aku tidak-"
"Cepat lakukan kontrak!"
Asap hitam itu memotong protesan Alisa dengan tidak sabar.
Segera gadis itu bangkit dan menestakan darahnya didahi sang pegasus.
Seketika aura hitam yang membungkus tubuh sang pegasus menghilang dan digantikan dengan cahaya lembut yang agung, khas aura hewan suci seperti pegasus itu sendiri.
Seolah hewan itu bangkit dari kematian.
Alisa menatap takjub dengan apa yang dirinya lihat.
"Bagiamana itu bisa terjadi?"
Asap hitam itu berputar sekali lagi.
"Tidak ada yang tidak bisa aku lakukan." Katanya dengan sinis.
Alisa tersenyum lebar, ia akan memamerkan hewan kontraknya itu dan bersiap untuk menyambut seluruh perhatian dari para siswa akademi.
"Lakukan tugasmu seperti biasa, jangan membuat kesalahan." Ucap asam hitam itu sebelum ia menghilang sepenuhnya.
Begitu asam hitam itu menghilang, Alisa segera membuat sebuah cahaya dari elemen miliknya, memantulkannya pada permukaan air hingga menyebar luas dan membumbung kelangit yang langsung menarik perhatian dari tiga pangeran yang masih menjaganya dari jarak jauh.
"Alisa! apa kau baik-baik saja!" Teriak pangeran Shanez dengan panik.
Begitu juga dengan Charlos dan Chalios yang sempat terhuyung karena terlalu terburu-buru.
"Aku baik-baik saja!" Teriak Alisa dari kejauhan.
Begitu ketiganya mendekat, mereka terdiam dan tercengang dengan apa yang mereka lihat.
Seekor pegasus bertanduk satu berdiri gagah disamping Alisa.
Dikatakan pegasus yang bertanduk satu adalah yang paling langka diantara pegasus lainnya, itu dikarenakan mereka disebut-sebut sebagai tunggangan dewa dan disebut sebagai hewan suci.
"Alisa! itu hewan kontrak milikmu?!" Seru Charlos sambil melangkah mendekati Alisa.
Alisa mengangguk sambil tersenyum malu, rona merah tipis dipipinya membuat Charlos tersenyum tipis karena merasa gemas dengannya.
Disisi lain, Shanez memandang tidak suka pada kedua adik-adiknya yang tampan begitu dekat dengan Alisa.
Dia mendekat dengan wajah datar.
"Selamat untukmu, itu hewan kontrak yang luar biasa." Pujinya dengan nada lembut.
Alisa tertawa pelan sambil mengalihkan pandangannya seolah merasa malu dengan pujian itu, Shanez tersenyum tipis melihat reaksinya.
.
.
.
"Goblok! Jangankan pegasus, naga gua jabanin Anj-"
"Eeeyyy!" Potong Caily saat akan mendengar peri kecil itu akan berkata kasar lagi.
"Lo kok bisa sih, jalin kontrak sama peri plenger begitu!" Ujar Rosetta pada Vione yang langsung dibalas gelengan kepala oleh Vione.
"Jadi artinya, lu bisa lebih baik dari naga?" Tanya Caily sambil menatap peri kecil itu dengan ragu yang langsung membuat peri itu kesal dan memukul kepalanya.
"Goblok, ya kagaklah." Balasnya dengan nada tinggi.
Caily mengusap dadanya dengan sabar.
"Lu ngegas tapi gak bisa juga." Katanya dengan malas.
"Eh istrinya Gojo, lu tuh yang pinter dikit bisa gak? Gue bilang bisa jabanin, bukan nandingin." Balas peri itu dengan tidak sabar.
"Apaan istrinya Gojo, gue bininya Eren ya." Sahut Caily tidak terima.
Peri itu mendengus sinis. "Rambut lu putih."
"Ntar gua cat." Sahut Caily dengan malas.
Rosetta dan Vione memandang pertengkaran diantara keduanya dengan wajah malas, jenuh dan bosan karena mereka sudah berdebat dari satu jam yang lalu setelah peri itu resmi menjalin kontrak dengan Vione.