Ada yang lo pengen banget, itu bisa lo liat, tapi gak bisa lo gapai, itu gimana sih rasanya?
***
S1—
Diary Of Jane.
Jane terpaksa kok buat sama Ares, karena dia Ares cuma punya dia. Bahkan sama sekali gak cinta dengan Ares, tapi Ares selalu berusaha, selalu ada di samping Jane, berharap cewek itu pada akhirnya akan jatuh cinta sama dia.
Pahit di awal, manis di akhir. Pada akhirnya Jane jatuh cinta dengan Ares.
S2—
I love you Bramasta.
Kisah bagaimana Bramasta juga ingin di cintai.
——— 🌟
ig. @sindipaulia_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sindi putri aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#19. Janji Jane
Diary of Jane 19
Ares menghela nafas panjang, kemudian duduk di samping Arka, "So? Gimana?" Arka menaikkan sebelah alisnya.
"Biasa aja sih, gak ada kemajuan. Gue selalu gak tau caranya."
"Bukannya lo udah berpengalaman banget masalah ginian?" Arka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "udah delapan kali lo lakuin sebelumnya, tapi kenapa yang ini lo gak bisa?"
"Ajaib. Itu dia banget."
"Iya, lo gak pernah tau kapan dia mulai masuk." Arka menarik sudut bibirnya, "ke pikiran kita."
"..." butuh sepersekian detik untuk Ares memahami kata-kata Arka.
***
Tuh mata ngapain sih ajep-ajep gitu, Jane akhirnya menoleh pada gadis yang dari tadi 'sok manis' padanya, "hmm?"
"Hmm."
"Lo mau gue ngapain?" Lirik aja, jangan ditatap, nanti kena hipnotis mata ajep-ajep cute.
"Kak, lo bisa deketin gue sama Johan?"
"Uhuk!" Jane tersedak angin mendengar kata 'kak' dari mulut Raya, "kak kata lo? Perasaan lo lebih tua tiga bulan dari gue."
"Gue CPPP sama adek lo yang ganteng itu Jane,"
"CPPP apaan tuh?"
"Cinta Pada Pandangan Pertama, eaaaa!"
"Ck— lo tau kan, gue sama dia kembar, kita sama, sifat sampai kebiasaan, lo bisa bayangin gimana buteknya dia?"
Raya diam, memikirkan setiap sifat dan kebiasaan Jane, suka halu, rendah dirinya gak ketulungan, rakus, suka ketawa gak jelas, "ekhem."
Jane harap-harap cemas, "So?"
"Gak apa-apalah yang penting ganteng,"
"Ish, asal lo tau ganteng Johan itu bau sikil! Haha, anj*r, dia jarang cuci kaki."
"Alaaah, bilang aja lo gak mau punya adek ipar kayak gue." Raya mencebik sedangkan Jane tambah tertawa keras. "Aaah! Ngakak!"
"..."
Raya ingin berkata kasar, sudah lima menit Jane tidak berhenti tertawa di depannya, "Setan apa yang merasuki lo?"
"Setan kai mawar merah, yang kau berikan pada kuu di malam ituuu kan ku simpan mawar selaluuu... Hahah makan cogan bau sikil!" Jane mengetuk ngetuk meja saking tidak tahannya.
"Cogan?"
Ngap. Jane berhenti tertawa karena mendengar suara itu, ia berdeham kemudian duduk manis, "Long time no see." sapanya pada cowok disampingnya.
Raya udah jantungan sampai tangannya kejang-kejang melihat sosok itu. Arka.
"Gue lupa. Gue belum bilang makasih sama lo, thanks," Arka tersenyum.
Aaah. Manis bangeeet itu senyum astaga tuhaaaan kuatkan hamba... Jane mengusap wajahnya, "Santai aja kali, gue juga males kalo punya sangkutan sama masalah lo." Sok akrab aja Jane mah, dia nepuk-nepuk pundak Arka sambil senyum.
"Ajaib banget sih lo." Arka menepuk kepala Jane.
Aaaw gue iri Tuhan! Raya mengambil ponselnya, "Hallo. Gue di koridor bro, lo dimana?" sebenarnya gak ada yang nelpon dia, tapi lebih baik menjauh dan tidak menjadi orang ketiga.
"Co cweet, gue gabung."
📝📝📝
Di apit dua dari top five SMA.
Semua lirikan tertuju sama lo.
Anj*iiir...
Bayangin lo jadi gue!
📝📝📝
Hening.
Koridor itu rame banget tapi keheningan melanda dua cowok dan satu cewek itu. Jane, Arka, dan Ares.
Jane pengen keluar dari situasi canggung ini,
Keputusan terakhir yang perlu ia ambil adalah alasan sakit perut, "perut gue sakit, minggir-minggir," Jane mendorong Arka kuat. Seketika cowok itu menyingkir dan membiarkan gadis bernama Jane untuk lewat.
"Bukannya toilet di sana?" Arka mengerjap sedangkan Ares hanya menghela nafas.
"Fiuuuh." Jane mengusap dadanya. Tunggu, k ada yang kurang? Jane berasa kehilangan sesuatu tapi apa? Hp? Bukan, hp ada di saku rok, duit? Enggak duit masih ada.
"Jane,"
Jane menoleh dan medekati Arka, "Perut lo gimana?" Arka memergoki Jane yang sekarang baik-baik saja padahal tadi Jane bilang sakit perut, "hehe, udah sembuh kayaknya." Malu gue sumpah, tertangkap basah.
"Buku lo."
Jane melotot dan langsung merampas buku paling berharga di hidupnya, di buku itu ada semua, bahkan ada juga tentang cowok yang sekarang ada di depannya, "Tadi ketinggalan."
"Oh, thanks. Lo gak baca atau buka kan?" Ujar Jane memastikan, takut banget Jane kalau sampai Arka buka satu aja halaman di buku itu.
"Enggak. Tenang aja. Gue gak terlalu minat baca diary orang lain," Arka tersenyum dan membuat Jane lega.
"Lo masih ingat kan? Lo masih punya janji sama gue." Kapan? Kapan Jane janji sama Arka? Dia gak ingat asli. "Jan.... Ji...?? Gue janji apa?"
"Bukannya gue bilang gue punya syarat supaya gue mau pulang dan harus lo tepati kan?" Oke. Jane ingat, tapi, "bukannya syarat itu buat bantu lo beres-beres aja?"
"Gue gak bilang itu syaratnya." Arka melipat kedua tangannya sambil menatap Jane.
"Jadi? Syarat lo apa?"
Arka tersenyum lebar sampai matanya menyipit, Jane gak ngerti arti senyuman itu tapi perasaannya gak enak. Ini ada apa?
Arka membuka almaternya dan memakainya pada Jane yang hanya memakai baju putih polos, itu karena hujan sialan yang Jane harap akan indah justru membawa kesialan padanya.
Arka mendekati wajah Jane, "Baju putih lo tipis banget, sampai cowok bisa liat apa yang lo pakai di dalam." Bisikan ghoip Arka di telinganya membuat Jane menutup bagian depan tubuhnya.
"Lo... Lo... Berarti... Lo..." Udah sejak kapan gue diluar dan berapa cowok yang liat gue? Jane tergagap. Sementara cowok di depannya justru menahan tawa.
"Gak, canda doang,"
"..." sebenarnya mau Arka apa sih? "Ya udah, gue balikin." Jane melepaskan almater dengan lebel nama Arka Bramasta Hardikha itu dan mengembalikan pada pemilik aslinya.
"Pakai aja, kalo lo sakit gue gak punya temen buat di ajak ke makan malam." Arka menaruh almaternya di kepala Jane kemudian berlalu begitu saja meninggalkan sejuta tanya dalam kepala Jane yang makin ruwet karena gak tau maksud Arka.
Makan malam?
•
•
Masih hujan.
Gila udah berapa lama hujan.
Bisa banjir Jakarta ini.
Jane menghembuskan nafasnya ke kaca jendela dan membuat embun, "Kayaknya ada almaternya yang sedikit kegedean deh."
"Nyindir? Atau iri?"
"Wih gila, namanya Arka, Jane mana yah?"
"Ck— Rayaaaa... Jan gitu lah, gue ini cemas banget. Sejuta pertanyaan ngendap dan udah jenuh banget di kepala gue, lo jangan bikin gue tambah panik."
"Gue heran lo masih baik-baik aja setelah dapat almater impian setiap cewek di SMA."
"Ya Tuhan, kok bahasa lo kayak gitu sih, gue ini lagi panik kiamat tahap gawat darurat." Jane mengguncang guncang tubuh teman semata wayangnya di SMA yang selalu sama dia sejak SMP.
"Ya gue heran aja, lo kok bisa aman dari Selvia Amanta Zee? Biasanya kalo kuping itu orang denger gosip Arka deket sama cewek lain dia langsung beraksi tuh." Bisikan Raya membuat Jane semakin was-was.
"Dah yuk pulang, udah reda hujannya." Raya merapikan tas nya dan berdiri diikuti oleh Jane.
Deg!
Sebuah seringaian kecil membuat Jane dan Raya melotot selebar-lebarnya.
Bersambung..
dikit aja hehe...
tapi aku punya sesuatu...
Extra episode 19
salam dari aku dan mantan kekasih suamiku
aku tunggu feedbacknya y
sebulan ga buka noveltoon, ceritanya dah end🥺🥺🥺🥺
di tunggu karya barunya thor
maaf ya aku lm baru mampir, dh boom like smua_<
akhirnyaa
selamat thir karyamu kereen
feedback to yokk ka🤗