Aku hanya diminta untuk mengandung anaknya.
Tidak untuk dicintai, tidak untuk dipertahankan.
Setelah melahirkan, aku harus pergi… membawa hati yang hancur, dan meninggalkan bayi yang kukandung dengan air mata.
Namaku Naira.
Aku bukan siapa-siapa — hanya wanita yang dijodohkan demi rahimku, agar keluarga besar Arga punya pewaris.
Pernikahan ini semu, cinta ini tidak pernah diminta.
Tapi di setiap detik aku merasakan kehidupan tumbuh di dalam perutku, aku juga mulai merasakan sesuatu yang tak seharusnya: aku jatuh cinta pada suamiku sendiri.
Namun di rumah itu, ada satu nama yang tak pernah bisa kulewati — Raisa, istri pertamanya.
Wanita sempurna yang tak bisa mengandung, tapi memiliki seluruh hatinya.
Aku hanyalah bayangan, tapi bagaimana jika bayangan ini mulai memiliki cahaya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiw1tt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TEMAN ATAU KELUARGA BARU?
Naira menegang di tempat duduknya. Tangannya refleks berpindah ke arah dada. Entah kenapa perutnya terasa tidak nyaman sejak beberapa menit terakhir.
Mual.
Sangat mual.
Awalnya Naira mencoba menahannya. Ia menarik napas pelan, berharap rasa itu hilang sendiri. Namun justru semakin menjadi. Wajahnya perlahan memucat. Tangannya mengepal kecil di bawah meja.
"Naira?" Salah satu Anggota keluarga entah dari Arga atau Raisa mengernyit pelan.
"Kamu kenapa?" Tanya orang itu, Naira buru-buru menggeleng pelan.
"E-enggak apa-apa, Tante" Namun bahkan suaranya terdengar melemah. Di sisi lain, Arga yang sejak tadi diam akhirnya melirik sekilas.
Tatapannya berhenti beberapa detik pada wajah Naira.
Pucat.
Belum sempat siapa pun bicara lagi Naira refleks langsung menutup mulutnya cepat.
Deg.
Perutnya terasa berputar, Mual itu naik terlalu cepat.
"A-aku Permisi sebentar" Naira buru-buru berdiri sampai Kursinya sedikit bergeser.
Baru beberapa langkah Naira berjalan Tubuhnya Langsung oleng. Untung saja seseorang cepat menahan lengannya.
"Hati-hati." Naira langsung menoleh, Suara Arga terdengar rendah. dan dekat dengan telinganya. Tapi mukanya Datar seperti biasa.
Namun tangannya sudah lebih dulu menahan tubuh Naira agar tidak jatuh.
"Mau muntah?" tanyanya singkat, Naira hanya mengangguk cepat. Wajahnya sudah benar-benar pucat sekarang. Tanpa banyak bicara lagi Arga langsung menggenggam pelan pergelangan tangan Naira.
"Ayo."
Langkahnya cepat menuju kamar mandi terdekat.
Semua orang langsung terdiam melihat itu. Raisa hanya memperhatikan sekilas dan mendengus pelan, tidak mau menatap lama-lama ke arah Arga dan Naira.
"Mungkin morning sickness," gumamnya pelan.
🌻🌻🌻
Sementara di kamar mandi, Begitu pintu tertutup
Naira langsung membungkuk di depan wastafel.
Huek... Huek... Huek
Tubuhnya bergetar kecil, Badannya semakin lemas dan Napasnya memburu. Tangannya gemetae berpegangan di pinggir wastafel.
Arga berdiri di sampingnya tanpa ekspresi jijik sama sekali. Sejujurnya ia agak panik Karena kemarin dokter memang sempat bilang kondisi Naira masih cukup lemah.
Tanpa banyak bicara Arga langsung meraih rambut Naira yang sedikit mengganggu lalu menahannya ke belakang.
"Bilas." Perintah Arga Singkat. Nada suaranya tetap datar, Namun tangannya sudah lebih dulu membuka keran air.
Naira masih sedikit gemetar.
"T-tuan...maaf" suaranya pelan.
"Kenapa minta maaf?" Arga mengambil tisu lalu meletakkannya di dekat Naira.
"Mual ya mual aja." Ujar Arga, Nada suaranya terdengar biasa. Seolah ini bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan.
Beberapa menit kemudian Saat Naira kembali muntah kecil Tanpa sadar baju cardigan gadis itu sedikit terkena. Arga menghela napas pendek.
"Lepas cardigan-nya." Naira langsung menoleh cepat.
"Hah?"
"Kotor." Jelas Arga singkat sambil menunjuk bagian lengan yang terkena muntahan.
Lalu tanpa menunggu jawaban, Arga mengambil handuk kecil yang tergantung di dekat wastafel lalu membasahinya.
"Kamu bisa berdiri?" Tanya Arga. Naira mengangguk pelan.
Arga membantu membersihkan sisa muntahan kecil di tangan Naira dengan gerakan cepat dan praktis.
Tidak lembut Tapi juga tidak kasar. Lebih seperti seseorang yang memang terbiasa mengurus masalah dengan cepat.
"Udah?" Naira mengangguk kecil.
"Ngga usah ditahan kalo mau muntah lagi, Saya tungguin"
"Udah tuan" Jawab Naira.
"Ayo ke kamar."
"Tapi keluarga"
"Saya bilang ke kamar" Singkat lagi.
"Dokter bilang kamu jangan terlalu kecapean." Dan lagi-lagi Kalimat itu berhasil membuat hati Naira terasa aneh, Bukan aneh yang gimana gimana. Tapi Karena ia tahu Arga melakukan semua ini bukan untuk dirinya.
Tapi demi bayi itu.
🌻🌻🌻
Di kamar Arga membantu Naira duduk di atas ranjang.
"Istirahat."
Naira langsung menggeleng kecil.
"Aku tidak apa-apa, Tuan"
"Kamu muntah sampai mau pingsan" Nada suaranya tetap datar. Mengingatkan barangkali Naira lupa kalo dirinya hampir jatuh tadi.
Lalu Arga mengambil segelas air putih dari meja samping ranjang dan meletakkannya di dekat Naira.
"Minum." Dengan patuh Naira langsung meminum air putih yang Arga berikan
Setelah memastikan Naira sedikit lebih tenang Arga berdiri.
"Kalau Ada apa-apa panggil Bi Inah."
"Tuan" Langkah Arga berhenti sebentar. Naira terlihat menggenggam ujung selimut kecil.
"Maaf...Merepotkan" Hening sepersekian detik dan Arga menatapnya datar. Sebelum akhirnya berkata,
"Bukan kamu yang saya pikirkan."
Deg.
"Tapi anak itu." Kalimat itu sukses membuat senyum kecil di wajah Naira perlahan menghilang.
Lagi-lagi tentang bayi itu. Arga langsung berbalik keluar kamar.
Ceklek.
Pintu tertutup pelan dan Kamar kembali sunyi. Naira menunduk kecil sambil memegang perutnya. Entah kenapa Dadanya terasa sesak lagi.
Setelah 10 menit...
Tok tok tok
Ketukan pintu terdengar pelan. Naira buru-buru menghapus sudut matanya sebelum menjawab.
"Masuk" Pintu terbuka perlahan. Seorang laki-laki yang sama sekali Tidak Naira kenal masuk sambil membawa satu kantong kecil plastik putih di tangannya.
Wajahnya familiar dan sempat ia lihat tadi di ruang makan, Mungkin kerabat Arga atau Raisa. Ia Sedikit lebih muda dari Arga. Mungkin satu atau dua tahun di bawahnya. Raut wajahnya jauh lebih santai.
"Masuk ya?" Ucap cowok itu meminta izin.
Naira terlihat bingung.
"E-eh...iya."
Cowok itu tersenyum kecil lalu berjalan masuk.
"Gue tadi lihat lo muntah parah." Ucapnya lalu Ia mengangkat kantong plastik di tangannya.
"Gue Bawain permen jahe. Kata nyokap gue biasanya lumayan buat ibu hamil." Naira sedikit tertegun.
"Oh... Terimakasih." Cowok itu duduk santai di kursi dekat ranjang.
"Gue Reno, sepupunya Arga." Tangannya terulur santai ke arah Naira,
"Naira, kan?" Tanya nya memastikan dengan Senyumnya tipis. Tapi entah kenapa Jauh lebih hangat dibanding suasana rumah ini sejak tadi.
Naira terlihat sedikit kikuk.
"Iya, aku Naira. Salam kenal" Tangan yang tadinya masih menggenggam ujung selimut langsung menjawab ukuran tangan Reno.
"Terimakasih permennya" ucapnya pelan.
"Sama-sama." Reno menarik kursi lebih dekat lalu duduk dengan santai.
"Jangan salah paham dulu ya, gue bukan modus." Naira refleks sedikit bingung.
"Hah?"
"Walaupun Gue jomblo, Gue lagi ngga modus ke Lo" Kalimat itu membuat Naira sedikit terdiam. Lalu Tanpa sadar sudut bibirnya bergerak kecil.
Reno langsung menunjuk cepat.
"Nah tuh! Senyum!" Ucap Reno Heboh.
Naira buru-buru menahan ekspresinya.
"E-enggak"
"Jangan bohong. Gue lihat tadi." Cowok itu menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Udah, jangan sedih terus." Ucap Reno, Naira menunduk kecil.
"Aku nggak sedih kok"
"Boong banget" Reno langsung menjawab cepat.
"Tadi muka lo kayak abis ditinggal nikah tiga kali."
Mendengar itu Naira spontan melotot kecil.
"Emang bisa ditinggal nikah tiga kali?"
"Nah makanya. Berarti sedih banget kan?"
Hening dua detik.
Lalu Naira benar-benar tertawa kecil. Walau pelan Tapi cukup terdengar. Reno ikut tersenyum.
"Bagus! Muka manusia lagi." Naira menggeleng pelan.
"Kak Reno lucu ya"
"Please jangan panggil kak." Reno langsung membuat ekspresi ngeri.
"Gue belum setua itu." Lanjut Reno.
"Tapi kan emang kak Reno lebih tua dari aku"
"Lah? Kata siapa?" Tanya Reno.
"Emmm, K-keliatan aja" Jawab Naira agak tidak enak.
"Reno aja." Cowok itu menunjuk dirinya sendiri. Naira terkekeh kecil sebelum akhirnya Reno ber dehem kecil.
Nada suaranya berubah sedikit lebih serius.
"Gue emang nggak ngerti detail masalah kalian." Ucap Reno serius.
"Tapi satu hal" Cowok itu menunjuk pelan ke arah perut Naira.
"Lo lagi bawa manusia kecil di situ." Naira refleks menunduk ke arah perutnya.
"Dan manusia kecil itu pasti nggak suka kalau ibunya sedih."
Deg.
Naira langsung mengangkat kepala cepat.
"A-aku bukan ibunya"
"Yaudah, tempat tinggal sementaranya." Jawab Reno cepat.
"Pokoknya intinya jangan stres." Cowok itu mengeluarkan permen jahe dari kantong lalu meletakkannya di meja.
"Gue baca di internet, ibu hamil tuh kalau stres itu bisa aneh-aneh."
Naira mengernyit Bingung.
"Aneh gimana?" Tanya Naira. Reno hanya mengedikkan bahu.
"Ngga tau juga gue, Bisa ngidam batu bata mungkin" Ucap Reno Ngaco. Naira langsung tertawa kecil lagi.
"Itu mah ngaco." Ucap Naira.
"Nah makanya ketawa, Biar ngga setres" Reno tersenyum kecil.
"Tadi muka lo keliatan sedih banget." Lanjut Reno.
Hening sebentar.
Lalu cowok itu kembali bicara dengan nada lebih santai.
"Kalau lo sedih terus nanti anaknya lahir Mukanya merengut jelek, Ngaruh loh itu"
Refleksn Naira tertawa lebih jelas kali ini. Dan untuk pertama kalinya malam itu Dadanya terasa sedikit lebih ringan.