Patah hati karena cintanya harus kandas tanpa sempat bersemi membuat Agam Mahardika semakin tidak tersentuh. Meski kerap menghabiskan malam panas bersama banyak wanita cantik yang rela menyerahkan diri untuk menemani malam-malamnya, namun pria tampan dengan berjuta pesona itu tetap memilih menutup rapat pintu hatinya. Menguncinya bersama satu nama yang sudah sedari awal mendiami relung hatinya.
Namun, pertemuan tidak terduga dengan seorang gadis cantik yang terpaut usia jauh di bawahnya, perlahan mulai mengusik relung hati.
Akankah pintu hati yang telah lama tertutup itu kembali terbuka, atau akan tetap terkunci tanpa tersentuh, membiarkan hatinya tetap layu tanpa pernah bersemi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
"Agam... " Hyun berusaha membuat Agam bangun dengan terus mengguncang tubuh. Namun pria yang hampir menginjak usia tiga puluh tahun itu tetap bergeming, matanya terpejam rapat, seolah tidak terusik oleh suara maupun sentuhan kasar Hyun.
Hyun yang hanya memiliki kesabaran satu centimeter lebih tebal daripada Agam akhirnya berusaha membangunkan Agam dengan cara lain. Tangannya merogoh saku celana, mengambil sebuah benda pipih berteknologi canggih, jemarinya bergulir di atas layar untuk mencari sebuah nama di layar benda itu. Begitu panggilan tersambung, Hyun sengaja menggeser tubuhnya lebih dekat ke arah Agam.
"Bunda... " Sapa Hyun pelan setelah mendengar suara dari sebrang.
Sapaan Hyun pada Wanita di sebrang sana ternyata bekerja lebih ampuh dari teriakan dan guncangan yang sebelumnya sempat Hyun lakukan pada Agam. Terbukti dengan Agam yang refleks membuka mata, lalu seketika bangkit dan dengan gerakan yang begitu cepat merampas ponsel yang tengah digunakan Hyun.
"Hei, apa yang kau lakukan?" protes Hyun saat melihat ponselnya berpindah tangan begitu cepat. "Kembalikan ponselku!"
Agam tidak menggubris. Ia justru memutuskan sambungan telepon itu, lalu dengan sengaja menonaktifkan ponsel Hyun kemudian sengaja melemparnya ke arah samping Hyun hingga Hyun pun panik, berusaha untuk menangkap benda seharga motor baru agar tidak terjatuh ke lantai.
Beruntung, Hyun dapat menangkapnya sebelum ponsel itu terjun membentur lantai. "Agam, kau..." Hyun menggantung ucapannya saat melihat Agam yang sempat melirik tajam padanya sebelum pria arogan itu kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur.
"Jangan coba-coba mengganggu tidurku hari ini," ujarnya dingin, kemudian berganti posisi dengan memunggungi Hyun dan kembali memejamkan mata, berharap bisa melanjutkan mimpi indah yang sempat terhenti karena ulah sahabatnya.
Sementara Agan kembali merajut mimpi indahnya, Hyun mendengus keras sambil bangkit dari atas ranjang. "Tidurlah di kamar besarmu sendiri! untuk apa repot-repot numpang tidur di kamarku?!" gerutunya kencang. Ia tidak perduli jika pun Agam mendengar gerutuannya.
Meski mulutnya tidak berhenti menggerutu, Hyun tetap mengalah. Ia melangkah keluar dari dalam kamar dan dengan frustasi membanting pintu kamar untuk menumpahkan rasa kesal. Hari libur yang begitu dinantikan seketika berantakan. Kehadiran pria arogan yang sialnya adalah sahabat sekaligus atasannya di kantor telah membuat Hyun terpaksa membatalkan rencana untuk menghabiskan waktu dengan berbagi peluh di apartemen itu dengan seorang wanita cantik yang baru dikenalnya beberapa hari yang lalu.
Suara pintu yang dibanting keras membuat Agam kembali membuka mata. Pria itu kembali bangkit lalu duduk bersandar di sandaran kasur. Matanya gagal terpejam untuk kembali merajut mimpi indah. Ia menghela napas pelan saat ingatannya kembali melayang pada kejadian kemarin sore saat Bunda Alya merengek, meminta agar Viona tetap bekerja dan tinggal di apartemennya, mengurus semua keperluan dan memastikan dirinya makan dengan baik.
"Lihat, kau hanya pura-pura tidur, bukan?!" ujar Hyun, yang entah sejak kapan berdiri bersandar di ambang pintu dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapannya begitu sarat rasa kesal yang tengah mati-matian coba ia tahan.
Agam sendiri tidak menggubris, ia memilih bangkit dari posisinya, berdiri, lalu melangkah menuju sebuah lemari besar. Diambilnya sebuah kaos berwarna hitam dari dalam sana untuk menutupi tubuh bagian atasnya yang memang tengah bertelanjang dada.
"Hei... itu milikku!" teriak Hyun sambil melangkah cepat menghampiri Agam. Ia berusaha menggagalkan niat Agam yang hendak memakai kaos miliknya yang bahkan belum pernah ia kenakan sebelumnya.
Sayangnya, Hyun terlambat. Kaos keluaran sebuah brand ternama yang baru ia beli beberapa hari yang lalu, kini menempel sempurna di tubuh atletis Agam.
"Kau benar-benar menyebalkan," desis Hyun, napasnya terasa berat dengan rahang mengeras. Namun Agam masih tetap diam, belum berniat meladeni Hyun. Pria itu malah merapihkan penampilannya di depan cermin rias bahkan menyisir rambutnya, meski ia baru bangun tidur dan belum sempat membersihkan diri.
"Ini bahkan masih terlalu pagi, tapi kau sudah berhasil membuat moodku berantakan." Hyun kembali berucap keras untuk melampiaskan kekesalan yang sejak semalam ia tahan, saat Agam tiba-tiba datang ke apartemennya bahkan sampai menginap.
Agam berbalik badan. Menatap Hyun yang masih berdiri menatap kesal padanya. "Kau ini berisik sekali," ucapnya santai, kemudian berjalan melewati Hyun begitu saja. Kali ini ia melangkah keluar kamar, menuju meja makan.
Sampai di depan meja makan, dahi Agam berkerut saat hanya melihat sebuah piring berisi dua tumpuk roti berselai dan secangkir kopi. Rasa laparnya seketika menguap.
"Lebih baik kau pulang saja. Bukankah di apartemen mu sudah pasti tersedia makanan lezat," sindir Hyun, yang tengah berdiri di samping Agam dengan kedua tangan terlipat di dada. Rupanya Hyun mengekori Agam saat keluar dari kamar dan tentu saja ia memperhatikan ekspresi Agam saat menatap meja makan tadi.
Sekali lagi, Agam tidak meladeni ucapan Hyun. Pria itu malah melangkah semakin mendekati meja kemudian meraih sebuah cangkir berisi kopi yang masih penuh, lalu menyeruput isinya dengan santai, seolah kopi itu sengaja disajikan untuk dirinya. Tingkah spontannya itu tentu saja, semakin membuat Hyun semakin meradang.
"Astaga, Agam... kopi itu milikku!" seru Hyun sembari melangkah cepat menghampiri Agam.
Hyun kembali mendengus kesal saat mendapati kopi buatannya kini hanya tersisa setengah cangkir. "Aku sengaja membuatnya sendiri dan membiarkannya agar sedikit dingin. Tapi kau..." Hyun menatap tajam Agam. "Malah meminumnya begitu saja," ucapnya begitu jengkel.
"Pantas saja rasanya aneh... terlalu manis," ejek Agam yang malah sengaja mematik rasa kesal Hyun agar semakin memuncak.
"Aku sengaja membuatnya manis," jawab Hyun ketus. Rahangnya tampak semakin mengeras, sementara Kedua tangannya mengepal erat di samping tubuh. "Menambahkan banyak gula agar aku punya banyak energi untuk bisa menghadapi sahabat menyebalkan sepertimu," imbuhnya.
Selanjutnya, terdengar suara teriakan Hyun saat ia berusaha keras mendorong paksa tubuh Agam keluar dari unit apartemennya. Hyun mengusir paksa Agam, Ia sudah muak dengan tingkah menyebalkan sahabatnya pagi ini.
****
Viona tampak sibuk mengolah bahan-bahan masakan pagi ini. Meja dapur yang biasanya rapi dan lenggang kini dipenuhi berbagai bahan yang siap diolah. Ia berniat menyajikan tiga macam lauk sebagai menu sarapan. Selain itu, Viona juga berencana membuat bubur kacang hijau sebagai camilan manis favoritnya.
Tidak membutuhkan waktu lama, ketiga jenis hidangan tersebut telah tersaji di atas meja. Kini Viona hanya tinggal mengaduk bubur kacangnya matang sempurna sebelum mengangkatnya dari atas kompor.
Suara langkah sepatu terdengar kian mendekat, membuat Viona yang tengah fokus mengaduk kacang hijau di dalam panci menoleh. Seketika itu pula ia memutar tubuh ketika melihat pria yang harus dilayaninya baru saja datang dan bersiap menaiki tangga menuju lantai dua.
"Tuan..." panggil Viona pelan.
Pria yang dipanggil itu menghentikan langkahnya, lalu berbalik menatap Viona dengan sorot mata tajam. Aura dingin seketika memancar dari seluruh tubuh hingga membuat udara sekitar terasa menegang.
"Sarapan anda sudah siap," ucap Viona tenang, mengabaikan tatapan tidak bersahabat dari pria di sebrangnya.
Agam Mahardika, pria yang semula hendak menaiki tangga itu tiba-tiba mengurungkan niat. Alih-alih melanjutkan langkah, ia justru berbalik dan melangkah mendekati Viona.
Tepat di depan meja makan, Agam berhenti melangkah. Kedua matanya menelisik hidangan yang tersaji. Tiga macam lauk khas masakan rumahan terlihat masih mengepul kan uap panas. Aroma gurih yang menguar seolah menggoda indra penciuman, bahkan perlahan membangkitkan kembali selera yang sempat menguap.
"Nyonya Bunda berpesan... mulai pagi ini, Tuan harus... "
"Aku tidak lapar," potong Agam ketus.
Viona menelan ludah. "Tapi, Tuan... anda harus tetap memakannya. Atau Nyonya Bunda akan... "
"Apa kau sedang mencoba mengaturku?!" sela Agam cepat. Suaranya terdengar dingin, penuh penekanan.
Bukannya gentar, Viona justru mengangkat sedikit dagu. Senyum tipis terukir di sudut bibir. Dengan tenang, Ia meletakkan centong yang masih digenggamnya ke atas meja sebelum menatap pria di depannya tanpa rasa takut.
"Saya tidak bermaksud mengatur Anda," ujarnya tenang, namun tetap dengan intonasi sopan. "Saya hanya menjalankan tanggungjawab saya di tempat ini... Memastikan anda tidak melewatkan waktu makan dengan asupan yang bergizi."
Keberanian Viona membuat Agam terdiam sesaat. Sorot matanya yang semula dingin dan tajam, kini menyipit. Ia merasa terusik. Tidak banyak gadis yang berani menatapnya seperti itu, apalagi dengan intonasi seperti yang Viona lakukan tadi.
Keheningan menyelimuti keduanya. Hanya terdengar suara rebusan kacang hijau yang mulai mendidih dan mengepulkan uap panas.
"Kau terlalu berani," ucap Agam dingin, memecah kesunyian di antara mereka.
Viona tidak menunduk. tetap menatap wajah tampan itu dengan tatapan datar. "Saya hanya berusaha menjadi seorang pegawai yang baik bagi Nyonya Bunda," jawabnya singkat.
Jawaban Viona membuat Agam tersenyum tipis, sangat tipis hingga Viona pun sama sekali tidak menyadarinya.
"Baiklah. Lakukan tugas penting mu itu... Tunjukkan padaku seberapa kuat kau bertahan menjalankan tugas itu!" ujar Agam yang lantas menarik sebuah kursi dan duduk di sana. Ia siap menikmati sarapannya pagi ini sebelum memulai rencana yang sempat tersusun rapi sebelum kembali ke apartemen tadi.
*****