Diusia mudanya Vyanita harus berjuang sendiri dalam bertahan hidup, kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Dan dia harus rela kehilangan harta peninggalan kedua orang tuanya, untuk menutup hutang sang Ayah. Hingga akhirnya dia bertemu dengan sahabat sebaik Revi, dan keluarga Revi lah yang kini menajdi keluarga baru bagi Vya.
Kebahagiaan datang silih berganti, bertemu dengan keluarga baru yang baik dan menyayanginya, hingga kebahagian lain datang, dimana Vya menemukan cintanya.
Menikah dan membina keluarga, namun tidak berselang lama kebahagian itu berangsur sirna. Akankah Vya mampu melewati cobaan hidup yang datang padanya? Dan akankah dia menemukan kebahagiannya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHINOV, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Nara sudah selesai dengan urusannya di RS, tetapi dia tidak langsung pulang ke rumahnya, melainkan pulang ke rumah Rizwan orang tua Angga. Di sana dia disambut oleh Ferra, setelah mempersilahkan Nara masuk Ferra pun mengajaknya bersantai di ruang tengah.
"Tumben Nara kesini sendirian, hari ini Nara tidak ada jadwal praktek kah nak?" tanya Ferra
"Ada Bun, sebenarnya hari ini Nara praktek pagi. Tapi Nara ijin, karena Nara merasa kurang enak badan,"
"Lho kamu sakit nak?" tanya Ferra yang sama paniknya dengan Angga pagi tadi.
Dan Nara pun menggelengkan kepalanya, dia mengambil tasnya mengeluarkan benda pipih yang dari tadi dia bawa dan sebuah foto hitam putih berukuran kurang lebih 9×6 cm. Dia menyerahkannya pada Ferra, Ferra menerimanya dengan bingung. Dia terus memperhatikan benda benda yang Nara serahkan padanya dan akhirnya diapun mengerti, benda benda apa itu. Dan dia pun memeluk Nara dengan sayang, memberikan ucapan selamat, dan mencium kening Nara bertubi tubi, menandakan bahwa dia sangat bahagia mendengar kabar baik dari Nara.
"Apa Angga sudah tau nak, tentang kabar ini?" tanya Ferra.
"Belum Bun, Mas Angga belum tau tentang kabar ini, nanti kalau Mas Angga pulang aku akan memberitahunya," jawab Nara. Ferra pun mengangguk anggukkan kepalanya, menyetujuhi apa yang Nara katakan.
"Oh ya Bun, Nara istirahat di sini bolehkan. Sambil menunggu Mas Angga pulang," lanjut Nara.
"Tentu saja nak boleh, ini rumah kalian juga, sudah istirahat sana, Bunda akan memberi kabar pada Ayah," ucap Ferra dengan penuh kebahagian, karena akan mendapatkan seorang cucu.
Nara pun akhirnya naik ke lantai dua dimana kamar Angga berada. Dia memandangi dua benda ditangannya, kemudian dia mengambil handphone dari dalam tasnya dan mendial nomor seseorang. Dia tertawa, dan bercanda dengan orang yang dia telepon tak lupa dia juga menyampaikan kabar bahagia tersebut kepada orang itu. Setelah hampir setengah jam mereka bercengkeramah via telepon, Nara mengakhirinya dan dia mengirim pesan lewat whatsapp kepada dua adik perempuannya, Revi dan Vya. Mengabarkan bahwa sebentar lagi dia akan menjadi seorang ibu, dan mereka akan menjadi Aunty.
Revi dan Vya memberi Nara ucapan selamat, dan Revi langsung menelepon Nara. Berbeda dengan Vya mendengar kabar tersebut Vya senang karena Kakaknya akan menjadi orang tua, namun disisi lain dia teringat kembali perkataan menyakitkan yang terlontar dari bibir sang Mama mertua. Dia kembali menangis meratapi nasipnya, entah kapan dia akan mendapat pengakuan dan kasih sayang dari Mama mertuanya, dan kapan dia akan seberuntung Nara dikaruniai seorang momongan.
🌷🌷🌷🌷
Sore harinya, saat Angga akan melangkah keluar dari kantornya dia melihat ada notif pesan masuk yang terkirim satu jam yang lalu dan disitu tertera nama My Wife Nara. Dia segera membuka dan membaca pesan tersebut,
"MAS, AKU SEKARANG ADA DI RUMAH BUNDA KAMU JEMPUT KESINI YA. LOVE U HUBBY 😘😘,"
Angga tersenyum membaca pesan dari istrinya dan dia segera berlalu meninggalkan kantornya, dan meluncur ke rumah sang Bunda dimana saat ini istrinya tengah berada disana.
Sesampainya Angga di rumah dia tidak melihat Nara di ruang tamu, di ruang tengah dan di dapur dimana kini sang Bunda tengah menyiapkan makanan untuk makan malam.
"Assalamualaikum Bun," sapa Angga dan memeluk serta mencium pipi sang Bunda.
"Wa'alaikumsalam Nak,"
"Bun, tadi aku dapat pesan dari Nara katanya dia ada disini. Tapi dimana dia, aku tidak melihatnya, oh ya apa Ayah belum pulang?"
"Satu satu nanyanya, udah kaya polisi mengintrogasi tersangka aja kamu ini,"
"Nara ada di kamar kamu, dia lagi istirahat. Dan Ayah belum pulang, mungkin sebentar lagi juga datang, dah sekarang kamu ke kamar istirahat, bersih bersih, abis itu turun ke bawah kita makan bareng ya," ucap Ferra dan dia mencoba menahan diri agar tidak memberitahukan kabar bahagia tersebut pada Angga. Biar Nara saja nanti yang akan memberitahu Angga.
"Siap Bunda, terimakasih Bun. Love U," Angga pun meninggalkan sang Bunda di dapur, dan dia bergegas menemui sang istri.
Dan di dalam kamar Angga mendapati sang istri tengah tertidur dengan menggenggam sesuatu. Angga mendekatinya perlahan, duduk di sebelah sang istri dan mencoba mengambil benda apa yang tengah digenggam oleh istrinya. Dia mendapati sebuah alat tes kehamilan dengan dua garis merah, dan sebuah foto hitam putih yang menunjukan gumpalan kecil dalam fotonya. Tangannya gemetar melihat dua benda yang kini telah beralih dalam genggamannya, dan bulir air mata jatuh menetes membasahi pipinya, dia tau benda apa yang kini tengah dia pegang.
"Sayang bangun aku datang," dan dia pun membangunkan Nara dengan perlahan. Nara yang merasa tubuhnya terconcang pelan pun akhirnya membuka matanya, dan dia melihat Angga sudah ada dihadapannya dengan memegang dua benda yang tidak pernah lepas dari tangannya.
"Mas, ka.. kamu sudah pulang," Angga mengangguk menatap sang istri dengan tatapan yang sulit diartikan. Lalu Angga menunjukan dua benda yang kini dia pegang pada Nara,
"Apa ini milikmu?" Nara menganggukan kepalanya ragu, tanpa mau menatap Angga yang ada di depannya.
Dan sesaat kemudian Angga meraih Nara dalam pelukannya, dia menciumi kepala istrinya, berganti ke kening, mata, pipi dan berakhir dibibir Nara.
"Terimakasih sayang, akhirnya aku akan menjadi seorang Ayah. Terimakasih," ucap Angga, dengan air mata yang masih menetes dari pelupuk matanya.
"Maaf aku baru memberitahumu karena aku juga baru mengetahuinya hari ini, dan ingin membuat kejutan untukmu," kata Nara.
"Tidak apa apa, yang terpenting sekarang kamu harus menjaga kandunganmu dan kesehatanmu. Bilang padaku jika kamu menginginkan sesuatu,"
Nara mengangguk dan memeluk suaminya, mereka meluapkan kebahagian yang mereka rasakan. Dan tanpa sadar kini posisi mereka telah berubah, dari yang tadinya sama sama duduk dan saling berhadapan kini menjadi terbaring dengan Angga berada di atas Nara. Mereka saling mencium dan *******, dan kini pakaian Nara telah terbuka dibagian atasnya. Namun saat Angga akan membuka pakaian bagian bawah Nara, Nara segera tersadar dan mendorong Angga dari posisinya. Nara segera merubah posisinya, dia duduk diatas ranjang dan merapikan pakaiannya kembali.
"Maaf Mas, bukannya aku menolakmu. Tapi kata dr. Reny kandunganku masih rentan jadi kita belum boleh melakukannya, kita tunggu usianya cukup matang," ucap Nara setelah melihat kekagetan dan kekecewaan pada suaminya.
"Seharusnya aku yang minta maaf karena tidak bisa mengontrol diri, hingga melupakan bahwa didalam sini ada mahkluk yang masih sangat rentan," ucap Angga dengan mengelus perut Nara yang masih rata.
"Maafkan Ayah ya sayang, Ayah akan selalu menjagamu dan Ibumu, kamu baik baik ya didalam sana," lanjutnya dan mengecup perut Nara dengan sayang.
💐💐💐💐💐💐💐💐
Assalamualaikum teman², Terimakasih atas apresiasi teman² semua, tetap di tunggu ya up berikutnya. Dan jangan lupa berikan Like, Komen, serta Vote, Tips juga boleh jika teman² berkenan. BIG LOVE BUAT KALIAN 😘😘😘😘