NovelToon NovelToon
Misi Jaksa Tampan

Misi Jaksa Tampan

Status: tamat
Genre:Action / Misteri / Pembunuhan / Detektif / Tamat
Popularitas:392.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: Miss DK

Misi tak terpecahkan Lucius Malcom, si jaksa tampan yang jenius adalah mencari seorang wanita muda nan cantik bernama Edith. Sudah hampir tiga tahun Edith menghilang tanpa jejak. Lucius sudah mencarinya ke segala penjuru dunia, namun hasilnya selalu nihil.

Sampai pada suatu malam, seseorang menghubunginya dan mengatakan bahwa mayat wanita muda yang mengenakan cincin berlian hijau milik Edith telah ditemukan.

Dan di tengah-tengah kesibukannya bekerja dan menyelidiki kasus tersebut, Lucius mulai mencurigai keterlibatan Monica, istrinya dalam kasus yang diselidikinya. Hingga mengancam keutuhan rumah tangga yang sudah mereka bangun selama tiga tahun.

Apakah dengan menyelidiki kasus cincin berlian hijau Edith, Lucius Malcom dapat menyelesaikan misinya?

Sebenarnya rahasia apa yang dipendam Edith hingga ia lenyap ditelan bumi?


Dan apakah pada akhirnya Lucius dan Monica berhasil mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka berdua?

Penuh ketegangan dan intrik, ikuti misteri yang ada di dalam cerita ini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss DK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 - Puzzle

Baru saja punggungku bersandar nyaman dan duduk nyaman di jok kulit mobil SUVku yang halus, tiba-tiba saja sesuatu bergerak-gerak menggelitik pahaku.

"Aduh, bikin kaget saja," pekikku menepuk ponselku yang tiba-tiba bergetar dalam saku celana.

Kuraih ponselku dan membaca siapa nama peneleponnya.

"Lagi-lagi Andrew. Ada apa ya? Baru saja berpisah 30 menit, sudah mencariku lagi. Apakah dia sudah mengerjakan PRnya dan ingin pamer kepadaku?" ucapku bingung, segera menggeser tombol hijau dengan gambar telepon putih.

"Selamat malam, Pak. Apakah bapak sudah sampai di rumah?" tanya Andrew di telepon. Suaranya terdengar cemas.

"Belum, masih di tempat parkir Laboratorium Badan Forensik. Aku baru saja menemui Dokter Jenny untuk memberikan barang bukti yang aku temukan di basement. Sepertinya itu kuku jari tangan Orlene," jawabku sekaligus menginformasi penemuan baruku kepada Andrew, karena aku taksempat memberitahukannya di taman. Karena ada Monica di dekat kami.

"Hah? Benarkah? Luar biasa, keren. Semoga hasilnya cepat keluar, jadi pembunuh Orlene yang sebenarnya segera tertangkap. Bukan malah menangkap Jason sebagai tersangkanya," tutur Andrew.

"Polisi menangkap Jason?" tanyaku bingung.

"Benar, Pak. Baru saja Nyonya Merry, ibunda Jason menelepon saya, mengabarkan hal ini," jawab Andrew cepat dengan nada khawatir.

"Apakah polisi membawa surat tugas dan surat perintah penangkapan?" tanyaku.

"Entahlah, Pak. Nyonya Merry terlalu panik karena putra kesayangannya diborgol di dalam rumahnya dan dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan lebih lanjut karena menurut hasil penyelidikan polisi, Jason memiliki kemungkinan besar sebagai pembunuh istrinya sendiri, Orlene," jawab Andrew.

"Ehem... Bukti apa yang ditemukan polisi hingga menuduh Jason sebagai pelakunya?" tanyaku pada Andrew.

"Kurang tahu, Pak. Sekarang saya sedang dalam perjalanan ke kantor polisi," tutur Andrew dengan cepat.

"Baiklah, aku tunggu kabarmu. Kurasa Jason akan menginap 1 x 24 jam di ruangan penyidik kasus kriminal sampai pengacara yang ditunjuk keluarganya datang untuk membuktikan dia tidak bersalah," jawabku.

"Ya, saya sudah menghubungi Bu Sisca, pengacara yang biasa bapak rekomendasikan untuk membantu klien-klien yang terkena kasus hukum pidana. Beliau bersedia memberikan bantuan hukum untuk Jason," tutur Andrew.

"Okay. Langkahmu sudah tepat. Aku serahkan semuanya padamu, Andrew. Semoga penyidik segera memeriksa Jason dan pemeriksaan dijalankan tanpa tekanan, ancaman, kekerasan baik fisik maupun psikis," ujarku penuh harap agar tidak terjadi sesuatu pada Jason.

"Baik, Pak. Saya berharap Jason segera dibebaskan dari tuduhan tidak masuk akal ini. Saya yakin 1000 % Jason tidak mungkin membunuh istrinya sendiri. Pasti tuduhan ini keliru," ucap Andrew.

"Aku juga tidak percaya Jason sanggup membunuh Orlene sekeji itu. Sekarang aku harus pulang, tubuhku terlalu bau, aku butuh air dan sabun. Setelah selesai mandi dan makan malam, aku akan menyelidikinya. Bye," ucapku sebelum mengakhiri panggilan telepon.

"Terima kasih, Pak. Kalau begitu saya akhiri panggilan teleponnya," tutur Andrew.

Setelah sambungan telepon ditutup, aku segera menyalakan mesin mobilku, mengendarainya dengan hati-hati selama perjalanan pulang.

Saat mengemudi, sebuah perasaan mengganjal tiba-tiba menyeruak ke dalam hati dan otakku, membuat pikiranku melayang-layang memikirkan hal-hal yang baru saja terjadi.

Diawali dengan penemuan kuku jari di basement bangunan kecil taman kota secara kebetulan, bertemu Monica di taman kota, pergi ke Laboratorium Badan Forensik dan mendapat pujian sebagai Jaksa Teliti dan Jenius. Kemudian ditutup dengan kabar tertangkapnya Jason.

Aku menghela napas panjang.

"Ayo kita telaah baik-baik, Lucius," kataku mulai menyusun kepingan puzzle yang kudapat hari ini satu persatu.

"Pertama, apakah aku benar-benar teliti dan jenius seperti yang dikatakan Dokter Jenny hingga berhasil menemukan kuku jari di basement?" tanyaku pada diriku sendiri.

"Ehem... Ini bukan masalah ketelitian dan kejeniusan otakku. Tapi pada hal tentang alasan kenapa polisi tidak terpikir untuk memeriksa bangunan kecil yang ada di dekat TKP? Bukankah seharusnya polisi memeriksa semua area di sekitar TKP dengan teliti?" tanyaku sambil mencengkeram kemudi erat-erat.

Kepalaku memikirkan berbagai macam alternatif-alternatif jawabannya yang dapat menjadi jawaban pertanyaanku.

Dan sebuah alternatif jawaban mengagetkan terlintas di kepalaku.

"Apakah ada orang dengan posisi kuat yang meminta departement kepolisian yang bertugas menyelidiki untuk menjauhi bangunan kecil itu? Sehingga mereka tidak masuk ke bangunan kecil itu apalagi turun ke bagian basementnya," tanyaku makin bingung.

"Ehem... Jika memang pemikiranku tentang adanya orang kuat di belakang kasus ini benar, aku harus berhati-hati. Bukti kuku jari yang kutemukan di basement bangunan kecil ini tidak boleh terekspos dan diketahui pihak kepolisian. Aku khawatir orang kuat di balik semua ini akan menghancurkan bukti itu dan kasus ini kembali ke titik nol lagi. Semakin lama, kasus ini makin unik dan menarik," ucapku sambil mengusap-usap daguku.

"Aku akan menelepon Dokter Jenny, aku harus memastikannya untuk melaporkan hasil tes DNA pada kuku jari itu hanya kepadaku, bukan pada orang lain," ucapku segera menelepon Dokter Jenny.

"Selamat malam, Dokter Jenny," sapaku sopan.

"Malam, Lucius. Ada apa meneleponku?" tanya Dokter Jenny.

"Dokter, setelah hasil laporannya selesai, pastikan hanya saya dan Andrew yang mengetahuinya. Jangan ada orang lain yang mengetahuinya," perintahku.

"Tentu saja. Jangan khawatir, Lucius," tutur Dokter Jenny tenang tanpa banyak pertanyaan.

"Terima kasih, Dokter," ucapku.

"Sama-sama, Lucius," kata Dokter Jenny sebelum mengakhiri panggilan telepon.

"Fiuh... Sekarang puzzle yang kedua. Bertemu Monica di taman kota. Apakah ini sebuah kebetulan atau memang disengaja? Takbiasanya Monica berjalan-jalan keluar rumah. Walaupun tadi Monica sudah memberikan alasan yaitu bosan di rumah, tapi sepertinya masih ada yang mengganjal di hatiku. Karena Monica adalah Luna, gadis yang terlihat sebagai orang terakhir yang bertemu dengan Orlene. Apakah Monica datang ke TKP untuk melihat kondisi TKP pasca Orlene terbunuh? Akkhhh.... Puzzle ke dua ini sangat membingungkan," pekikku keras karena kesal tak dapat menyelesaikan kepingan puzzle yang ke dua.

Sebuah kecurigaan mulai timbul di hatiku. Tapi aku terus menekannya agar tidak makin muncul ke permukaan.

"Ah... aku terlalu berpikir aneh-aneh. Monica tidak mungkin berbohong. Orang yang suka menyendiri di rumah juga lama-lama pasti bosan jika tidak ada pekerjaan. Jalan-jalan di taman kota adalah obat yang sangat mujarab untuk menghilangkan kebosanan," ucapku menepis semua pemikiran buruk tentang Monica.

"Ayolah, jangan berprasangka buruk pada istrimu sendiri," ucapku berusaha meyakinkan diriku yang perlahan mulai goyah.

Takterasa mobil yang kukendarai sudah tiba di depan rumahku. Rumah yang didesain sesuai keinginanku oleh seorang arsitek kenamaan. Sebuah rumah terapung yang sangat cantik di area Danau Kelinci Hitam, berbentuk balok kotak dengan teras rumah yang menghadap ke perairan danau sehingga penghuni rumah dapat menikmati pemandangan indahnya matahari terbenam dan danau di sore hari.

"Bersikaplah seperti biasanya, jangan berbuat sesuatu yang membuat Monica bersedih. Selalu percaya pada pasangan adalah resep agar pernikahan yang dibangun selalu awet dan langgeng," nasehatku pada diriku sendiri.

"Monica, I LOVE YOU," pekik hatiku keras-keras.

Aku segera beranjak keluar dari mobil SUV ku setelah memasukkannya ke dalam garasi mobil. Lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Kucium semerbak bau masakan Monica. Aroma daging sapi yang ditumis dengan bawang bombay.

Hmm... baunya wangi, pasti enak, batinku.

"Sayang, aku sudah pulang," ucapku sambil berjalan santai ke ruang makan.

Kulihat Monica mengenakan baju sabrina dengan motif kotak-kotak hitam putih yang memperlihatkan bahu putihnya yang terbuka, membuat siluet lehernya terlihat makin jenjang, dipadu dengan celana pendek warna putih.

"Sangat sexy," decakku kagum akan penampilannya. Tanpa kusadari tubuhku bergerak ingin merengkuhnya ke dalam pelukanku.

"Jangan mencemariku lagi, aku sudah wangi. Pergilah mandi, Lucius!" usir Monica cepat-cepat sebelum aku menyentuhnya.

"Siap, Bos!" tuturku malu.

"Letakkan baju kotornya di ember yang aku sediakan di depan kamar mandi. Aku akan minta Bi Mimi mencucinya terpisah agar tidak mencemari baju-baju lainnya," ucap Monica

"Sekali lagi siap, Bos!" jawabku sambil menghormat ala militer kepada Monica.

Monica membalas hormatku sambil tersenyum menggoda.

Sebelum pesonanya makin menggodaku, kulangkahkan kakiku secepatnya, pergi menuju kamar mandi di lantai dua.

1
Sun Flower
Luar biasa
Sun Flower
Lumayan
Ryn
Mantap thorr.. saya suka novel.genre kayak ginii..☺️ sukses sll kk authorr
Erna Wati
blm baca semua....thor jgn banyak ngobrolnya ceritanya hehehe
wonder mom
more than best friend?🤔
Mell djuna
seperti nya monica dan kedua tmn na mw memalsukan identitas lg ,spy mereka dpt klaim asuransi dr korban" yg sudah meninggal 🤭
Miss DK: Makacih banyak buat jempolnya, Kakak.
Semoga suka dengan novelnya.
total 1 replies
virtandeepa
tetap aku like tanpa protes
Miss DK: Wkwkwk ... mau protes apa, Kak? kritik sarannya ditunggu.
total 1 replies
virtandeepa
duh penasaran
MangaToon_Editor
cool
Dino● Nhớ mọi ngừi nhắm: Ủa ad?
total 4 replies
jingga
kq jadi lucius yg kena sich
jingga
makin tegang😬
jingga
fighting pk jaksa💪💪💪
jingga
akhirya kejawab sudah
jingga
makin penasaran😍
jingga
tulisannya rapi,ceritanya menarik.
tapi kenapa peminatnya dikit ya🤔
Miss DK: Makasih udah mampir dan beri like, Kak.
Mungkin karena saya jarang promosi dan ceritanya terll berat (bukan genre romance) jadi krg peminat. Hehehe ...
total 1 replies
Ava Eka
sptnya gambaran cerita dan nama2 orang luar negeri,tp gagal paham ama makanannya
Miss DK: Hahaha ... Latar tetap di Indonesia aja. Surabaya dan Batu.
total 1 replies
🌹Almira🌹
semangat💪💪
Sucy Illana
cerita bagus Thor
Miss DK: Terima kasih banyak, Kak.
total 1 replies
Latifah Rais
heeem teka teki,, ga tau apa yg terjadi taunya hera membawa ares ke hades,, kasian nasib ares ketakutan hidupnya
Lili
Hadir 😁
Mampir ya ke Ibu Tunggal
Terima kasih 🙏
Miss DK: Done.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!