Novel ini menceritakan kisah perjalanan cinta seorang perempuan yang bernama Syajia, nama panggilanya Jia.
Seorang perempuan yang sangat sederhana ini mampu menarik perhatian seorang laki-laki dari anak ketua yayasan di kampusnya dan seorang pemilik kafe tempat ia bekerja.
Tentu keduanya mempunyai cara tersendiri untuk bisa mendapatkan Jia. Namun Jia sudah terlanjur menaruh hatinya pada anak ketua yayasan itu.
Sayangnya perjalanan cinta tidak selalu lurus dan mulus. Banyak sekali lika-liku bahkan jalan yang sangat curam dalam kisah cinta Jia.
Apakah Jia mampu melewati Kisah Perjalanan Cinta nya? Dan siapakah yang akan mendapatkan Jia seutuhnya? Ikuti terus kisahnya di dalam novel ini yang mampu membawamu terjun kedalam Kisah Perjalanan Cinta Syajia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Geamul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sikap yang Berubah
“Maaf ya Mas.” Jia memegang pundak Surya, ia merasa bersalah dengan menanyakan alasan yang sebenarnya pada Surya. Surya pun menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Saya sangat menyesalinya. Ketika saya melihat Pak Yanto, rasanya saya seperti bertemu lagi dengan papa. Saya gak mau kejadian yang terjadi pada papa saya, itu terjadi dengan Pak Yanto kamu. Dan saya yakin, Ayah kamu pasti sembuh,” Surya menatap lekat mata Jia, meyakinkan Jia bahwa Ayahnya akan baik-baik saja.
“Iya Mas.” Jia mengangguk sangat yakin.
“Pasti, almarhum papanya Mas bangga banget punya anak yang sangat baik seperti Mas Surya,” sambung Jia. Surya hanya tersenyum dalam sendu.
“Ya sudah, saya pulang dulu ya. Insya Allah, saya akan sering kesini untuk menemani Pak Yanto,” ucap Surya, Jia pun menarik tangannya dari pundak Surya.
“Sekali lagi makasih banyak ya Mas,” ucap Jia.
Surya pun beranjak pergi meninggalkan Jia, dan Jia kembali ke ruangan Ayahnya. Jia menggantikan Ibunya untuk menjaga sang Ayah, dan Bu Tiara pergi ke rumah terlebih dahulu sebelum nanti malam Bu Tiara menginap di rumah sakit.
Pak Yanto sedang tertidur di kasurnya, Jia pun menunggunya di sofa sembari membaca buku. Rasanya, hari ini ada yang terasa kurang dalam kesehariannya. Ya, karena biasanya hari ini ia pergi ke rumah Al untuk mengajarinya atau belajar bareng bersama Al.
Jia pun merasa sangat bosan menunggu sendiri di rumah sakit, “Apa aku telepon Nana aja kali ya? sekalian ngerjain tugas kuliah,” gumam Jia. Ia pun langsung mengambil ponselnya dan menelepon Nana.
“Assalamu’aliakum Na?”
“Wa’alaikumsalam, ada apa Ji?”
“Kamu lagi sibuk? Mau temenin aku gak di rumah sakit nugguin Ayahku? Sekalian ngerjain tugas kuliah,” tanya Jia berharap sahabatnya mau menemaninya.
“Oh boleh ayok, sekarang aku kesana ya. jangan lupa kirimin no ruangannya!” jawab Nana.
“Oke Na."
Beberapa menit kemudian, Nana pun sampai di rumah sakit dan langsung memasuki ruangan Pak Yanto. Nana membawa buah tangan untuk menjenguk Pak Yanto tapi sayangnya Pak Yanto masih tertidur pulas. Dan mereka pun mengerjakan tugas kuliahnya.
“Ji, kenapa Om Yanto jadi mau di rawat di rumah sakit?”
“Iya Na, semua ini karena Mas Surya.”
“Bentar-bentar, Mas Surya pemilik kafe Ji?”
Nana mencoba memastikannya.
“Iya yang itu Na,” sahut Jia.
“Lho kok bisa Ji?”
“Awalnya juga aku gak terlalu dekat sama dia Na, tapi semenjak hari itu Mas Surya jadi deket sama Ayah.”
Dan Jia pun menceritakan semua yang terjadi sehingga Ayahnya mau di rawat di rumah sakit. Nana mendengarkannya tak menyangka, karena ia tahu persis dari dulu Pak Yanto tidak mau sama sekali di rawat di rumah sakit.
“Syukur deh Ji, akhirnya Om Yanto mau juga di rawat di rumah sakit.”
“Aku juga seneng banget Na, dan aku merasa beruntung bisa kenal sama Mas Surya. Karena sejak Ayah ketemu sama dia, Ayah jadi gak murung lagi.”
“Baik banget ya Mas Surya,” sambar Nana.
Mereka pun mengerjakan kembali tugasnya, dan sembari memakan-makanan yang di bawa oleh Nana. Saat mereka asik mengobrol, tiba-tiba ponsel Jia berdering dan menampilkan nama Bima di layar ponselnya. Namun, Jia mematikan ponselnya.
“Kok gak di angkat, dari siapa?” tanya Nana penasaran.
“Dari Bima. Engga ah males,” jawab Jia kesal.
“Oh iya Na, aku lupa cerita tentang Al,” sambung Jia.
Jia pun mulai bercerita kembali masalahnya dengan Al. Sungguh, Jia benar-benar tidak bisa menerima keputusan Al begitu saja. Bagaimana pun ia akan terus menjaga dan mempertahankan perasaanya pada Al, meskipun Al sudah membuang perasaanya sendiri.
Mendengar semua cerita Jia, Nana sangat amat mendukung sahabatnya itu. Bagaimana pun keadaanya, Nana akan selalu membantu dan menemani Jia. Dan menjaganya agar tidak ada yang berani menyakiti hati sahabatnya.
Keduanya pun selalu saling menyayangi dan menjaga satu sama lain agar hubungan persahabatan mereka tetap baik-baik saja.
“Terus sekarang, kamu sama Bima gimana?” tanya Nana.
“Aku gak tahu Na,” Jawab Jia terlihat galau.
“Aku gak bisa maksain perasaan aku Na,” sambung Jia.
Nana pun berusaha menenangkan Jia, ia tak bisa berbuat apa-apa selain hanya bisa membuat Jia mengeluarkan semua bebannya dengan bercerita dan berbagi luka Jia untuk Nana.
***
Beberapa minggu kemudian, Jia masih berusaha menerima perasaan Bima untuknya. Di kampus, Jia pun senantiasa ditemani oleh Bima. Karena dengan selalu bersama, mungkin rasa yang tidak ada akan tumbuh sendirinya.
Tapi, hal itu tak seperti yang Jia bayangkan. Saat dirinya sedang bersama Bima, pikiran Jia selalu saja tertuju pada Al. Pikiran itu selalu datang begitu saja, Jia pun tak habis pikir kenapa Al selalu muncul di kepalanya.
Jia telah terlanjur memberikan separuh hatinya untuk Al, dan ia tidak bisa semudah itu untuk mengambilnya kembali. Mungkin, butuh waktu yang sangat lama sehingga hatinya bisa kembali utuh dan memberikannya pada orang lain.
Dan itu, sangat tidak mudah bagi Jia untuk melakukannya. Dan apakah Bima siap untuk menunggunya? Kalau memang iya? Apakah Jia harus benar-benar melupakan Al?
“Ji, ikut aku ke lapang yu! Kita lihat yang lagi main basket!?” Bima mencoba mengajak Jia menonton pertandingan di kampus mereka.
“Boleh,” jawab Jia.
Mereka pun duduk di antara supporter yang lain, keduanya menikmati pertandingan basket itu. Suasana lapang sangatlah ramai, semua orang saling berteriak untuk menyemangati para pemain.
Namun, lagi-lagi pikiran Jia melayang pada Al. ia teringat saat menemui Al di lapangan itu. Mengkhawatirkannya, karena ia takut Al melakukan masalah lagi. Sepanjang pertandingan, Jia pun melamun.
“Minum dulu Ji!” Bima memberikan air mineral dingin untuk Jia dengan sedikit berteriak, karena suasana tempat penonton sangatlah bising.
Suara Bima mengejutkan Jia, “Eh, makasih Al,” ucap Jia. suaranya terdengar samar-samar sehingga tak terdengar jelas oleh Bima.
Namun, Bima mendengar Jia mengucapkan nama Al. dan ia sangat yakin bahwa yang keluar dari mulut Jia adalah nama Al.
“Apa Ji?” Bima memastikan ucapan Jia.
“Eh, tadi aku bilang makasih Bim." Jia menaikan nada suaranya sehingga bisa terdengar oleh Bima.
Bima pun mengangguk, lalu melanjutkan menonton pertandingan itu. Sesekali Bima melirik ke arah Jia. Ia melihat Jia selalu saja melamun, dirinya merasa sikap Jia tak seperti yang ia kenal dulu.
Di petengahan pertandingan, Nana menghampiri Jia lalu membisikan sesuatu pada telinganya.
“Ji, kamu di panggil Pak Wijaya tuh ke ruangannya,” ucap Nana. Jia pun beranjak dari duduknya.
“Bim, aku di panggil Pak Wijaya. Aku pergi dulu ya,” pamit Jia pada Bima. Bima hanya mengangguk.
Jia dan Nana pun bergegas pergi ke ruangan Pak Wijaya dan bertemu dengannya.