Ini merupakan sequel dari Pembalap Idola. Masih bercerita tentang Nicken yang harus LDRan Jakarta - Jogjakarta bersama Satria tapi tidak mengurangi rasa kepercayaan satu sama lain. Sampai pada akhirnya banyak pihak ketiga yang semakin menguji kekuatan cinta mereka berdua.
Munculnya Danise agak menggoyahkan hubungan Nicken dan Satria. Namun Danise melakukan itu karena diimingi impiannya menjadi fotografer terkenal oleh Deandra yang pada akhirnya diketahui motif Deandra ingin membalas dendam kepada Nicken dan semua kakaknya dan juga kepada.. Satria.
Bantuan dari Adam yang berpura-pura pacaran dengan Nicken membuat Nicken dan Satria berhasil membongkar rencana Deandra. Perlahan Adam dan Nicken pun ikut larut dalam perannya sebagai pacar gadungan. Akankah cinta Satria dan Nicken berakhir akibat Deandra dan Danise? Ataukah Nicken benar-benar terlibat cinta sesaat oleh Adam? Atau mungkin cinta Nicken dan Satria semakin mendalam dan mereka tidak terpisahkan?
Inget yaa.. Apabila ada kesamaan nama karakter atau tempat, itu hanya kebetulan. Karena semuanya fiktif belaka. Enjoy!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caroline Gie White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Danise Kembali Berulah
JAKARTA.
Nicken lagi serius sama laptopnya. Efek tidak masuk sekolah berhari-hari, diapun mesti menyelesaikan tugas sekolah yang menumpuk. Ditambah tugas laporan mingguan Keamanannya. Untungnya dia lagi dikasih libur balap sama Reno jadi dia bisa sedikit "bernafas" buat menghadapi jadwal hariannya yang padat merayap.
Vicky pun masuk lalu memeluknya dari belakang sambil mencium pipinya. Setelah itu dia menjatuhkan badannya di tempat tidur Nicken. Nicken memutar bangkunya.
“Gimana Satria, De?”
“Sudah ingat sama gue, Kak. Latihan lo gimana?”
“Besok keputusannya. Kalau lolos ya gue ke Sydney.”
Beberapa hari kemarin Vicky emang lagi tidak di rumah. Dia mesti ke Surabaya buat ikut audisi untuk jadi tim inti basket di Timnas. Kalau dia berhasil lolos, dia sama timnya bakal tanding ke Sydney, Australia.
Nico tadinya ikutan tapi pas lihat jadwalnya bentrok sama jadwal ujian sekolahnya, dia langsung mengundurkan diri. Maklum diakan sudah kelas dua belas jadi sudah banyak ujian-ujian yang mesti dia hadapi.
“Ikut bisa kali.”
Vicky tertawa. “Keponakannya Mr. Brahma gimana?"
“Adam? Kayanya sudah banyak yang mengajari dia buat enggak mencari masalah sama Keamanan jadi dia enggak ada masalah. Padahal gue berharapnya dia berulah, biar Keamanan ada mainan baru.”
Vicky tertawa.
“Dan kemarin dia yang menemani gue ke Jogja.”
“Serius? Lo akrab sama dia?”
“Biasa aja kok, Kak. Sebelum ke Jogja dia ada masalah dulu sama anaknya Robi..”
“Ksatria Bangsa?”
“Iya, tapi sudah kelar kok. Nah pas di jalan mau balik ke sekolah ada yang sengaja mengirim gue ini.”
Nicken mengambil ponselnya dan terlihat menggeser layarnya lalu memberikannya ke Vicky.
“Gue panik dan langsung ke Jogja, dan Adam maksa ikut karena dia lihat gue emosi banget waktu itu.”
“Tersangkanya ada dua nih, De, cewek ini dan yang fotoin.”
“Mungkin dia yang ada di balik masalah gue sama Satria kemarin.”
“Gue saranin lo hati-hati ya. Tetap percaya sama Satria.”
JOGJAKARTA.
Ngomongin Satria, dia pun sudah balik masuk kampus. Dia sudah jarang merasakan pusing dan mimisannya pun sudah tidak ada lagi. Dia sudah merasa pulih biarpun Dude belum memaksakan dia buat mulai latihan. Axel juga sudah pensiun jadi supir pribadinya karena Satria sudah yakin bisa bawa mobil sendiri.
Yang belum berubah adalah Danise. Biarpun dia tahu kalau Satria sudah benci banget dan selalu keliatan menghindar, tapi dia tetap masih usaha buat dekat sama Satria.
“Obsesi lo ke Milan tinggi banget ya, Nise?” Danise menoleh ke Axel yang berjalan di sampingnya.
“Ngomong apa sih lo?”
“Enggak usah pura-pura. Gue masih ingat banget alasan lo mendekati Satria.”
“Bukan urusan lo, Xel.”
Axel menangkap lengan Danise yang menghentikan langkahnya. “Jangan pernah ganggu mereka lagi. Kali ini gue enggak bakal main-main kalau sampai lo merusak hubungan mereka. Ingat itu.” Axel melepaskan tangannya lalu berjalan pergi.
Danise pun terdiam lalu dia mengambil ponselnya yang berbunyi.
“Just stick to my plan. (Tetap direncana).” Sahut seorang cowok di ponselnya.
“Gue enggak bisa meneruskan ini.”
“Think about Milan or forget it.” (Pikirin tentang Milan atau lupakan) Cowok itu memutuskan hubungan telepon mereka.
Danise menghela nafas. What must I do then? (Gue harus gimana?)
Berita heboh tentang Satria akhirnya beredar lagi. Danise mungkin dilema antara melupakan Satria atau melupakan obsesinya ke Milan dengan cara mudah. Tapi pada akhirnya, Satria dan Nickenlah yang jadi korban lagi.
Yup. Foto-foto yang di ambil Danise waktu menjenguk Satria beredar luas di media sosial. Para awak media pun mengincar Nicken dan Satria lagi buat mengklarifikasi semuanya, termasuk Danise yang jadi penyebab utamanya.
Nicken dan Satria lebih milih bungkam alias no comment sama media biarpun akibatnya, beritanya jadi makin tidak karuan karena omongan Danise yang sengaja dia karang bebas.
Jujur makin lama Nicken dan Satria pun bête juga tapi mereka tetap tidak mau mengadakan jumpa pers atau paling tidak ngomong ke media kalau berita itu semua tidak benar. Mereka pikir bakal percuma saja. Pasti Danise dan partnernya-yang belum diketahui identitasnya- bakal semakin berulah sampai hubungan mereka beneran hancur.
Sebenarnya orang-orang terdekat mereka sudah coba menjelaskan apa yang terjadi, mungkin media belum cukup puas kalau yang jadi bahan pemberitaan –Nicken dan Satria- belum buka mulut.
JAKARTA.
Nicken menyusuri koridor lantai 2 menuju kantin. Dia lagi off jaga karena hari ini bagian Marvel dan Randy yang harus patroli bareng para Punggawa mereka. Nila dan Lika lebih milih di Gudang mengerjakan tugas yang dikasih Nicken buat mendata anak-anak yang perlu diawasi. Tidak berapa jauh melangkah dari kelasnya, dia melihat Ivan yang berjalan ke arahnya. Mereka pun berhenti ketika berpapasan.
“Can we talk?” Tanya Ivan mungkin dengan keberanian yang sudah dia kumpulin sebelum ketemu Nicken.
Nicken tidak menjawab tapi dia beranjak menuju pagar lantai 2 sambil menatap lapangan basket dan yang punya lapangan, Nico cs. Ivan pun mengikuti dan berdiri di sampingnya biarpun dengan jarak.
“Ada apa?” Tanya Nicken tanpa menoleh sedikitpun. Melirik saja tidak.
“Gue minta maaf sama lo.”
“Buat apa? Buat kelakuan sepupu lo itu?”
Ivan menghela nafas. Dia sudah tahu gue mau ngomong apa. “Iya, Cken.”
“Lo enggak perlu repot minta maaf, toh bukan lokan yang melakukan.”
“Iya gue tahu, Cken. Gue minta maaf karena gue enggak bisa bantu lo apa-apa buat mencari tahu maksud dia apa.”
Nicken mendengus sinis dan kali ini sambil menatap Ivan. Dengan jutek pastinya. “Lo enggak perlu repot, Van. Gue sudah tahu alasan dia apa dan sooner or later (cepat atau lambat) gue bakal tahu siapa orang yang sudah menjanjikan dia buat mewujudkan obsesinya.”
Tanpa pamit apalagi penghormatan terlebih dahulu ke Ivan, Nicken balik badan lalu kembali berjalan menuju kantin. Ivan hanya bisa terdiam.
“Gue boleh duduk di sini?”
Nicken mendongak mencari yang punya suara dan melihat Adam. “Duduk saja kali, emang ini kantin punya gue?”
Adam tersenyum lalu duduk di hadapan Nicken. “Kadang gue enggak berani, Punggawa lo seram-seram.” Sahutnya sambil melihat 2 cowok lagi menatap dia dengan judes tidak jauh dari tempat mereka duduk.
Nicken tersenyum. “Selama lo enggak macam-macam, lo bakal aman dari mereka.” Nicken kembali mengaduk mie gorengnya dengan garpu tanpa maksud mau dia makan.
“Satria gimana?”
“Alhamdulilah, sudah bisa latihan.”
“Gue turut prihatin ya soal gosip kalian.”
“Kita mah sudah biasa, Dam. Tapi kalau bukan selebritis kaya lo pasti susah sih membayangkannya.”
Adam pun tertawa. Tidak berapa lama rombongan tim basket Nico yang selalu bisa membuat sebagian cewek-cewek Canopus teriak histeris atau bertingkah aneh yang berlebihan, masuk ke kantin.
“Nick..”
Dio, cowok tinggi berbadan atletis dengan rambut Mohawk (yang sekarang lagi keliatan klimis gara-gara keringetan) dan berhidung mancung serta kulit kecoklatan menahan Nico berjalan sambil melihat ke arah Adam dan Nicken yang lagi mengobrol tidak jauh dari meja “Reserved” mereka.
Nicken emang kasih mereka meja khusus di pojokan kantin. Siapapun selain mereka berdelapan, pemain inti dan cadangan, dilarang duduk di sana. Makanya mereka agak bereaksi waktu Adam duduk di meja mereka kemarin.
Nicken memberikan kebijakan spesial buat mereka biar mereka tidak terlalu berulah kalau habis latihan dan mengganggu kenyamanan anak-anak lain dengan perjanjian mereka tidak akan seenaknya.
Dan terbukti, mereka sudah tidak pernah rusuh lagi kalau masuk ke kantin dan mendapati semua meja penuh karena mereka sudah tidak perlu mengusir penghuni meja lain buat memberikan mejanya ke mereka. Dan untungnya anak yang lain mengerti atas di‘anak emas’kannya mereka sama Nicken.
“Anak baru itu akrab sama adik lo?” Tanyanya.
Nico melihat ke arah Nicken dan Adam.
“Tunggu ya.” Nico lalu menghampiri Nicken setelah berapa kali kasih senyuman ke cewek-cewek yang sengaja memanggil-manggil namanya.
“Hai, Sayang.” Nico mencium kepala Nicken yang dijamin membuat cewek-cewek yang ada di kantin dan mengidolakannya mupeng abis.
Nicken pun sedikit mendorong dia agak menjauh. “Sudah gue bilang, ganti baju dulu kalau abis latihan. Bau tahu.”
Nico tertawa lalu malah sengaja memeluk Nicken. Adam pun ikutan tertawa melihat mimik muka Nicken yang lucu karena tidak suka sama Nico yang emang lagi berkeringat banget. Nico lalu berpaling ke Adam setelah melepas pelukannya.
“Oh iya, gue belum bilang makasih sama lo karena kemarin lo sudah nemenin adik gue ke Jogja.”
“With my pleasure, Kak.” (Dengan senang hati)
“Lo apaan sih, Nick, ntar dia geer tahu.”
Nico tertawa lalu mengacak rambut adiknya. “Ya sudah, gue mau cooling down dulu ya.”
“Ntar mandi loh, gue enggak mau mobil gue bau asem.”
“Iya bawel.” Nico pun pergi bergabung sama temen-temennya setelah mencubit pipi Nicken.
“Lo belum jawab gue, Bro.” Sahut Dio langsung ketika Nico sudah duduk di sampingnya.
“Emang kenapa kalau mereka akrab? Lo cemburu?”
Dio lagi-lagi menatap Nicken yang lagi tertawa bersama Adam. “Jelas bangetlah kalau gue cemburu. Diakan anak baru tapi sudah bisa langsung akrab sama adik lo, nah gue.. gue mah siapa coba?”
“Emang masih kurang, adik gue kasih lo meja spesial ini? Sudah deh, enggak usah lebay. Sampai kapanpun gue enggak akan rela membiarkan lo menggebet adik gue.”
“Sialan lo, Nick.” Nico pun tertawa waktu Dio mencekik lehernya dengan lengannya sambil mengacak rambutnya.
To be continued.....
Author : Terimakasih buat yang sudah mampir. Like dan komen kalian sangatlah berarti..
yuppy datang lagi bawa 8 like buat KK
terus semangat berkarya ya 💐
bdw mampir juga ya kak di novelku judulnya TERSISIH KARENA MENDUA
Ceritamu sangat sayang dilewatkan
Semoga kunjunganku tidak membuatmu bosan
Salam dari yuppy
"Diikuti makhluk ghaib"
dikaryamu yang hebat
Tetap semangat
salam dari yuppy
"Diikuti makhluk ghaib"
Maaf lama baru mampir
Ditunggu kelanjutannya
Salam dari yuppy
"Diikuti makhluk ghaib"