Blurb
Kiran Hanna Yasmin, merasakan hidupnya hampir sempurna dan jatuh cinta pada pria terbaik. Nyatanya bukan cinta, dirinya hanya dijadikan alat untuk balas dendam cara cepat untuk menuntut hak dari seorang Indra Jaya. Kehidupan Kiran seakan jungkir balik dan berubah ketika ayahnya memutuskan menikahkan Kiran dengan orang kepercayaannya.
Bukan kisah benci jadi cinta, tapi keadaan yang semakin rumit manakala Kiran hamil dan merasa diabaikan. Pecundang datang dengan penyesalan dan berjanji akan mengembalikan semua pada tempatnya, situasi menjadi semakin sulit macam benang kusut.
Kepada siapa cinta Kiran akan berpindah hati?
***
“Ini bukan kisah drama seperti tulisan-tulisanmu, tapi kehidupan nyata yang harus kita jalani. Sama seperti dirimu, aku pun memiliki kisah cinta sendiri.” == Brama Aji Sena.
“Aku tidak butuh rasa kasihan, pergilah dengan rasamu karena cintaku akan berpindah pada hati yang tepat." == Kiran Hana Yasmin
======
Follow IG : dtyas_dtyas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 ~ Astaga ....
Untuk sementara Brama mengabaikan masalah Emran dan Vira, hanya memantau saja. Tidak ada alasan berarti untuk menahan jika pasangan itu memang benar saling mencintai. Atas dasar apa pula Brama harus menyampaikan pada Yudis atau Narita. Cemburu? Rasanya tidak elok mengingat dia sudah menikah dan tidak profesional.
Jam kerjanya memang tidak jelas, lebih tepatnya tidak tahu waktu. Sekarang berbeda, ada tanggung jawab lain di rumah. Meskipun sudah lewat dari jam kerja, tapi Brama sudah berusaha secepat mungkin mengerjakan tugasnya.
“Tumben,” ujar Iwan melihat Brama bersiap pulang.
“Udah beda, kasihan yang di rumah,” sahut Brama.
Iwan terkekeh. “Jadi sudah diterima dengan sepenuh hati?”
“Sedang berusaha.”
“Semoga Tuan Yudis memang tepat memilih kamu jadi menantunya.”
Brama menghela pelan. “Paling tidak, dia bisa ceria lagi. Masalah kemarin cukup membuatnya terpuruk.” Ia menepuk bahu Iwan saat melewatinya sebelum meninggalkan ruangan.
Sudah hampir jam sembilan malam saat Brama meninggalkan area parkir. Jalanan sudah landai, tidak sam
pai satu jam sudah tiba di rumahnya. Bi Ati sudah pulang, karena tidak menginap. Suasana rumah juga sepi dan gelap. Beberapa area, lampunya sudah dipadamkan.
Kamar Kiran adalah tujuannya, dengan pelan ia menekan handle pintu lalu mendorong hingga terbuka. Istrinya sudah terbaring di bawah selimut. Khawatir membuat Kiran terjaga, Brama urung mendekat sekedar menatap wajah itu.
“Mimpi indah … manis.”
***
Beberapa hari terlewati, siklus jam kerja Brama masih sama. Dia pulang di mana Kiran sudah terlelap. Meskipun Yudis sudah kembali beraktivitas, tidak menyurutkan ritme kerjanya. Bertemu Kiran hanya ketika sarapan.
Brama merasa hubungannya dengan Kiran tidak akan berubah dan terus stag di tempat karena komunikasi yang terbatas. Mungkin liburan atau kencan bisa menjadi jalan untuk kedekatan lebih intens.
“Orange juice,” gumam Brama karena bukan kopi yang dihidangkan oleh Kiran.
“Iya. Mas Bram minum kopi di kantor saja, ini lebih sehat. Aku yakin walaupun di rumah sudah minum kopi, di sana pasti tambah lagi.”
Brama tersenyum lalu meraih gelas dan meneguk habis isi gelas.
“Eh, kok langsung dihabiskan. Sarapannya gimana?”
“Ya lanjut, toh bukan makanan berat.”
Brama tersenyum menatap piring di hadapannya, berisi omelet tanpa nasi atau kentang. Kiran mulai memahami dirinya, tidak memberikan makanan yang membuat begah di pagi hari. Setiap pagi selalu memberikan sarapan yang berbeda.
“Mas, nanti siang aku ada panggilan salah satu rumah produksi.”
“Jam berapa, perlu aku antar?”
“Setelah makan siang. Tidak usahlah, urusan dengan Ayah juga pasti ribet. Aku bisa berangkat sendiri.”
“Yakin?”
“Hm. Lagi pula ketemuannya di cafe mall dekat sini kok.”
“Perlu aku kirim supir, lebih aman dan ….”
“Mas Bram, aku bisa sendiri.”
Brama paham, Kiran berusaha membuka dirinya kembali setelah masalah yang dihadapi. Sebelumnya sempat takut melihat orang atau keramaian, seolah dia akan mendapatkan hukuman atas ulahnya.
“Oke, kabari kalau ada kendala.”
“Hm.”
***
Beruntung Kiran menolak tawarannya untuk mengantar, karena sejak tiba di kantor sampai dengan saat ini masih bersama Yudis. Briefing dan lanjut meeting perkembangan salah satu cabang di luar kota. Kiran mengabari kalau dia sudah berangkat dan sempat membalas pesan dari istrinya sebelum kembali fokus pada acara.
“Menurutmu Emran akan cocok menempati bagian apa?” tanya Yudis setelah meeting berakhir.
“Jujur, saya belum bisa pastikan Pak. Masih terlalu dini.”
“Hm. Hari ini dia sidang skripsi, setelah wisuda aku minta dia akan fokus di sini. Kamu didik dia sampai siap.”
“Siap Pak.”
“Ah iya, bagaimana dengan Kiran? Aku ingin dia bisa menggantikanku. Cobalah kamu tanya, kapan bisa mulai bergabung.”
Brama hanya mengangguk pelan. Kiran sekarang istrinya dan menurut pandangannya seorang istri lebih baik menjadi ibu rumah tangga, menjadi ibu dan istri yang baik. Namun, Brama akan menanyakan pada Kiran sesuai permintaan ayah mertua dan juga atasannya.
Sedangkan di tempat berbeda, Kiran sudah berada di mall tempat janji temu dengan seseorang. Tujuannya sebuah cafe. Cukup lama pertemuannya dengan perwakilan dari rumah produksi yang akan mengangkat salah satu karyanya ke layar lebar.
“jadi begitu ya mbak Kiran. Tenggat waktu menjawab tawaran kami tidak lama, kami harap segera dapat kabar baik dari Mbak Kiran.”
“Baik, segera saya kabarkan.”
Kiran undur diri meninggalkan cafe dan menuju salah satu store pakaian.
“Kiran.”
Langkah Kiran terhenti manakala seseorang memanggilnya. Suara yang sangat dia kenal dari orang yang tidak ingin ditemui. Padahal dia sudah berpenampilan sebagai Kiran sang penulis dengan gaya rambut ekor kuda dan kacamata membingkai wajahnya.
“Kiran tunggu!” Saat Kiran mempercepat langkahnya, orang itu masih mengejar dan ….
“Lepas atau aku teriak!” Orang tersebut Indra dan saat ini mencengkram tangan Kiran.
“Aku akan lepaskan, tapi tolong berikan aku kesempatan untuk bicara.”
“Tidak ada yang perlu dibicarakan.” Kiran menarik tangannya, tapi cengkraman Indra cukup erat. “Aku bilang lepas,” ujar Kiran lirih dan menahan geramannya.
“Kita bicara, oke.”
“Tidak.”
“Kiran, please!”
“Lepaskan nona Kiran!”
Kiran dan Indra menoleh, seorang pria dengan perawakan tinggi dan tubuh tegap sudah berada di antara mereka dan balas mencengkram lengan Indra.
“Jangan ikut campur, ini urusan ku dengan Kiran.”
“Keselamatan nona Kiran, menjadi urusan kami.” Ada seorang lagi yang datang dan langsung mendorong tubuh Indra
“Nona Kiran, mari ikut saya,” ajak orang pertama. Kiran enggan berurusan lagi dengan Indra. Baginya pria itu adalah masalah di masa lalu.
Kiran sudah tiba di rumah, dengan orang tadi yang mengemudikan mobilnya. Melempar tas ke atas sofa kamar dan terdengar dering ponselnya. “Mas Bram” yang tertera di layar, orang kepercayaannya pasti sudah memberikan laporan kejadian di mall.
“Halo, Mas.”
“Bagaimana keadaanmu? Aku sudah bilang, kamu lebih baik diantar.”
Kiran menghela nafasnya demi mendengar ocehan Brama mencecar karena tidak mendengarkan saran dari pria itu.
“Mas, aku nggak pa-pa.”
“Akan kenapa-kenapa kalau orangku tidak ada. Tetap di rumah, aku pulang sekarang!”
Panggilan pun berakhir.
“Eh. Mas ....”
Kurang lebih satu jam, Brama sudah tiba di rumah. Bergegas menemui Kiran untuk memastikan sesuatu. Langsung masuk ke kamar bahkan tanpa mengetuk.
“Astaga,” gumam Brama.
dari awal bab, dah trasa beda aja👍