NovelToon NovelToon
Karma Datang Dalam Wujudmu

Karma Datang Dalam Wujudmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta pada Pandangan Pertama / Teman lama bertemu kembali / Office Romance
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: diamora_

Cayra Astagina, sudah terlalu sering patah hati. Setiap hubungan yang ia jalani selalu berakhir dengan diselingkuhi.
Saat ia hampir menyerah pada cinta, seorang peramal mengatakan bahwa Cayra sedang menerima karma dari masa lalunya karena pernah meninggalkan seorang cowok kutu buku saat SMA tanpa penjelasan.

Cayra tidak percaya, sampai semesta mempertemukan mereka kembali.

Cowok itu kini bukan lagi si kutu buku pemalu. Ia kembali sebagai tetangga barunya, klien terpenting di kantor Cayra, dan seseorang yang perlahan membuka kembali rahasia yang dulu ia sembunyikan.

Takdir memaksa mereka berhadapan dengan masa lalu yang belum selesai. Dan Cayra sadar bahwa karma tidak selalu datang untuk menghukum.
Kadang, karma hadir dalam wujud seseorang yang menunggu jawaban yang tak pernah ia dapatkan.

Kisah tentang kesempatan kedua, kejujuran yang tertunda, dan cinta yang menolak untuk hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diamora_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18. Hari Pertama, Senyum Pertama

Kadang cinta pertama tidak datang dengan kata, tapi dengan satu senyum di pagi yang terlalu ramai.

...Happy Reading!...

...*****...

[Juli 2012 - Hari Pertama Semester Baru | SMA Gravia Asteria]

Langit pagi masih abu-abu. Seperti belum siap menyambut ribuan langkah yang tergesa masuk ke halaman sekolah.

Gerbang SMA Gravia Asteria terbuka lebar. Suara sepatu menyentuh paving, panggilan teman-teman lama, dan tawa yang terlalu keras, memenuhi udara. Semua tampak bersemangat. Semua, kecuali satu orang.

Saka Ardhananta Wiratama berjalan menyusuri koridor. Hoodie hitam terselip di balik seragam, tudungnya menjuntai seolah jadi pelindung dari hiruk pikuk sekolah yang terlalu terang.

Ransel hitam yang sama masih menggantung di bahu. Sudutnya mulai robek. Resletingnya sesekali macet. Tapi tidak pernah diganti.

Sepatunya putih, tapi jelas tidak baru. Beberapa bagian sudah pudar. Sama seperti ekspresinya yang datar, tenang, tak terganggu.

Ia berhenti di depan papan mading. Suara ramai di sekitarnya tidak lebih dari noise yang ia abaikan.

Beberapa siswa mengerubungi papan. Ada yang teriak kegirangan. Ada yang mengeluh. Saka menunggu, tidak buru-buru.

Setelah sebagian bubar, ia maju dan menelusuri daftar nama dengan pandangan singkat. Ia sudah tahu kemungkinan besar masuk IPA 1 lagi. Tapi tetap saja, ia perlu memastikan.

Saka Ardhananta W. - XI IPA 1

Sesuai prediksi.

Belum sempat ia berbalik, suara nyaring cewek terdengar tak jauh dari belakangnya.

"Gue masuk IPA 1!"

Langkah Saka terhenti. Suara itu cukup familiar.

Ia menoleh perlahan.

Seorang cewek berdiri di dekat papan. Rambut sebahunya ditata rapi dengan poninya. Jepit pink kecil menghiasi sisi kiri kepala. Ia mengenakan tas selempang beige dengan gantungan boneka kecil di resletingnya. Model anak hits era dua ribuan.

Cayra Ayudhia Astagina.

Caca, begitu semua orang memanggilnya.

Saka tidak kaget. Dia tahu nama itu. Tahu gaya bicaranya. Bahkan tahu gaya jalannya. Tapi tidak pernah benar-benar memperhatikan secara terang-terangan.

Tapi mendengar namanya diucapkan langsung, dan melihat dia berdiri begitu dekat, tetap terasa... mencolok.

"Sumpah demi apa?" celetuk temannya di sebelah. Rambut panjang tergerai halus seperti iklan shampoo.

"Nih, liat sendiri," kata cewek itu sambil menunjuk namanya di daftar.

"Gila keren. Lo masuk kelas unggulan!"

"Iya dong. Caca gitu loh," balasnya sambil tertawa kecil.

Saka mengerjap pelan sembari menatap ke arah papan lagi. Matanya tidak bergerak, tapi telinganya menangkap semuanya pembicaraan cewek yang sudah mencuri perhatiannya sejak kelas sepuluh dan belum pernah mengembalikannya.

Tiba-tiba terdengar suara lain.

"Gue juga masuk IPA 1 kali."

Seorang cewek berambut panjang dengan gaya ponytail menghampiri. Suaranya sedikit keras, langkahnya mantap. Gaya bicaranya lebih tomboy.

"Please deh Zira, lo tuh anti banget liat gue bahagia," balas Cayra dengan ekspresi dramatis.

"Fix lebay. Emangnya kenapa sih masuk IPA 1?"

"Papa janjiin gue hadiah, dan IPA 1 itu kelas unggulan. Rugi dong kalau sampai gue gak masuk IPA 1," jawab Cayra dengan nada bangga.

"Lo ngebet banget demi hadiah?"

"Eh, namanya juga motivasi. Gue gak salah dong kalau ambisius."

"Pantesan kemarin pas ujian lo semangat banget. Ternyata ada motif tersembunyi," goda temannya yang rambut panjang tadi.

Cayra tertawa pelan sambil menyentuh pundaknya. Jepit rambutnya ikut bergerak, menambah kesan manis di wajahnya.

Saka masih berdiri di tempat. Kali ini bukan karena penasaran. Tapi karena... aneh saja pergi saat mereka sedang begitu ramai di belakangnya.

Lagi pula, tidak ada yang menyadari keberadaannya. Begitulah pikirnya.

"Oh iya, lo masuk kelas apa, Vey?" tanya Cayra sambil menoleh ke temannya.

"IPA 2. Kita gak sekelas," jawab Vey yang langsung memeluk Cayra dari samping.

"Yah, sayang banget. Tapi gapapa, kelasnya masih sebelahan," balas Cayra sembari memeluk balik Vey.

"Mau ikut dipeluk juga gak?" tawar Cayra ke Zira yang hanya mendelik.

"Apaan sih. Kalian lebay banget. Baru juga beda kelas," ujar Zira sambil geleng-geleng.

Cayra tertawa lalu langsung merangkul keduanya. Mereka bertiga tertawa keras. Pelukan penuh gaya ala FTV remaja. Hangat dan ramai.

Beberapa menit kemudian, mereka baru sadar kalau area mading sudah sepi.

"Yuk masuk kelas," ajak Cayra sambil melepas pelukan.

Ia berbalik. Pandangan matanya langsung bertemu dengan seseorang.

Saka.

Mereka saling memandang. Tanpa suara. Tanpa gerakan. Hening seperti adegan slow motion dalam film.

Saka tidak bergerak. Matanya hanya menatap satu titik. Hatinya berdetak lebih cepat.

Cayra tersenyum kecil. Ringan tapi cukup membuat satu dunia terasa berguncang. Lalu ia pergi. Bersama dua temannya. Meninggalkan Saka yang masih berdiri terpaku di tempat.

Saka menatap kepergian mereka. Dadanya masih bergetar. Baru kali ini Cayra tersenyum padanya. Selama kelas sepuluh, mereka nyaris tidak pernah berinteraksi. Seperti dua dunia yang tidak pernah bersinggungan.

Cayra itu seperti langit sore. Cantik, ceria, populer, dan selalu punya cara untuk membuat semua orang melirik.

Sedangkan dia? Ranking satu paralel. Sering ikut lomba. Tapi tetap saja, tidak pernah jadi pusat perhatian.

Kadang mereka sempat bertemu. Di ruang guru. Saka sedang diskusi lomba, Cayra datang menemui mamanya yang guru di sekolah. Mereka tidak pernah saling sapa. Bahkan tidak pernah saling menatap.

Tapi hari ini, Cayra bilang dia masuk IPA 1. Itu berarti mereka akan sekelas?

Saka memegang dadanya. Detaknya belum reda. Kalau bisa sekelas aja sudah bikin deg-degan, gimana nanti duduknya sebelahan?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!