NovelToon NovelToon
Suamiku Mahal Pujian

Suamiku Mahal Pujian

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:80.9k
Nilai: 4.8
Nama Author: Rita Arcip

Bagaimana rasanya hidup dengan saling mencintai? Menyenangkan bukan? Tapi bagaimana jika suamimu, sangat 'mahal' akan pujian. Padahal, sejatinya, seorang wanita sangat ingin dipuji, meski hal yang ia lakukan adalah hal yang sederhana.

Raina Putri, menjadi wanita yang setengah beruntung itu. Disatu sisi ia merasa sangat beruntung di muka bumi ini.

Memiliki suami yang super setia, baik, dan sangat mencintainya. Jangan lupakan parasnya yang tampan dan pekerjaannya yang mapan.

Tapi, disisi lain hatinya, Raina merasa kehidupan rumah tangganya sedikit hambar.

Ketika sisi wanitanya ingin dimanja dan dipuji oleh sang suami, namun suaminya tidak pernah peka tentang hal itu.

Banyak laki-laki yang menginginkan dirinya, masuk sekali dalam kategori pria idamannya. Namun, sekuat hati ia menjaga perasaanya untuk Irsyad, suaminya.

"Mas Irsyad..." panggilnya lirih.

Dia melihat dengan jelas, bahwa suaminya tengah berciuman dengan wanita lain.

Sakit? Tentu saja, bahkan lebih dari itu. Suami yang selalu ia banggakan pada dunia, tega menghianati cintanya.

"Raina, dengarkan aku dulu! Kumohon..." pintanya seraya meraih jemari Raina. Gadis itu menepisnya kasar.

"Jangan sebut namaku dengan mulut kotormu!" Tegasnya dengan suara tinggi.

Ditatapnya wanita yang berada di belakang suaminya. Wanita itu tengah tersenyum menang.

"Aku tunggu kamu di pengadilan, Mas!" Ucapnya lirih, bagaikan sambaran petir ditelinga Irsyad.

"Baguslah, jika kau sadar diri. Memang hal itu yang harus kalian lakukan! Bercerailah! Setelahnya, jangan ganggu kehidupan kami!" Perintahnya tanpa malu.

"Kau tenang saja, aku takkan mengganggu kehidupan kalian. Karena menurutku, seorang pengkhianat memang lebih cocok dengan seorang penggoda!" Kata Raina penuh penekanan.

Dilihatnya Irsyad sedang menatapnya dalam. Air mata meluncur membasahi pipi lelaki itu.

"Maafkan aku, kumohon Raina..." pintanya lirih.

Namun Raina berlalu begitu saja. Menulikan telinganya. Hatinya remuk seketika, dadanya sesak. Rinai gerimis membasahi pipinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Arcip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 19

Setelah sampai rumah, aku dan Mas Irsyad bergegas mandi dan berwudhu. Waktu shalat maghrib sebentar lagi usai. Kami shalat berjema'ah seperti biasa.

"Mas, aku ke dapur dulu ya. Mas tiduran aja, istirahat. Kelihatannya Mas cape banget." Kataku sembari melipat mukena dan sejadah.

"Aku gak apa-apa kok Sayang, aku mau nemenin kamu aja masak di dapur."

"Ohh yasudah kalau begitu, yuk kita turun."

Akhirnya aku dan Mas Irsyad turun menuju dapur. Suamiku duduk manis di kursi sembari melihatku sibuk memotong sayuran.

"Kamu manis banget Yang kalau lagi sibuk begini," godanya.

Kulirik dia sekilas, dia tersenyum sangat manis. Aku meleleh dibuatnya.

"Gombal deh kamu," kataku tersipu malu. Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya makananku siap.

"Tumis brokoli udang, tahu goreng sama kerupuk udang. Wah menggoda banget Yang masakan kamu." Pujinya sembari menyodorkan piring ke arahku.

"Baru kali ini dia langsung memuji masakanku, eh tapi kan dia belum bilang bahwa makanannya enak. Nanti bakal keluar gak ya kata pujian itu?" Tanya batinku.

Kuambil piringnya, kumasukkan nasi dan juga lauknya. Lalu, kududuk di sampingnya.

Kami menikmati makanan dengan hening, sesekali kulihat wajahnya, menunggu reaksinya untuk memuji masakanku.

"Tuh kan, dia itu emang mahal banget dalam hal memuji. Huh! Kenapa aku selalu aja kesal, padahal 'kan dari dulu ia begitu." Gerutuku dalam hati.

Piring Mas Irsyad telah tandas, ia tersenyum ke arahku.

Mencium pipiku sekilas. Amarahku langsung saja reda. Dia tahu saja kelemahanku.

"Makasih Sayang udah mau masak buat aku, padahal kamu cape baru pulang kerja." Ucapnya seraya bangkit dari duduknya.

"Iya Mas, emm ... Mas aku mau bicara sama kamu. Kamu tunggu di kamar saja ya, nanti aku nyusul setelah cuci piring." Mas Irsyad mengangguk, dan melangkahkan kakinya menuju kamar.

******

Aku masih meremas ujung piyamaku, bingung harus memulai bicara dari mana. Selepas shalat isya tadi, aku segera menyiapkan diri dan kata-kata yang akan kusampaikan pada Mas Irsyad.

"Ada apa Sayang, kenapa gugup gitu?" Tanyanya lembut, jemarinya tak berhenti mengusap kepalaku.

"Mm ... aku ditawari menjadi asisten pribadi bu Risma, Mas. Menurut Mas gimana?" Tanyaku gugup, aku menggigit bibir bawahku.

Mas Irsyad menatapku lamat-lamat, aku tak bisa menebak apa yang ada di pikirannya.

"Kamu udah terima tawarannya?"

"Belum, aku minta bu Risma untuk menunggu. Soalnya aku mau izin dulu sama Mas."

"Kalau aku gak izinin kamu tetap bakalan terima tawarannya?"

Deg! Jantungku semakin berpacu dengan cepat. Tuh kan benar, Mas Irsyad takkan mengizinkannya. Karena ia tahu, betapa sibuknya menjadi asisten pribadi.

"Aku gak mau kamu kecapean Rai, aku gak bisa lihat kamu sakit. Aku bakalan jadi suami lalai kalau sampai hal itu terjadi sama kamu." Paparnya lirih, aku tertegun dengan ucapannya.

Meskipun dia acuh, kurang perhatian dan mahal pujian, ternyata dia mengkhawatirkanku dalam diam.

Aku paham sekali maksudnya. Tapi ... jujur aku sangat menginginkannya. Ini kesempatan bagus untukku.

"Tapi ... kalau kamu bisa janji sama aku, buat jaga kesehatan kamu, aku izinin Rai, aku akan selalu mendukung apapun keputusanmu. Jangan terlalu sibuk sepertiku Sayang. Sebab, aku sudah sering merasakan gimana rasanya merindumu saat bekerja. Ingin cepat pulang, tapi kerjaan masih menumpuk. Galau banget, sumpah deh." Lirihnya, ia rengkuh tubuhku ke pelukannya.

Aku menangis haru di pelukannya. Tak pernah kusangka sedalam itu perasaannya.

Aku tak pernah berpikir bahwa dia juga sering merindukanku ketika bekerja. Aku menyangka, bahwa aku saja yang terlalu mencintainya, sehingga hanya aku yang selalu merindukannya.

"Kenapa menangis Sayang?"

"Aku terharu sama ucapan kamu Yang, aku kira cuman aku yang selalu merindukanmu ketika kerja. Ternyata aku salah," kataku di sela-sela isak tangis.

"Aku bukan lelaki yang pandai bermulut manis Rai, kau tahu itu. Aku diam, bukan berarti aku tak mencintaimu. Justru karena perasaanku sangat dalam padamu, sehingga aku sulit untuk mengungkapkannya." Dia semakin mengeratkan pelukannya.

1
Retno Wulanningrum
tak tengok tiap hari kok ndak up... up sich thooor,
Retno Wulanningrum
tapi kok aku ingin raina jadian sma bisma, biar si irsyad itu bisa jaga hati dan kepercayaan yg dibeikan sa raina, dan bikin irsyad ntar nyesel
Retno Wulanningrum
lanjuut thooor jngam bikinraina dan irsyad bercerai
ncns.nay
Jangan di gantung dong Thor😭
Lanjut lagi ya Thor semangat 💙💙💙
Pena titipan
lanjut Thor semangat jangan di gantungin dong lama amat up nya
riniratna ningsih
ini cerita ada lanjutan nya g sich?
Dhe cungkring Dhe cungkring
kamu lupa t thor koK gk up"
mbuh
crazy up
riniratna ningsih
lama amat up nya
Heny
cuman mau mengintip ternyata belum up
Isu💟THY
👍👍👍👍👍
Dhe cungkring Dhe cungkring
Thor...
Yuli Ani
ditunggu up nya ya Thor yg byk 😘😍
Lina Linnot Part III
lanjutt thor
🔵♨ˢᶜ༄⃞⃟⚡ˢ⍣⃟ₛ as⏤͟͟͞R¢ᖱ'D⃤zc❖
lah ga jadi2 ke dokternya
mbuh
lagi thor
feliza keith
👍
anikkkk
jangan buat bisma jadi jahat thorr,,biar vania aja yg kahat....
mbuh
lagilah
Karmilawati Lukman
lanjut thor... sayang sih klo sampe irsyad dan raina sampe cerai tp di sinopsisnya kan irsyad berciuman dgn wanita laen jadi mau dibilang apa??? raina udah terlalu bnyk mengalah dan bnyk dibohongi irsyad.. rainanya hrs tegas biar irsyad jg bs ambil sikap. lanjut terus thor. semangat. jgn lama2 ya thor...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!