Bagaimana jika seorang pemuda yang setiap harinya hanya menjadi anak seorang supir didalam keluarga kaya dan dia harus menerima untuk dinikahkan dengan Nona Muda mereka yang tidak bisa bicara.
"Nak, Ibu dan Bapak ingin berbicara serius dengan kamu" ucap Pak Budi pada putranya.
"Bicara apa Pak? Bicara saja" tanya Adji yang sudah duduk dihadapan kedua orang tuanya.
"Begini nak, tadi siang Bapak dan Ibu diundang kerumah Tuan Nadi dan kami disana membahas masalah perjodohan untuk kamu. Bapak tidak bisa memutuskan nya sendiri, karena Bapak tidak mungkin memutuskan. Bapak ingin membicarakan ini dengan kamu dan jika kamu menerimanya, Bapak dan Ibu akan membalasnya lebih dalam lagi dengan keluarga beliau" jelas Pak Budi dengan panjang lebar.
Penasaran apa jawaban Adji pada kedua orang tuanya???
Yuk baca dan ramaikan setiap babnya dengan like, komen, vote dan hadiahnya ya....
Jangan lupa subscribe juga pollow akun Othor ya...
Terimakasih dan selamat membaca 🤗🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atikah syarif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran
"Apa masih ada lagi yang belum aku ketahui? Ah, atau mungkin aku ini adalah anak seorang ja*a*g yang Papa pungut? Jika iya, terimakasih banyak sudah mengangkat derajat seorang anak ja*a*g ini" Clarissa menggunakan bahasa isyaratnya sambil terus menangis dalam senyuman getirnya.
Papa Nadi hanya bisa mengepalkan kedua tangan nya. Beliau ingin sekali membungkam mulut Clarissa yang sudah sangat keterlaluan. Tapi beliau melihat istrinya yang tidak berhenti menangis dan mendekati Clarissa. Lalu berbicara padanya.
"Sayang, Papa kamu hanya asal bicara saja. Kamu adalah anak Mama dan Papa, kamu anak kandung kami berdua. Kamu bukan anak angkat apa lagi anak pungut, bukan sayang, bukan" ucap Mama Dania yang memeluk Clarissa dan beliau menangis dalam pelukan putri kesayangan nya.
"Aku tahu Ma, aku sudah sangat keterlaluan pada Mama. Aku juga tahu jika aku sudah sangat berdosa pada Mama. Makanya aku ingin pergi saja dari sini, dan apa yang aku dengar saat ini sudah lebih dari cukup untuk membuat aku semakin yakin untuk pergi dari sini. Maafkan aku Ma, aku bersalah pada Mama. Aku ingin membuktikan pada Tuan Wigunadi yang terhormat, jika aku bisa berdiri diatas kaki ku sendiri dan aku bisa menjadi Clarissa yang baru" Clarissa menggunakan bahasa isyaratnya yang mana itu membuat Mama Dania semakin sakit dan merasa sangat bersalah akan hal itu.
"Tidak sayang, jika kamu pergi. Maka Mama juga akan ikut pergi bersama kamu, karena kamu adalah putri Mama. Putri kesayangan Mama, jangan pergi meninggalkan Mama sayang. Jangan" ucap Mama Dania yang mengusap wajah Clarissa dan mengusap kepalanya dengan lembut. Lalu beliau langsung memeluk Clarissa dengan erat.
Sedangkan Papa Nadi merasa menyesal telah mengungkapkan kebenaran yang sudah dia simpan selama bertahun-tahun lamanya. Beliau sangat menyesalinya, jika sudah seperti ini apa yang akan Papa Nadi lakukan? Beliau hanya bisa diam dan menatap kearah dua orang didepan nya yang sedang berpelukan sambil menangis.
Hingga tiba-tiba Mama Dania tidak sadarkan diri dalam pelukan Clarissa. Semua orang yang ada disana langsung panik. Pasalnya akhir-akhir ini kesehatan Mama Dania memang sedikit menurun, apa lagi saat memikirkan Clarissa yang akan mereka jodohkan.
"Ma, Mama" teriak Clarissa tanpa suara, dia masih sangat sulit untuk mengeluarkan suaranya.
"Ma, kita bawa kerumah sakit sekarang" ucap Papa Nadi yang segera mengangkat tubuh Mama Dania.
"Ma, aku mohon. Mama jangan seperti ini, aku minta maaf. Maafkan aku Ma" ucap Clarissa lagi sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.
Mereka benar-benar sangat takut terjadi apa-apa pada Mama Dania. Saat sampai didepan rumah sakit, mereka langsung disambut oleh beberapa perawat yang membawa brangkar untuk Mama Dania.
'Ya Allah, tolong selamatkan Mama Ya Robb. Aku berjanji akan melakukan apapun untuknya, asalkan beliau baik-baik saja Ya Allah. Jangan membuatnya kesakitan' ucap Clarissa yang menunduk dan dia berdo'a untuk keselamatan Mama Dania.
Papa Nadi juga tidak jauh berbeda. Beliau juga berdo'a untuk keselamatan istrinya. Beliau merasa menyesal telah membuat istrinya itu drop, apa lagi setelah mendengarkan kebenaran tentang Clarissa yang ternyata bukan putri kandung mereka berdua.
'Ya Allah, sembuhkan dia Ya Robb. Hamba tidak bisa jika melihatnya seperti itu, tolong sembuhkan dia kembali' ucap Papa Nadi yang juga menunggu didepan ruangan UGD. Dimana Mama Dania sedang mendapatkan pertolongan.
Setelah lumayan lama menunggu. Akhirnya seorang dokter keluar untuk memberitahukan keadaan Mama Dania pada mereka berdua.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Papa Nadi yang sudah berdiri dihadapan dokter tersebut.
"Alhamdulilah, beliau baik-baik saja. Hanya kecapean saja, setelah beristirahat dan menghabiskan infusan. Beliau bisa langsung pulang, tapi tolong jangan membuat beliau stres dan banyak fikiran. Karena tekanan darahnya bisa naik dan bisa seperti ini lagi" jelas dokter tersebut pada Papa Nadi dan Clarissa yang hanya mengangguk.
"Terimakasih dokter" ucap Papa Nadi yang merasa lega saat mendengar penjelasan dari dokter tersebut.
Clarissa langsung masuk kedalam ruangan UGD. Dia ingin melihat kondisi Mama nya dan dia sudah tidak sabar untuk memeluknya.
"Ma, Mama jangan seperti ini. Aku ada disini Ma, Mama bangun ya. Aku sangat merindukan Mama, maafkan aku Ma" ucap Clarissa dengan bibir bergetar saat mengatakan nya tanpa suara.
"Jika Mama mau bangun dan memaafkan aku. Aku akan menuruti semua keinginan Mama, termasuk menikah dengan pria pilihan Mama. Sebelum itu, Mama bangun dulu" ucapnya lagi sambil menggenggam tangan Mama Dania dan dia terisak sambil memeluk tangan Mama Dania.
Papa Nadi yang menyaksikan itu semua semakin merasa bersalah. Karena itu sudah membuat kedua wanita yang selama ini beliau sayangi menjadi sedih dan salah satu dari mereka sedang sakit.
"Kenapa Papa harus membuat Mama seperti ini? Jika Papa marah dan membenciku, kenapa harus mengatakan nya didepan Mama? Aku benci Papa, karena Papa. Mama menjadi seperti ini" tanya Clarissa yang menatap tajam dan penuh kebencian pada Papa Nadi.
Pria yang selalu dia banggakan sejak dulu dan itu sangat jelas terlihat. Apa lagi setiap kali Papa Nadi mengatakan sesuatu padanya, maka dia akan menurutinya. Walau bibirnya berkata lain, seperti sekarang. Bibirnya berkata benci pada Papa Nadi, tapi hatinya ingin sekali memeluk beliau dan ingin mengatakan apa yang sedang dia rasakan sekarang.
Tapi karena ego keduanya sama-sama besar dan tidak ada yang mau mengalah. Jadilah semuanya menjadi saling menyakiti satu sama lain. Hanya Mama Dania yang selalu menjadi penengah yang baik. Karena keduanya memiliki watak yang keras dan memiliki kekerasan kepala yang sama.
"Kenapa Papa hanya diam? Apa Papa sudah merasa sangat benar akan semua ini? Oke, aku memang bukan anak Papa. Tapi aku masih anak Mama dan akan tetap seperti itu, jikapun Papa tidak menyukai itu. Aku akan tetap bersama dengan Mama, apapun yang terjadi" tanya Clarissa yang masih menatap wajah Papa Nadi dengan tatapan berkaca-kaca dan dia ingin sekali menangis sekencang-kencangnya.
"Maaf" hanya kata itu yang mampu terucap dari mulut Papa Nadi. Beliau tidak tahu apa yang harus beliau katakan pada Clarissa, karena memang tidak sanggup mengatakan nya.
"Cih, maaf yang terlambat" ucap Clarissa lagi yang sekarang mengalihkan pandangan nya dari Papa Nadi. Sekarang dia hanya fokus pada Mama Dania saja.
Akhirnya mereka berdua saling diam dan tidak ada yang mengatakan kata-kata mereka lagi. Baik Papa Nadi maupun Clarissa tidak bersuara sama sekali. Kondisi Mama Dania juga sudah lebih baik, tapi karena pengaruh obat. Beliau belum bangun dari tidurnya yang sangat nyenyak.
dan semoga sehat selalu buat penulis nya❤️
gk tahu krn sikapmu membuat ortumu khawatir n km jg jd menderita di luar sana
ortu mu pasti akan mengerti keputusan mu